Paladin Antegram

Paladin Antegram
tangisan seorang gadis


__ADS_3

Sheilla menatap kedua kaki nya dan menghilangkan kedua sepatu besi nya itu sehingga saat ini sheilla sedang bergelantungan di dinding ini dengan memegang kedua belati yang tertancap dalam itu.


Melepaskan genggaman dari belatih itu dan sheilla jatuh ketanah yang seharusnya tidak telalu tinggi, tetapi untuk mencegaj rasa sakit, sheilla sedikit membengkokkan kedua kaki nya disaat mendarat dan menetralisir seluruh beban yang diterima..


Tidak berhenti disitu, sheilla langsung berlari ke arah kanan bongkahan es itu atau di arah kiri nya menurut pandangan Albus.


(Dari sisi sini seharusnya dia tidak melihatku)


Sebuah godaan muncul yang membuat nya ingin langsung lari saja dari tempat ini, tetapi itu tidak menutup kemungkinan jika musuh akan mengejarnya kembali.


Jadi dengan berat hati, sheilla menahan tanah dan berhanti ditempat yang seharusnya lumayan jauh dari musuh nya berada.


Menciptakan sebuah rantai yang panjang dan sebuah pisau tajam diujung nya.


Memutar mutar kan rantai itu kesamping dengan perlahan dan berubah menjadi lumayan cepat untuk menguji dan menghentikan nya.


Sheilla mengambil posisi, mengarahkan rantai itu arah kiri nya dan melebarkan tangan kiri nya, hingga akhirnya sheilla menahan tanah dan menebas lengan kiri nya itu kedepan.


Melepaskan rantai yang digenggam dimana ujung rantai itu membuat nya mengarah ke arah yang dibidik oleh sheilla, Albus masih dalam kewaspadaan dimana dia menyadari senjata tajam yang mengarah ke arah nya disaat saat dimana ujung pisau dirantai itu menusuk bahu kiri Albus dimana itu hampir saja mengenai jantung nya.


"Grgg"


Meringis kesakitan, tetapi Sheilla tidal berhenti disitu sampai dia menarik rantai itu dengan kuat dimana itu membuat Albus terjatuh ke lantai es itu dan hampir terjatuh ketanah.


Disitu dia menata Sheilla dengan terkejut dan mendapati Sebuah busur sedang diarahkan ke arah nya, melepaskan tali itu dan membuat anak panah itu menerjang tajam ke arah nya.


Suatu keinginan untuk tidak ingin mati muncul didalam pikiran Albus, tekad untuk tidak mati dan semangat untuk bertahan hidup.


Dan kini, menahan seluruh rasa sakit nya, Albus mendorong lantai dan membuat tubuh nya sedikit terangkat meski itu masih ditanah oleh rantai yang menusuk.


Tetapi kesakitan itu tidak membuat nya goyah sampai daging nya terkoyak-koyak dia tidak berhenti, dan pada akhirnya anak panah yang ditembakkan melewati kepala nya dengan sangat cepat.


Bahkan itu hampit mengenai nya dan hanya mengenai rambut nya.


(Keingingan untuk bertahan hidup yang kuat)


Sheilla terkagum dengan keringat diwajah sampai secara tidak sadar menghilangkan rantai yang menusuk dibahu Albus.


Terengah-engah dengan lelah, albus mulai membalikkan badan nya ke titik buta yang tidak akan bisa dicapai oleh musuh nya kecuali musuh nya itu naik ke atas sini.


(Yah ... sangat berat jika pertarungan ini dilanjutkan, manding aku kabur saja~)


Musuh sudah terbaring lesuh jadi tidak ada alasan khusus untuk melanjutkan pertarungan, dan dengan senang hati Sheilla memutuskan untuk kabur dan kembali ketempat Nezuon dan Chelsea.


Sheilla mulai berlari meninggalkan Albus, sambil menahan udara dingin karena es masih tetap nyata disamping nya itu.


Tetapi hanya dingin segini tidak akan terpengaruh kepada Sheilla, ini hanya angin sepoi-sepoi baginya mengingat di desa musim salju itu sudah setara dengan raja iblis.


Tetapi ... Albus tidak akan pernah melepaskan Sheilla begitu saja, Albus bangun mendang tanah dan sebuah pilar tercipta tepat disamping sheilla, dengan serangan terakhir nya ... Albus kehilangan kesadaran nya dan jatuh pingsan.


Dimana pilar itu lumayan besar dan berbentuk bulat tetapi itu tetap memanjang dan mendorong sheilla, dimana sheilla tidak sempat untuk menghindari hal itu.


"Sial"


Kedua tangan sheilla tertelah pilar es itu dan hampir mengingatkannya tentang Edward meski kali ini adalah yang paling merepotkan.


Pilar itu terus memanjang meski Albus telah kehilangan kesadaran, dan itu sangat merepotkan mengingat lingkaran sihir yang diciptakannya masih belum menghilang.


Yang berarti serangan pilar es ini tidak akan berhenti, selama lingkaran sihir itu kehabisan waktu akan dihancurkan seseorang.


Daripada memikirkan banyak hal, Sheilla terfokus dihadapan nya saat ini dimana dia mengerahkan seluruh kekuatan otot nya untuk memecahkan hal itu.

__ADS_1


Beberapa kali tubuh nya dihadapan oleh sebuah dahan pohon yang kecil dan untung tidak besar dimana jika yang dihadang adalah pohon kokoh, sheilla mungkin akan hancur seketika.


Dan kemungkinan terburuk sudah disiapkan dimana dalam beberapa detik lagi, dirinya akan ditahan oleh pohon dan dipastikan akan hancur.


Sheilla mengerahkan seluruh kekuatan ilahi ketangan kanan nya dengan putus asa dan tidak membutuhkan waktu yang lama sehingga es itu retak dan dengan kekuatan otot nya, Sheilla menarik lengannya dan seketika menciptakan sebuah belatih yang tajam.


Memusatkan kekuatan ilahi ditangan kiri nya dan sebelum itu retak, Sheilla membantu nya dengan menusuk-nusuk es itu dengan kekuatan yang lumayan kuat agar tidam keterusan dan berakhir menusuk lengannya sendiri.


Es nya retak dan membebaskan kedua tangan nya dari hal itu tetapi kakinya masih melekat yang membuat nya masih tetap menempel pada pilar es itu, tetapi pilar nya tidak terlalu memakan kaki nya terlalu dalam.


Sehingga sheilla bisa menarik nya dengan mudah dan sebelum dirinya ditahan oleh pohon, sheilla menendak pilar es itu untuk melompat kesamping dan berhasil menghindari didetik-detik terakhir.


Melihat dengan jelas bagaimana pohon itu menahan pilar es itu.


Dan sheilla terus terjatuh dimana ini tepat berada ditepi jurang, tetapi tidak terlalu jauh sampai ditanah, dimana sheilla menabrak sebuah dahan pohon yang lumayan besar.


-bruk-


Terdengar suara yang keras saat dirinya menabrak dahan itu dan terlalu lemah untuk menggenggam, tubuh nya mulai terseret kebawah.


Dan mulai terjatuh lagi dengan terhuyung sakit dikepala nya.


(Ah ... aku benci ini)


Sekali lagi sheilla ditahan oleh ranting kecil dimana itu membuat pukulan yang lumayan kuat dan tidak butuh waktu yang lama sehingga ranting itu kecil itu patah dan Sheilla mulai melanjutkan terjun bebas nya.


(Aku terlalu lelah untuk menciptakan sebuah tameng)


Sudah sangat lelah dan sheilla menyerah untuk berusaha, menutup mata nya dan selanjutnya adalah sebuah dedaunan pohon yang sangat lebat dan dengan mudah nya sheilla menembus hal itu.


Mendekati tanah dan lebih dari itu, ada seseorang dibawah, menatap kaget dimana ada Sheilla terjatuh dari atas nya.


Sampai batas tertentu untuk menyadarinya, orang itu tidak sempat menghindar dan mempersilahkan sheilla terjatuh ke tubuh nya.


"Aduh aduh, Huh? Apa-apaan?"


Gumam Da vinci dengan rasa sakit dikepala nya akibat terbentur ditanah dan menyadari jika tangan nya sedang memegangi sesuatu yang lembut dan kenyal.


"Hmm?"


Dengan bingung, Dia memainkan tangan nya dan terus meremasnya dengan lembut sambil berpikir apa yang sedang disentuh nya saat itu.


"Oy ... sampai kapan kau ingin meremasnya?"


Ucap sheilla dengan menatap kecewa ke arah Da vinci, disini Da vinci meneruskan tangan nya dan menyadari jika itu adalah Sheilla dan yang sedang diremasnya adalah dada milik Sheilla sekarang.


"Hah? Ma-maaf!! A-ku bukan bermasuk begitu!!"


Da vinci melepaskan tangan nya dari kelembutan tiada dua nya itu untuk menutupi muka nya yang memerah, lebih dari itu, Sheilla terlihat tidak mempermasalahkan hal itu.


Dimana dia menghela nafas lelah, membalikkan badan nya dan berbaring ditanah dengan lelah.


"Aku lelah-"


Gumam kecil Sheilla dimana suaranya tidak biasa, ia terdengar seperti sheilla sedang menangis, mengarahkan tangan kanan nya ke mata dan menutupinya, dia ingin menutupi hal tersebut.


Fakta bahwa jika dirinya ingin menangis saat ini atau bahkan dia sudah menangis dan menutupi fakta itu dengan tangan nya.


Sekali lagi sheilla mengendus ingus nya itu dan tidak berkata apa-apa lagi, meski dia berniat untuk menutupinya, air matanya saat ini sudah mengalir dengan deras, melewati wajah nya dan jatuh ketanah.


(Sial, tadi itu sangat sakit, sial)

__ADS_1


Mendengar suara yang aneh muncul dari samping nya, Da vinci membuka sedikit jari nya untuk mengintip dan mendapati Sheilla yang terbaring lesuh disamping nya.


Menghilangkan wajah memerahnya, Da vinci mulai bangun untuk duduk, menghadap ke arah Sheilla.


"Shei?"


.


.


.


"Jangan katakan kepada siapapun jika aku barusan menangis"


Untuk suatu alasan, saat ini Sheilla sedang digendong dipunggung nya Da vinci, mendengar ancaman itu, bulu kuduk nya berdiri dan memasang wajah masam.


"Aye"


"Dan lagi, aku tidak melupakan tentang kau yang meremas dadaku"


"Aku akan bersujud selama 3 jam untuk meminta maaf"


Bagus~ sheilla menjawab sambil mendengus senang.


Da vinci memejamkan mata nya dengan wajah memerah, apalagi saat ini dia sedang merasakan dua kelembutan menekan erat dipunggung nya, dan Sheilla terlihat tidak peka akan hal itu.


Dan demi keselamatan nyawa nya, dia memilih untuk tetap diam.


Disisi lain, sheilla hanya menutupi wajah nya dibahu Da vinci dengan wajah memerah.


(Jangan lupakan dirimu yang sebenar nya)


Sambil menyemangati dirinya sendiri untuk suatu kesadaran nya, dan meski untuk sesaat, sheilla berpikir jika digendong oleh Da vinci tidak buruk juga, dia tersenyum lembut dengan menyembunyikannya dibahu Da vinci.


Dan perlahan, Sheilla mulai meninggalkan ego nya itu, berubah untuk menjadi seorang gadis seutuh nya.


Dimana Da vinci sangat berpengaruh dalam pertumbuhan sheilla.


"Ah ... kita akan naik ke atas"


Ucap Sheilla sambil menunjuk kearah atas, dan Da vinci mendongak untuk melihat hal itu.


(Uwah- dia terjatuh dari atas sana? aku tidak ingin membayangkan betapa sakit nya itu)


Da vinci memikirkan dengan ekspresi masam diwajah dan mulai berjalan kembali untuk naik ke atas, meski dia tidak yakin apakah jalan ini sudah benar atau tidak.


Beberapa menit berlalu dan Da vinci menyadari jika saat ini Sheilla sedang tertidur dengan menyandarkan kepala nya di bahu Da vinci.


Menatap masam ke arah nya.


"Ketabahan ku sedang diuji"


Gumam kecil Da vinci dengan tersenyum masam, meski Sheilla sudah cukup cantik, tetapi wajah tidur nya itu tidak tertahankan.


Untuk pemuda yang sedang dalam masa puber, ini adalah godaan terberat baginya, apalagi gadis yang disukai nya baru saja menangis dan tertidur dipunggung nya.


Serigala bisa saja bangun, dan Da vinci mencoba untuk melawan sebaik mungkin agar si serigala tetap kembali tidur.


Tetapi, ada sebuah godaan berat didalam hati Da vinci yang muncul dari hasrat terpendam nya, yaitu untuk menyentuh pipi nya Sheilla.


Hanya ingin menyentuh, jika bisa ingin dicubit lembut selama itu tidak membuat Sheilla terbangun.

__ADS_1


Itu membuat pikiran nya gelisa, dan tidak mampu untuk berpikir normal.


(Ini sangat gawat)


__ADS_2