
SUDUT PANDANG SHEILLA
"Apa anda yakin hanya sampai disini? Saya bisa mengantar anda keruang kepala sekolah jika anda mau"
Sebastian memohon.
Tapi, maafkan aku.
Ini adalah debut sekolahku, aku ingin memulainya sendiri.
"Ya ... terima kasih sebas, tapi tidak masalah sampai disini saja.
Lagipula menurut informasi quilea, seharusnya elena masih belum mengetahui jika aku sekarang sudah masuk sekolah.
Xixixi ... aku tidak sabar melihat reaksinya nanti.
Terima kasih atas bantuannya, maman.
Kesampingkan hal itu, sebastian meninggalkan ku didepan gerbang sekolah dengan wajah penuh kesedihan.
Yah ... maaf untuk itu.
Tetapi, aku juga mempunyai kesenanganku sendiri.
Kesampingkan hal itu, kenapa banyak sekali murid yang melihatku? Kh ... seharusnya aku menarik bayaran untuk ini.
Yah, mungkin mereka tertegum karena kecantikan ku jadi apa boleh buat.
Mereka juga lagi masa puber dan aku memahami hal itu.
Tetapi ini membuatku resah ketika dilihat dengan tatapan seperti itu.
Sekarang aku menyadari apa yang dipikirkan oleh seorang gadis ketika dilihat dengan tatapan seperti itu.
Karena sebelum aku menjadi pahlawan, aku selalu melihat wanita dengan tatapan yang sama dan mereka hanya memberikan ekspresi yang tidak mengenakkan.
Dan lihatlah mereka ketika aku menjadi pahlawan, mereka terlihat menggelikan saat itu.
Karena itulah aku selalu menolak wanita yang menyatakan cintanya kepada ku dan itu membuatku tetap perjaka sampai akhir hidup ku.
Cerita yang menyedihkan.
Lupakan kehidupan yang menyedihkan itu, sekarang mari nikmati kehidupan sekolah ini!!
Meskipun begitu, banyak orang yang berbisik bisik saat melihatku.
"Apakah dia anak dari tuan lohengram?" "Bukankah itu jelas? Lihat, seragam nya itu putih" "barusan dia juga keluar dari kereta milik lohengram" "daripada itu, wanita itu sangat menawan"
Oh~ ... aku menghargai pujian yang terakhir.
Sepertinya keluarga lohengram sangat dipandang tinggi disini, jadi hal seperti tadi saja sudah membuat heboh.
"Tapi bukankah sebulan yang lalu ada juga yang menaiki kereta yang sama?" "Benar, yang tikus putih itu" "dia bukan bangsawan kan?" "Mana kutahu, tetapi sepertinya yang kali ini adalah lohengram asli"
Aku berhenti setelah mendengar hal itu.
Orang yang menaiki kereta yang sama dan ia mempunyai rambut putih.
Bukankah itu adikku?!
Gawat ... penyakit siscon ku mulai kambuh hanya mendengar tentang dirinya, tetapi ...
"Oi, siapa yang kalian maksud tikus putih itu?"
__ADS_1
Yang berani menyebut elenaku dengan sebutan tikus maju sini sialan!!!
Mendengar intimidasi dariku, membuat orang yang menyebut elena itu tikus putih tadi terkejut.
Dia wanita ... begitu ya, mulai sekarang akan kupanggil dia jalang.
"Ti-tidak, bukankah ia hanya pelayan?"
Begitu ya, dibuat seperti itu ya ... benar seperti yang dikatakan oleh guirde
Elena harus bertahan disekolah ini dengan rumor seperti ini?
"Aku tidak tau kau dengar darimana itu, tapi saat kudengar kau menyebut dirinya tikus lagi, jangan harap kau bisa hidup tenang saat itu"
Kyaa!!~~ .... untuk diriku tadi itu sangat keren, gawat, aku jatuh cinta pada diriku.
Mendengar provokasi dari diriku membuat wanita itu menggigil dan terjatuh ketakutan.
Dan aku melanjutkan berjalan tanpa memperdulikan hal itu.
Pada akhirnya aku sampai disuatu depan ruangan dengan bertanya kebeberapa murid lainnya.
Saat kudekati mereka hanya membuat wajah yang memerah, oi oi ... bukan berarti aku tidak peka disini.
Aku tau ... mereka langsung jatuh cinta padaku, padahal yang kutanyai adalah murid wanita, heee .... ternyata hubungan seperti itu memang nyata.
Kesampingkan hal itu.
Ini adalah ruangan kepala sekolah.
Kalau tidak salah namanya percival.
Aku mengetuk pintu, dan tidak membutuhkan waktu yang lama ketika seorang menyuruhku masuk.
"Masuklah"
Yang kutemui adalah pria paruh bayah yang mempunyai rambut merah cerah.
Hanya duduk tersenyum sampai kedatangan ku.
Itu membuatku sadar, ternyata ada orang lain juga disini.
Ia seorang pria, tetapi seragam yang ia pakai adalah seragam sekolah ini, bewarna putih.
Jadi dia murid sekolah ini, bahkan ia mempunyai rambut perak ... hmm, rambut perak dengan seragam putih.
Itu bagus, aku ingin melihat elena memakai seragam seperti itu.
Ia menatapku sampai disaat aku berdiri dibarisan yang sama dengannya.
Ia tersenyum untuk formalitas kepadaku dan aku membalasnya dengan senyuman formalitas juga.
Dan setelah itu kami kembali menatap seorang yang seharusnya menjadi kepala sekolah disini.
"Yah .... aku senang kalian datang secara bersamaan, jadi aku tidak perlu repot menjelaskan sesuatu dalam 2 kali"
Ucap kepala sekolah dengan senyuman masam nya.
Sepertinya kau kerepotan juga.
Dan ia melanjutkan perkataan nya.
"Cukup basa basinya, kalian adalah murid baru ditahun ini, satunya sang jenius leonardo da vinci dan yang satunya lagi dari bangsawan terhormat, sheilla von lohengram ... saya sangat senang dengan masuknya kalian kesekolah saya"
__ADS_1
Heee ... jadi pria ini juga murid baru.
"Tidak, saya juga terhormat karena tuan percival mengundang saya secara pribadi untuk masuk kesekolah anda yang terkenal"
Pria itu membalas dengan pujian dan kepala sekolah hanya membalasnya dengan senyuman yang terlihat rendah hati, seperti itulah.
"Karena kau sudah memasuki sekolah ini, maka jangan memanggilku dengan namaku, panggil saya pak kepala sekolah"
".... mohon maaf atas kelancangan saya"
Mendengar perkataan kepala sekolah, pria yang bernama leonardo itu langsung menundukkan kepalanya.
"Jika kau sudah mengerti maka baguslah, dan untuk sheilla, kerja bagus karena sudah memasuki sekolah ini secepat mungkin"
"...."
Kerja bagus? Bukan selamat atau terima kasih?
Yah, sudahlah.
"Dan satu lagi, secara khusus kalian berdua dinaikkan ke kelas 4"
"Anda serius?"
Pria ini bertanya dan aku hanya terdiam.
Yah, secara khusus tidak ada yang bisa kutanyakan saat ini.
"Tentu saja, itu bukan tanpa alasan, aku menaikkan kalian berdua kekelas 4 karena aku mengetahui kemampuan kalian berdua"
"".....""
Kami berdua sama-sama terdiam.
Apa perlakuan seperti ini diperbolehkan, aku jadi merasa bersalah dengan para murid yang belajar mati-matian untuk bisa naik kekelas 4.
lagipula mengetahui kemampuan? aku bahkan tidak ingat pernah bertemu dengan orang ini.
"Tapi kalian harus membuktikan jika kalian layak berada dikelas 4, jika kalian tidak layak, maka aku terpaksa untuk menurunkan kelas kalian"
"Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakan anda"
Pria itu sekali lagi menunduk untuk menghormati keputusan kepala sekolah.
Waktu berlalu dan kepala sekolah sudah menjelaskan segala yang ada disekolah ini.
Saat ini aku dan pria itu sudah keluar dari ruangan itu, berdiri didepan ruangan itu seperti sedang menunggu sesuatu.
"Kalau begitu, saya akan berjalan-jalan sebentar setelah ini"
Ucap pria itu, tanpa mengubah ekspresi senyum nya, aku kagum karena ia bisa mempertahankan senyuman itu dari tadi.
"Ya, aku juga ada urusan, jadi kita berpisah disini, sampai jumpa nanti".
"Ya, sampai jumpa nanti"
Saling mengucapkan salam perpisahan kami pergi meninggalkan titik berdiri kami.
Kami benar-benar berpisah disitu.
Karena tadi ada pria itu jadi aku lupa untuk menanyakan ruangan asrama elena ada dimana.
Dan aku juga malas untuk kembali keruangan kepala sekolah.
__ADS_1
Yah, hari ini belum masuk waktu belajar, jadi mari cari ruanganku dan segera beristihrahat ketika sudah sampai.
Aku penasaran apa ada perpustakan disekolah ini.