Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 40. Belanja Bersama


__ADS_3

...Selamat membaca🤗...


...----------------...


Andra memarkirkan motor matic yang di kendarainya tepat di depan swalayan miliknya. Mereka berdua turun dari motor, lalu Andra ikut masuk ke dalam swalayan bersama Senja. "Mas Andra mau belanja juga?" Andra hanya tersenyum mengangguk sebagai jawaban.


Andra dengan sigap mengambilkan troli belanjaan dan mendorongnya mengekor di belakang Senja. Ia merogoh ponsel di sakunya untuk menghubungi Bayu, mengatakan hal yang sudah di pikirkannya sejak tadi. Bayu yang tanggap segera melaksanakan tugas dari bosnya.


Senja berhenti di depan rak pempers bayi, ia menoleh pada Andra menimbang-nimbang bagaimana mau mengatakan hal yang dimaksudkan pada lelaki itu. Gimana ngomongnya sama Mas Andra ya, aku malu ih.. dia ngikutin mulu lagi. Tatapan matanya melirik pada Andra juga barang yang tak jauh dari tempatnya berada secara bergantian.


Seakan mengerti dengan tatapan mata Senja, Andra pamit untuk mencari sesuatu barang yang lain dahulu. Senja bernafas lega dan segera mengambil beberapa bungkus pembalut. Kemudian ia mendorong troli untuk mencari keperluan yang lain.


"Gimana Bay?" tanya Andra setelah bertemu dengan Bayu. "Semuanya beres sama Bayu." Bayu nenepuk dada bangga. "Oke, thank.." Andra langsung berbalik badan.


"Lhah, mau kemana lagi Bos?"


"Ada deh, kepo!"


Hmm, mau ngintilin Senja ya. Jadi bodyguardnya sekarang. Oke, terserah. Batin Bayu dan berlalu menuju ke ruangan manajer swalayan.


Andra sedikit kebingungan mencari keberadaan Senja, karena keadaan swalayan yang sedang lumayan ramai. Ia berjalan kesana kemari dan malah menjadi pusat perhatian para wanita yang sedang berbelanja.


"Waah, ganteng banget.."


"Kayak artis"


"Apa memang artis ya"

__ADS_1


Begitu kira-kira suara bisik-bisik tetangga, maksudnya bisik-bisik kaum hawa yang ada disana.


Tiba-tiba.. brug! Andra bertabrakan dengan seorang wanita yang cantik nan seksi. Wanita itu bersorak girang ketika melihat wajah orang yang di tabraknya, "Andra.. akhirnya aku bisa nemuin kamu juga," serunya.


Andra mengernyit, merasa pernah bertemu wanita itu, tapi ia tidak ingat kapan dan dimana. "Maaf, siapa ya?" wanita itu membelalak kaget, "kamu lupa sama aku, Ndra?" kejutnya, Andra mengangguk.


"Sorry,"


Wanitu itu menghela nafas panjang, merasa sedih dan kecewa tentunya karena Andra tak mengenalinya. "Gue Reya, temen sekampus lo dulu di Jakarta." Ungkap wanita itu mengingatkan, tapi tetap saja Andra tak ingat. Apakah Andra amnesia? Tentu saja tidak. Karena dia memang tidak pernah mau mengenal wanita lain selain Senja.


"Dulu kita sering email-an kok, sharing tugas kuliah dan lain-lain," terang wanita itu kembali. Andra terdiam, mencoba mengingat-ingat apa ia pernah kirim email pada wanita itu atau tidak, tetapi nihil. Tak sedikitpun ada ingatan tentang wanita itu. "Pernah juga dulu gue minta bantuan lo buat ngerjain skripsi gue, pas udah berkali-kali di tolak. Dan akhirnya gue berhasil dengan nilai yang bagus. Makanya gue nyariin lo buat berterima kasih sama lo," ucap Reya antusias. Andra menggeleng pelan, semakin tak mengerti dengan perkataan wanita di hadapannya itu.


"Sorry ya, gue bener-bener gak kenal lo siapa. Permisi, gue buru-buru." Andra segera pergi dari hadapan Reya tanpa menunggu jawaban dari wanita itu. Reya menatap punggung Andra cengo. Mengerjap-ngerjapkan mata, mencerna perkataan lelaki yang sudah berlalu tanpa memperdulikannya yang sedang kebingungan sedikitpun.


"Aneh, dia beneran gak kenal gue?" gumamnya. "Tapi cowok itu tadi memang Andra 'kan?" Pikirnya sembari berjalan linglung.


"Boleh Mas bantu?" tawar Andra, Senja mengangguk dan tersenyum sembari menjawab, "boleh, tapi kalau gak ngrepotin,"


"Nggak kok"


Senja kembali mencari barang-barang yang ia butuhkan, dan Andra masih dengan setia mengekor di belakangnya sambil mendorong troli belanja Senja, seperti sorang suami yang mengikuti istrinya belanja. Andra terus mengamati Senja yang sibuk berbelanja, senyum terus terukir di bibir lelaki itu. Dalam hatinya ia sangat bersyukur bisa terus memandang wanita pujaan hatinya dalam jarak yang dekat.


"Kayaknya udah semua deh Mas belanjaan aku, kalaupun nantinya ada yang kelewat, kan bisa balik lagi kesini, tinggal nyebrang jalan aja juga." Ucapnya tersenyum manis menghadap Andra, membuat lelaki itu melongo terpesona. "Ke kasir yuk, Mas! Atau Mas masih mau belanja?" dengan cepat Andra segera menggeleng.


Mereka berdua menuju kasir dan mengantri disana, tanpa disangka, wanita bernama Reya yang tadi bertemu Andra juga sedang mengantri di kasir sampingnya. Reya melihat Andra yang mengikuti Senja dan mengantri bersama di kasir. Apa wanita itu istrinya, pantesan dia gak mau ngelihat gue sedikitpun, padahal istrinya biasa aja tuh. Pikirnya.


"Hai, Ndra." Reya menyapa Andra yang ada di sebelahnya, Andra menengok kearahnya dan mengangguk sebagainjawaban.

__ADS_1


Senja mengernyit, kenapa Mas Andra tak menjawab sapaan dari cewek cantik itu, ah sudahlah terserah.


Kini tiba giliran Senja untuk membayar, dengan cepat Andra merogoh dompetnya, mengambil kartu debit dan menyerahkannya pada kasir sebelum Senja mengeluarkan dompet dari sling bag nya. "Nggak usah, Mas! Biar aku sendiri aja," cegah Senja, tapi sang kasir sudah terlanjur menerima dan terlebih dulu menggesek kartu debit milik Andra.


Setelah selesai melakukan pembayaran, mereka keluar dan menuju parkiran, Andra membawakan semua belanjaan Senja. Senja memberengut sebal, karena Andra menolak dia mengganti uangnya, bahkan juga melarangnya ikut membawa barang-barang belanjaannya.


"Emm.. makasih banyak ya Dek, udah nemenin Mas Andra makan siang," Andra berbicara dengan kaku dan malu-malu. Senja merasa aneh sekaligus heran dengan lelaki itu, padahal dia yang sudah banyak membantunya, tapi kenapa malah lelaki itu juga yang mengucapkan terimakasih.


"Harusnya aku yang bilang makasih banyak, Mas. Mas Andra udah traktir aku makan, nemenin belanja, dan bayarin belanjaan aku pula. Kan akunya jadi enak," Senja tertawa kecil dan berusaha sedikit melemaskan kekakuan yang ada di antara mereka. Wajah Andra memerah seketika, ia sangat senang melihat gadis yang di kaguminya tertawa bahagia.


Seandainya kamu istriku, udah kupeluk sekarang juga. Abisnya gemesin sih kalau lagi tertawa menggoda gitu. Khayal Andra.


"Yaudah, Senja ke seberang dulu ya, Mas." Pamit Senja saat sudah menaiki motornya.


"Hati-hati, Dek."


Senja mengangguk dan segera menyeberang jalan menuju tokonya. Andra masih setia mengamati punggung Senja yang saat ini sudah menghilang di balik pintu tokonya.


Andra merasa bahagia yang teramat sangat, karena pada akhirnya dia menunjukkan sedikit kemajuan pada Senja. Setidaknya dia sudah tidak terlalu gugup juga tak lagi gagu berbicara pada Senja, baginya itu adalah sebuah kemajuan yang sangat besar. Ia bersiul sambil berjalan menuju tangga yang mengarah ke lantai atas. Tanpa di sadarinya, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari teras swalayan, orang itu menatap sinis lalu kemudian tersenyum lebar dan menggeleng.


.


.


Bersambung..


Mohon selalu dukungannya, like, komentar positif, favorit dan vote nya.😊♥️

__ADS_1


Terimakasih🙏


__ADS_2