Paladin Antegram

Paladin Antegram
pelajaran khusus


__ADS_3

Bibi flora dan kak emma telah pulang kerumah mereka dan waktu nya makan malam, dikarenakan kakak yang baru saja bangun, jadi kakak tidak diijinkan untuk keluar dari kamar.


Karena itulah kakak makan malam dikamar nya, tetapi ada aku yang ikut makan bersamanya, itu agar kakak tidak merasa sendirian lagi.


Setelah makan malam saat nya untuk tidur.


"Kak ... ayo tidur bersama!"


"..... tidak boleh"


"Heeee~ kenapa tidak?"


Kakak menolak mentah-mentah permintaan ku dan hanya berkata "kau nanti bisa tertular demam ku" setelah itu mama yang memaksa ku untuk tidur dikamar ku.


Padahal aku ingin tidur bersama kakak-- aku benci jika kakak demam, karena itu membuatku tidak bisa tidur bersamanya. Aku harap kakak untuk tidak demam lagi.


Aku dimasukkan kekamar ku dan aku pergi menuju ketempat tidur ku, mengambil bantal ku dan memeluknya.


"Saat nya tidur"


Aku memejamkan mata ku, dan aku tidak yakin sudah berapa lama mungkin sudah 30 menit sejak aku menutup mata tetapi tidak bisa tidur.


"Susah tidur-"


Aku beranjak dari tempat tidur ku menuju kepintu dan membuka nya, aku berjalan keluar dan menuju kearah kamar kakak, sangat menyeramkan ketika seluruh ruangan tidak mempunyai cahaya, jadi aku berjalan secepat yang kubisa ke kamar kakak.


Membuka pintu dengan pelan-pelan dan kakak sudah tertidur saat ini, aku berjalan dengan pelan tanpa membuat suara dan dilantai.


Dan setelah aku sampai ditempat tidur kakak, aku menatap nya sebentar untuk memastikan jika kakak masih tertidur.


Baiklah, kakak masih tertidur, disaat ini aku menaiki tempat tidur kakak dan tiduran disampingnya.


Membuat banyak gerakan sehingga kakak terbangun dan membuka matanya.


Gawat!!!


"Huh, elen?...... Dasar, hanya kali ini saja"


Disaat kupikir kakak akan memarahiku, ternyata tidak, melainkan kakak mengijinkan ku ... setelah mengatakan itu kakak langsung memelukku, dan segera kubalas dengan pelukan.


Fufu ... aku sangat senang.


"Selamat tidur, kakak"


" ......., hm, selamat tidur .... elen~"


.


.


.


Tetapi aku terlalu nyenyak tidur hingga tidak bisa bangun sebelum mama dan papa bangun, dan pada akhirnya aku dimarahi oleh mama karena tidur bersama kakak.


Setelah puas memarahi ku, mama langsung pergi kedapur untuk memasak sup untuk kakak, dan setelah itu kami semua sarapan.


Aku makan sarapan dengan sangat cepat, dan itu membuat mama berkata "makan yang pelan-pelan" aku tau itu, tetapi aku ingin segera membaca kelanjutan buku yang kubaca, aku berhenti dibagian serunya kemarin.


Buku yang bercerita tentang kisah cinta kerajaan yang kubaca kemarin, dimana sang karakter utama meninggalkan sepatu nya disaat pesta lalu sang pangeran mencari sang pemeran utama untuk mengembalikkan sepatu itu.


Aku penasaran dengan kelanjutan itu. Segera aku langsung masuk kekamar kakak, dan aku juga membawakan sup untuk kakak sarapan. Dan setelah itu mama masuk kekamar untuk memeriksa keadaan kakak.


Memastikan jika keadaan kakak baik-baik saja setelah itu mama pergi meninggalkan kami berdua.


Aku duduk di kursi disamping jendela, membuka halaman buku dan lanjut membaca.


"Jika kau menetap disini, mungkin demam ku akan menular kepada mu, loh"


"Tidak apa-apa"


Apa yang kakak bicarakan, justru bagus jika demam kakak berpindah kepada ku, dengan begitu kakak akan sehat kembali, aku jarang sakit jadi aku tidak mempermasalahkan jika terkena deman sekali atau dua kali.


Setelah mendengar jawaban singkat ku, kakak langsung memakan sup nya sebelum itu menjadi dingin.


Setelah itu kakak selesai memakan habis sup nya dan mencoba untuk mengambil buku dengan meninggalkan teman tidur nya.


Lalu kuhentikan, dasar, padahal kakak sedang sakit jadi diam saja ditempat tidur sampai sembuh!!


Aku mengambil piring bekas sup kakak dan membawanya kedapur, lebih tepat nya tempat cuci piring.


"Ah ... terima kasih, elen"

__ADS_1


Disaat aku membawanya kedapur, disitu ada ibu yang sedang mencuci piring.


"Hm, tidak masalah"


"....."


Setelah itu aku langsung kembali kekamar kakak dan membaca lagi buku.


Aku tidak tau sudah berapa lama waktu berlalu, tetapi kakak sudah tertidur ketika aku memalingkan pandangan dari buku ku.


Aku terlalu fokus sampai tidak menyadari hal itu.


Ketika menyadari jika kakak tidak menggunakan selimut, aku langsung menyelimuti kakak.


"Hm ... jika seperti ini seharus nya kakak akan sembuh besok"


Itulah yang kupikirkan, tidak ... memang benar jika kakak sembuh besok nya, tetapi ....


.


.


.


"Jangan masuk kedalam"


Setelah mengatakan itu, kakak menutup pintu nya.


Ada apa dengan kakak? Tindakannya mencurigakan, yah karena kakak sudah sembuh jadi aku tidak perlu untuk terus mengikutinya sampai kekamar.


Aku yakin kakak juga tidak akan suka jika aku terus mengikutinya.


Yah ... mari kita lanjutkan membaca.


"Aaaarrrrgggggg!!"


Suara teriakan!? Suara nya tidak asing ditelinga ku, asal nya dari dalam kamar kakak, sudah pasti jika itu adalah suara kakak yang berteriak.


Segera aku menjatuhkan buku yang kupegang dan langsung bergegas ke kamar kakak, aku membuka pintu nya dengan paksa dan yang kulihat adalah kakak yang sedang memuntahkan sesuatu.


"Kakak! Ada apa?!'


Kakak seperti menangis saat ini, singkat kata ekspresi yang dia buat.


Apa yang kakak bicarakan saat seperti ini!!


"Itu tidak penting lagi, apa yang terjadi?! Apa penyakit kakak kambuh lagi?"


"...." Kakak terdiam dan setelah itu dia membuka mulutnya untuk berbicara "haha ... tidak perlu khawatir, ini hanya mual biasa, pasti sebentar lagi akan sembuh"


Meski kakak berkata seperti itu ...


"Begitu" benar!! kehangatan, kakak mungkin sedang kedinginan, jadi kakak harus hangat "kalau begitu ikut denganku keruang tamu, dengan begitu kakak akan tetap hangat"


"Maaf telah merepotkan"


Kakak menjawab dengan nada yang lemah.


Aku menaruh tangan kakak di pundak ku dan membantunya berdiri, lalu kakak hampir terjatuh dan membuat ku kaget, untung saja aku segera menahan kakak agar tidak jatuh.


Mama masih belum kembali dan aku tidak tau kapan mama akan kembali, dan bukan berarti aku bisa menghidupkan perapian seorang diri.


Meski begitu aku harus berusaha!!


Nyawa kakak sedang dipertaruhkan disini!! [meski tidak separah itu]


Aku pergi kegudang rumah untuk mengambil beberapa kayu dan membawanya keperapian.


Aku menatap dengan bingung kearah perapian. Apa yang harus kulakukan setelah ini?


SUDUT PANDANG SHEILLA


Elena penatap dengan fokus kearah perapian, fufu, sepertinya dia kebingungan.


"Mau kubantu?"


Disaat aku berkata, elena sedikit terkejut hingga akhirnya menatap kearah ku.


"Hmmmm .... tolong bantuannya~~"


elena berkata seperti dia enggan meminta bantuan kepadaku.

__ADS_1


Ya ampun, dia imut ... baiklah, akan kakak bantu cara menghidupkannya!!!!


"Akan kakak jelaskan jadi dengarkan dengan seksama"


Setelah aku mengatakan itu, elena langsung mengangguk kan kepala nya dengan mantap ... itu baru adikku.


Dengan wajah serius, elena siap mendengarkan pelajaran istimewa dariku.


Ups, ini bukanlah pelajaran yang nakal, jadi tenang saja.


"Sebelum kau menggunakan perapian, kau harus membesihkannya terlebih dahulu, tetapi kareba mama sudah membersihkannya jadi kita tidak perlu membersihkannya, maka selanjutnya adalah memasukkan arang yang masih bisa dipakai, umm, seharus nya itu ada digudang jadi apakah elen bisa mengambilnya?"


Elena mengangguk dengan mantap, dan elena langsung bergegas ke arah gudang.


"Jangan berlari~~"


Yah, meski sudah kuperingati dia mungkin tidak akan mendengarnya.


Tidak membutuhkan waktu lama, elena membawa arang bekas yang dimasukkan kedam kantung.


"Kerja bagus~~"


Disaat aku mengatakan itu, elena menundukkan wajah nya yang memerah, jika ada pecinta anak kecil yang melihat ini, elena pasti akan langsung dikarung, uh ... mengerikan.


Aku memasukkan beberapa arang secukup nya kedalam perapian, dan selanjutnya adalah membakar nya.


Umm ... yang selalu menghidupkan perapian adalah guirde, karena menghidupkan api itu harus menggunakan anak panah dan papan kayu, kuno sekali.


Yah, didunia yang minim sihir tentu saja begini, karena didunia ku, ada sebuah kertas yang tersimpan beberapa sihir didalam nya.


Jadi walau kau non-penyihir, kau masih bisa menggunakan sihir jika ada kertas itu, praktis sekali.


Karena itulah didunia ini, cara menghidupak api adalah dengan menggunakan cara lama, tetapi merepotkan jika menggunakan cara ini.


Tetapi, yah ... tidak ada pilihan lain.


Disini terdapat sebuah anak panah dengan papan kayu yang digunakan oleh guirde untuk membuat api, tetapi untuk mempermudah ada sebuah alat putar yang berguna untuk memutar anak panah di atas kayu.


Aku menaruh papan kayu dilantai terus menggabungkan anak panah dengan alat putar itu.


Dan seperti namanya, alat ini bekerja dengan berputar.


Aku hanya perlu memajukan alat itu kedepan dan kebelakang, bisa juga kekiri dan kekanan jika dengan arah yang berbeda.


Lalu setelah 3 menit memutarnya, ada sedikit percikan api yang tercipta dan itu 3 menit itu cukup untuk memeras tanaga ku, kuh.


"Elen, sisanya kuserahkan kepadamu" aku bersandiwara bagaikan seorang yang mengorbankan dirinya dan mempercayakan segalanya kepada temannya.


Oh, ayolah~~ tidak masalahkan Jika aku berdrama sedikit saja, - Cerita - ini akan membosankan jika aku tidak membuat satupun lelucon.


Note author : [Ganti sudut pandang "cerita" menjadi "kehidupan"]


Kesampingkan hal itu, elen memasukkan percikan api itu kedalam perapian, lalu percikan itu menjadi semakin kuat dengan adanya arang.


"Benar,benar ... setelah itu masukkan beberapa kayu kecil"


"Baik!" Serius sekali.


Mendengar intruksiku lalu elena memasukkan beberapa kayu yang kecil kedalam perapian, atau kau bisa menyebutnya dengan sebutan "ranting"


"Masukkan dengan perlahan"


"Baik!"


Setelah memasukkan beberapa ranting dengan perlahan, api yang besar mulai muncul dan dengan insting nya sendiri, elena langsung memasukkan beberapa kayu yang besar kedalam perapian.


Aahh~~ ... mulai hangat disini. meski aku adalah pahlawan terkuat dikehidupan sebelum nya, hanya kehangatan ini yang tidak bisa kukalahkan.


Aku menyerah, dasar perapian~~


Dengan kehangatan ini, bagaikan sihir nakal yang membuat ku mengantuk, aku mulai curiga ini adalah pengaruh dari incubus tertapi bukan, ternyata itu adalah ulah nya perapian .


Lalu, aku memejamkan mata ku dan terlarut kedalam mimpi. Ini bagaikan kenyamanan surgawi.


.


.


.


Tidur didepan api unggun tidak buruk juga, tetapi quilea marah ketika melihat aku dan elena tertidur didepan perapian.

__ADS_1


Dia selalu mempermasalahkan hal yang sepeleh.


__ADS_2