
-Di medan perang-
Terdapat seorang pria berambut hitam dengan pakaian putih dimana itu dilapisi pelindung armor bewarna coklat ditubuh nya, lalu sebuah pedang yang lumayan besar untuk pedang satu tangan.
[Aldies proyenti]
Menatap ke arah musuh yang berada didepan nya.
Dengan rambut keemasan nya dan perawakan nya yang cantik, tetapi dia adalah lelaki ... dilihat darimanapun dia lelaki.
Dengan sombong nya dia terjun kemedan perang tanpa pelindung apapun ditubuh, hanya bermodalkan rapier kecil dengan bergaya elegan.
Senyuman nya yang ramah, tetapi juga terlihat licik.
[Herf la dgrasil]
"Kenapa kau memulai berburu pendatang baru?"
Ucap aldies dengan wajah tenang nya yang terlihat tidak peduli, tetapi juga pertempuran ini adalah bentuk kepedulian nya.
"Haha ... bukankah kau sudah mengerti? Pendatang baru hanya akan direkrut ke dalam party karena mereka tidak mengetahui apapun dan itu akan membuat party tidak berguna bertambah merepotkan"
Herf menjawab dengan sebuah nada di hampir setiap perkataan nya dimana di akhir dia terlihat nada yang senang akan sesuatu.
"Tidak bisa dipahami, 7 tahun aku mengenal mu diantegram, dan baru pertama kalinya kau memperlihatkan pemikiran bodoh itu"
Ucap aldies dimana dia mengangkat pedang tepat dihadapan lalu dia mengangkat tinggi keatas.
"Belajar lah lebih banyak di akhirat"
Sebuah lingkaran sihir tercipta di dikedua pergelangan tangan aldies, dan sebuah api menyelimuti pedang nya itu.
Melihat hal itu membiat herf hanya tersenyum girang, dia tidak merasa akan ketakutan akan hal itu.
Lebih dari itu, dia menundukkan sedikit tubuh nya dengan kedua tangan melebar kesamping.
"HERA!!"
Ucap aldies dengan berteriak tegas, dan dia mengarahkan pedang nya kebawah dimana api membesar dan terus mengarah ke arah herf.
Sebuah lingkaran sihir muncul dikedua tangan nya, dengan senyuman girang melebar diwajah nya, dia mengarahkan kedua tangan nya itu kedepan dan mengenai api milik aldies.
Kau bisa melihat nya di atas sini dimana api itu meledak ketika bertemu herf dan percikannya menyebar kesegala arah dan membuat hutan lebih terbakar.
Tetapi aldies tidak berpikir jika serangan itu dapat membunuh herf, itu kenyataan.
Karena ... herf sudah berada disamping nya saat ini dengan rapier nya yang siap untuk menusuk aldies.
Untuk menghindari hal itu, alides mengangkat kaki kanan nya dimana itu membuat tubuh nya tidak seimbang dan jatuh.
__ADS_1
Tetapi 1 detik kemudian sebelum itu benar-benar terjadi, aldies menahan tanah untuk membuat tubuh nya tetap berdiri dan terlihat jika serangan herf sudah melewati aldies.
Serangan itu meleset, dimana herf melihat aldies dengan kesengan akan sesuatu.
Aldies mengangkat pedang nya ke atas dan menebas herf dengan kecepatan dan kekuatan yang berat.
Serangan pedang yang dilapisi api yang sangat panas, siap mengenai herf, tetapi disuatu kesempatan, herf sudah mengarahkan tangan kiri nya ke arah pedang itu.
Dia berniat untuk menahan serangan itu hanya dengan tangan kiri nya.
Pedang aldies mengenai tangan kiri herf, tetapi dengan memusatkan seluruh kekuatan otot tangan kiri nya keseluruh jari nya, herf mengenggam erat pedang itu disaat-saat terakhir mengenai nya.
Tetapi itu percuma ... mau bagaimana pun, pedang aldies tidak lebih sama dengan pedang yang sedang ditempah oleh panas nya.
Tetapi itulah yang diinginkan oleh herf, karena dia menyadari jika dia tidak bisa menahan serangan itu ataupun menghindarinya.
Karena itulah, dia hanya menerimanya.
Serangan aldies menebas jari herf dan setelah itu menebas tangan kiri herf sampai terbelah dengan rapi.
Bentrokan akan mereka telah berakhir dan herf langsung melompat menjauh.
Aldies menatap tajam ke arah herf, tetapi saat ini herf sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi yang umum akan diperlihatkan oleh orang yang baru saja kehilangan tangan kiri nya.
Lebih dari itu, setelah menatap ke arah tangan nya yang putus, dia menyadari tatapan aldies dan mengangkat tangan kiri nya itu, dimana dia membuat senyuman lebar saat ini.
"Liat ini aldies, sekarang aku tidak bisa melambai menggunakan tangan kiri lagi, canda deh~"
Itu disebabkan oleh panas api yang luar biasa dari pedang milik aldies, dengan panas yang seperti itu, dapat membakar daging hanya dengan bersentuhan sedikit.
Karena itulah tangan herf sama sekali tidak mengeluarkan darah, karena berkat panas dari pedang herf, itu sudah tertutup sepenuh nya.
Orang biasa ... akan pingsan hanya dengan daging nya dibakar, tetapi tidak dengan musuh yang ada dihadapan aldies sekarang.
Untuk suatu pengecualian, tidak tercium bau daging hangus yang keluar dari tangan nya.
Itu karena ...
"Huh? Maaf aldies, waktu nya telah habis"
Mengucapkan hal seperti itu, tubuh Herf perlahan berubah bentuk menjadi perpohonan hingga akhirnya pohon itu layu dan berubah warna.
Pohon itu terjatuh lemas dan menerima sesuatu yang bernama "kematian"
"Tch ... salah satu klonning nya pandour kah? Merepotkan"
Dengan kecewa, aldies memadamkan kembali api yang berada dipedang nya, tetapi dia tidak bisa memadamkan api yang keluar dari pedang itu..
Dan dia hanya bisa berharap ada hujan yang muncul untuk memadamkan kebakaran hutan ini.
__ADS_1
Suara kaki terdengar dan aldies mewaspadai hal itu dengan menatap tajam ke arah nya.
Hingga akhirnya sosok itu keluar dan berlutut ke arah aldies.
"Tuan aldies, saya telah tiba"
Ucap pria itu dengan sopan dimana memakai logat yang tidak biasa, itu terdengar sangat agung.
Mengetahui pria yang didepan nya, aldies mengendurkan kewaspadaan nya dan mulai menghentikan posisi bertahan nya itu.
"Alman ya? Kebetulan sekali kau datang, Aku ingin meminta kau memandamkan seluruh api yang berada disekitar"
Ucap aldies sambil melihat sekeliling nya, menyadari permintaan tuan nya, pria yang dipanggil alman ini mengangkat kepala nya dan mulai berdiri..
"Dimengerti"
Alman mengarahkan tangan kiri nya ketengah dan mengarahkan nya kesamping hingga akhirnya tercipta sebuah layar sihir bewarna biru cerah.
Sekali lagi, alman mengarahkan tangan nya ke atas dan layar sihir itu mengikuti nya dengan mengarah ke atas juga.
Sekali lagi layar sihir itu mengalami perubahan cepat dimana seluruh lingkaran sihir yang ada, mengarah kemasing-masing area yang ditentukan.
Dan sebuah garis sirkuit muncul untuk menghubungkan seluruh lingkaran sihir ke lingkaran sihir yang lainnya.
Sebuah gumpalan air tercipta dan meneteskan air satu persatu dimana air itu tidak terlihat akan berkurang meski ribuan tetesan air keluar dari gumpalan itu.
Itu adalah sihir azaya, dimana mampu menerima perintah apapun dari pengguna dimana itu juga bisa digunakan untuk menyerang tanpa takut akan kehabisan air.
Sebelum tetesan air yang seperti hujan itu benar-benar terjatuh ke tanah, alman berjalan ke arah aldies dan mengarahkan tangan nya ke atas.
Disaat itu juga sebuah layar sihir sedikit lebih lebar muncul dan melindungi mereka dari tetesan air yang lebat itu.
(Ah ... sampai harus memadamkan api yang dibuat oleh tuan aldies, betapa berdosa nya aku, tidak termaafkan, tetapi ini juga perintah dari tuan~)
Pikir alman dengan raut wajah yang sedih dan kecewa, untuk suatu catatan, alman memuja aldies dengan terlalu fanatik.
Dimana tidak heran jika alman memandang aldies sebagai dewa atau tuhan.
"Bagaimana pergerakan dari party druhilde?"
Aldies bertanya sambil memeriksa kantung nya.
Merespon hal itu, alman membuang ekspresi sedih nya dan langsung berubah ke ekspresi serius.
"Mereka bergerak ke perbatasan dan sebentar lagi mereka akan tiba di kota affali, mereka mungkin ingin beristirahat di kota affali, apakah harus tetap di awasi?"
"Tidak ... tidak perlu, lebih dari itu, prioritas utama kita adalah party hornelia"
Hujan air berhenti dan alman sedikit menundukkan kepala nya.
__ADS_1
"Dimengerti"