Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 49. Keakraban Keempat Saudara


__ADS_3

...Selamat membaca🤗...


...----------------...


Eyang tersenyum bahagia melihat tawa dari keempat cucu laki-lakinya yang sedang bercanda ria bermain air di dalam kolam renang. Dengan masih menggunakan pakaian lengkap tentunya, karena mereka bukan ingin berenang melainkan hanya saling mengerjai hingga semuanya berhasil masuk ke dalam kolam renang.


Senangnya melihat kalian semua tetap akur seperti ini. Meskipun kalian sudah dewasa, tetapi kalian tetaplah cucu bandel kesayangan Eyang.. eyang mengusap air mata bahagia yang mengalir dari kedua sudut matanya. Ia menggeleng-gelengkan kepala saat melihat para lelaki dewasa itu melepas baju yang mereka kenakan dan saling melempar satu sama lain. Persis seperti saat mereka masih kecil dulu, bedanya dulu mereka hanya bertiga, tetapi sekarang menjadi empat orang karena ditambah dengan Bayu yang sudah menjadi anggota keluarga mereka.


Karena melihat kesetiaan dan ketulusan Bayu, Pak Herman bermaksud hendak memintanya menjadi anak angkat dan akan memasukannya ke dalam daftar Kartu Keluarga mereka. Namun Bayu menolak, bukan karena tak mau ataupyn tak suka, tapi karena ia merasa tidak pantas untuk diperlakukan se-istimewa itu. Lagi pula ia juga merasa masih memiliki seorang ayah meskipun ayahnya sudah tidak mengurusinya lagi, bahkan lebih memilih keluarga yang baru di banding dirinya. Tapi tetap saja nama Bayu masih ada di dalam KK ayah kandungnya, dan akan sulit juga lama jika harus mengurus surat-surat adopsi. Maka Bayu lebih memilih biarlah menjadi asisten Andra saja. Dia sudah sangat bahagia dengan di anggap sebagai saudara oleh Andra dan di anggap anggota keluarga oleh keluarga tersebut, yang bahkan tak ada hubungan darah apapun dengannya.


Disaat ayah kandungnya sendiri tidak memperdulikannya lagi dan pamannya ingin menjualnya, keluarga mulia itu dengan lapang dada mau menerima dirinya yang hanya seorang pemuda desa yang tak memiliki apa-apa. Tidak masalah bagi keluarga Andra yang sudah memiliki harta dan kedudukan di dunia, mereka hanya membutuhkan orang jujur, setia, tulus dan apa adanya seperti Bayu. Apalagi Bayu adalah seorang pemuda yang cerdas, ia memiliki otak yang sangat cemerlang. Dan hal tersebut sangatlah membantu Andra.


Eyang tersadar dari lamunannya kala merasakan percikkan air mengenai kakinya, rupanya para lelaki itu masih saja saling iseng. Seperti yang baru saja mereka lakukan. Angga, Andra dan juga Bayu kembali mengerjai Nick yang sudah beranjak naik ke atas kolam, mereka membopong tubuh jangkung serta kekar Nick secara bersamaan lalu segera melemparkannya ke dalam kolam renang kembali. Secara otomatis air kolam menyiprat kemana-mana hingga sampai pada eyang yang duduk di kursi santai tepi kolam.


Tawa mereka pecah setelah kembali berhasil mengerjai bule itu, Nick pun merasa kesal tapi juga senang dapat kembali bercanda dengan para saudaranya. Ia pura-pura ngambek dan merengek pada eyang, "Grandma.. tolonglah cucu ter-handsom mu ini. Jika nanti terlalu lama berada di dalam air, bagaimana kalau Nick berubah menjadi pangeran duyung?" adunya pada eyang, yang hanya ditanggapi dengan tawa oleh eyang. Hal tersebut malah membuat ketiga lelaki yang telah mengerjainya itu merasa semakin ingin merendam Nick agar segera menjadi duyung.


"Kayaknya kalau tuh bule jadi duyung, keren kali ya.." cetus Bayu di sela tawanya. Duo A mengangguk setuju. Lalu Angga mengambil selang air yang tadi di pergunakannya untuk menyirami tanaman eyang. Mereka kompak menyemprotkan selang tersebut ke arah Nick yang membuat Nick berteriak-teriak minta tolong kepada eyang.

__ADS_1


" Help me, Grandma.. Help!" Teriak Nick sambil berusaha untuk naik ke atas.


Eyang yang merasa kasihan dengan Nick, segera menghentikan aksi bullying ketiga cucunya yang lain. "Sudah..sudah cukup. Berhenti!" Seru eyang, ketiga pemuda itu berhenti dan menurut.


"Sekarang kalian semua mandi, bersih-bersih sana!" Perintah eyang pada semuanya, "terus jum'atan. Udah siang lho ini." Lanjutnya mengingatkan.


"Astaghfirulloh.. gara-gara si bule, jadi lupa kalau hari jum'at."


Menyadari akan hal itu, mereka semua langsung kabur menuju kamar masing-masing dengan keadaan masih mengenakan celana jeans basah yang membuat eyang kembali berteriak namun sudah tak terdengar oleh indera pendengaran mereka yang sudah hilang naik ke lantai atas.


" Duh, Gustii.. Basah semua lantainya, gara-gara ulah para bocah bandel itu." Eyang menghela nafasnya lalu segera memanggil ketiga asisten rumah tangganya, meminta untuk segera mengepel, membersihkan air yang berceceran di sepanjang lantai dari lantai bawah hingga tangga menuju lantai atas kamar para pemuda itu.


Tak lama kemudian, keempat pemuda itu turun dengan sudah mengenakan pakaian ibadah lengkap; seperti sarung, baju koko, peci dan tak lupa sajadah tersampir di pundak mereka masing-masing. Kekesalan yang beberapa saat lalu eyang rasakan, kini berubah menjadi hawa sejuk nan bangga terhadap cucu-cucunya itu. Di dunia yang sudah seperti sekarang ini, mereka masih menjaga keimanan mereka dan tetap taat beribadah.


"Cucu-cucu Eyang audah ganteng sekarang.." senyum eyang mengembang, para pemuda itu menyalami tangan eyang bergantian, mulai dari Angga, Nick, Andra, lalu Bayu. Eyang mengusap kepala masing-masing cucunya saat bersalaman.


Di raihnya dompet pouch yang ada di meja, lalu eyang mengambil uang pecahan sepuluh ribuan berjumlah empat dan di berikan kepada para pria itu. Keempat pemuda tersebut melongo dan saling berpandangan satu sama lain melihat uang sepuluh ribu di genggaman tangan mereka.

__ADS_1


"Itu nanti buat jajan kalian kalau pulang jum'atan, kalau haus mampir di warung depan ya.." ucap eyang yang membuat Angga, Andra, juga Nick tertawa, sedangakan Bayu tertawa geli. Bagaimana bisa Andra yang seorang pengusaha bahkan kedua lelaki lainnya yang merupakan CEO perusahaan besar, di berikan uang saku sepuluh ribu saat hendak jum'atan, begitu pikirnya. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari menatap ketiga pemuda yang masih tertawa itu dengan bingung.


"Jangan heran, Bay. Ini memang kebiasaan kami dulu waktu masih kecil." Ujar Angga memberi tahu, "kalau mau jum'atan, kami pasti meminta uang saku pada Eyang, sebagian untuk infak lalu sisanya buat beli es krim pas pulang," lanjut Andra.


"Ya, kami akan memakannya dalam perjalanan pulang. Sambil berjalan kaki," Nick ikut menimpali.


Kini Bayu mengerti mengapa ketiga saudaranya merasa senang dengan uang saku yang di berikan eyang. Bukan masalah nominalnya, tetapi kenangannyalah yang membuat uang itu menjadi istimewa.


Mereka kompak berjalan bersama menuju masjid komplek yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah eyang, yang waktu itu disinggahi Senja untuk istirahat dan sholat maghrib saat mengirimkan paket ke rumah eyang.


"Semoga Eyang di berikan panjang umur ya cucu-cucuku.. Eyang ingin bisa selalu melihat tawa kalian, Eyang ingin melihat masing-masing kalian menikah dan berbahagi dengan keluarga kalian nantinya," gumam eyang menatap punggung keempat pemuda yang perlahan menghilang di per empatan gang.


.


.


Bersmbung

__ADS_1


Mohon dukungannya selalu saudaraku🥰


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya😊


__ADS_2