
"Hei paman, berikan aku 2 tusuk"
"Oke!!"
Pada akhirnya mereka tetap memilih jalan makanan, mampir disebuah stan makanan dimana daging monster dipotong menjadi potongan kecil, lalu ditusuk ke dalam tusukan yang lumayan panjang dan diakhiri dengan memoleskan sebuah bumbu manis dan pedas di daging itu.
Setalh itu kau hanya perlu membakar nya dan itu siap dimakan, makanan kesukaan semua orang, penduduk lokal menyebut itu "tesa"
"Ini enak sekali!!"
"Benar!!"
Ellie mengunyah tesa dengan penuh syukur dimana Zano mengangguk untuk menyetujui itu, hanya Ellie dan Zano yang makan disini karena Shopia dan Tony bukanlah pemakan yang besar.
Disini mereka berdua menghampiri suatu stan permainan yang unik, karena itulah mereka pergi ketempat itu.
"Hei kakek, permainan apa ini?"
Shopia bertanya dengan ekspresi yang antusias, dimana penjaga stan itu merespon dan tersenyum lebar, dia suah kakek-kakek disini.
"Oh! Peraturan nya mudah, kau hanya perlu mengenggam tongkat ditengah itu dan salurkan sihir mu kedalam nya, dengan begitu bola yang ada didepan akan bergerak dimana kau perlu menjalankan bola itu sampai mengenai target, tentu itu tidak mudah, bola memiliki sifat keras kepala dan sombong dimana dia tidak akan mendengarkan perkataan mu, jika kau mengarahkan dia kekanan maka dia akan kekiri, lalu kami menyediakan target yang bergerak secara acak disini jadi kalian tidak akan bisa menang dengan mudah, begitulah permainan nya"
"O-oh ... bola yang unik ya? Selain itu apa toko ini baik-baik saja? Bukankah settingan terakhir pada target nya terlalu sulit? Dan Tony, Jadi bagaimana? Mau mencoba sekali?"
Shopia merespon heran lalu dia melirik ke arah Tony ini untuk memutuskan hal ini, Tony menyadari itu lalu mengangguk sekali sambil tersenyum.
"Boleh saja, permisi, berikan untuk satu permainan"
"Siap!!"
Tony memberikan kakek itu uang dimana kakek itu menerima nya dan mengarahkan tangan nya kesamping, layar sihir tercipta dimana lingkaram sihir nya bergerak ke tongkat pengontrol itu.
Shopia dan Tony menatap dengan kagum dimana mereka tidak menyadari jika kakek kakek dihadapan mereka bisa menggunakan sihir sederhana.
"Wah hebat, apa kakek adalah anoir?"
"Tidak, saya adalah noir"
Anoir adalah sebutan untuk orang yang dipanggil sebagai pemain dan noir adalah sebutan untuk orang yang merupakan penduduk asli dari antegram.
"Hey hey, apa yang kalian berdua lakukan?"
Zano dan Ellie menghampiri mereka dengan beberapa makanan digenggaman mereka, Shopia dan Tony menatap itu dengan ekspresi masam dimana mereka bisa saja muntah saat ini.
"Bukankah kalian terlalu banyak makan? Nanti bisa gendut lho"
"Sayangnya lelaki tidak terpaku dengan hal itu"
"Ya, um, konsep berat badan sudah tidak berguna pada ku"
"Grrr ... minta maaf lah kepada seluruh wanita yang bermasalah dengan berat badan nya!"
Mereka berdua membalas perkataan Shopia dengan santai dimana pernyataan dari Ellie membuat Shopia sedikit kesal akan hal itu.
"Nah, nona, silahkan genggam tongkat itu"
"Ah, aku lupa"
Dengan antusias, Shopia mengenggam tingkat itu dan melirik ke arah hadiah nya, jika mengenai target dengan tanda nomor, Shopia sekilas melirik ke arah boneka beruang yang besar itu.
(Baiklah, aku akan mendapatkan itu)
Dengan bersemangat, Shopia menekan tongkat itu kedepan, dan bola itu langsung mundur kebelakang dimana dia menabrak dinding dengan kuat.
Membuat Shopia dan lainnya terkejut, lalu keluar suara tawa yang menyeramkan dimana itu bersuara "kau pecundang" dan itu membuat sebuah urat keluar dikepala Shopia.
"Alala, nona, bukankah sudah kubilang jika bola nya itu keras kepala dan sombong?'
"Y-ya ... kau bilang begitu, tetapi anda tidak memberi tahu tentang larangan menyentuh dinding"
"Eh? Benarkah? Maaf untuk itu, sebagai permintaan maaf kau boleh mencoba sekali lagi secara gratis"
"Eh eh? Aturan macam apa dipermainan ini?"
"Aturan yang menjengkelkan? Seperti itulah"
__ADS_1
Ellie bertanya dengan bingung dan Tony hanya membalas dengan acuh tidak acuh, disisi lain Shopia menepuk kedua pipi nya dimana dia kembali bersemangat untuk itu.
Si kakek mengarahkan tangan nya kesamping dan layar sihir muncul dimana lingkaran sihir nya bergerak menuju ke tongkat pengontrol itu.
Shopia mengenggam nya dengan erat sambil berkonsentrasi penuh, mungkin itu melebihi disaat dia melawan monster yang puluhan kali lebih besar darinya.
(Baiklah!! Akan kumenangkan ini!!)
Dan ....
"Setelah mencoba 10 kali dan itu semua berakhir gagal, jangan dipikirkan, y-yah ... itu karena pengaturan dipermainan itu sangat tidak masuk akal"
Mereka sedang berjalan dengan santai dimana Shopia berjalan sambil menundukkan kepala nya dimana dia menghela nafas yang panjang.
Telinga nya berfungsi dan mendengar sesuatu "da vinci, ayo pergi kesana~~" mengingat sesuatu, lalu dia membalikkan badan nya dengan cepat kebelakang.
Menatap banyak orang untuk menemukan satu orang yang dimana itu mungkin adalah orang yang dipikirkannya, Zano, Ellie dan Tony menghentikan langkah mereka dimana mereka melirik ke arah Shopia dengan heran.
"Shopia? Ada apa?"
Shopia menghela nafas kecewa dan tersenyum kecut.
"Bukan apa-apa" (benar, itu sangat tidak mungkin, tidak mungkin dia ada disini, tidak mungkin ... jika Shei akan berada disini)
Shopia terus berjalan dimana Zano, Ellie san Tony saling menatap dengan ekspresi bingung, tetapi mereka memilih untuk tidak mengatakan apa-apa.
Disuatu detik, Tony menghela nafas dan berhenti berjalan, Semua nya menatap itu dengan heran.
"Semuanya ... ada, a-- haaah-- ada tempat yang ingin kutujui, ikutlah bersama ku"
Berkata seperti itu dengan ekspresi murung diwajah nya, Shopia, Zano dan Ellie saling menatap dan mereka langsung tersenyum.
"Boleh .. kemana tempat yang ingin kau tuju?"
Pada akhirnya mereka mengikuti ke tempat yang ingin dituju oleh Tony, lalu mereka sampai padu tempat dimana ini adalah tempat yang sangat terkenal dan mereka perlu mendongakkan kepala mereka ke atas untuk menatap besar nya bangunan itu.
[Arena gladiator]
"Waah!~~ hebat besar sekali, fyuhuu~~"
"Kesini, cepatlah"
"O-oi, tunggu sebentar"
Tony dengan cepat berjalan dimana mereka harus mengikuti Tony, mereka sedikit penasaran karena Tony terlihat sangat terburu-buru saat ini.
Mereka sampai disuatu tempat dimana itu adalah tempat masuk kedalam arena gladiator ini meski tempat masuk ini berada dibelakang arena dan itu membuat nya tidak mencolok.
Shopia, Zano dan Ellie menatap sekeliling mereka dengan ragu-ragu dimana Tony mengetuk pintu beberapa kali, lalu pintu itu terbuka dan keluar dua orang pria dengan bekas luka diwajah mereka.
Mereka melirik ke arah Shopia, Zano dan Ellie lalu mereka tersenyum untuk itu, disituasi seperti ini, mereka bertiga merasa ada sesuatu yang aneh dan serempak mereka memakai posisi bertahan mereka.
"Oy, Tony!! Apa maksud nya ini?"
Ucap Zano dengan tegas dan Tony merespon dengan panik dimana dia langsung bersujud ke arah mereka.
"Maafkan aku, maafkan aku!! Aku berbohong kepada kalian"
Mereka bertiga menatap dengan bingung dan tidak percaya apa yang terjadi, tetapi yang pasti, mereka berada didalam keadaan yang buruk saat ini.
"Se-sebenar nya, aku adalah Noir"
Mereka bertiga merespon dengan terkejut atas pengungkapan Tony barusan, Zano menggesekkan gigi nya dan membuat ekspresi kesal.
"Kau sialan!! Bukankah kau yang mengatakan jika kau anoir?! Lalu kenapa kau berbohong, huh? Sialan?!!"
"Hei Zano! Tenanglah!"
"Mana bisa aku tenang!! Sial!!"
Shopia mencoba untuk menahan Zano tetapi itu masih belum cukup untuk meredahkan amarah Zano.
Keberaraan Noir dan Anoir tidak bermasalah didalam antegram, tetapi ada satu hal tabu dimana Noir dan Anoir tidak boleh masuk kedalam party yang sama.
Yaitu ...
__ADS_1
"Maaf!! Keluargaku sedang disandera oleh party Drunhilde saat ini, jika aku tidak menjalankannperintah mereka maka keluarga ku akan dibunuh"
Yaitu perbedaan dimana Anoir tidak memiliki keluarga dan Noir yang memiliki keluarga di antegram, mempunyai kerabat, tidak semua party di antegram ini adalah baik.
Jadi party yang berkuasa bisa memanfaatkan hal ini, dimana Tony merupakan Noir dan dia memiliki kerabat didesa nya, dengan menyandera keluarga nya, maka party itu bisa dengan mudah memanipulasi Tony.
"Sialan kau!!!"
Zano berlari dan bersiap untuk memukul Tony, tetapi sebelum ia bisa melakukan itu, salah satu pria langsung menendang perut Zano.
Entah sejak kapan dia berada disitu, tetapi bisa dengan mudah menendang perut Zano lalu selanjutnya menarik pedang disarung dan mengarahkan pedang itu keleher Zano.
Zano terdiam tanpa bisa mengeluarkan kalimat apapun, karena ketakutan dan keterkejutan, disisi lain, Shopia dengan tangan mengarahkan tangan nya ke Ellie untuk melindungi nya.
"Baiklah, jika kalian mengikuti ku dengan tenang, yah, selama kalian tidak ingin mengalami hal yang lebih buruk dari kematian itu sendiri"
Shopia menanggapi dengan ragu-ragu dimana sesekali dia melirik ke arah Ellie, dia tidak bisa begitu saja meninggalkan Ellie, bagaimanapun Ellie memasang wajah ketakutan dari tadi.
Lalu apa ada cara untuk membebaskan Ellie dari situasi ini? Shopia menghela nafas nya dan dengan ketetapan hati nya dia memutuskan.
"Baiklah, kami akan mengikuti kalian" mendengar perkataan itu membuat pria itu tersenyum lega "tetapi" dan pria itu langsung berhenti tersenyum dan menatap dengan heran.
"Berjanjilah pada ku untuk tidak menyentuh anak ini"
Berkata seperti itu tanpa berhenti untuk mengarahkan tangan nya ke Ellie, Ellie merespon diam dimana pria itu menatap lalu tersenyum kecut.
"Baiklah, aku berjanji untuk tidak menyentuh gadis itu"
"Tidak bisa dipercaya! Bersumpahlah atas nama kedua orang tua mu"
Shopia membantah dimana itu membuat pria itu menghela nafas lelah dan memilih untuk mengalah.
"Haaah~~ aku, torano albani, bersumpah atas nama orang tua ku untuk tidak menyentuh gadis itu, apa kau puas?"
Shopia mengangguk pelan dan menggenggam erat tangan Ellie, dia tersenyum untuk mencoba untuk menenangkan Ellie.
"Si-alan"
Disisi lain, Zano mencoba bergerak, merespon hal itu, torano mengarahkan kaki nya ke atas dan menendang tepat ke leher Zano.
"A--p---
"Tenang saja, aku hanya membuatnya tidak sadarkan diri"
Shopia berhenti untuk mengucapkan satu pun kata dimana dia berjalan sambil diikuti oleh Ellie, dia berjalan dimana dia berpapasan dengan Tony.
Tony mengarahkan pandangan nya kebawah dimana dia tidak memiliki wajah lagi untuk menatap mereka, Shopia mendecahkan lidah nya dan memasuki pintu itu, lebih tepat nya kedalam arena gladiator itu.
Disisi lain, torano menyuruh pria yang satu nya untuk mengangkat Zano yang kehilangan kesadaran, berjalan melewati Tony dimana mereka pada akhirnya memasuki pintu itu.
Meninggalkan Tony seorang diri diluar dan Tony langsung terduduk sambil menangis tersedu sedu, dia mengkhianati teman nya, tetapi dia melakukan itu untuk menyelamatkan keluarga nya.
Mengkhianati teman teman nya adalah dosa, dan dia mengetahui hal itu, tetapi dia tetap melakukannya, disisi lain dia menganggap itu adalah hal yang patut dipuji, dan disisi lain dia mengutuk diri nya sendiri.
Tetapi, seseorang membuka pintu kembali dan secara tiba-tiba, dada Tony ditusuk oleh sebuah pedang, terkejut karena hal itu dimana dia langsung memuntahkan darah.
Melirik kearah belakang nya dan menemukan torano tepat dibelakang nya.
"Janji adalah janji, kami berjanji untuk tidak membunuh keluarga mu, tetapi kami masih bisa membunuh mu, aku berjanji untuk tidak menyentuh gadis itu, tetapi kau tidak terhitung, maaf, jangan dendam padaku, bhwhahahahah"
Torano menarik pedang dari dada Tony sambil tertawa terbahak-bahak dimana itu adalah hal terlucu bagi nya.
(Ah ... ini adalah hukuman, hukuman untuk pendosa seperti itu, maaf, ayah, ibu, maaf ... semua nya, aku ---
Tony tumbang ketanah dan tidak lama kemudian dia sudah meninggal dunia, tidak bernafas dan jantung nya berhenti berdetak.
"Aah~~ sudah kuduga, wajah keputus asaan seorang adalah yang terbaik"
Torano menebas peeang nya dimana dia bermaksud untuk membersihkan darah yang tertempel dipedang nya itu, tanpa membuang waktu lagi, dia langsung memasuki pintu itu dan menguncinya.
Tragedi ... baru saja dimulai.
Tetapi mari kita mundurkan cerita nya, setidak nya sampai ke 2 hari yang lalu.
Kesudut pandang yang seharus nya.
__ADS_1