Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 59. Kesalah Pahaman


__ADS_3

...Selamat membaca😊...


...----------------...


Senja segera mengalihkan perhatiannya dengan segera mempersilahkan para tamunya untuk duduk di tempat yang telah ia sediakan, makanan dan minuman yang terbuat dari bahan-bahan yang berasal dari kebunnya ia sajikan dengan menarik. Ingkung ayam jago dari ayam peliharaan Pak Sapto, Sate kelinci, burung puyuh goreng juga dari peliharaan orang tua Senja. Tak lupa berbagai jenis masakan sayuran dan lalapan yang di petik langsung dari kebun keluarga itu.


Eyang beserta keluarga menatap takjub hidangan yang menggugah selera tersebut, lain dari yang lain.


"Ini kamu yang masak, Nak?" Eyang menatap sumringah Senja.


"Emm.. Ibu yang masak, Senja cuma bantuin dikit aja," tutur Senja.


"Endak Bu, memang Senja kok ini yang masak, malah saya yang bantuin aja," Ibu Retno menyahuti.


"Sudah cantik, mandiri, pinter masak pula. Tipe menantu idaman ya, Yah?" Bu Ratih berucap dengan tawa kecilnya.


Senja menelan ludah kasar mendengar penuturan ibu dari Andra itu, "kalau Mas Andra aja udah mau nikah, terus aku mau di nikahkan sama siapa kalau harus menjadi menantu Bu Ratih? Masak iya Pak Angga." Ucap Senja dalam hatinya dengan perasaan yang campur aduk, ia menatap semua orang yang nampak tersenyum bahagia.


"Kok Bapak sama Ibuk malah ikut seneng sih. Mending aku pamit buat nenangin diri dulu deh, daripada makin sakit hati disini, hiks.."


"Silahkan di nikmati hidangannya, semuanya.. saya pamit dulu sebentar." Senja menundukkan kepalanya dan segera berlalu dari hadapan semua orang yang menatapnya heran, ingin bertanya tetapi Senja sudah menghilang di balik rerumpunan pohon.


Saat berjalan cepat menuju persawahan tak jauh dari tempat tadi, Senja berpapasan dengan Bayu yang membawa kue ulang tahun eyang. Bayu pun membuka mulutnya hendak bertanya, tetapi Senja sudah tak kuasa menahan air matanya hingga ia tetap saja berjalan tanpa menghiraukan Bayu. "Lah, si Senja kenapa ya?" gumam Bayu yanng segera melanjutkan langkahnya.


"Itu bukan kamu kan, Mas? yang kirim kado dan beri pengakuan sama aku, pasti bukan kamu. Buktinya kamu udah mau nikah, mana mungkin kamu suka sama aku." Ucap Senja pada bintang-bintang yang berada di langit, pada saat dirinya sudah berada agak jauh dari tempat tadi. Air matanya terus mengalir tanpa ia inginkan, entah mengapa hatinya merasa sakit manakala mengingat ucapan Angga yang datang ke tokonya beberapa minggu yang lalu. Yang mengatakan jika ia memesan paket kado pernikahan untuk adiknya, dan adiknya tersebut adalah Andra, adik satu-satunya. Itu berarti, yang di maksud Angga adalah Andra kan?


Padahal ia belum pernah menjalin hubungan apapun dengan Andra, selain hanya saling kenal karena pertemuannya saat berlibur bersama. Tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, meyakini jika Andra adalah sosok Mas Ganteng yang saat kecil begitu di idolakannya. Meskipun akal sehat dan logikanya menolak dan mengatakan kalau itu tidaklah mungkin. Lalu kenapa ia merasakan sakit kala mengetahui Andra akan menikah?


"Hiks.. hiks.. bodoh Senja. Kamu bodoh!" rutuknya pada diri sendiri.


"Bisa-bisanya kamu punya perasaan sama orang yang jelas-jelas lebih segalanya dari kamu." Senja memukul-mukul kepalanya sendiri sambil terus merutuki dan meratapi nasibnya.


Seseorang yang baru saja tiba dan mendengarkan perkataanya, merasa bingung dan bertanya-tanya. Ada apa dengan Senja, kenapa dia menangis sambil memukuli kepalanya sendiri? Dia ikut merasakan sakit yang gadis itu rasakan, sampai ia memberanikan diri untuk mendekat dan menangkap tangan Senja.

__ADS_1


Gadis itu menoleh saat merasakan ada yang menggenggam pergelangan tangannya, ia mendongak dan mendapati wajah seseorang yang sedang di tangisinya. "M-Mas Andra?" dengan cepat Senja menarik tangannya dari Andra dan segera mengusap air matanya.


Dengan tubuh yang bergetar dan mulut yang sulit di buka, Andra memaksakan diri untuk bertanya pada Senja, "ka-kamu kenapa, Dek?" tampak jelas gurat kekhawatiran di wajah lelaki itu.


"A-aku gak apa-apa kok, Mas." Senja menjawab dengan gugup dan rasa sakit yang masih terasa nyeri di dalam dada.


"T-terus kenapa kamu nangis?" Dengan segenap tekad Andra melawan rasa takutnya, memberanikan diri untuk mendapat jawaban yang tepat dari gadis di hadapnnya itu. Meski keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, ia tak peduli, asal tak melihat tangis di wajah Senja lagi.


"Bukan urusan Mas Andra! Mendingan kamu nyusul yang lainnya aja di taman," Senja memalingkan muka dari Andra, tak mampu melihat wajah lelaki yang akan segera menjadi milik orang lain, begitu sepengetahuan Senja.


(Hufft, meskipun author tidak suka kesalahfahaman. Tapi author harus menulis ini demi kelangsungan kisah Andra dan Senja)


Jleb


Serasa di tusuk belati tepat di jantungnya, Andra merasakan sakit yang teramat sangat menerima perlakuan Senja yang tak acuh terhadapnya.


Ingin rasanya ia menanyakan apa kesalahannya sehingga gadis itu bersikap seperti itu padanya, namun mulutnya seakan terkunci rapat kembali. Dengan segenap kemampuan, ia mencoba menahan air yang siap luruh kapan saja dari kedua matanya. Lama mereka saling membisu, dan hanya terdengar suara katak dan serangga-serangga malam yang saling bersahutan.


Segala pemikiran buruk berkecamuk di benaknya, apa ini adalah jawaban Senja atas pernyataannya seminggu yang lalu? Apa artinya Senja menolak dirinya? Apa gadis itu lebih memilih sang kakak ketimbang dirinya? kalimat itu terus berputar di otaknya hingga tanpa sadar air mata yang sudah dengan sekuat tenaga di tahannya, akhirnya tumpah juga.


"Apa Mas Andra nangis? Tapi kenapa? apa ucapanku tadi sangat menyakiti hatinya?"


Senja memberanikan diri untuk menyentuh pundak lelaki itu. Andra tersentak dan berusaha meredam isakannya.


...


Sementara itu di taman, semua masih asyik menikmati hidangan yang di sajikan. Tetapi lain halnya eyang yang sedang merasa resah menantikan kedatangan cucu kesayangannya, juga Senja yang sejak tadi belum juga kembali ke tempat acara.


Bayu yang peka melihat keresahan eyang, segera beranjak dan menghampiri sang nenek. "Eyang nungguin apa? Kok daritadi nglihatin arah keluar terus?"


"Kamu ngagetin Eyang aja, Bay. Eyang lagi nunggu adekmu," jawab eyang setengah berbisik.


"Andra, Eyang?"

__ADS_1


"Ssstt.. jangan keras-keras, nanti yang lain denger!"


"Hehe.. maaf Eyang. Memangnya bos Andra bilang mau dateng?"


Eyang mengangguk, "tapi kok sampai jam segini belum dateng juga ya. Senja juga daritadi mana sih? ndak balik-balik lagi kesini,"


Bayu menautkan alisnya, ia baru teringat jika tadi dirinya berpapasan dengan Senja saat akan masuk ke tempat itu.


"Apa mereka..?" Bayu menduga-duga kalau saat ini kedua insan tersebut sedang bertemu, tetapi ia tak mengatakan apapun pada eyang. Takut jika saja dirinya salah menduga dan akan membuat eyang kecewa.


"Apa aku cek aja ya di luar sana, siapa tau itu benar,"


Bayu pamit untuk ke toilet pada eyang.


"Bu, ini sedikit oleh-oleh untuk Ibu nanti saat pulang. Maaf, hanya itu yang kami punya," ucap Bu Retno sembari menyerahkahkan sekeranjang sayur mayu yang di buat sedemikian rupa hingga menyerupai parcel kepada Bu Ratih.



Sumber foto from ig


Dengan senang hati Bu Ratih menerima bingkisan tersebut.


"Kita sudah seperti besan ya, Bu.." ucapan Bu Ratih membuat ayah dan ibu Senja saling pandang. Apa kita gak salah denger? Begitu kira-kira pertanyaan yang tersirat dari benak mereka.


.


.


Bersambung,


Udah dobel up ya, jadi dukungannya juga dobel🤭


Hihi, ngarep.

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi semua yang menjalankannya🤗


Tetap semangat ya sampai hari raya nanti, biar kita bisa terus bersilaturahmi🥰


__ADS_2