
Elena menarik nafas nya yang dalam, untuk mempersiapkan dirinya.
Ia memasukkan kunci pintu itu dan membuka pintu dengan semangat.
"Se-selamat pagi!!"
Tetapi didalam ruangan tidak ada orang lain, tentu saja, karena sekarang masih berada di jam sekolah.
Elena menghembuskan nafas nya, bercampur dengan lega dan malu.
Ia memasuki ruangan itu dan menutupnya.
(Yah, kupikir tidak perlu dikunci karena ada aku diruangan ini)
Elena terus berjalan dan sampai didepan jendela, cukup gelap diruangan ini jadi dia ingin mendapatkan cahaya yang cukup dari matahari.
Menarik gorden jendela ini dan cahaya yang menyilaukan menyerang, dan membuat elena menutup mata kirinya karena kesialauan itu.
Tetapi sekarang sudah tidak masalah dan ia membuka kembali matanya, membuka lebar gorden itu sampai seluruh cahaya masuk.
(Yah ... kupikir tidak perlu untuk membuka jendelanya, tetapi, yah .... sangat berantakan disini)
"Ah!"
Dari sesuatu yang sangat berantakan disini, elena memikirkan suatu yang bagus.
Ia akan membersihkan semua yanh ada disini, karena teman sekamar nya adalah orang asing jadi dia harus membersihkan ruangan ini dengan teliti.
Karena sebelumnya ada suatu kejadian dimana quilea membersihkan kamar milik sheilla, tetapi quilea juga ikut membuang batu berlian yang sheilla kumpulkan untuk kepuasan diri.
Dan itu membuat sheilla menjadi sedih.
Belajar dari pengalaman itu, elena tidak mau membuang semua ini melainkan ia hanya memisahkan semuanya, untuk suatu yang terlihat rusak akan langsung ia buang.
2 jam berlalu dan elena sudah selesai membersihkan seluruh yang ada diruangan ini, seperti rencana awal ia hanya memisahkan seluruh barang yang terlihat buruk.
Memasukkan seluruh sampah kedalam kotak sampah dan itu harus membuat elena beberapa kali untuk membuang sampah itu.
"Aku pulang~ huh?, tidak dikunci, apa aku melupakannya?"
Seseorang masuk kekamar dan ia langsung berhenti.
Menatap untuk beberapa saat dan melihat elena yang duduk dilantai karena kelelahan.
orang itu adalah seorang gadis remaja, dengan seragam putih, dilihat dari manapun sudah terlihat jelas jika gadis itu adalah bangsawan.
Dan selain itu, ia memiliki rambut yang bewarnah merah cerah.
mengingatkan nya akan seorang.
Sekali lagi gadis itu mundur keluar untuk melihat plat nomor yang tertempel didepan pintu.
Dengan mengkonfirmasi jika itu adalah ruangan miliknya, gadis mengangguk, dan dia yakin jika dirinya tidak salah ruangan.
gadis itu mulai masuk kedalam.
"Umm ... kamu siapa?"
"Ma-maafkan saya! Saya baru saja pindah kesekolah ini dan saya membersihkan ruangan ini karena berantakan"
"Ah! Maksumu kita seruangankan? Aku mengerti, maaf ya karena memperlihatkan suatu yang menjijikan disini, perkenalkan, namaku testia, testia von ludistian, tidak perlu bersikap formal"
Ucap gadis itu dengan aura yang terlihat sangat percaya diri akan dirinya sendiri.
"Kalau saya-- aku bernama elena, hanya elena"
"Hmm ... kau cukup terkenal barusan, kudengar ada seorang murid keluar dari kereta pribadi lohengram, tidak kusangka jika itu kau, apa kau memiliki hubungan dengan lohengram?"
"Ti-tidak ... atau iya, saya hanya anak dari pelayan yang bekerja untuk keluarga lohengram"
Elena mengucapkan ini dengan berat hatinya karena ia harus membuat kebohongan, dan perasaan lainnya adalah karena ia takut gadis ini akan tidak menyukainya karena ia hanyalah anak dari pelayan.
Ia juga tidak bisa mengungkap yang sebenarnya.
"Hmm ... itu masuk akal"
Setelah itu testia melepas pakaiannya tanpa malu karena diperhatikan oleh elena, karena mereka berdua adalah sesama perempuan, jadi seharusnya mereka tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.
__ADS_1
Dan elena tertegum disaat melihat testia melepas pakainnya.
Testia berhenti untuk melepaskan pakaiannya dan memperlihatkan senyuman masam.
"Umm ... aku malu jika kau terus melihatku"
"Ah, ma-maafkan aku!~"
Elena berbalik ke arah belakang dengan wajah yang memerah karena malu.
Waktu berlalu dan sekarang testia sudah selesai mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga.
"Apa setelah ini masih ada pelajaran?"
"Hmm? Ya, sekitar 2 jam lagi"
"Heee~~ um, testia berada dikelas berapa?"
"Hmm? Masih kelas 2, toh aku baru saja masuk sekolah ini, umur ku 10 tahun, umur mu berapa?"
"9 tahun, ah ... tetapi bulan depan aku 10 tahun"
Elena mulai terbuka dengan testia.
"Hee ...berarti umur kita tidak terlalu berbeda, jadi berhentilah untuk memakai bahasa formal, itu membuat ku merasa tidak enak"
"I-ya"
Jawab elena dengan wajah yang memerah, sesekali elena kembali menatap testia.
Didalam tatapan itu terdapat harapan untuk bisa lebih akrab dengan testia, bagaimanapun mereka itu seumuran.
Jadi ada rasa percaya diri yang mendalam jika mereka bisa akrab.
Tetapi elena memutuskan untuk mencoba nya dengan perlahan, masih ada banyak waktu ... dengan pemikiran seperti itu.
Elena menyerahkan semuanya kepada dirinya di esok hari.
.
.
.
Hari pertama sekolah, dan elena sudah cukup untuk sangat gugup sekarang.
Disetiap kamar sudah disiapkan ruangan mandi jadi elena tidak perlu untuk pergi ke tempat pemandian siswa.
Dan alasan lainnya karena elena terlalu malu untuk bisa mandi dengan orang yang tidak dikenalnya.
Sekarang elena sedang merapikan pakaianya, dengan memakai seragam yang sama dengan kemarin.
Begitu juga dengan testia, sekarang ia sedang mengumpulkan 2 buku yang dibutuhkannya untuk kelas hari ini.
Arimatika dan sejara kerajaan paron. Pelajaran yang membosankan.
Tetapi testia cukup rajin untuk giat belajar dalam semua kelas.
"Kalau begitu, sampai jumpa lagi, jangan lupa untuk mengunci pintunya"
Ucap testia yang sudah selesai duluan, testia menutup pintu kembali, mendengar salam perpisahan dari testia.
"Eh?"
Membuat elena terkejut karena ia berpikir bahwa mereka akan berangkat bersama hari ini, karena mereka akan menjadi teman untuk kepedannya.
"Tu-tunggu"
Dengan tergesa-gesa elena menyiapkan semua yang diperlukannya dan ia berlari untuk keluar.
Sisana tidak ada siapa pun, seharusnya dalam waktu singkat tadi, testia masih belum terlalu jauh.
"....?"
Elena hanya menatap bingung.
-PENGAMBILAN KELAS-
__ADS_1
Elena menyerah dan pada akhirnya ia hanya berangkat sendirian, seharusnya kemarin ia sudah berkeliling sekolah dengan sebastian.
Jadi dia tidak akan tersesat, tetapi sekali lagi muncul sebuah tatapan dari seluruh murid, dimana sekarang bahkan mereka memulai nya dengan sebuah membicarakan elena dari belakang.
Dan elena hanya berjalan dengan berusaha untuk menghiraukan semua itu.
Menundukkan kepalanya kebawah dengan ketidak percaya diri.
(Jika didalam situasi ini, kakak akan apa ya?)
Hanya itu yang dipikirkannya, elena masih belum bisa mandiri.
Setidaknya selama masih ada sheilla, elena tidak akan pernah bisa mencoba untuk mandiri.
(Tidak, tidak! Seperti yang sebastian katakan kemarin, permainan mandiri!!)
Disaat berpikir begitu, elena berhenti karena ada seseorang berada tepat dihadapannya.
"Ng?"
"Yo, tikus busuk ... kudengar kau turun dari kereta milik lohengram, kenapa tikus busuk sepertimu bisa mendapat tumpangan dari tuan lohengram? Hmm? Koneksi apa yang kau pakai?"
Ia adalah seorang pria yang mungkin umurnya sekitar 15 tahun dimana ia memasang senyuman sombong diwajah nya.
Dan elena hanya memasang khawatir dimana ia tidak tau apa yang harus dilakukan.
Disisi lain ada testia yang sedang dalam perjalanan kekelas melihat kejadian itu.
Perbedaan ekspresi dimana testia hanya memasang ekspresi datar diwajah nya, dan tanpa bepikir 2 kali.
Testia langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Oi! ... kalau tuan artarus menjawab kau harus menjawab nya, kau mau kubunuh, hah?"
Ucap seorang pria yang disamping kanan pria yang disebut artarus itu dengan kasar.
Dimana ia hanya terlihat seperti bawahan astarus atau kau bisa menyebutnya penjilat.
Disamping kiri astarus juga ada seorang wanita dengan wajah datar, tidak ... itu adalah ekspresi kosong.
Dimana terlihat jika ia bahkan tidak memiliki kehendak untuk hidup.
Dan pakaian yang dipakainya bukanlah seragam sekolah ini dan wanita itu bahkan mempunyai sebuah kalung besi dileher nya.
Elena melihat wanita itu dengan bingung dan khawatir dimana ia tidak bisa memahami situasi.
Astarus menyadari tatapan elena yang tertuju ke wanita yang ada disamping nya. Dan astarus memasang ekspresi senang.
"Oh! Dia ini adalah mainan ku yang terbaik"
Elena mendengar perkataan astarus dan ia bahkan tidak mengerti maksud dari perkataan astarus.
"Mainan?"
"Benar! Kau bisa menyebutnya dengan budak"
"Budak?"
Sekali lagi kata yang tidak diketahui oleh elena, semasa didesa musim salju, sheilla berusaha keras agar elena tidak mengetahui sisi buruk dari dunia.
Itu adalah kesalahan sheilla.
Sheilla berpikir jika ia hanya akan hidup didesa musim salju tanpa pernah untuk pergi keluar.
Jadi ia berpikir untuk tidak memberi tau elena dengan cepat, elena masih terlalu kecil untuk mengetahui perkataan itu.
"Tch, kau banyak bertanya, lagipula kau bahkan tidak menjawab pertanyaan ku sialan, aku bertanya koneksi apa yang kau pakai?"
Astarus sudah mulai emosi dimana ia bahkan tidak bisa menahan emosinya dan menyiapkan sebuah kepalan ditangan nya.
"A-aku ... hanya pelayan keluarga lohengram"
"Hmm ... artinya kau terhubung dengan keluarga lohengram, kan?" Astarus memahani situasi dan ia mulai berpikir "ya, sudahlah, selama kau memiliki hubungan dengan lohengram, kau tidak akan kusentuh"
Berkata seperti itu, astarus langsung pergi meninggalkan elena bersama dengan kedua bawahannya.
Dan elena hanya terdiam dengan ekspresi bingung dimana situasi itu terjadi dengan tiba-tiba dan berakhir tanpa disadari.
__ADS_1
Tanpa terlalu memikirkannya, elena hanya langsung berjalan menuju kekelas yang akan dihadirinya.
Yaitu kelas sastra.