Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Ada Apa?


__ADS_3

Andra mengacak-acak rambutnya, tak perduli lagi guyuran air yang menerpa secara langsung di kepalanya.


"Mas Andra tenang dulu! Semua pasti ada solusinya," tegas Senja seraya menggenggam kedua tangan Andra.


Gadis itu menggandeng lengan Andra untuk menepi terlebih dahulu dan menenangkannya dari kepanikan yang melanda sang suami tercinta.


"Minum dulu!"


Andra menerima botol air mineral yang disodorkan Senja kepadanya dan meminumnya sedikit. Ia sama sekali tak menyangka akan terjadi hal yang tak terduga seperti ini. Ia pikir semuanya akan baik-baik saja dan berjalan sesuai rencana. Tapi ternyata tanpa Bayu ia merasa tak bisa apa-apa.


Kembali ia teringat dulu saat perjuangannya dalam mencari Senja, ia yang frustasi menjadi sangat mudah terserang panik saat sedikit saja ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Dan Bayu selalu ada untuk memberikan solusi kepadanya atas semua permasalahan yang menimpanya, bahkan tanpa ia minta, sahabatnya itu akan tau apa yang diinginkannya, dan bagaimana yang di harapkannya.


Tapi sekarang dengan tak adanya Bayu membuatnya kembali terserang panik saat rasa khawatir yang berlebihan memenuhi ruang pikirannya. Ia khawatir jika Senja akan sakit, jika istrinya itu akan kedinginan dan jika-jika yang lainnya lagi.


Sampai ia lupa siapa dan bagaimana istrinya tersebut. Seorang gadis tomboy yang sangat tangguh, tidak akan semudah itu sakit jika bukan karena memforsir fikiran dan hatinya untuk terlalu berfikir keras dan menahan sakit hati. Jika hanya karena kehujanan, kepanasan, luka fisik saja ia tak akan kenapa-kenapa.


"Udah tenang?" Lembut suara sang istri menyapa telinganya membuyarkan pemikiran tentang masalalunya.


Andra menatap Senja dan mengangguk samar. dilihatnya tangannya yang masih digenggam erat oleh sang istri, membuat hatinya menghangat. Dengan perlahan namun pasti hal tersebut menyalurkan ketenangan dalam dirinya.


"Mas khawatir sama aku?" Andra mengangguk lagi.


"Apa Mas Andra lupa, siapa yang sering nolongin Mas Andra dulu?"


"Kamu,"


"Yang sering lindungin Mas dulu kalau ada yang gangguin?"


"Kamu, makanya Mas Andra mau-"


"Ssstt," Senja meletakkan jari telunjuknya pada bibir Andra yang seketika membuat Andra terdiam dan melirik pada jari istrinya itu.


"Aku bukan mau mengungkit ataupun meminta balas jasa, Mas!"


"Aku cuma mau ingetin Mas Andra, siapa dan bagaimana aku. Aku bukan cewek kota, aku bukan anak orang kaya yang manja." Tutur Senja yang kembali menggenggam dan mengelus tangan Andra dengan ibu jarinya.


"Aku hanya anak orang biasa, yang terbiasa hidup susah. Kepanasan, kehujanan, itu sudah menjadi hal biasa bagiku."


"Jadi, stop khawatir berlebihan sama Adek, oke? Mas Andra harus lebih merhatiin diri Mas sendiri, sayangi diri Mas, gimana kalau Mas yang sakit? Kan Adek juga yang sedih," ungkap Senja menatap mata Andra.


Andra membalas tatapan mata istrinya, teduh dan menenangkan. Tak harus Bayu, kini ada sang istri yang mampu mengobati syndrom yang di deritanya sedikit demi sedikit.


"Makasih ya, Dek. Kamu segalanya bagi, Mas."


Senja tersenyum malu, "Adek yang seharusnya berterimakasih sama Mas. Mas Andra udah terlalu baik sama aku,"


"Itu Mas lakuin karena Mas Andra sayang dan cinta sama kamu," kini ucapan itu bisa lebih mulus terlepas dari tenggorokan Andra.


Rasa gugup dan ragu yang dulu sering hinggap, untuk saat ini tak lagi ada. Kenyamanan sudah menggantikan segala rasa gundah gulana.


Setelah berhasil menenangkan sang suami, Senja mengajak Andra mencari solusi untuk mereka sebelum hari beeganti malam. Yang jelas jangan lagi ngrepotin Bayu untuk masalah sepele yang sekiranya bisa masih bisa ditangani sendiri, begitu kata Senja.


"Kita naik bis aja, gimana?" pendapat Senja.


"Enggak! Mending gocar aja," tolak Andra.


"Nggak ah, ngojek aja."


"Malah ngojeg, Mas nggak mau ya kamu dibnceng laki-laki lain,"


"Apa? Iya juga, aku juga gak mau,"

__ADS_1


"Ya makanya, nginep di hotel aja kalau gitu yang deket,"


"Ntar dicariin mbah kung sama mbah uti lagi. Nggak ah, baru juga menikmati suasana disini lagi setelah sekian tahun,"


"Kalau gitu, beli motor aja, gimana? Daripada ntar kemaleman pulangnya,"


Perdebatan dan perbedaan antara ingin memakai ojek online, jasa gocar, ingin menginap di hotel, sampai ide luar biasa Andra yang akan membeli motor baru yang membuat Senja menganga.


"Mas jangan ngaco deh,"


"Mas serius, Dek! Ini udah mulai sore loh,"


Senja menepuk jidatnya, segampang itu sang suami ingin memebeli motor baru seperti akan membeli baju. Mungkin Senja lupa siapa suaminya itu, baguslah biar nggak jadi cewek mata duitan.


Emang autornya😆


Hey! Saya realistis ya, bukan matrealistis🤭


Sore menyapa namun hujan belum lagi reda. Rasa lapar yang juga semakin mendera, membuat keduanya memutuskan untuk pergi dari sana saja dengan terlebih dahulu menitipkan kendaraan roda dua milik neneknya.


"Pak, bisa minta tolong?" Ucap Andra pada petugas parkir yang membantunya menyiapkan motor tadi.


"Ya, Mas. Ada apa? Saya sebenarnya dari tadi mau nanya lho, kenapa Mas sama Mbaknya belum jadi pergi,"


"Itu karena kunci motor saya ilang, Pak. Kecebur rawa," jawab Andra.


"Walah, kok bisa to, Mas?"


"Tadi nggak sengaja kelempar sama jaket saya," jawab Andra sedikit tertawa mengingat kecerobohannya.


"Mending di duplikatkan saja, Mas."


"Oh iya, saya baru kepikiran Pak. Bapak tau dimana yang bisa bikin kunci duplikat?"


"Emm, kalau saya nitip motor sama Bapak bisa? Sekalian biar tetangga Bapak bikinkan duplikatnya, besok kalau sudah jadi, saya ambil,"


"Bisa-bisa, Mas."


"Terimakasih ya Pak, sebelumnya. Maaf ngrepotin, dan-" Andra merogoh dompetnya lalu mengambil kartu namanya.


"Ini ada nomor hape saya, kalau sudah jadi kuncinya, Bapak bisa menghubungi nomor saya di nomor ini," tunjuk Andra pada kartu nama yang di pegang dan dibaca oleh petugas parkir tersebut.


Disana tertulis nama,


...Andra Pradipta...


...Owner of SA Swalayan...


Petugas parkir itu mengernyit, ia sangat hafal akan nama SA Swalayan, namun apa itu arti owner, batinnya tanpa berani mengutaran hal tersebut pada Andra.


"Baik, Mas. Insyaallah akan saya hubungi kalau kuncinya sudah siap besok. Tapi Mas-"


"Oh iya, bentar ya, Pak," Andra kembali merogoh kantongnya untuk mengambil dompet yang baru saja ia masukkan dan dengan cepat menarik lembaran uang dari dalamnya.


"Bukan itu Mas, besok saja kalau itu Mas bayarnya sama tetangga saya yang bikin duplikatnya," dengan cepat petugas parkir tersebut menolak saat Andra akan memberikan uang padanya.


Dahi Andra mengerut, "terus apa, Pak?


"Emm- ndak jadi, Mas. Yasudah monggo kalau mau lanjut Mas sama Mbaknya,"


"Iya, Pak. Sekali lagi trimakasih ya, Pak,"

__ADS_1


"Ya, Mas,"


"Makasih, Pak. Mari," pamit Senja pula.


Lalu keduanya berjalan keluar dari parkiran taman itu karena gocar yang dipesan Senja sudah menunggu disana. Mereka memutuskan memesan gocar karena hari yang sudah sore, pun hujan masih setia menemani dengan rintiknya.


"Langsung pulang atau mau mampir cari maem dulu?"


"Emm, maem dulu gimana? Abis udah laper banget," ringis Senja dengan memegang perutnya.


"Oke, cari-cari tempat deh, mau maem apa?" Andra mengedarkan pandangannya keluar jendela mobil.


"Apa aja deh, yang anget-anget gitu. Daritadi udah mengkerut nih tangan,"


"Maaf ya, gara-gara Mas ceroboh, gini jadinya." Sesal Andra menundukkan kepalanya.


"Yang paling ceroboh itu Adek kali. Kalau bukan karena mau nolongin aku, Mas Andra gak bakalan nglempar jaket yang ada kuncinya." Sanggah Senja.


"Apalagi jaket tadi itu kan, jaket kesayangan Mas Andra. Maafin Adek ya, Mas," kini gantian Senja yang menunduk.


"Udah, lupain aja yang tadi. Jaket itu gak ada apa-apanya dibanding kamu, kamu segalanya buat Mas Andra,"


Blush


Bagaimana bisa seorang pemalu seperti Andra menjadi raja gombal sekarang? Senja pun tak habis fikir. Jika ingat bagaimana Andra yang dulu.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah makan yang menyediakan menu sup ayam seperti yang di kehendaki Senja.


Andra meminjam payung pada supir gocar tadi, ia lebih dulu mengantar Senja masuk ke dalam rumah makan lalu kembali ke mobil untuk meminta supir tadi mengantarkannya juga ke dalam menggunakan payungnya lalu membayarnya.


Senja sudah memesan beberapa menu untuk mereka berdua. Sambil menunggu, Senja membuka ponselnya. Disaat yang bersamaan benda pipih tersebut berdering, menampilkan nama sang ibu disana. Dengan senyum mengembang ia menggeser tombol hijau.


"Assalamualaikum, Bu. Ada-"


Belum sempat Senja menyelesaikan perkataannya, dari arah seberang sana sudah sudah ada yang menyahuti ucapannya dengan suara keras dan cepat.


".... .... ...."


"Apa?" Pekik Senja kaget.


Pelayan yang baru saja meletakkan sup pesanan mereka pun ikut berjingkat dan menumpahkan susu coklat hangat yang dipesan Senja.


Andra yang melihatnya buru-buru mengambil tisu dan bermaksud untuk membersihkannya, sednagkan pelayan tadi sudah mengucap maaf berkali-kali karena tak sengaja menumpahkan minuman itu.


Senja mengangkat tangan menolak perlakuan Andra yang hampir menyentuh bajunya yang terkena tumpahan susu. Gadis itu masih dengan seksama mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang yang menelfonnya, tapi itu bukanlah suara sang ibu.


Dengan tanpa diminta air mata gadis itu mengalir membasahi pipi, ia menunduk. Sang pelayan ikut panik saat melihat Senja berdiri dengan tiba-tiba. Andra ingin membuka mulut untuk bertanya, namun lagi-lagi tangan Senja terangkat yang artinya 'sebentar'.


Merasa ada yang tidak beres, ia meminta bill pembayaran pesanan mereka yang belum sempat disentuh itu. Pelayan yang tidak mau kena marah sang manager pun berinisiatif membungkus emua makanan tersebut.


"Kita balik ke Jogja sekarang, Mas!"


Ucap Senja dengan sedih dan lesu setelah panggilan itu berakhir.


Andra mencoba memahami sang istri meskipun belum tau ada masalah apa, ia hanya mengangguk mengiayakan.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


Abis seru-seruan, tetiba ada apa sih?


__ADS_2