
Ini adalah 15 menit yang lalu.
Seseorang dipaksa berlutut, dimana dia mencoba untuk meloloskan diri, tetapi itu percuma karena tangan kanan di kunci oleh seseorang disamping nya, dan tangan kiri nya dikunci oleh orang kedua.
Dimana kepala nya dipaksa untuk menunduk, sebagai penghormatan untuk orang didepan nya, meski dia tidak berniat untuk itu.
[Adimas nonlight]
Dan dihadapan nya, seorang wanita agung yang duduk dikursi yang disiapkan oleh bawahan nya, meski itu terbuat dari sihir tanah tetapi motif nya sangat indah.
Terlihat sangat cocok untuk diduduki oleh nya.
[Rumia starlight]
Menahan kepala nya dengan tangan kanan disanggahan siku kursi itu, menatap tajam ke seorang yang menunduk dihadapan nya.
"Kenapa? Aku berbaik hati memberikan pilihan dan kau mengabaikan pilihan itu, sudah kukatakan, aku lebih kuat, sudah kukatakan, kau tidak memiliki kesempatan untuk menang, jangan berpikir kau diatas diriku, jangan berpikir kau lebih baik dariku, pikirkan, betapa konyol nya kau saat ini"
Mendengar hal itu keluar dari mulut pemimpin mereka, para bawahan tidak merasa terintimidasi, lebih dari itu ... mereka menghormati rumia lebih dari apapun.
Menyerahkan nyawa mereka dan siap untuk mati, tetapi mati dibawah komando rumia adalah hal yang hampir mustahil, karena itu ... mereka mempercayai Rumia lebih dari siapapun.
Meski berkat perintah Rumia menyebabkan mereka mati, mereka tidak akan dendam, benci atau menyesal.
Karena itulah, party rouge dikenal sebagai party terkuat di antegram.
Memasang wajah ketakutan, Adimas mengeluarkan keringat yang tidak berhenti, didalam hatinya berteriak "aku tidak ingin mati"
Tetapi kematian nya sudah diputuskan, segera, meski bukan Rumia yang mengadilinya, dia akan tetap mati.
Karena pilihan bodoh yang dipilihnya, dia akan mati, dia akan mati bersama dengan pasukan nya dimedan perang ini.
"Kenapa aku harus mengalami hal iiiiiniiii?! Aku!! Adimas nonlight!!!, kenapa harus tunduk dibawah bawahan keluarga ini?! Kenapa aku harus tunduk dari seorang starlight?! Kenapa?!!"
Menggerakkan tubuh nya dengan paksa untuk menghadap Rumia, tetapi itu ditahan oleh bawahan rumia yang mengekang tubuh nya.
Mengarahkan tombak untuk membungkam nya.
Dan Rumia menghela nafas lelah akan hal itu.
(Dia sudah gila)
Rumia menggaruk kepala nya dengan malas, dan mulai berdiri.
"Sudah cukup, bunuh mereka semua, simpan kepala Adimas untuk ku"
Memberikan perintah seperti itu, Rumia mulai meninggalkan area, dan para bawahan nya serempak berteriak "dimengerti" dimana itu bergema diseluruh penjuru hutan.
"Hah?! Tu-tunggu kau sialan!! Kau tidak bisa membunuh ku!! Tidak setelah aku yang akan menjadi kepala keluarga!!"
Adimas mengeliat dengan menyusahkan disaat para bawahan Rumia membawa Adimas ketempat eksekusi, bergerak secara kasar untuk membebaskan diri.
Tetapi ia tidak bisa, dia tidak mempunyai kekuatan untuk meloloskan diri dari bawahan Rumia, dia menundukkan kepala nya dengan raut wajah putus asa sambil terus bergumam kecil.
"Ini aneh, seharusnya aku yang terbaik, aku yang di atas, bukan dia, seharusnya aku yang akan menjadi kepala keluarga, bukan dia, semuanya berubah sejak kami terseret ke dunia tidak jelas ini, ini aneh, ini aneh, aku seharusnya tidak disini, ini aneh---
Tanpa mengarahkan pandangan nya ke Adimas, Rumia tetap berjalan tanpa peduli dan ia menyadari, Matahari mulai memperlihatkan cahaya nya dan menyingkirkan kegelapan malam yang menutupi semua nya.
[3 hari berlalu sejak Acara dimulai] - [1 juni 710, kalender suci]
Rumia mengabadikan momen itu sebagai penghormatan atas dirinya karena bisa mengahalangi dinding yang selalu menghalanginya.
Tapi masih ada antegram, selama permainan ini masih berlanjut dia tidak akan bisa mendapatkan seluruh hak yang seharusnya dimilikinya.
Karena itulah dia perlu membawa kembali kepala Adimas untuk diperlihatkan ke seluruh keluarga light, jika dia sudah membunuh calon pemimpin dan sesuai aturan...
Dia yang akan menjadi kepala keluarga selanjutnya, mengambil seluruh hak yang seharusnya menjadi hak keluarga star, dan menundukkan keluarga non.
__ADS_1
Itulah tujuan nya, tetapi tujuan itu tidak akan pernah tercapai selama ada antegram, dan itu juga berarti....
"Tujuan baruku sudah ditentukan ... mengakhiri antegram dan mengakhiri seluruh penderitaan ini"
.
.
.
Perang antara party rouge dan party vermilion berakhir dengan kemenangan mutlak bagi party rouge, meski ada 11 anggota yang mati diantara mereka.
(Semoga jiwa mu tenang setelah ini)
Ucap Rumia didalam hati nya untuk menghormati para bawahan yang mengorbankan nyawa nya demi dirinya ini.
"Ko-komandan Rumia"
Ucap seseorang dengan ragu dihadapan Rumia, menyadari seseorang dibelakang nya, Rumia mengalihkan pandangan nya kedepan lagi, ke arah seluruh mayat anggota nya yang telah gugur.
Duduk untuk memperhatikan mereka.
"Ada apa?"
Ucap Rumia dengan tidak senang, itu karena dia harus menerima kenyataan kematian bawahan nya ini, tidak mungkin untuk melakukan perang tanpa korban.
Dia menyadari hal itu.
Seseorang dibelakang nya, atau lebih dikenal sebagai Xion, memasang wajah gugup dihadapan Rumia.
"Umm ... itu, sebenar nya ada seorang yang ingin bertemu dengan anda"
Ucap Xion dengan ragu-ragu, dan Rumia menutup matanya.
"Nanti saja, aku sedang sibuk"
"Ta-tapi dia mengatakan jika dia adalah kenalan anda"
"Kenalan?"
"I-ya ... nama nya adalah nezuon val"
Ucap Xion dengan wajah pucat dengan membayangi amarah macam apa yang akan diperlihatkan oleh Rumia.
Disisi lain, Rumia tetap diam, melebarkan matanya setelah 1 detik berlalu, mengangkat wajah nya ke atas dan menatap Xion dengan ekspresi kaget.
"Apa katamu?"
.
.
.
Diposisi Nezuon dan Chelsea saat ini, dimana sedang duduk ditanah sambil menunggu kedatangan Rumia.
"Lihat lihat Val, bunga ini cantik~"
Chelsea menarik lengan baju Nezuon dan Nezuon menghadap ke arah yang ditunjukkan, dan seketika memperlihatkan senyuman lembut.
"Benar~~"
Mereka berdua memperlihatkan senyuman lembut dimana mereka berjongkok untuk memainkan bunga bewarna biru itu.
Sepertinya bunga itu memiliki nama [hydrangea macrophylla]
Dan Chelsea bergumam ke arah Nezuon sambil memainkan bunga itu dengan ujung jari nya.
__ADS_1
"Kira-kira apa ya nama nya?~"
"Apa ya?~
"Tidak kusangkah Val menyukai bunga?~"
"Yah ... kadang-kadang~"
Nezuon juga terlena dengan bunga itu, mengikuti alur yang dibuat oleh Chelsea.
"Apa Val yakin jika pemimpin mereka adalah kenalan mu?"
Ucap Chelsea dengan ekspresi tidak yakin, dan Nezuon mendongakkan wajah nya ke atas seperti sedang mencoba untuk mengingat sesuatu.
"Sepertinya dia kenalan ku ... mungkin"
"Mungkin? Bagaimana jika bukan? Hiiii ... aku tidak mau mati muda"
"Yah ... jika bukan, tinggal kabur saja"
"Meski Val bilang begitu ..--
Disaat mereka sedang asik mengobrol, ada seseorang berlari ke arah mereka, seorang wanita dengan pakaian yang berbeda dari sebelum nya, memakai pakaian serba hitam dan noda darah yang menempel diwajah nya sudah dibersihkan.
Dia adalah Rumia.
"Ne~zu~on~"
Ucap Rumia dengan lembut sampai dia melompat ke arah Nezuon dan Nezuon menyadari hal itu disaat dia tidak sempat untuk menghindar.
"Hmm?"
-bruk-
Mereka berdua terjatuh ditanah, dan Chelsea menatap dengan ekspresi kaget, melebarkan matanya dengan membuka sedikit mulut nya.
"Apa yang?"
"Aduh aduh, huh?"
Nezuon memegangi kepala nya yang sakit dan menyadari seorang yang menimpa nya.
"Sudah lama nezuon, bagaimana kabarmu?"
Rumia memberikan senyuman hangat dimana itu bagaikan serangan pembunuh bagi pria perjaka yang belum pernah merasakan kenikmatan surgawi.
Disisi lain Xion menatap sesuatu seperti fenomena langkah yang mungkin akan menjadi petanda, apakah besok antegram akan berakhir atau hujan api akan turun.
Seperti itu ... dia masih tidak mempercayai jika, Komandan yang dia hormati selama ini, komandan yang selalu memasang ekspresi tenang, memperlihatkan senyuman seperti itu.
(Sangat disayangkan, Albus tidak bisa melihat pemandangan ini, huh? Ngomong-ngomong bagaimana kabar nya saat ini?)
"Rumia ... bisa kau berhenti melakukan ini setiap kali bertemu denganku?'
Ucap Nezuon dengan wajah lelah nya, disamping itu, Chelsea masih belum bisa memahami situasi ini.
"A-a-apa yang sebenar nya terjadi?"
Rumia menyadari ada Chelsea yang berdiri dihadapan nya, memberi senyuman hangat nya kepada Chelsea dan Chelsea tertegun akan hal itu.
"Apa dia budak nya Nezuon?"
""Bukan!!""
Nezuon dan Chelsea serempak membalas tanggapan tiba-tiba dari Rumia, dan Rumia memberi tatapan bingung akan hal itu, menggelengkan kepala nya kesamping untuk memperlihatkan kebingungan nya.
.
__ADS_1
.
.