Paladin Antegram

Paladin Antegram
akhir dari masalah


__ADS_3

Semua nya berakhir bahagia, itu cerita yang bagus ... sampai ingin kutulis kedalam novel dan menyebarkannya.


Disini aku menatap semuanya terutama quilea dan guirde.


Quilea hanya terdiam sambil menatap meja dan guirde menatap gugup kakak nya, kalau maxwell ... dia sedang memikirkan sesuatu saat ini.


"Yah, masalah ini sebenarnya sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, jadi berpikir saja seperti masalah ini tidak pernah ada" Ucap maxwell dengan santai sambil menatapku, aku benci tatapan. Lalu maxwell melanjutkan perkataan nya "tapi tanggung jawab yang kau biarkan tidak bisa dilupakan saja, apalagi kau sampai menikah dan mempunyai anak, jadi karena itu ... quilea, bagaimana pendapat mu?"


Maxwell melontarkan pertanyaan ke quilea, sekarang aku mengerti kenapa maxwell meminta guirde untuk menceritakan semuanya, itu bukan untuk menyelesaikan masalah pertunangan ini, karena maxwell sudah tau jika masalah ini sudah tidak bisa diselesaikan dan masalah ini juga tidak bisa dilanjutkan karena masalah ini tidak pernah tercipta selama fakta kematian guirde ternyata palsu tidak terbongkar.


Tetapi meski begitu, maxwell juga tidak bisa membiarkan masalah ini diabaikan sepenuh nya, karena masalah ini tidak akan tercipta selama quilea tidak mengetahui kebenaran ini.


Dan maxwell melontarkan pertanyaan ke quilea karena masalah ini ada karena ketidaktahuan quilea, dan quilea harus menjadi penentuh kemana arah masalah ini akan berjalan.


Saat ini quilea sedang berpikir serius dan guirde hanya menatap gugup kearah quilea. Aku bahagia karena guirde tumbuh menjadi suami takut istri.


Lalu quilea membuka mulut nya...


"Umm ... bukankah itu tidak masalah?"


Ucap quilea dengan ekspresi yang seperti berkata "apakah itu masalah yang besar?" ya ampun, aku iri dengan kepolosan quilea. Dan guirde menghancurkan kepolosan quilea hampir setiap malam.


Ups ... aku berbicara terlalu banyak, kembali ke awal.


"Hhmm? ... apanya yang bukan masalah?"


Maxwell menatap dengan bingung kearah quilea, begitu juga dengan guirde.


"Yah, maksud saya ... bukan berarti saya menerima lamaran guirde dengan pikiran yang percaya jika guirde tidak pernah tidur dengan wanita lain atau mungkin saya adalah simpanannya"


Mendengar perkataan quilea, guirde hanya menatap dengan kaget, bagaimana tidak, setelah mengetahui jika sang istri tidak mempercayai kesetiaan suami dari awal pernikahan. Jika aku jadi guirde tentu aku juga akan kaget, tidak, aku akan menangis.


"Jadi maksud mu, kau sudah menduga jika guirde mempunyai masa lalu yang seperti itu sebelum menikah dengan mu, Dan kau menerima lamaran guirde dengan pemikiran seperti itu?"


Tanya maxwell dengan wajah yang semakin bingung.


"Iya, tentu saja"


Dan quilea membalas dengan polos nya, aku kasihan dengan guirde. Saat ini dia sudah hampir kehilangan separuh nyawanya, lihat ... nyawanya terbang keluar dari mulut nya.


Kesampingkan itu, maxwell sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk membalas pernyataan seperti itu.


Jujur aku sudah tidak mengetahui kemana lagi arah pembicaraan ini akan berjalan.


Aku ingin tidur, bukankah begitu, elena? Hmm? ... elena sudah tidur, yah apa boleh buat, ini adalah jam tidur nya elena, jadi akan kubuat ini menjadi alasan yang tepat untuk kabur dari pembicaraan ini.


"Sheilla ingin membawa elena kekamar~"


"Ah ... terima kasih sheilla, tolong ya~"


Ucap quilea dengan ekspresi bahagia seperti melihat anaknya baru saja melakukan sesuatu dengan inisiatif nya sendiri, maaf saja jika aku pemalas, hmph~


Dengan begitu aku menyandarkan elena dipundak ku dan menggendongnya sampai kekamar, yah ... kubawa saja kekamar ku soalnya kamar ku yang paling jauh.


"Hup"

__ADS_1


Aku membaringkan elena ketempat tidur ku dan menyelimutinya, lalu, lanjut tidur? Aku tidak ingin kembali kepembicaraan itu lagi dan aku juga tidak dibutuhkan disana.


Yah, aku dengan bangga menyebut jika guirde dan quilea adalah pasangan paling serasi dan jarang bertengkar, mereka bertengkar dan semua itu disebabkan oleh guirde.


Jadi aku yakin besok pagi mereka akan bersikap normal kembali dan ucapkan selamat tinggal pada masalah ini. Dan sekalian kita ucapkan selamat tinggal untuk paman maxwell.


Maxwell tidak dibutuhkan didalam rumah ini, yap, ayo tidur dan lakukan itu besok.


Waktu berlalu dan pagi tiba.


Aku membuka mataku dan melihat elena yang masih tertidur disampingku, huuf ... jujur saja aku ingin memeluk nya.


Ingin kujadikan guling ku setiap hari-ah ... nafsu ku sudah mencapai puncak, gawat gawat, pagi hari memang berbahaya.


"Huuu~ ayo pergi keluar"


Menahan nafsu ku dan akhirnya aku pergi keluar dengan selimut yang masih menempel padaku, selimut dan aku sangat akrab, kami berpelukan setiap hari.


Kesampingkan hal itu, aku berjalan melewati lorong rumah yang tidak terlalu panjang, aku berhenti tepat didepan kamar guirde dan quilea.


Aku membuka pintu nya dan tidak ada orang didalam, yah, jika masih ada guirde dan quilea maka akan kubangunkan dan akan kutanya seperti ini "mama, papa, kenapa kalian berdua tidak memakai pakaian apapun?"


Heh, sayangnya quilea selalu bangun terlebih dahulu dariku dan aku tidak pernah mempunyai kesempatan untuk bertanya seperti itu.


Yah, aku bisa saja terbangun tengah malam dan pergi kekamar nya guirde dan quilea, lalu menanyakan hal yang sama disaat mereka sedang bermain.


Tetapi tidak pernah kulakukan karena itu tidak sopan, aku mencoba untuk menghormati mereka kau tau?


Kesampingkan hal itu, terdengar aroma yang enak disini, aku tau, itu adalah quilea.


"Mama~"


"Ah ... selamat pagi, shei"


"Pagi mama, mana papa?"


Merespon perkataan ku, quilea berdiri dan langsung berkata.


"Papa pergi"


"Heee ....begitu ya~"


Hmm? Pergi?!! Apa maksudnya? Berakhir?!


Guirde sialan, tidak pernah kusangka jika ia adalah sampah yang tidak tertolong lagi.


Jika ketemu lagi, akan kuhajar dia sampai dia menyesal karena sudah terlahir didunia ini!!


"Aku pulang~"


"Eh?"


Yang kudengar, suara itu, tidak salah lagi ... itu suara guirde! Apa maksudnya ini?


"Oh? Selamat datang kembali, guirde"

__ADS_1


"Hm, aku pulang, ah, pagi, shei~"


Ucap guirde setelah menyadari keberadaan ku yang tepat dibelakang quilea..


"Pagi papa, habis dari kemana?"


Tenanglah diriku, pertama kau harus memahami situasi nya terlebih dahulu.


"Hmm? Mengantar paman maxwell kembali"


"Heee~"


Sial, aku tertipu.


Guirde menuju kearah kami, dan dia langsung memeluk quilea dan langsung mencium nya, setelah itu dia melirikku dan bergerak dengan cepat hingga akhirnya berhasil menangkapku.


"Tu-"


Kemudian guirde mengangkat ku keatas dan membiarkan diriku duduk diatas pundak nya, bagaimanya ya rasanya, ini pertama kalinya bagiku.


"Hehe ... akhirnya bisa papa lakukan~"


Guirde berkata dengan senang, yah, aku selalu menolak tiap kali guirde ingin memelukku, meskipun tubuh ku adalah seorang gadis tapi pikiran ku tetaplah seorang kakek-kakek.


bayangkan saja ketika melihat aku dalam wujud kakek-kakek lalu digendong dengan cara yang sama oleh guirde, mengerikan bukan?


Aku tidak ingin membayangkannya.


"...., jadi bagaimana"


Aku bertanya ke guirde, sejujurnya aku masih penasaran dengan akhir dari percakapan kemarin.


"Apanya?"


"Pembicaraan tadi malam"


"Oh, itu ... apa, kau memikirkannya?~"


Tanya guirde dengan sedikit nada mengejek.


"Tidak boleh?~"


Disini aku bersikap sedikit manja, seharusnya ini menjadi senjata yang kuat untuk melawan guirde.


Tetapi awal nya guirde hanya menatap diam terus tersenyum hingga akhirnya dia menjawab.


"Papa dan mama membicarakannya baik baik, pembicaraan selesai dan semuanya berakhir bahagia"


"Itu tidak bisa menjadi jawaban"


Yah, meskipun jawaban nya seperti itu, kuyakin semuanya berjalan lancar, mungkin?


Tanpa kusadari aku sudah berkeliling didalam rumah sambil duduk diatas pundak guirde, yah, ini kesenangan tersendiri untukku.


Waktu berlalu dan umurku sekarang 11 tahun ... ah, aku mengantuk.

__ADS_1


__ADS_2