Paladin Antegram

Paladin Antegram
kerja sama


__ADS_3

16 jam setelah terbentuk nya labirin


Disini, Larisa, aldies dan michael sedang beristirahat dengan kelompok yang lainnya, mereka telah menemukan titik makanan dimana mereka memutuskan untuk beristirahat.


Dan membagikan pasokan makanan secara merata ke yang lainnya, meski jumlah makanan itu tergolong sedikit, tetapi mereka tidak memiliki pilihan lain.


"Jadi ... apa rencana selanjutnya?"


"Jangan tanya aku"


"Kalahkan musuh"


Aldies menjawab dengan singkat dimana Larisa menghela nafas untuk jawaban itu, mereka tau jika mereka harus mengalahkan musuh.


Tetapi bukan itu jawaban yang Larisa inginkan.


Dan disaat bersamaan, tanah sedikit bergerak, merespon hal itu mereka bertiga saling memperhatikan sekitar lalu menatap satu sama lain.


"Katakan jika itu bukan perasaan ku"


"Berbahagialah michael, itu bukanlah perasaan mu"


Aldies berdiri dan diikuti oleh Larisa, getaran barusan, itu dari arah yang sangat jauh tetapo yang pasti itu adalah ledakan yang besar.


Tidak salah lagi jika itu adalah pertempuran, jauh disana, seseorang sedang bertempur dengan musuh.


Jadi mereka harus pergi ketempat mereka yang sedang bertempur, Aldies meminta kebanyakan orang untuk bersiap siap berangkat dan bertempur.


Tidak butuh banyak waktu untuk sampai ketempat kejadian, tetapi, itu bukanlah sesuatu yang harus dilihat.


Terdapat banyak mayat yang hancur, tanah yang meleleh dan darah yang membasahi sekitar, neraka baru saja menimpa mereka.


"Kita terlambat"


Ucap michael sambil mengepalkan tangan nya dengan amarah, beberapa orang dibelakang mundur beberapa langkah karena takut akan hal itu.


Musuh yang akan dihadapi adalah puncak dari kekuatan, dan mereka tau akan hal itu.


Tetapi ketika melihat ratusan pasukan yang bertempur melawan musuh, dan berakhir kalah, itu membuka mata mereka akan berbahaya nya acara ini.


Mereka yang menganggap remeh acara ini, langsung menyesali kesombongan mereka dan ingin kembali.


Tetapi tidak ada jalah kembali disini, kalahkan musuh atau mati, hanya itu pilihan yang tersedia.


"Siapa yang mereka lawan?"


Gumam Larisa mencoba untuk maju kedepan, memeriksa salah satu mayat acak yang tubuh bagian bawah nya sudah hancur.


Ketika dia melakukan hal itu, sebuah cahaya terbentuk jauh disana, membentuk sepasang armor dengan pedang besar nya.


Jatuh katanah, dan dia mulai menatap Larisa dan yang lainnya.


"Baiklah, itu musuh nya"


Michael mengambil pedang yang tersimpan dipinggang nya, dan Aldies memanaskan tangan nya dengan mati.


Tentu dia tidak akan merasakan panas itu karena dia sudah menyiapkan pelindung untuk tangan nya sendiri.


Dia tidak akan melupakan sesuatu yang penting seperti itu.


Larisa menggapai gagang sabit yang berada dipunggung nya, lalu menatap orang orang acak dibelakang nya.


"Hei! Apa yang kalian lakukan?? Lihat, musuh ada disana dan kalian hanya diam?"


"Kau meminta kami untuk melawan monster yang mengalahkan ratusan pasukan ini?!"


"Benar, kami tidak ingin mati!"


Ucap dua orang acak yang berteriak ke arah Larisa, membuat Aldies mengerutkan alis nya.


"Apa kami peduli? Dan itu tidak! Kami bukan pelindung kalian! Jika kalian tidak akan membantu, maka kami akan meninggalkan kalian dititik ini"


Michael meneriakki mereka, dan mereka sedikit tersentak akan hal itu, selama ini mereka hanya berdiam diri, jujur mereka memanfaatkan mereka bertiga dalam urusan bertarung.

__ADS_1


Mereka licik, dan mereka tau itu buruk, tetapi itu lebih baik daripada bertarung dan mati.


Tetapi kondisi saat ini berbeda, mereka bertiga menerikakki mereka dan mengancam untuk tidak melindungi mereka.


Itu tentu saja karena mereka bertiga bukanlah pelindung dan mereka bertiga tidak memiliki tanggung jawab untuk itu.


"Maaf Aldies, kondisi adalah kondisi"


Ucap Michael sambil menepuk pundak Aldies, dan aldies mengangguk.


Aldies bertujuan untuk menjadi seorang pemimpin di antegram, atau bisa dikatakan jika dia berniat untuk menjadi raja.


Yang seharus nya tugas raja adalah melindungi rakyat nya, tetapi dia tidak bisa meniru hal itu disini, karena kelompok yang ia coba lindungi bahkan menolak untuk menbantu.


Dia gagal sebagai pemimpin, kharisma nya tidak cukup kuat sampai membuat seorang mengakui keberadaan nya, memberikan sumpah setia dan rela berkorban untuk nya.


Tentu dia tidak ingin orang yang mendukung nya mati, tetapi dia tidak begitu menolak jika orang itu memberikah sumpah setia meski rela mati untuk nya, itu membuat nya senang.


Karena itu membukti seberapa besar nya dia sebagai pemimpin dan dia tidak akan membiarkan orang yang mendukung nya mati.


Tetapi, kondisi kali ini tidak cocok untuk impian semu nya itu.


"Baik dia datang"


Ucap Michael ketika armor putih itu mengangkat pedang nya ke atas, dan petir mengelilingi pedang dan tangan nya.


Tak lama kemudian, dia mengayunkan pedang nya itu dan listrik nya terbang ke arah mereka, menghancurkan tanah dan mereka mencoba untuk menghindari hal itu.


Dan sebelum Larisa dan Michael mencoba untuk menghindari, Aldies maju kedepan untuk memukul petir itu dengan api nya.


Sangat kuat, menghancurkan tanah dan dia tidak terluka karena memukul petir itu.


"Namaku adalah Aldies, cam kan itu"


Aldies berteriak dan berlari dengan cepat ke arah armor itu.


"Haha, dia sedang bersemangat!'


"Begitu? Kupikir dia sudah gila"


Tetapi dia menghinjak kaki armor itu untuk tetap menahan nya di jangkauan tinjuan, terus memukul dengan kuat.


Tetapi bagi armor itu, itu hanyalah pukulan biasa karena dia bahkan tidak bisa merasakan rasa sakit.


Jadi dia mudah untuk melewati hal itu, dia memukul wajah Aldies sampai darah keluar dari mulut nya.


Selanjutnya ketika dia ingin melancarkan tinjuan kedua, tangan nya ditahan oleh sesuatu.


Itu adalah Larisa yang menahan lengan armor itu dengan sabit nya, tenaga nya sangat kuat untuk beradu kekuatan dengan armor itu.


Dan itu dilanjutkan oleh Michael yang melompat lalu menusukkan pedang nya itu ke kepala armor itu.


Membuat nya tidak bergeming.


"Fiuhh ... aaaa!!!"


Disaat dia lega karena berpikir telah mengalahkan armor itu, tetapi dia tidak mengalah kan nya, pada nyatanya itu hanyalah armor kosong.


Tidak ada seorang pun didalam nya, jadi meski kepala nya ditusuk atau dibelah, dia bisa lanjut untuk bertarung.


Dia menarik Michael dan melemparkan nya sejauh mungkin, membuat michael berteriak kencang.


Lalu dengan tangan kiri nya, dia memukul wajah Larisa, dia tidak pernah tau untuk tidak memukul wanita.


Menbuat Larisa sedikit pusing dan kehilangan keseimbangan, terjatuh ketanah tetapi mencoba untuk tetap bangun.


Disana, Armor itu melanjutkan dengan memukul Aldies, lalu menghantamkan kepala nya kekepala Aldies.


Dia telah meniru apa yang dilakukan oleh Aldies sebelum nya.


"Sialan kau"


Api menyelimuti Aldies lalu dia menggenggam erat tangan amor itu, meresponkan sesuatu yang berbahaya.

__ADS_1


Armor itu melemparkan Aldies dengan kuat sampai dia terhempas jauh.


Menabrak dinding dan berakhir jatuh ketanah, tetapi tidak berakhir disitu, tanah disskitar nya sedikit meleleh dan disana, Aldies berdiri.


"Bermain main nya telah berakhir, maju kau boneka sialan!"


Menerima provokasi dari Aldies, armor itu memutar tubuh nya dan berlari dengan cepat ke arah Aldies.


Begitu juga dengan Aldies yang berlari ke arah armor itu, mengepalkan tinju nya untuk meninju armor itu.


Tetapi tidak meniru Aldies, armor itu menggunakan pedang nya saat ini.


Dan disaat mereka ingin saling menyerang, suatu bergerak dengan cepat sampai itu menusuk ke wajah armor itu.


"Haha!! Sekali lagi!!"


Michael berteriak sambil melompat dan berlari ke arah mereka.


Aldies memukul wajah armor itu sampai membuat nya terhuyung kesamping, dan terdapat Larisa dihadapan nya.


Menggunakan sabit milik nya untuk membelah lengan armor itu, dan sekali lagi, Aldies melancarkan tinjuan ketubuh nya.


Membuat nya termundur dan Michael tiba sambil mengatakan "ini baru kerjasama!!"


Dan menendang wajah armor itu, dan dia tidak lupa untuk mengambil pedang nya kembali yang berada dikepala armor itu.


Karena hanya pedang itu satu satu nya senjata milik nya, senjata tombak sudah dihancurkan oleh Aldies dan itu tidak berfungsi lagi.


Larisa datang dan menebas perut armor itu, dan ketika Aldies datang untuk memberikan tinjuan sekali lagi.


Armor itu melepaskan sejumlah energi petir yang sangat kuat, mereka tidak memprediksi hal itu, bahkan tidak memiliki waktu untuk menghindar.


Jadi mereka menerima serangan itu dan terhempas jauh, energi petir biru yang bahkan mampu menekan tanah.


Setelah memakai kekuatan itu, cahaya kebiruan yang didalam armor itu meredup lalu kehilangan cahaya nya.


Membuat armor itu terjatuh ketanah, disituasi yang berbeda, Larisa mencoba untuk bangun dari tumpukan batu yang menimpa nya.


Dan michael tidak bisa bergerak, mulut nya keluar darah dan pandangan nya perlahan lahan menjadi kabur.


Dia mencoba untuk menggerakkan jari nya tetapi itu tidak bisa, itu karena dia menerima serangan itu secara langsung tanpa perlindungan apapun.


Tubuh nya tidak kuat untuk menahan serangan itu, dan berakhir kritis.


Aldies cukup beruntung karena dia telah melapisi tubuh nya dengan pelindung karena dia harus memakai api.


Dan seharus nya Larisa tidak memakai pelindung apapun, tetapi tubuh nya yang kokoh menyelamatkan nya kali ini.


Bahkan setelah menerima serangan itu secara langsung, dia masih bisa bergerak meski kepala nya sedikit pusing.


"Hei, kau baik baik saja?!!"


Larisa bertanya dengan panik dan Michael tersenyum.


"Ini buruk, bagaimana dengan armor itu?"


"Dia mati? Yah, mungkin dia telah mati, ayolah, aku akan membantuku bangun"


Larisa menyandarkan Michael dipunggung nya lalu membantu nya untuk berjalan, disana, Aldies baru saja bangun dan berjalan kembali ke arah mereka.


Aldies menghampiri mereka dan memberikan sihir penyembuh untuk Michael.


Disaat ini, Larisa merasakan kehadiran dibelakang nya, dia merasa takut akan hal itu.


Berharap jika tebakan nya salah, disana, berdiri seorang pria dengan tombak disamping nya.


Dia adalah killia, kembali lagi kemedan perang ini karena merasakan armor terkuat nya dikalahkan.


Dan dia datang diwaktu yang tidak tepat.


"Hei, kau masih bisa bertarung?"


"Kuharap aku bisa bersantai, tetapi seperti nya tidak bisa untuk saat ini"

__ADS_1


Michael melepaskan dirinya dari sanggahan Larisa, dan mereka menghadap ke satu musuh itu.


Mereka ingin kabur dan memilih untuk tidak menghadapi musuh dihadapan meraka ini, tetapi ... kondisi tetaplah kondisi.


__ADS_2