
Hanya satu yang mereka pikirkan, jangan biarkan Killia menggunakan sihir.
Karena itulah, Larisa melesat dengan cepat menuju ke arah Killia, menebaskan sabit nya dengan kuat, tidak masalah.
Sabit nya tidak akan hancur semudah itu hanya karena itu, dan dia sangat mengerti hal itu.
Membuat Killia mengarahkan tombak untuk menahan serangan Larisa, tetapi kondisi nya saat ini tidak cukup menguntungkan.
Membuat nya kalah dalam beradu kekuatan dengan Larisa, lalu dengan kuat, Larisa menebaskan sabit nya ke arah Killia.
Dia mendapatkan serangan telak itu lalu terhempas jauh ketika Aldies melenyapkan pedang api nya itu disaat bersamaan.
Lalu menciptakan pedang api yang memiliki bentuk seperti karet, dimana Aldies bisa menyerang Killia seperti cambuk saat ini.
Ketika Killia mengatur posisi nya diudara, lalu mendarat sempurnah ditanah.
Serangan berikut nya telah diluncurkan dan kali ini Killia tidak akan bermain main.
Dia menatap ke arah mana cambuk api itu bergerak, lalu ketika cambuk api itu mendekat ke arah nya, Killia menangkap nya dengan satu tangan.
Membuat Aldies tersentak kaget, tanpa membuang waktu lagi, Killia menarik kembali cambuk itu.
Tentu saja Aldies akan kalah dalam kekuatan otot disini ketika berhadapan dengan Killia, dia menarik cambuk itu dengan sentak kuat.
"Sial!!"
Dan Aldies terikuti oleh cambuk nya, menuju dengan cepat ke arah Killia.
Disaat Killia mengatur ujung tombak nya untuk segera menusuk Aldies, Larisa datang langsung menebaskan sabit ke arah Killia.
(Tidak akan kubiarkan!!)
Killia berhasil menghindari hal itu dengan memutar tubuh nya sambik tetap melihat ke arah Larisa.
Disaat Larisa mendarat ditanah dan mencoba untuk menyerang kembali ke arah Killia, dia tidak sempat untuk melakukan hal itu.
Ketika Killia tanpa ampun menendang perut Larisa, membuat nya memuntahkan darah, itu lebih sakit dari tendangan biasa mengingat luka yang merusak lambung nya masih ada.
Dia menggeliat ditanah sambil terus menahan perut nya itu, dan disisi lain, Aldies yang masih tertarik mencoba untuk melenyapkan cabuk api ini.
Dan ketika itu lenyap, dia segera mendarat ditanah lalu bergegas ke arah Killia.
Menciptakan sebuah pedang api raksasa lagi kali ini, dia hanya berdoa agar ini berhasil.
Dan dia menebaskan itu ke depan, ke arah Killia.
"Lemah"
Gumam kecil Killia, dia membuang tombak nya, lalu sebuah pedang kebiruan muncul dan dia mengenggam itu.
Membuat Aldies terheran heran, kenapa dia membuang tombak nya dan lebih memilih menggunakan pedang?
Apa dia bisa menggunakan kedua itu? Maka jawaban nya adalah tidak.
Pada dasar nya, menggunakan tombak hanyalah keisengan dan dia bahkan baru pertama kali menggunakan tombak ketika acara terakhir ini dimulai.
Karena pada kenyataan lebih buruk dari yang dikira.
Killia sejak awal adalah pengguna pedang, dia menebaskan pedang nya itu ke atas, ke arah pedang api itu, dan pedang api itu langsung terbelah menjadi dua bagian.
(Mu-- mustahil ... kekuatan seperti ini ... apa dia manusia?!)
__ADS_1
Pikir Aldies ketika melihat kekuatan Killia barusan, dia menyadari jika sebelum nya mereka hanya dipermainkan oleh Killia.
Dia tidak benar benar serius, tetapi kali ini berbeda, dia sudah cukup serius.
"Nah, majulah ... pengguna api"
Saat ini, Killia kembali mempermainkan mereka, jika Killia serius untuk membunuh mereka saat ini, maka dari tadi mereka berdua sudah mati sejak Killia menggunakan pedang nya.
Tetapi dia lebih memilih untuk memprovokasi mereka, perbedaan kekuatan mereka terlalu besar.
Itulah keputusasaan yang sebenar nya dan Aldies baru mengetahui hal itu seoarang.
(Itu mustahil ... tidak ada kesempatan menang)
Didalam hati nya yang terdalam, dia sudah menyerah dengan kematian, berjuang lebih dari ini adalah hal yang percuma.
Tetapi, ada satu orang, yang tidak peka dengan keputus asaan itu.
"Haha ... a--pa yang kau lakukan hei? Ha-hanya dengan tendangan lemah seperti itu tidak akan membunuh ku"
Larisa perlahan bangun sambil memprovokasi balik Killia, dia tersenyum masam sambil menahan rasa sakit diseluruh luka nya.
Melihat Larisa yang tetap berdiri meski keadaan nya yang buruk, membuat Aldies kecewa dengan dirinya.
Untuk pertama kalinya dia menyadari jika dia lebih pengecut dari yang dia kira.
(Apa nya yang ingin jadi penguasa Antegram? Jangan membuat ku tertawa!!)
Aldies mulai bangun sambil mengejek sekaligus memprovokasi dirinya sendiri.
"Larisa!!"
"Yaa ... aku tau ... ayo ..."
Secara serempak, mereka berteriak sekencang mungkin, lalu mereka mulai menendang tanah untuk berlari ke arah Killia.
(Ini adalah babak bunuh diri, tetapi bukan berarti kami berniat untuk mati ... sekecil harapan juga tidak masalah, selama itu bisa membawa kami ke kemenangan, akan kami korbankan nyawa kami!)
"Sauros!!"
Sebuah lingkaran sihir tercipta ditangan Aldies, lalu sebuah badai angin keluar dari itu.
"Kupikir kau pengguna api"
Killia menghindari hal itu dengan santai dan menyadari jika dibelakang nya terdapat Larisa.
(Cepat ... bagaimana dia bisa bergerak dengan luka seperti itu ditubuh nya?)
Larisa menebaskan sabit nya dan dengan santai Killia menahan tangan Larisa.
"Hmm ... pernafasan? Kamu menggunakan pernafasan untuk menahan luka mu?"
Killia mencekik leher Larisa dan Larisa langsung menggeliat kesakitan, dan dia sedang mengamati tubuh Larisa.
Ketika dia menghentikan nafas Larisa, itu otomatis membuat luka ditubuh nya perlahan terbuka dan darah mulai mengalir keluar.
"Menarik"
Lalu, Killia mundur kebelakang ketika dia mencoba untuk menghindari serangan yang dilakukan oleh Aldies.
Dan Killia melepaskan tangan nya dari leher Larisa membuat Larisa terjatuh ketanah sambil terbatuk batuk.
__ADS_1
"Larisa"
Aldies menahan amarah nya sebisa mungkin dan dia menggigit bibir nya terlalu kuat sampai itu berdarah.
Dia mengkhawatirkan keadaan Larisa saat ini, lalu dia mulai membuang ego nya.
Dia memperhatikan sekitar dan menemukan sebuah terowongan goa yang terhubung ke labirin yang lainnya.
Saat ini, nyawa nya dan nyawa Larisa lebih penting dari apapun, jadi pilihan yang bisa dia pilih adalah kabur.
Hanya itu, tetapi apa mereka bisa kabur? Itu akan susah dimana Killia bisa mengejar mereka secepat yang mereka kira.
Bahkan pergerakan Aldies akan melambat karena dia harus membawa Larisa pergi, dia tidak akan memikirkan tindakan hina seperti kabur sendirian dan meninggalkan Larisa disini.
Killia perlahan berjalan ke arah nya, dan dia perlahan mundur kebelakang.
Bertarung satu lawan satu dengan Killia adalah tindakan yang buruk, dia tidak memiliki kesempatan untuk menang.
(Sampai disini saja ya?)
Itu adalah akhirnya, darimana kau melihat nya mereka tidak akan menang.
"Aldies!!"
Teriak seseorang, ketika menyadari nya, Aldies menatap kesamping dan mendapati sekelompok orang yang berjalan ke arah mereka.
Aldies tersentak kaget ketika mengenal orang itu, mereka adalah rival, dimana Aldies sering bertarung dengan nya karena perbedaan pendapat.
Dan orang itu adalah herf la dgrasil, pemimpin party dotem.
Meski itu terdapat dia yang lainnya dikanan dan kiri, bisa dipastikan itu adalah sihir pribadi milik nya dimana dia bisa menbuat tiruan dirinya dari pohon, dan ketiga herf ini adalah tiruan nya.
"Herf"
"Disaat aku sedang memeta labirin ini, tidak kusangka akan bertemu dengan mu, yah, meski kau dalam kondisi buruk saat ini, jelaskan situasi nya"
Herf bertanya dengan serius dan Aldies menatap serius itu.
"Raja antegram, kelompok ku musnah, satu rekan ku dalam kondisi kritis, mustahil untuk menang"
"Oke, akan kubukakan jalan untuk mu, larilah disaat aku menahan dia"
Aldies menarik nafas nya dalam dalam, lalu menghembuskannya sekali, entah itu keajabian atau apapun.
Tetapi dia hanya terpaku dengan kenyataan itu, disaat ini, dia mendapatkan kesempatan, untuk bisa lari.
Bukan berarti dia kejam atau apapun karena berniat untuk mengorbankan herf, tetapi dia percaya pada nya.
Pada nyata nya herf didepan nya ini hanyalah tiruan, meski mereka dibunuh itu tidak akan berefek ke tubuh asli mereka.
Jadi, Aldies akan mempercayakan nyawa nya ditangan Herf.
Didalam setitik kebahagiaan itu, dia merasakan sesuatu keputusasaan yang besar setelah nya, ketika Killia mengeluarkan aura milik nya.
Disaat yang sama, Aldies dan Herf seingin muntah karena merasakan aura yang begitu besar, kental dan berat itu.
Sekali lagi, mereka disadarkan oleh keputusasaan.
"Apa pembicaraan nya telah usai?"
Killia bertanya dengan intimidasi nya dan mereka hanya menanggapi itu diam, yang pasti mereka harus bertarung sekali lagi saat ini.
__ADS_1
Tujuan nya adalah untuk mengambil Larisa, setelah itu melarikan diri dan serahkan sisa nya kepada tiruan Herf.
Tetapi ... tentu itu tidak akan semudah yang mereka harapkan.