
Disini aku berada didalam kamar ku, sebelum nya elena mengajak ku untuk pergi bermain, tetapi langsung kutolak. Toh aku juga sedang libur dalam tugas berburuku.
Karena aku ada latihan penting hari ini, jujur saja aku sedikit takut, takut jika akan terjadi seperti 2 tahun yg lalu.
Aku pingsan dan berakhir membuat semua orang khawatir, sebenar nya aku tidak ingin melajutkan latihan ini tetapi aku harus melakukannya.
Aku memastikan jika tidak ada orang yang mendekat, aku memastikan ini dengan telinga ku, apa boleh buat bukan? Aku bahkan tidak mempunyai sihir deteksi, bahkan aku tidak bisa memakai sihir.
Tidak ada orang yang mendekat, baiklah, akan kubuat diriku bersemangat sambil berpikir "jika kau berhasil melakukannya, maka malam ini kita akan melakukan kegiatan rutinitas"
Dengan pemikiran seperti itu sudah cukup untuk membuatku bersemangat.
Langsung saja kulakukan, aku mengulurkan tanganku kedepan dan memusatkan seluruh kekuatan ilahi pada satu titik, kali ini aku tidak memakai metode yang seperti kemarin.
Satu titik itu adalah ditelapak tangan ku, sebelum nya aku memusatkan seluruh kekuatan ilahi pada seluruh tubuh ku, dan akibatnya tubuhku terkena efek nya.
Tetapi karena kali ini aku hanya memusatkan pada satu titik jadi seharusnya tidak masalah pada tubuh ku kecuali telapak tanganku yang menjadi tumbal.
....
Saat nya menyalurkan!!!!
.
.
.
"Hmm?"
Tidak terjadi efek apa-apa? Apa berhasil? Aku berhenti memusatkan kekuatan ilahi pada satu titik dan menyebarkannya pada seluruh tubuh, mungkin sedikit sembrono, tetapi aku harus mencoba segala hal yang bisa kulakukan.
.
.
.
2 menit terlewat, 5 menit terlewat dan 1 jam terlewat.
"Hmmm? Tidak terjadi apa-apa"
Apa berhasil? Horee berhasil? Jadi, karena tidak terjadi apa-apa berarti bisa kuanggap berhasil.
Baiklah, saat nya melakukan penciptaan senjata, yah, karena tidak terjadi apa-apa ketika menyalurkan kekuatan ilahi, jadi menurutku ini tidak masalah, mungkin?
Apapun itu, pengalaman adalah guru terbaik, jadi akan kulakukan saja.
Benar juga, kali ini apa yang harus kubuat? Aku mengingat, saat masih kecil aku selalu melihat sebuah bilah yang terdapat didalam kotak itu, baiklah, akan kubuat itu.
Memahami struktur, memilih material, menciptakan material, membentuk objek, lepaskan!
__ADS_1
Keluar sebuah cahaya biru dari telapak tangan ku dan pada akhirnya cahaya itu bergerak kesuatu koordinat.
Cahaya itu memadat dan membentuk sesuai apa yang kubayangkan, tetapi tidak sedetail senjata yang asli, dan senjata ini pun berhasil tercipta.
Disaat senjata itu tercipta, efek gravitasi berpengaruh padanya dan mulai jatuh ketangan ku.
Tetapi karena ini hanyalah replika yang kubuat berdasarkan kekuatan ilahi, jadi senjata ini tidak kehilangan cahaya biru nya, melainkan cahaya itu tetap menyatu kepada pedang itu.
Aku tidak yakin ini bisa dianggap berhasil atau tidak, tetapi sepertinya ini adalah keberhasilan.
"Ho-horeee!!~"
Aku berteriak sambil mengangkat belati itu keatas.
"Shei~ jangan berteriak!"
Teriak quilea dari kejauhan.
"Ba-baik~"
Berhasil, aku tidak lelah ataupun pingsan, tidak, jujur aku sedikit lelah, tetapi tidak terlalu parah.
Aku mengangkat belati yang kuciptakan.
"Sedikit berat, apa perlu kubuat dengan material yang ringan, tidak, jika begitu kekuatannya mungkin akan berkurang, oh ... bagaimana jika kugabungkan dengan pisau dapur quilea?"
Ups ... aku menyebut quilea dengan namanya, aku harap quilea tidak mendengar yang barusan.
Seperti yang kukatakan, belati yang ada didalam kotak itu sudah terlalu tua dan berkarat, bagaimana jika aku membuatnya dari material pisau dapur milik quilea, jika begitu kekuatannya tidak akan berkurang dan pasti akan ringan.
Dan sebuah belati mulai tercipta ditelapak tangan ku, seperti tadi, kali ini juga bercahaya biru, dan pembentukan selesai dan bilah yang baru terjatuh ketangan ku.
"Aduh-"
Tangan ku berdarah, sial, aku lupa jika material yang kupakai sangat berbeda dari bilah yang pertama kubuat, sebelum nya ketajamannya kurang karena aku membayangkan material yang sudah tua dan berkarat.
Tetapi kali ini material yang kupakai adalah material baru dan selalu diasah oleh quilea, dan seperti yang kuduga dari kehebatan pisau dapur quilea, bahkan tanganku langsung tergores disaat bersentuhan dengan pisau itu.
Sial, ini bukan waktunya untuk kagum!!
Akan sangat gawat jika quilea melihat ini, disaat yang sama kedua bilah yang kuciptakan langsung menghilang, apa itu karena pikiran ku sudah tidak membutuhkannya? Hmm, akan kucoba untuk membuatnya bertahan selama sehari besok.
Tetapi sekarang bukan waktunya untuk itu.
Ah, benar juga, kemarin shelly mengatakan jika dirinya mempelajari sihir penyembuh, akan kutanyakan.
Dengan cepat aku bergegas pergi dan sebisa mungkin pergi tanpa sepengetahuan quilea, akan bahaya jika quilea melihat ku sekarang.
Aku mengambil sepatu dan langsung keluar dari rumah, memakai sepatu bisa kulakukan setelah keluar, aku menutup pintu dengan perlahan agar tidak membuat suara.
Dan aku langsung pergi dengan cepat sambil memasang sepatu.
__ADS_1
Diperjalanan aku bertemu dengan orang, dan aku mengucapkan "selamat siang" itu sudah normal bagiku.
Mereka juga mengucapkan salam ketika bertemu denganku dijalan, mereka tetangga yang baik, tetapi jangan lengah terhadap mulut tetangga.
Kau tidak bisa menyembunyikan apapun didesa ini.
Kesampingkan hal itu, aku sudah sampai ke rumahnya shelly saat ini, rumahnya lumayan besar, tentu saja, karena keluarga yang tinggal disini sangat banyak, mereka harus mengeluarkan uang lebih untuk merenovasi rumah karena memiliki ayah yang bersemangat, ya ampun.
"Permisi~~"
Aku memanggil, tidak ada sahutan, hmm, mungkin harus kutinggikan suaraku.
"Permisii~~" tidak ada panggilan "per~"
"Iyaa~~"
Disaat aku mencoba untuk memanggil kembali, ucapanku terhentikan oleh suara yang ada didalam rumah, itu suara laki-laki.
Tanpa kupikirkan pun aku sudah tau siapa pemilik suara itu, anak kedua.
"Theo~"
"Oh, shei ... ada perlu?"
Dia adalah theo, anak kedua dari keluarga ini, umurnya sekitar 19 tahun, jadi 7 tahun lebih tua dariku.
Tetapi karena umurku yang sebenarnya sangat tua, jadi aku menolak untuk memanggil orang ini dengan sebutan "kakak" atau apapun itu.
entah kenapa didesa ini sudah wajar untuk tidak memakai marga.
"Apa kau sedang bolos?"
"Tidak sopan sekali kau-- hari ini aku sedang libur"
ucap theo sambil mengerutkan alis nya.
"Begitu, dari pada itu, apa ada shelly?"
"Hmm? Kalau tidak salah dia pergi dengan ibu ke hutan, daripada itu, kenapa dengan tangan mu?"
theo melirik ke tangan ku yang mengeluarkan darah, dia cekatan.
"Begitu, terima kasih, .... jangan terlalu banyak membolos"
"..... jawab pertanyaanku---"
Aku berlari tanpa menjawab pertanyaan nya, uhui ...
sudah lama aku tidak berlari seperti ini, jadi muda itu enak, aku mengingat hari tua ku yang selalu kuhabiskan dengan sakit pinggang.
Tubuh yang tua sangat tidak nyaman, tidak bisa berlari bahkan aku memerlukan tongkat untuk berjalan, oh ... mungkin aku bisa akrab dengan kepala desa.
__ADS_1
Benar juga, entah kenapa satu tahun terakhir ini aku tidak pernah terkena demam lagi dan bahkan tubuh ku sudah tidak terlalu lemah.
sangat disayangkan aku tidak bisa menjadi raja lagi dirumah tetapi yah, lebih enak tubuh yang sehat