Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Diandra?


__ADS_3

Mata kedip-kedip genit Senja membuat Andra merasa bergidig. Karena semenjak mereka menikah, baru kali ia melihat hal tersebut. Tapi mendadak ia ingat kalau kecil dulu, Senja pernah melakukan hal itu saat meminta atau menginginkan sesuatu agar di turuti.


"Boleh 'kan, Mas? Mereka jadi pemasok resmi di Senja Olshop? "


"Oh, itu.. ya terserah Adek aja gimana baiknya menurut Adek, " jawab Andra bijak.


Dalam hatinya merasa sangat bahagia dan bersyukur, karena sangat dihormati oleh sang istri. Buktinya, meski Senja Olshop adalah milik Senja sendiri, namun gadis itu tetap meminta izin pada Andra saat akan mengambil keputusan.


"Makasih, Mas.. "


"Sama-sama. Tapi, boleh Mas kasih saran dikit? "


"Boleh.. "


"Sebelum bener-bener masok barang di toko, gimana kalau mereka dibimbing dulu biar lebih ahli, biar makin kece gitu produknya, " ucap Andra hati-hati.


Senja mengangguk setuju, "setuju banget kalau itu, Mas, "


"Kalian mau, gak? " tanya Senja kemudian pada dua anak kecil tersebut.


Senyum bahagia terpancar jelas dari wajah kedua bocah itu, "terimakasih banyak, Kak. Kami mau bilang sama ibuk dulu, "


"Memangnya ibu kalian dimana? "


"Di rumah, Kak. Ibuk lagi sakit, jadi gak ikut jualan hari ini, "


"Gitu ya. Ayo Kakak anterin, " tawar Senja.


Kedua bocah itu saling pandang, "gimana, Dek? "


Melihat adiknya mengangguk, maka sang kakak pun setuju.


"Tapi apa gak ngrepotin, Kak? Apalagi kami basah begini, "


"Udah nggak papa, nggak ngrepotin kok," balas Senja lalu menoleh pada Andra, "iya kan, Mas?" Andra tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.


"Oh ya, Kakak belum tau nama kalian deh, " ucap Senja lagi seraya mereka berjalan ke arah mobil.


"Aku Rangga, Kak. Dan ini adik aku, namanya Sekar, "


"Oh, kalau nama Kakak Senja, dan ini suami Kakak. Kak Andra namanya, " Senja memperkenalkan dirinya pula.


Bayu yang sedang fokus pada layar laptop di pangkuannya terkejut saat tiba-tiba pintu di sampingnya terbuka, lalu tampak wajah anak-anak kecil yang tak dikenalnya.


"Kalian siapa? Mau ngap-" ucapan Bayu terhenti oleh perkataan sahutan dari Senja.


"Ini Rangga dan Sekar, Kak Bay."


"Kita mau anterin mereka balik dulu, " Andra ikut menimpali.


Setelah kedua bocah itu duduk manis disamping Bayu, Andra dan Senja pun kembali ke kursi depan dan Andra segera menjalankan mobilnya lagi.


Beberapa menit kemudian, mereka semua tiba di sebuah rumah sederhana berdinding Batu bata. Rumah yang tak begitu besar namun masih nampak terurus dengan baik, ada berbagai macam hiasan di teras rumah tersebut. Mungkin itu hasil karya dari kedua bocah penghuni rumah itu.


Ada banyak ide bermunculan di kepala Senja melihat pemandangan tersebut, bibirnya memunculkan senyum penuh arti.


"Assalamu'alaikum, " ucap kelima orang yang baru saja tiba.


"Mak, ada tamu.. " seru Sekar.


"Ssst.. emak kan lagi sakit, Dek. " Rangga mengingatkan.


"Oh iya lupa. Maaf, Kak, " Sekar merenges memamerkan giginya yang kecil-lecil.


"Yaudah, kalian masuk sana. Terus istirahat, jangan lupa mandi dulu ya, kan abis keujanan, "


"Kakak gak masuk dulu, buat ketemu ibuk kami? "


"Ibu kalian kan lagi sakit, biar beliau istirahat dulu ya, insyaAllah kapan-kapan Kakak main lagi kesini, oke? "


"Iya, Kak, "


"Kami pamit dulu ya, ini tolong kasih ke ibu kalian, " Senja memberikan sebuah pouch kecil pada Rangga.


"Apa ini, Kak? "

__ADS_1


"Pokoknya kasih aja ke ibu kalian, bilang aja rezeqi buat kalian, "


"Oh, iya. Makasih banyak, Kak, kita udah dianterin pulang, "


"Sama-sama, assalamu'alaikum, "


"Waalaikumsalam, "


"Udah lega? " tanya Andra begitu mereka kembali duduk di mobil.


"Alhamdulillah, lebih baik. Maksih banyak ya, Mas.. "


"Buat apa? Kan Mas Andra gak ngapa-ngapain, "


"Pokoknya makasih banyak sama Mas, " Senja menggelayut manja di lengan Andra.


"Hmmm.. mulai lagi kan gue jadi nyamuk, " gumam Bayu menyindir.


"Udah sih, Bay. Nikmatin aja kenapa nasib lo, "


"Tau gini mending gue naik bus dah, "


Andra mengernyit, "biar ketemu sama yang waktu itu lagi? "


"Eh enggak ya, sori banget. Mana ada, " sewot Bayu.


Senja terkekeh melihat interaksi tersebut.


***


"Kok anak-anak kita belum sampai juga ya, Pak? " Bu Retno mondar mandir tak tenang.


"Ya kan hujan, Bu. Jadi harus pelan-pelan, Hati-hati gitu nyetirnya, " sahut Pak Sapto.


"Mudah-mudahan ndak ada apa-apa ya, Pak, "


"Iya, Bu. Kita berdoa saja, "


"Paklik, Bulik.. " panggil Lukman dari arah belakang kedua pasutri itu.


"Ibu, Paklik. Ibu kritis," panik Lukman.


"Astaghfirulloh hal adzim.. "


"Innalillah.. "


"Kata dokter, kita harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, Paklik, "


Bagai mendengar petir di siang terik, begitu terkejut Pak Sapto mendengar kenyataan yang menyedihkan itu. Setelah bertahun-tahun tidak berhubungan dengan sang kakak, dan akhirnya dipertemukan lagi dengan kejadian yang mengejutkan. Kini malah sesuatu lagi terjadi diluar kendalinya.


Pertemuan yang sangat singkat dan penuh air mata itu, apakah harus berakhir pula dengan secepat dan se menyedihkan itu?


Ketiga orang itu segera menuju kamar tempat dirawatnya Bu Muti dan Pak Minto, tapi ternyata usai operasi Bu Muti belum dikembalikan ke ruang tersebut lagi, melainkan ke ruang ICU karena kondisinya yang memburuk.


Sesampainya di depan ruang ICU, mereka disambut oleh seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


"Yang bernama Pak Sapto diperbolehkan masuk, karena tadi pasien sempat menggumamkan nama Sapto dengan mata terpejam,"


"Saya, Suster, " ucap Pak Sapto.


"Baik, silahkan Bapak memakai pakaian khusus terlebih dahulu untuk masuk, " suster itu memberikan pakaian khusus untuk menjenguk Bu Muti di ruang ICU.


"Yang lain bisa menunggu diluar ya, dan mohon tetap menjaga ketenangan rumah sakit, "


"Baik, Sus, " jawab Bu Retno dan Lukman bersamaan.


Lain di rumah sakit, lain pula di dalam mobil tempat dimana adanya tiga manusia yang satunya jomblo kesian ya, mari kita temani!


Hujan deras masih saja setia menemani, membuat beberapa bagian jalan tergenang dan menyebabkan kemacetan sehingga perjalanan mereka dari Semarang sejak pagi hingga siang hampir sore menjelang masih belum sampai juga di Jogja.


Suara radio menemani perjalanan mereka yang hening karena sudah lelah mengoceh kesana kemari. Hingga satu lagu mengalun membuat Andra kembali menggamit tangan sangat istri dengan senyum, saling menyalurkan semangat untuk menghadapi lelah dalam perjalanan.


♪('-'*)♪


...Jangan tanya bagaimana esok...

__ADS_1


...Ku tak ingin menerka perasaanmu...


...Yang kutahu hari ini ku mencintaimu...


...Ku sangat menyayangimu.....


...Biarlah semua berlalu...


...Jalani seperti apa adanya...


...Bunga kan mekar meski kemarau melanda 2x...


...Bukan ku ingin memastikan...


...Akulah cinta sejatimu...


...Yakinkan hatimu...


...Akulah takdir yang engkau nantikan....


...Kuingin kau merasa tentram...


...Tetaplah berada disampingku...


...Karena diriku sangat menyayangimu....


...Ku akan membuktikan cinta dihatiku...


...Satu rasa menggapai bahagia...


...Ku pinang dirimu sebagai teman hidupku...


...Berjanjilah kasih.. ...


...Setia bersamaku.....


Satu Rasa Cinta


Arifef Putra


Bayu menatap pasangan di depannya itu jengah, meski tak menutupi perasaan turut bahagianya pula melihat sahabatnya berbahagia dengan pasangan hidupnya kini. Lalu bibirnya dengan iseng menyanyikan sebuah lagu.


Kok iso yo..


(Kok bisa ya)


Wong koyo aku..


(Orang seperti aku)


Masalah asmoro..


(Masalah asmara)


Mung kebagian loro..


(Cuma kebagian sakit)


Kok Iso Yo


Guyon Wayon


Sontak hal itu mampu membuat keromantisan yang tercipta antara Andra dan Senja buyar, berganti dengan tawa keras dari Senja dan kekehan Andra.


"Kak Bayu ada-ada aja ah, " Senja mengusap air mata yang menggenang di sudut matanya saking serunya ia tertawa.


"Makanya cepet cari pasanganlah, Bay. Biar gak ngiri mulu lo ma gue, " kata Andra pula.


Bayu terdiam melihat luar jendela, lalu bergumam, "Diandra? "


.


.


Bersambung..

__ADS_1


Kak Bayu liat siapa si?


__ADS_2