
27 juli 710, kalender suci
Pagi hari yang sangat tenang, dimana terdengar suara didapur, memotong tomat dan sayur, dia adalah Sheilla.
Tugas untuk membuat sarapan sudah dibagi untuk setiap anggota dan hari ini adalah Giliran Sheilla membuat sarapan.
Dia mempunyai cukup kemampuan untuk itu, ajaran dari quilea tidak pernah dilupakannya.
Dan terdengar suara langkah kaki dibelakang nya, dia adalah Da vinci, menatap canggung ke araj Sheilla.
"Ng ... Da vinci?"
Sheilla berhenti memotong sayuran dan melihat Da vinci dibelakang nya.
"Eh, umm ....aku akan segera berangkat"
"Ah~ tugaa khusus? Sayang sekali kalian harus berangkat sepagi ini, akan bagus jika kalian berangkat setelah sarapan"
"O-oh"
Sheilla kembali menghadap kedepan dan mulai memotong sayuran, disisi lain Da vinci menatap dengan ekspresi canggung.
(Umm ... dia tidak marah lagi kan?)
"Oy, Da vinci, apa yang kau lakukan?~"
Dari kejauhan Theo berbicara dengan nada yang tinggi dan ceriah dimana dia mendapati Da vinci yang menghadap ke Sheilla.
Dan mulai menyeringai dengan senyuman nakal.
Saat ini banyak hal yang ingin dikatakan oleh Da vinci, termasuk dengan menyatakan perasaan nya sebelum terlambat, tetapi semua itu tidak mau keluar dari mulut nya.
Dia terdiam dan takut, dan dia juga tidak yakin jika Sheilla akan menerimanya, karena itulah dia memutuskan untuk menunda hal itu.
Setidaknya sampai diwaktu yang tepat.
"Kalau begitu ... aku berangkat"
"Ya ... selamat jalan~"
Sheilla tersenyum lembut dan itu menghangatkan hari Da vinci, dan dia mulai berjalan menjauh dari Sheilla menuju keluar dari mansion.
Dan saat keluar, ada Theo yang menyandari didinding menatap dengan senyuman nakal.
"Yah ... pagi-pagi sudah panas saja~"
"Tolong diamlah, senior"
[Tugas khusus dimulai]
28 juli 710, kalender antegram - markas party juugo
"Aaarrgrgr!!!!!"
Suara teriakan terdengar dan itu bergema didalam ruangan ini, dimana dinding ruangan ini terbuat dari batu atau lebih tepat nya ini adalah penjara bawah tanah.
Seorang pria yang berteriak kencang, menangis dengan putus asa dan luka cabukan diseluruh tubuh nya, dan didepan nya terdapat seorang pria dengan raut wajah kasar dimana rambut nya itu hampir setengah botak, atau didesain seperti itu.
Memiliki tato yang penuh ditangan kiri nya, memainkan sebuah gunting dan memotong jari pria itu.
[Abel] - [wakil pemimpin party juugo]
"Argrgrhg!!!"
Disaat gunting besi itu memotong jari nya, pria itu langsung berteriak dan lebih banyak mengeluarkan air mata.
"Alala- padahal sudah kusuruh diam, lihat, jari mu jadi terpotong kan"
Seluruh tangan pria itu dirantai dan kaki nya juga dirantai besi dimana dia tidak bisa melarikan diri dari ini.
Dan ada seorang lagi tepat dibelakang mereka, memakai pakaian putih yang rapi dimana dia sedang membersihkan belati nya.
[Pho] - [pemimpin party juugo]
"Diam dan tenanglah, lihat, jarimu hanya tertinggal jempol kiri saat ini, sekarang pertanyaan terakhir, siapa yang mengirimu kesini dan apa tujuan nya?"
Bertanya dengan jengkel dan pria itu menghembuskan nafas dengan lelah, air liur yang membanjiri mulut nya dan sekarang dia tersenyum.
"Aku tidak akan mengkhianati tuanku, aarrrggrggggg!!!!"
__ADS_1
Sesaat, Abel langsung memotong jari terakhir pria itu dan melepaskan genggaman nya, beridiri dan menghela nafas kecewa.
"Lihat kan, jarimu sudah tidak ada, hmm? Mungkin itu bagus juga, ingat? Kau tidak perlu untuk menggunting kuku mu lagi setelah ini~"
Pria itu hanya menatap dengan raut wajah kebencian tetapi dia masih memiliki kesetiaan yang besar terhadap pemimpin nya.
Disisi lain, Pho melirik belati yang baru saja selesai dia bersihkan.
"Abel, jangan lupakan jika dia memiliki 20 jari pada tubuh nya"
Ucap Pho dengan tenang dan Abel langsung tersenyum licik sambil melirik kedua kaki pria itu.
"Tidak peduli berapa jariku yang kalian potong!! Aku tidak mengkhianati tuanku!!!"
"Haaah~ dasar pria yang merepotkan"
Ucap Abel dengan menghela nafas dan Pho mulai berjalan ke arah mereka.
Menundukkan kepala nya tepat ke arah pria itu.
"Kau seriusan berbicara begitu?"
Pria itu tidak merespon dan hanya diam, dan selanjutnta Pho melirik kebagian bawah pria itu.
"Kalau begitu, apa kau tidak keberatan jika kami memotong anu mu?"
"Oh~!"
Memdengar pertanyaan Pho, membuat Abel menyeringai dengan senang dan pria itu hanya menatap dengan penuh putus asa.
"Iblis"
Ucap pria itu, dan Pho menyadarinya menunjukkan senyuman licik dan berbicara.
"Bukan bukan bukan, kami bukanlah iblis, iblis masih terlalu baik untuk kami, kau tau?"
Membisikkan perkataan itu tepat ditelinga pria itu, dan selanjutnya Pho mulai berdiri..
"Oh tuhan, berikanlah hukuman yang setimpal ke para pendosa ini"
Pria itu menangis dan Pho hanya menatap jengkel.
Pho mulai berjalan cepat dengan kesal dan pergi dari penjara itu, meski sudah berjalan cukup jauh, masih terdengar suara teriakan yang dikeluarkan oleh pria itu.
Dan Pho hanya mendecah dengan kesal.
(Sial sial sial sial sial, ada apa dengan semua ini?! Akhir akhir ini banyak mata-mata yang memasukki area distrik prostitusi, bahkan wajah ku sudah terlihat, apa game master melirik kami?! Sial!! Dasar pengganggu!!, lihat saja kau!! Game master sialan!!!!!!)
###
[Distrik prostitusi]
Da vinci memasuki distrik prostitusi dan berdiri tepat ditengah nya, Theo melihat sekeliling dengan tersenyum tenang dan Da vinci memerah hanya dengan melihat sekeliling.
Dimana disini sudah seperti kota itu sendiri, banyak para pemain atau penduduk yang datang kemari untuk mendapat kenikmatan surgawi dan mereka harus membayar untuk itu.
(Tempat ini sudah perayaan saja, apa setiap hari seperti ini, sepertinya para pelacur sedikit kerepotan akan hal ini)
Da vinci menatap sekeliling dengan ekspresi masam dan dia menyadaei satu hal dimana terdapat seorang gadis kecil duduk, memiliki rambut pendek bewarna hitam.
Dan da vinci menatap heran sampai akhirnya dia menghampiri gadis itu.
Melekukkan kaki nya dan berjongkok menghadap gadis itu, merespon seorang didepan nya, gadis itu menatap dengan mata yang berkaca-kaca.
"Umm ... namamu siapa? Dimana orang tua mu?"
"...."
Gadis itu tidak merespon apapun, hanya menatap diam dan seorang pria datang menghampiri mereka.
"Oy!!! Sialan!! Ternyata kau disini?! Jangan membuatku kerepotan gadis sialan!!"
Ucap pria yang gemuk dan terlihat tidak enak dipandang, menggenggam erat sebotol wine ditangan kiri nya dan menarik sebuah rantai yang terhubung ke kekangan dileher gadis itu.
Menarik nya dengan kasar sampai membuat gadis itu terjatuh ketanah.
"Hah? ..." Da vinci merespon kaget dimana dia langsung berdiri dan menghadap pria itu "oy!! Apa yang kau lakukan?!!"
Da vinci berteriak dan menarik jerah baju pria gemuk itu, membuat nya terkejut dan menjatuhkan botol wine nya.
__ADS_1
"A-apa masalahmu?! Dia adalah barangku, jadi terserah ingin kuapakan!!"
"Hah?! Barang? Barang katamu?! Kau!!----
Emosi Da vinci meluap dan disaat dia berpikir untuk memukul pria itu, ada Theo yang menarik bahu Da vinci dimana itu membuat nya kaget.
"Oy, tenanglah~, kenapa kau marah begitu?~"
"Apa ... yang kau katakan senior? Dia!! Memperlakukan gadis kecil seperti itu!!"
"Ah! Um~ aku tau, tapi tenanglah, maaf paman, pergilah selagi aku menahan anak ini"
Ucap theo dengan girang dan pria itu langsung menarik kembali rantai gadis itu, menarik nya dengan kasar dan gadis itu hanya harus mengikutinya agar leher nya tidak merasakan sakit.
"Apa yang kau lakukan, senior?!"
Emosi Da vinci kembali meluap dan Theo sedikit menundukkan kepala nya dimana dia mendekatkan mulut nya ke telinga kiri Da vinci.
"Perhatikan area belakangku" mendengar itu membuat Da vinci bingung dan hanya menatap kearah yang dikatakan Theo "2 orang pria dengan memakai tudung kepala untuk menutupi wajah mereka, mereka berdua adalah bawahan di party juugo, ingatlah misi kita, jangan sampai menarik perhatian yang berlebih, akan bermasalah jika kita dicurigai lebih awal, aku tau kau emosi, karena aku juga emosi saat ini, tetapi akan jadi masalah jika kita gagal, distrik ini menyebar lebih besar dan anak-anak tidak bersalah sepertinya akan mendapat takdir yang sama"
Mengatakan hal itu, Theo memundurkan wajah nya dan menatap Da vinci dengan tersenyum hangat.
"Ya? Kau hisa kan?~"
Da vinci memberi ekspresi kesal, menundukkan kepala nya kebawah dan menggigit bibir nya.
"Ya ... saya mengerti"
Keputusan Theo tidaklah salah dan Da vinci memahami hal itu.
(Sekarang aku mengerti kenapa senior Theo dipilih untuk mengikuti tugas khusus ini, dia mempunyai sifat periang, selalu memperhatikan suasana sekitar nya dengan baik dan karena itulah yang membuatnya cocok untuk pekerjaan seperti ini, tetapi ... kenapa aku yang dipilih?)
Sesaat Da vinci berpikir, betapa menjengkelkan nya jika menjadi lemah.
(Harap aku lebih kuat)
###
Mereka melanjutkan perjalanan dan mampir disebuah tempat makan untuk beristirahat.
"Untuk tempat prostitusi, ternyata ada tempat makan juga ya?"
Ucap Theo sambil melihat sekeliling nya dan dia menatap Da vinci.
(Aa-- dia murung, mengurus anak remaja merepotkan juga)
Theo menghela nafas lelah, dan tersenyum masam.
[umur Theo saat ini 20 tahun]
Mengarahkan sebuah papan menu ke Da vinci.
"Makanlah~ kau tidak akan bisa berperang jika perut mu lapar~"
Ucap Theo dengan ceria dan langsung mengangkat tangan nya dan beteriak "permisi, kami ingin memesan~" dimana pelayan merespon dan langsung mengarah ke arah mereka.
Seperti namanya distrik prostitusi, tentu saja ini tidak bisa dimasukki dibawah umur [da vinci adalah pengecualian] dimana kebanyakan pekerja disini memakai pakaian yang sedikit terbuka.
"Mbak ... pakaian mu cukup terbuka juga~ nanti masuk angin loh~"
Ucap Theo dengan tersenyum nakal dan menahan dagunya ditangan, pelayan itu merespon dengan senyuman ramah dan menjawab.
"Ini sudah menjadi pekerjaaan kami"
Merespon hal itu, sesaat Theo memasang ekspresi serius dan langsung menutupinya dengan senyuman yang cerah.
"Begitu ya~ hati-hati jangan sampai masuk angin ya~ ... Da vinci, apa yang kau pesan?"
"Umm ... sup saja"
"Oh ... kalau begitu pesanan ku juga sama"
Theo tersenyum ke pelayan itu, dan pelayan itu menundukkan kepala nya dan langsung pergi menjauh.
.
.
.
__ADS_1