
-Disisi sheilla-
Berjalan tepat disamping chelsea dimana didepan nya dipimpin oleh Nezuon.
"Hei, chelsea ... berapa jumlah anggota party ini?"
"Hmm ... termasuk sheilla, party kami sudah memiliki 11 anggota"
Ucap chelsea dengan girang dan wajah polos, disisi lain sheilla menanggapi dengan senyum masam.
(Sedikit sekali ... apa baik-baik saja dengan party ini?)
Mengingat ini adalah perang antar party, maka jumlah pasukan adalah utama, dengan party yang memiliki anggota yang sedikit seperti ini hampir tidak ada kesempatan untuk menang.
Sheilla menghela nafas dalam diam.
"Maaf tapi, aku masuk kedalam antegram bersama dengan temanku dan kami berpisah karena alasan tertentu, apa aku bisa mencarinya terlebih dahulu?, sebenar nya dia sangat bodoh dan buta arah"
[Itu tidak benar]
Menanggapi perkataan sheilla, nezuon dan chelsea saling menatap dan tersenyum kembali ke arah sheilla.
"Seperti apa ciri-ciri teman mu itu?"
Chelsea bertanya dengan menyesuaikan langkah nya dengan ritme langkah sheilla.
"Hmm ... berambut putih, memakai tongkat, dan terlihat sangat lemah"
Bayangan da vinci dengan senyum bodoh nya terlintas dipikiran sheilla.
Penggambaran itu sampai ke otak Chelsea, dan membuat nya memikirkan hal yang berlebih.
(Rambut putih \= uban, memakai tongkat \= punggung nya sakit, terlihat sangat lemah \= berumur 90 tahun)
Chelsea tersentak kaget dengan pemikiran itu.
"Kakek mu?!"
Menanggapi hal itu membuat sheilla memasam wajah bingung.
"Tidak ... kami seumuran"
Mendengar hal itu dari sheilla membuat chelsea tersentak kaget dan menghentikan langkah nya, menanggapi bingung akan hal itu membuat Sheilla dan Nezuon menggentikan langkah nya untuk melihat Chelsea.
Tubuh nya bergetar dengan wajah pucat, menghadap ke sheilla dan membuka mulut nya.
"Sheilla ... umur asli mu berapa"
Pfft ... terdengar kikikan dari nezuon dimana dia mencoba untuk menahan nya dengan tangan nya dan sheilla menghiraukan hal itu dengan wajah masam.
"13 tahun dan dalam 2 bulan lagi aku berumur 14, apa kau puas dengan itu?"
Chelsea menghela nafas lega dengan mengatakan "syukurlah" sambil mengelap keringat yang seharus nya tidak pernah ada.
Dan secara tiba-tiba terlihat sebuah kilatan cahaya dilangit, dimana itu membuat nezuon dan chelsea menjadi waspada.
Disisi lain sheilla hanya menatap mereka berdua dengan bingung.
"Sudah dimulai"
Gumam nezuon dan sheilla merespon hal itu.
"Hmm? Apanya?"
"Perang party ... itu adalah tanda nya"
Chelsea menjawab sambil melihat area sekitar dengan waspada, sheilla juga melihat sekeliling dengan tatapan bingung.
"Pertama kita harus menjauh dari sini, ini hanya akan membuang tenaga jika terlibat kedalam perperangan ini"
Berkata seperti itu, dimana nezuon langsung berjalan kearah kiri nya dan itu diikuti oleh chelsea.
Dan sheilla hanya bisa mengikuti mereka saat ini.
-shyuuuut-
Sebuah panah dilepaskan dan itu tepat mengarah ke sheilla, sebelum itu mengenai nya, sheilla menyadari keberadaan panah yang melesat dengan cepat ke arah kepala nya dari samping.
Begitu juga dengan Chelsea yang berbalik untuk berbicara ke Sheilla.
Didalam waktu yang singkat itu, anak panah mengenai kepala Sheilla yang membuat nya menerima dari dampak serangan itu.
Seperti ditinju akan sesuatu, sheilla terhempas ketanah dan terbaring lemas.
__ADS_1
"Sheilla?!"
Chelsea berbalik dan nezuon menyadari akan hal itu, Chelsea bergerak tergesa-gesa ke arah sheilla dan menarik tubuh nya untuk berlindung dibalik pohon yang lumayan besar.
Tanpa menyadari jika panah yang meninju sheilla barusan hanya tertinggal di tanah itu.
"Sheilla!!"
Teriak panik Chelsea dimana air mata baru akan keluar dari matanya, ketika kenalan yang baru ia temui telah tertembak oleh panah dan mati ... atau mungkin tidak.
Chelsea akhirnya menyadari jika tidak ada anak panah yang tertancap dikepala Sheilla.
Hingga akhirnya Sheilla sadar dari pingsan sementara nya.
"Huh?"
"Huh?"
Chelsea menatap kaget, dan sheilla mulai berdiri untuk duduk ditanah itu.
Dimana nezuon hanya menatap heran akan hal itu, sekali lagi sheilla menyentuh bagian kepalanya yang seharus nya tertembak oleh anak panah itu.
"Ternyata masih sempat"
Gumam sheilla dengan menghela nafas lega, disisi lain Chelsea menatap dengan wajah cemberut.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau masih bisa selamat? Bagaimana kau bisa hidup?"
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan ketika Chelsea menggoyang-goyang pundak sheilla, dan sheilla hanya merespon malas akan itu.
"Kau senang atau kecewa dengan hasil ini?"
Gumam sheilla dimana itu ditujukan ke Chelsea.
Hingga akhirnya Sheilla menyerah dan sedikit mengangkat tangan kanan nya, mengeluarkan cahaya biru hingga akhirnya itu membentuk sebuah pisau milik quilea.
"Kekuatan ku adalah kekuatan untuk menciptakan sesuatu" (yah meskipun aku belum pernah menciptakan sesuatu tanpa tangan ku, tadi itu adalah pertaruhan yang besar, jika tidak berhasil maka aku sudah mati saat ini)
Sebelum nya tanpa bisa berbuat apa-apa, sheilla hanya bisa terdiam ketika anak panah itu tepat berada disamping nya, jika mengangkat tangan untuk menghentikan nya maka akan mustahil sempat.
Karena itulah, sheilla melakukan pertaruhan gila dimana dia mencoba untuk menciptakan sesuatu diarea sekitar tanpa bantuan tangan.
Meski itu waktu yang singkat dan itu adalah percobaan pertama jadi persentase untul berhasil hampir memcapai 0 %.
(Karena itulah sebelum nya aku menciptakan sebuah tameng meski itu belum terbentuk sempurnah, tetapi beberapa waktu yang lalu aku menyadari jika bentuk nya tetap nyata meski belum terbentuk sempurnah, syukurlah aku masih hidup)
Sheilla menghela nafas lega.
"Sihir penciptaan, tidak ... tetapi sesuatu yang lebih rumit"
Gumam Chelsea sambil menatap tajam ke arah pisau Quilea itu, hingga akhirnya sheilla menghilangkan pedang itu dan membuat pikiran Chelsea kembali ke dunia ini.
"Musuh masih belum kalah"
Tegas Nezuon
Tidak tau apakah itu anak panah yang kesasar atau apapun, tetapo yang pastinya jika mereka tidak boleh mengendurkan kewaspadaan mereka saat ini.
Disisi medan perang.
"Tch ... dua lainnya kabur"
Ucap seorang wanita dengan kulit kecoklatannya, dengan dicampur rambut pendek nya yang bewarna putih bersih.
Wanita yang sangat menawan, tetapi dia tidak menyadari jika ada sebuah pedang yang sedang mengarah tepat ke arah nya.
"Eh"
Menebas leher nya yang terbelah halus, dimana seperti dia tidak menyadari jika dirinya baru saja berpisah dengan tubuh nya, sebelum kepalanya jatuh ketanah.
Seseorang menangkap kepala nya dengan menarik rambut nya.
Dia adalah seorang pria dengan wajah sedih terlukis diwajah nya, menghela nafas kecewa sambil menjatuhkan kepala wanita yang ia pegangi ketanah.
[Albus sillue]
"Kenapa aku harus membunuh setiap wanita cantik? Huhuuu~~"
Gumam nya dengan sedih.
"Oi ... apa kau sudah selesai?"
Seseorang pria datang dengan pakaian kulit dan sebuah pelindung untuk bahu kiri nya, memegangi satu pedang ditangan kiri dan satu lagi pedang bewarna merah darah ditangan kanan.
__ADS_1
Meski sebelum nya dia sudah menebas beberapa manusia, tetap saja darah asli lebih kuat daripada warna merah pada pedang nya itu.
[Qi xion]
"Oh ... xion, ya ... aku bingung kenapa aku terus mendapat lawan yang berkelamin wanita"
Albus itu mengeluh kepada teman nya yang baru saja datang, mendengar hal itu membuat Xion terdiam dimana dia menatap langit.
"Mungkin kau sudah ditakdirkan untuk menjadi perjaka selama nya"
"Jangan mengungkit masalah itu!! Oh ... bagaimana dengan keadaan nona rumia?"
Albus bertanya dengan tersenyum licik dimana Xion memberikan senyuman prihatin nya, membuka mulut nya dan berbicara.
"Kalau itu ... tentu saja dia dipenuhi oleh darah lagi saat ini"
Ditengah-tengah medan perang, terdapat seorang gadis dengan menutup mata nya, memiliki baju yang putih dan rambut yang perak mengkilau.
Tetapi seluruh kecerahan itu kini sudah ditutupi oleh warna merah darah, atau kau bisa menyebutnya sebagai darah asli.
Menutupi seluruh baju putih gadis itu bahkan wajah nya dipenuhi oleh darah saat ini, membuat nya terlihat sangat kotor dan juga menyeramkan.
Gadis itu membuka mata nya, menyadari ada sebuah langkah kaki yang cepat, seorang yang berlari ke arah nya.
"Mati!!! Iblisss!!!"
Dengan rintihan baju besi yang membuat nya terdengar jelas, pria itu mengangkat pedang nya, berteriak tidak karuan dan mulai menebas gadis itu.
Gadis itu menatap tajam hingga akhirnya dia berjalan ke arah pria itu, menarik sedikit pedang dan mengangkat nya ke atas dengan perlahan, sesaat mereka saling berhadapan.
Pria itu berhenti berlari dimana gadis itu tetap berjalan dengan santai, menebas pedang nya kesamping untuk membersihkan darah yang melekat dipedang nya hingga akhirnya dia memasukkan nya kembali kedalam sarung nya.
Dalam posisi normal, tubuh pria itu perlahan memberikan sebuah reaksi kesadaran, jika ... mereka sudah tidak saling berhubungan satu sama lain.
Pria itu perlahan terbela menjadi dua dan terjatuh ketanah dimana darah nya menyerang kemana-mana bahkan sampai ada yang mengenai pipi gadis itu.
Menyadari noda kecil dipipi nya itu membuat nya mengoles nya dengan tangan kanan, tetapi itu membuat nya tambah parah dimana tangan kanan nya itu jauh lebih buruk.
Gadis itu menarik nafas dan menghela lesuh.
"Kupikir sihir untuk membersihkan noda pada baju bagus juga"
Gumam nya dengan prihatin dimana darah diseluruh tubuh nya sudah membuat nya muak, bau besi yang tak tertahankan itu membuat hidung nya bermasalah setiap kali..
Untuk saat ini, gadis itu hanya bisa berharap ada hujan atau seorang yang mempunyai sihir air untuk menghilangkan noda darah diseluruh tubuh nya.
[Rumia starlight]
Mengingat akan hal itu, seorang pria berjalan ke arah nya dan berlutut dihadapan rumia.
"Komandan rum---
"Dimana pemimpin party musuh?"
Sebelum pria itu menyelesaikan perkataan nya, rumia lebih dulu menyela dengan sebuah pertanyaan, merespon hal itu membuat pria itu berkeringat dingin akan intimidasi dari rumia.
"Mereka bersiap untuk kabur"
Ucap pria itu dengan keringat yang menetes dari wajah nya, mendengar hal itu membuat rumia mengerutkan alis nya.
Menggaruk kepala nya dengan kesal hingga akhirnya dia berhenti untuk melakukan hal itu.
"Tidak ada pilihan kabur untuk musuh, mati atau menjadi tawanan, siarkan kepada mereka agar mengerti"
Ucap rumia dengan kesal akan sesuatu, tetapi dia berusaha untuk menahan amarah nya itu.
"Dimengerti!"
Tegas prajurti itu dimana dia berdiri dan langsung berlari.
Dan sebuah siaran dibuka secara terang-terangan dengan suatu sihir tertentu..
"PERHATIAN, RUMIA STARLIGHT, PEMIMPIN DARI PARTY ROUGE MEMBERIKAN PILIHAN, MATI ATAU MENJADI TAHANAN PERANG, KABUR TIDAK TERMASUK KEDALAM PILIHAN YANG DIBERIKAN, DIULANGI, RUMIA STARLIGHT, PEMIMPIN DARI PARTY ROUGE MEMBERIKAN PILIHAN, MATI ATAU MENJADI TAWANAN PERANG, KABUR TIDAK TERMASUK KEDALAM PILIHAN YANG DIBERIKAN, SEKIAN"
Rumia menghela nafas dan mengangkat poni nya ke atas.
"Jangan membuat pilihan yang bodoh, saudara ku tersayang"
Guman Rumia dengan acuh tidak acuh.
Meski itu diakhiri dengan perkataan menyentuh, tetapi tidak ada emosi apapun didalam perkataan itu, hanya ada hasrat rumia untuk berharap agar kakak lelaki nya itu tidak membuat sebuah pilihan yang bodoh.
Tergantung pilihan, Rumia tidak akan segan untuk membunuh kakak nya itu.
__ADS_1