
1 jam sebelum nya.
Semua warga desa berkumpul disatu titik dirumah kepala desa, penyebabnya adalah hilang nya elena, alio dan tobi.
"Sial ... kenapa harus diwaktu seperti ini!!"
Seseorang merasa kesal, dia adalah ayah dari alio, menyalahkan badai salju yang turun tanpa peringatan atas hilang nya anak mereka, tidak, daripada itu, mereka menyalahkan badai salju karena mereka tidak bisa bebas keluar karena ada badai salju.
Tetapi bukan berarti mereka bisa merasa tenang.
"Quilea?!"
Seseorang menerobos masuk sambil berteriak, dia adalah guirde dan beberapa teman berburu nya.
Guirde pulang kerumah tetapi tidak ada orang dirumah dan satu hal yang bisa dipikirkannya adalah rumah kepala desa.
Dan segera, quilea berlari kearah guirde dan langsung memeluk nya.
"Guirde!!~~ ghaa!!!"
Teriak tangis quilea didada guirde, dan guirde hanya membalas nya dengan pelukan dan mengelus kepala quilea sambil berkata "tenang saja"
"Ya, nak guirde, kau lama juga kembali~ ... apa ini tentang masalah yang itu?"
Ucap seorang kakek dengan nada tua nya, dia adalah kepala desa.
"Yah ... tepat sekali, jumlah binatang iblis yang berada disekitar sini berkembang dengan cara yang tidak normal, jadi karena itu saya memanggil seorang petualang untuk mengurus hal itu"
Disaat guirde berkata seperti itu, beberapa orang masuk kerumah kepala desa, lumayan besar rumah ini karena memang dikhususkan untuk rapat, tetapi dengan jumlah warga yang sekarang masih belum bisa mengisi seluruh ruangan ini.
Kembali ke awal, mereka adalah orang-orang yang bertemu dengan shelly dan sheilla tadi siang, seperti kata mereka, mereka memang kenalan guirde.
Dan tujuan mereka kemari adalah untuk menyelesaikan masalah tentang binatang iblis yang berkembang dengan tidak normal.
"Yah, daripada itu, sepertinya kau sudah mengerti situasi disini kan?"
" ...., iya, saya mengerti, kesampingkan hal itu-"
"Hmm?"
"Dimana sheilla?"
Mendengar pertanyaan guirde, semua terdiam, menyadari sesuatu dan berkeringat dingin.
Itu benar, sheilla tidak ada dirumah itu, sheilla saat ini sedang berlari-lari didalam hutan dalam upaya untuk mencari elena.
Kita ganti sudut pandang nya.
Sheilla berhenti sejenak untuk menyeka keringat dan berpikir kemana dia harus pergi sekarang.
"Badainya masih belum berhenti"
Sangat berbahaya untuk berada diluar ketika sedang terjadi badai salju, tetapi sheilla tidak masalah dengan itu dan malah tidak memperdulikannya.
Sekali lagi sheilla berdiri tegak untuk berhenti dari istirahat nya yang sebentar, kemudian sheilla mulai kembali berlari ke arah manapun itu.
__ADS_1
.
.
.
Sudah mulai lebih satu jam terlewat sejak sheilla berlari tanpa arah dan kini ia sudah berada diambang batas nya.
(Dimana?, tidak, tunggu ... apa mungkin elena dan lainnya sudah mulai kembali kedesa? Jika memang benar begitu maka aku seperti orang bodoh saja disini, tidak, itu harus kusyukuri)
Dan badai salju mulai mereda, sheilla menatap keatas untuk melihat langit yang sudah terlihat jelas, bahkan sinar bulan sudah mulai menerangkan sekeliling sheilla.
"Kyaaaaaa!!!!!"
(Suara itu?!, aku yakin itu suara elena!, dari arah mana?!)
"GWAAARGHG!!"
lalu terdengar suara yang nyaring dimana masih terdengar jelas oleh sheilla, dan sheilla dengan panik menyadari suara itu.
(Didekat sini!!)
Telah menemukan arah nya, sheilla mulai berlari ke arah kiri yang merupakan arah terdengar nya aungan itu.
Meski ada semak-semak yang menghalangi, itu tidak memperhambat sheilla.
Dan pada akhirnya sheilla keluar dari semak-semak dan melihat kejadian itu.
Dimana ada 3 anak kecil dan seekor monster.
(Elena!! Dan itu .... bukankah itu minotaur!!!?)
Teriak sheilla, sheilla mengerti tindakan nya saat ini dia tidak mempunyai satupun senjata yang bisa digunakan untuk melawan minotaur itu.
Tidak, meskipun ada, sheilla tidak yakin bisa menang melawan minotaur itu, kekuatan fisik mereka berdua jauh berbeda.
Jadi pilihan terakhir adalah hanya menyelamatkan elena dan lainnya, sheilla berteriak agar perhatian penuh minotaur tertuju kepada dirinya.
Dengan menjadikan dirinya umpan, elena bisa selamat.
"Larilah, elena!!! Kembali kedesa dan panggil orang dewasa!!"
"Ka-kakak!!~ kami tersesat--"
Hanya mendengar hal itu, pikiran sheilla kosong, dipenuhi pertanyaan dan kebimbangan, dan pilihan yang tersisa didepan sheilla hanyalah melarikan diri dan bertarung.
(Jika aku melarikan diri, maka minotaur pasti akan lebih memilih untuk mengejar elena dan yang lainnya, dan jika aku memilih untuk bertarung dan membiarkan elena dan lainnya lari, itu mungkin bisa berhasil, tetapi!! Aku tidak bisa menang melawan mahluk besar ini!! Sialan!!)
Disaat ini, alio dan tobi sedang ketakutan, mereka sangat ketakutan bahkan tidak bisa merespon perkataan sheilla dan memikirkan cara untuk kabur.
(Kakak!~ ...)
"Ah!---"
Sheilla mulai menyadari sesuatu, dan berhenti untuk mencoba berpikir karena ia sudah menemukam cara nya.
__ADS_1
(Tidak! Hanya ini satu-satunya cara agar elena dan yang lainnya bisa melarikan diri)
"Elena!!"
Teriak sheilla dengan kencang agar bisa terdengar jelas oleh elena.
"Kakak akan mengulur waktu, dengar!! Hanya 3 menit, kakak hanya akan mengulur waktu 3 kenit!! Dengan 3 menit itu kaburlah!! Larilah!! Kemanapun itu, setidak nya sampai ketempat dimana kalian tidak bisa melihat monster ini lagi!!"
"Ta-tapi, bagaimana dengan kakak?"
"Tenang saja, kakak juga akan melarikan diri"
Sheilla membuat senyuman untuk lebih meyakinkan elena.
"Baik!" Elena membulatkan tekad nya untuk lebih mempercayai perkataan kakak nya, segera saja elena mulai melihat kedua temannya itu.
"Kalian berdua!! Jangan ketakutan!! Kalian laki-laki bukan?! Maka sadarlah!!!"
Ucap elena dengan keras agar terdengar oleh kedua teman nya yang sedang putus asa itu, dan langsung saja alio dan tobi menghadap ke arah elena.
Tanpa menunggu mereka, elena langsung menarik tangan kiri alio dan tangan kanan tobi, dan segera berlari kearah depan.
Alio dan tobi dengan lemah membiarkan diri mereka dibawa oleh elena.
(Bagus, bagus, begitu wahai adikku)
"Baiklah ... sekarang lawan mu adalah aku, dasar mahluk besar!!"
Ucap sheilla dengan sedikit provokasi, tetapi itu sama sekali tidak mempan bagi minotaur itu karena dirinya tidak mengerti bahasa manusia bahkan jika mengerti ia tidak akan gentar jika diprovokasi oleh sheilla yang merupakan gadis kecil.
Minotaur itu memikirkan, 3 mangsa atau 1, bagaimanapun seluruh mahluk hidup akan memilih jumlah yang lebih banyak, karena itulah kerakusan.
Tanpa menghiraukan sheilla, minotaur itu pergi berlari ke arah elena dan yang lainnya.
"Cih!"
Tanah bergetar dan elena menyadari jika ada minotaur dibelakang nya, elena hanya panik sambil memikirkan banyak kemungkinan yang membuat minotaur itu mengejar mereka.
Dan disaat tangan minotaur itu mencapai elena, sebuah kilatan tertembak kearah badan nya, tidak, itu bukan kilat, melainkan anak panah dengan cahaya biru.
Melesat dengan cepat ke arah minotaur itu. Minotaur itu goyah yang pada akhirnya kehilangan pijakan yang membuat ia berbelok dan menabrak pohon dengan keras.
Elen tidak mengerti apa yang terjadi dan hanya mencoba untuk terus berlari untuk menuruti perkataan kakak nya.
Kembali kepada minotaur itu.
Ia tidak bisa memahami kenapa dia tiba-tiba goyah dan pada akhirnya terjatuh, hingga ia menyadari ada sebuah anak panah yang tertancap pada tubuh nya.
Tetapi karena tubuh nya yang sangat keras, jadi panah itu tidak menancap terlalu dalam dan pada akhirnya panah itu jatuh dari tubuh minotaur itu.
Panah itu terjatuh ketanah dan disaat minotaur itu mencoba untuk mengambilnya, anak panah itu langsung lenyap tanpa menyisakan apapun selain cahaya biru yang hingga akhirnya cahaya itu padam.
Disisi lain, itu adalah sheilla. Sebelum nya sheilla menciptakan sebuah busur, sheilla mempunyai busur nya sendiri dirumah, jadi dia membuat sebuah busur berdasarkan busur yang ada dirumah nya.
(Sudah kuduga jika tidak akan mempan-- tetapi aku baru tau jika merafal penciptaaan bisa disebutkan didalam pikiran, jadi aku tidak perlu mengeluarkan suaraku saat merafal penciptaan)
__ADS_1
Pikir sheilla dengan ekspresi masam, dan segera saja busur yang ada ditangan sheilla mulai menghilang.
bersiap untuk bertempur!!