
Setelah menarik perhatian sebelum nya, saat ini sheilla dan elena berpindah kedalam asrama wanita, karena yang paling dekat adalah kamar nya sheilla, jadi mereka memutuskan untuk menetap disitu.
Tentu saja shellee dan testia juga ikut masuk kedalam.
Memanfaatkan kesempatan ini, sheilla memutuskan untuk membolos.
Meskipun sebelum nya sheilla sempat pergi sebentar kesuatu tempat.
"Elen"
"Ng?"
"Yah, kau tau ... apa ada yang menindas mu?"
Sheilla bertanya dengan canggung, saat ini sheilla memutuskan untuk menanyai elena tentang hal itu dan mencari orang yang menindas elen.
Keputusan akhir ada ditangan sheilla yang berarti hidup orang itu berada ditangan sheilla.
"Sudah tidak ada"
Jawab elena dengan memalingkan pandangannya.
"Seriusan?-"
Sheilla meragukan hal itu dan mendekatkan wajah nya ke elena dimana elena terkejut karena kebohongan nya terbongkar.
Lagipula "sudah tidak ada" maka berarti ada yang menindas elena dan itu membuat sheilla dipuncak emosi nya.
Apalagi elena barusan memalingkan pandangan nya.
Itu sudah menjadi kebiasaan elena dimana setiap dia berbohong, dia akan memalingkan pandangan nya kesamping.
"Seriusan--"
Elena bersikeras untuk mengatakan jika dia tidak ditindas tapi sheilla masih meragukan perkataan sheilla saat ini.
Elena bersikeras untuk tidak menjawab, maka sheilla beralih pandangan ke seseorang, dia adalah testia.
Sheilla memandangi nya dan testia sedikit gugup dengan hal itu, lalu sheilla tersenyum.
"Hei, kau teman sekamar nya elena kan? Jadi apa kau tau jika ada seorang yang menindas elena"
Memutuskan untuk bertanya ke testia karena elena tidak menjawab, dan saat ini elena terkejut karena kakak nya malah bertanya ke testia.
Dan elena mengeluarkan keringat dingin dengan wajah pucat.
Testia masih bingung saat ini dan dia melihat ke arah elena, dia mengerti apa yang dirasakan elena saat ini.
Jadi karena itulah dia memilih untuk membantu kebohongan elena.
"Ti-tidak ada"
"Hmm ... seriusan? Satu ekorpun?"
"Ya, sama sekali tidak ada"
Mendengar jawaban testia membuat elena terkejut dan berpikir jika dia lebih menghormati testia dari sebelum nya.
(Hutang budi ini akan kubalas~)
"Haaah~ yah, untuk saat ini aku akan menyerah, tetapi jangan sampai aku melihat kejadian nyata nya"
Mendengar provokasi sheilla membuat elena dan testia tersentak, meskipun testia tersentak karena dirinya masih mewaspadai sheilla.
Tetapi kewaspadaan itu menghilang ketika dia mengingat sesuatu, sesuatu yang mungkin harus diketahui oleh sheilla.
"Umm, kak sheilla?"
"Hmm? Ada apa?"
Sheilla kembali bertanya ke testia yang dipenuhi oleh kegugupan.
"Yah, mungkin kak sheilla perlu mengetahui hal ini, tolong dengarkan dengan tenang"
Dan sekarang sheilla dibuat bingung hingga akhirnya dia sedikit berpikir jika mungkin ini adalah pembicaraan serius.
Setelah itu, testia menceritakan tentang insiden menghilangnya 4 petualang, tentang kereta yang kosong itu dan tentang surat dari shopia adreline.
Saat ini, testia membawa surat itu dimana penyelidikan selesai dan testia diperbolehkan untuk membawa surat nya.
Memberikan kepada sheilla.
Dan reaksi sheilla hanya masih bingung dengan hal ini sekaligus berharap untuk tidak percaya.
Sheilla masih bersikap rasional saat ini dimana dia mencoba untuk menahan emosi nya.
"Ini surat yang ditulis shopia?"
__ADS_1
Sheilla membuka surat itu tanpa ragu.
(Sudah kuduga kakak memiliki hubungan dengan pemilik surat)
Elena merasa lega sekaligus sedih, dan saat ini sheilla masih membaca surat nya.
Tetapi itu tidak membutuhkan waktu lama untuk membaca keseluruhan karena isi surat itu masih belum selesai ditulis.
Sheilla mengerutkan alis nya dan mencoba untuk berpikir keras.
"Apa ada yang lain?"
Bertanya-tanya apakah ada barang selain surat ini, setidak nya itu bisa cukup meyakinkan sheilla.
"Tidak, kami hanya bisa mengambil surat ini"
Sheilla tidak terkejut mendengar hal itu, sheilla mengejamkan mata dan mengangkat wajah nya ke atas.
Dengan ekspresi pasrah akan sesuatu dimana sheilla sudah paham jika ini akan terjadi jika kau memilih untuk menjadi petualang.
(Dasar bodoh)
Sheilla berjalan ke arah sebuah lemari, itu adalah lemari baju kamar ini, dan sheilla mengambil sebuah kotak yang tersimpan dibawah nya.
Membuka kotak itu dan sheilla teringat satu hal.
"Um, surat ini boleh kusimpan kan?"
Bertanya kepada testia, dimana sebelum nya sheilla menyimpan surat yang dia dapat dari shopia dan linette kedalam sebuah kotak, dan seterus nya dia berencana untuk menyimpan surat yang dia terima didalam kotak ini.
Bahkan ada surat dari elena sebelum nya yang sheilla simpan didalam kotak itu.
Tetapi dia tidak bisa menerima surat dari shopia lagi.
"Ya, tentu saja"
Testia menjawab tanpa nada yang berat dimana seharus nya nada berat akan membuat nya seperti tidak ingin memberikan itu.
"Terima kasih"
Sheilla memasukkan surat tanpa stempel lilin dari shopia itu kedalam kotak, menutup kotak itu dan menyimpan nya kembali.
Suasana menjadi canggung saat sheilla menutup pintu lemari itu.
-tok tok-
"Datang juga"
Guman kecil sheilla.
Seorang mengetuk jendela dan orang itu adalah da vinci.
Sheilla membuka jendela itu untuk membiarkan da vinci masuk, tetapi da vinci hanya duduk dijendela itu.
"Hmm? Ada apa dengan suasana ini? Apa aku datang diwaktu yang tidak tepat?"
Tanya da vinci dengan terkejut tanpa menghiraukan pandangan heran dari elena, testia dan shellee.
"Yah, sedikit ... daripada itu, apa kau menemukan nya?"
"Ehem, dengar dan jangan---
"TUNGGU SEBENTAR!!, kenapa ada seorang murid pria masuk kedalam asrama wanita, apalagi masuk dari jendela, apa kau cari mati?"
Ucap testia sambil mencoba untuk melindungi elena dengan tangan nya.
Untuk seorang gadis perkataan nya terlalu kasar.
[Kesan sheilla terhadap testia mulai menurun]
(Sepertinya dia ketakutan, yah kupikir karena shellee mengenal da vinci sebelum nya jadi dia tidak-- hmm, dia tampak terkejut juga disini, kenapa dengan nya?)
Mendapat reaksi ancama dari testia membuat da vinci merinding dan menepuk bahu sheilla untuk bicara.
"Ini terjadi karena kau menyuruhku untuk masuk lewat jendela, kau tau"
Ucap da vindi dengan ekspresi masam.
"Lalu kau mau melakukan uji nyali dengan masuk terang-terangan lewat pintu masuk asrama?"
Sheilla menjawab sambil mengacungkan jempol nya untuk menelunjuk kebelakang, lebih tepat nya ke arah pintu.
"Tidak, tidak perlu!!--"
Jawab da vinci dengan merinding ketakutan.
Membayangkan da vinci untuk masuk terang-terangan lewat pintu depan ... itu tidak berbeda dengan bunuh diri.
__ADS_1
PEMBATAS ANTARA WANITA DAN PRIA
Di akademi ini para pria akan merasakan perlakuan tidak adil dimana wanita bisa masuk dengan bebas di asrama pria tetapi pria akan mati jika masuk kedalam asrama wanita.
Sebuah peraturan yang tidak bisa dihilangkan, dimana ada sebuah garis merah yang terlukis didepan asrama wanita yang merupakan sebuah garis yang memisahkan antara pria dan wanita.
Kau melewati garis itu dan pak petugas akan langsung menangkap mu, jangan meremehkan petugas keamanan di asrama wanita.
Mereka terlatih untuk melakukan tugas itu.
Kembali ke cerita.
"Tenang saja, aku yang memanggil nya ke sini"
Ucap sheilla untuk mencoba menenangkan semua orang terutama testia.
Dan testia masih memasang wajah yang meragukan hal itu.
"Memanggil nya kesini? ... Hah?! Ja-ja-ja-jangan jangan, anda memanggil nya kesini untuk melakukan (elena tidak boleh mendengar ini) kan??!!"
"Hei hei, darimana kau menemukan kosakata itu? Selain itu elena bisa mendengar hal ini kau tau"
[Kesan sheilla terhadap testia mulai menurun]
Ucap sheilla dengan foker face nya dimana sheilla mencoba untuk tetap tersenyum.
"Tenang saja, sudah saya tutupi!"
Ucap testia sambil menonjolkan kedua tangan nya yang menutupi telinga elena dan elena hanya bisa memasang wajah bingung untuk itu.
Hal itu cukup untuk meyakinkan sheilla.
"Hoooh~~"
Sheilla kagum dengan hal yang barusan dilakukan oleh testia.
[Kesan sheilla terhadap testia meningkat drastis]
"Sampai kapan kau ingin melanjutkan hal ini?"
Tanya da vinci dengan ekspresi masam.
"Haha, maaf maaf, jadi .. apa kau menemukan nya?"
"Yap, dengar dan jang---"
"Kau masih ingin melanjutkan hal itu?"
Sebelum da vinci menyelesai kan pembukaan nya kali ini kembali digagalkan dan itu dilakukan oleh sheilla yang menyela nya.
"Biarkan aku menyelesai kan hal ini! Ehem ... dengar dan jangan terkejut, aku sudah menemukan nya---"
"Kau sudah mengatakan "yap" sebelum nya"
Sekali lagi sheilla menyelah perkataan da vinci, itu hanya keisengan dirinya. Lebih dari itu, sheilla menikmati hal itu.
"Bisakah kau diam sebentar? Ehem ... aku sudah menemukan orang nya, tetapi ada sedikit masalah"
"Masalah?"
Sheilla bertanya dan da vinci mengangguk dengan tersenyum santai seperti memperlihatkan jika itu bukanlah masalah besar baginya tetapi bagaimana dengan sheilla?
"Orang itu bernama edward teshine, dan yang masalah nya adalah dia yang saat ini menapaki tingkat 6"
"Hooo~ tingkat 6 ... jadi siapa yang lebih kuat darimu antara dia?"
Mendengar percakapan yang tidak jelas ini hanya membuat testia dan elena hanya terdiam bingung dan disisi lain shellee .... dia masih terdiam terkejut karena kedatangan tiba-tiba dari da vinci barusan.
"yah, dia mempunyai sihir pertahanan yang kuat jadi mungkin akan sulit melawan nya, tetapi dia bukan tandingan ku~"
Jawab da vinci dengan mendengus sombong.
"Jika begitu maka dia juga bukan tandingan bagiku"
Dan sheilla hanya menjawab dengan sombong juga dimana dia merasa jika tubuh nya sekarang sudah lebih baik.
Jadi dia tidak merasa akan kalah.
"Umm ... dari tadi apa yang kalian berdua bicarakan? Saya tidak mengerti"
Testia menyelah dimana dia masih bingung dengan apa yang dibicarakan oleh sheilla dan da vinci.
Saat ini testia sudah tidak ada pikiran yang tidak-tidak terhadap da vinci tetapi dia lebih bingung akan hal itu.
Sheilla mendengus dan tersenyum.
"Yah ... lihat saja nanti"
__ADS_1