Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Terlupa Karena...


__ADS_3

Bayu dan Rudi selesai dengan acara sarapan mereka, namun masih enggan untuk pergi dari sana. Mereka masih bersantai menikmati kopi yang baru saja mereka pesan. Memang tempat itu sangat cocok dan nyaman untuk bersantai, apalagi pagi ini udaranya sangat sejuk tanpa mendung ataupun panas yang berlebihan.


Lagipula Bayu juga masih menyimpan banyak tanda tanya di benaknya. Menurutnya cerita dari Rudi belum lengkap, hingga belum memuaskan rasa keingin tahuannya.


Tiba-tiba ponselnya yang ia letakkan di meja berdering, menampilkan nama seseorang yang baru saja menjadi objek pembicaraan dirinya dengan Rudi.


"Bang Angga? Panjang umur banget ni orang, apa kerasa kalau lagi di omongin ya?" gumam Bayu lirih.


Ia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan benda pipih tersebut di telinganya.


"Assalamu'alaikum, Bang-"


"Waalaikumsalam, mana Andra?" Angga memotong ucapan Bayu sebelum lelaki itu menyesaikan ucapannya.


"Ee, Andra lagi nggak disini, Bang. Kenapa?"


"Terus dimana? Kenapa nggak bisa di telfon?"


Bayu mengernyit, tak biasanya kakak dari bosnya itu mencari-cari Andra. Apa ada sesuatu yang mendesak dan sangat penting, pikirnya.


"Bayu nggak tau, Bang. Mungkin lagi sibuk sama istrinya,"


Angga berdecak, "ck. Biasanya lo selalu ada dimanapun tuh anak berada,"


"Ya kali gue harus ngintilin orang honeymoon," seru Bayu.


"Emang disana lo ngapain kalau bukan ngintilin Andra honeymoon, bego!"


"Iya juga ya," gumam Bayu setelah berfikir sejenak, "tapi kan nggak ikut pada urusan kamar mereka juga kali, Bang!"


"Yaudahlah.. ntar kalo lo udah sama dia, bilangin kalau gue nyariin, terus suruh telfon gue balik," titah Angga.


"Iya, Bang- waduh! Seruni udah sampe sini aja tuh," Seru Bayu yang tiba-tiba melihat kedatangan Seruni di ujung jalan.


Seruan Bayu yang masih terdengar jelas di ponsel Angga, membuat lelaki itu mengernyit merasa mengingat sesuatu.


"Seruni siapa, Bay?"


"Gawat, Rud! Gue ngumpet dimana nih, Rud?" Bayu panik melihat Seruni berjalan semakin mendekat ke arahnya.


Dengan cepat Bayu menarik topi hodie yang di pakainya hingga menutup seluruh kepalanya dengan sempurna, setelah itu ia tertidur tengkurap dengan memepetkan tubuhnya pada batas gazebo. Sedangkan Rudi ikut bergeser ke pinggir di dekat Bayu dengan menutupi kepalanya dengan lembar kertas menu yang dilaminating.


"Bay? Seruni siapa?" tanya Angga lagi.


Merasa tak mendapat jawaban, Angga lebih mengeraskan suaranya, "Bayu? Lo masih denger gue nggak sih?"


"Sssst.. ntar, Bang. Lagi gawat ini,"


"Gawat kenapa sih lo? Seruni itu sipa, Bay?" tanya Angga berulang kali karna belum juga dijawab oleh Bayu.


Angga merasa sangat familiar dengan nama tersebut namun belum juga dapat mengingat sepenuhnya siapa gerangan pemilik nama itu.


"Seruni? Kenapa gue ngerasa nggak asing sama nama itu, bahkan sangat familiar," gumam Angga sendiri namun terdengar oleh Bayu.


"Jelas aja familiar, dia kan cewek lo!" Sahut Bayu tanpa sadar, kemudian lelaki itu segera membekap mulutnya yang keceplosan. Dengan segera Bayu memencet tombol merah guna mengakhiri panggilan tersebut.

__ADS_1


"Maksud lo apa, Bay?"


"Halo? Bayu?" Angga menatap ponselnya, "wah, nggak beres ni bocah! Main mati-matiin telfon aja seenaknya sendiri,"


Angga dengan cepat kembali menelfon Bayu, namun tak di angkat oleh Bayu. Saat ia akan kembali menggeser tombol 'panggi lagi', tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk dari luar.


"Masuk!" Ucapnya dengan kesal.


"Maaf, Pak. Di luar ada nyonya-" ucapan lelaki yang merupakan asisten Angga itu terpotong oleh pertanyaan Angga.


"Nyonya siapa maksud kamu?"


"Nyonya itu, Pak. Yang biasanya,"


"Ck, makin gila tuh orang." Batin Angga,


"Suruh satpam bawa perempuan itu keluar dari perusahaan ini! Kalau dia tidak mau, seret sampai tidak sedikitpun menginjakkan kakinya di lantai kantor ini lagi!" Ucap Angga tegas.


Kalimat tersebut merupakan kalimat terpanjang yang pernah di dengar oleh sang asisten selama bekerja bersama Angga. Hingga asisten itupun melongo tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Arga? Kamu denger saya kan?"


"I-iya, Pak," p


"Lakukan!"


"Baik, Pak. Permisi," pamit sang asisten yang bernama Arga itu.


"Kenapa dulu gue bisa terjebak sama wanita kayak gitu? Nggak punya malu, nggak punya harga diri juga," gumam Angga dalam hatinya.


"Rasa sakit hati, patah hati pun nggak ada. Yang ada hanya rasa jijik karena pernah menikah dengan wanita yang bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya,"


Angga menegakkan badannya yang semula bersandar pada kursi, "Seruni.. siapa Seruni? Kenapa Si Bayu bilang kalau dia cewek gue?" gumamnya yang menyangga kepala dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya mengetuk-ngetukkan pulpen.


Lelaki yang memiliki gestur tegas itu masih setia bergelung dengan segala pemikiran-pemikirannya tentang masa lalunya juga tentang gadis bernama Seruni yang baru saja namanya ia dengar, (lagi).


•••


Karena terlalu asyik dengan obrolan ngalor ngidul mereka, Andra dan Senja sampai lupa jika saat ini harusnya mereka sudah menyusul kedua orangtuanya ke rumah sakit.


Obrolan yang semula hanya tentang permintaan maaf, merambat pada perasaan mereka yang tak percaya jika di takdirkan untuk bersama, hingga membahas masa lalu yang penuh makna.


Sesekali terdengar tawa dari pasutri itu, seakan tak ada lagi kecanggungan yang mereka rasakan. Yang beberapa bulan lalu masih seperti orang asing yang hampir tak pernah bertegur sapa, namun kini mereka menjadi orang yang sangat dekat, yang setiap saat setiap waktu selalu bersama sebagai padangan suami istri.


"Mas Andra inget loh, dulu kamu tuh suka banget manjat pohon, terutama pohon buah," ucap Andra dengan mata berbinar.


"Soalnya kalau ada yang masak kamu langsung makan di pohonnya langsung, bahkan kulitnya aja masih utuh di tangkainya tanpa kamu petik dulu," kekeh Andra.


Senja tertawa mendengar hal itu, karena memang benar adanya. Bahkan dulu pernah ada orang yang merupakan pemilik pohon buah tersebut merasa heran saat memanen buahnya hanya ada kulitnya saja di tangkainya.


"Apa sekarang masih suka kayak gitu?"


"Masih, tuh di belakang rumah. Meski lahan cuma segitu, Adek nglarang Bapak pas mau nebang itu pohon, kan sayang kalau di tebang, Adek jadi nggak punya tempat persembunyian," jawab Senja santai sambil memakan apel.


Andra geleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban snag istri, betapa tak menyangkanya ia jika sang istri yang kelihatannya sudah dewasa ternyata masih sama seperti belasan tahun lalu saat masih bocah.

__ADS_1


Tapi hal itu justru membuatnya semakin gemas, apalagi saat melihat Senja yang asyik menggerogoti apel hijau dengan bunyi 'krauk krauk' yang sangat menggoda, hingga kedua pipinya tampak menggembung karena penuh.


Andra menatap Senja yang di pandangannya kini berubah menjadi Cenil, atau Senja saat kecil. Rambut pendeknya yang acak-acakan, kulit wajahnya yang kusam, tubuh mungil dengan sedikit berisi, tampak sangat sehat karena selalu banyak aktifitas yang dilakukan.


Mata yang selalu bening itu berbinar saat melihat ataupun memakan sesuatu yang di sukainya. Sungguh sosok sederhana yang selalu bahagia, hingga membawa kebahgiaan juga bagi siapa saja yang berada di sekitarnya.


"Dek?"


"Hmm?"


"Ma-"


Dering ponsel Andra menghentikan aktifitas kunyahan Senja, serta perkataan yang akan dilontarkan oleh lelaki itu.


"Ibu telfon," ucap Andra pelan pada Senja setelah membaca siapa si penelepon.


"... ..."


"Waalaikumsalam, Buk. Gimana, Buk?"


"... ... ... ... ..."


Andra menepuk keningnya mendengar perkataan sang ibu mertua.


"Astaghfirulloh.. Maaf ya, Buk. Kami lupa,"


"..."


"Ya Buk, Assalamu'alaikum," Andra kembali meletakkan ponselnya setelah mematikan panggilan tersebut.


"Dek, buruan siap-siap, ayo!"


"Mau kemana?"


"Rumah sakit,"


"Siapa yang sakit?"


"Ya ampun! Bener-bener lupa nih kayaknya,"


Senja mengerjab-ngerjabkan matanya, sesekali keningnya bergerak-gerak berfikir.


"Bu Muti, Dek. Yang dirawat di rumah sakit! Ih, gemes deh,"


"Oo iya, lupa. Astagfirulloh.. Cus mandi dulu lah,"


"Siapa?"


"Ya Adek lah.. Masa kita,"


"Kalau boleh sih, nggak papa jua, Dek." Sayangnya kalimat itu hanya ada dalam angan Andra.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2