
"Angga? iya, kamu Angga! lama juga kita gak ketemu, kamu udah makin keren sekarang, " ucap seorang gadis yang tak sengaja berpapasan dengan Angga.
Angga mengangkat sebelas alisnya tanpa berniat menjawab sapaan tersebut. Saat ini Angga tengah berada di sebuah rumah makan terbuka untuk perjuangan bisnis bersama kliennya. Ia tengah izin ke kamar mandi saat tiba-tiba ada seorang gadis yang menyenggol lengannya, lalu kemudian menyapanya.
Lelaki itu terus berlalu menuju kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya tanpa menghiraukan panggilan dari si gadis.
"Ck, masih aja sombong kayak dulu lo! " seru gadis tersebut.
Se keluarnya Angga dari dalam kamar mandi, ia kembali di hadang oleh si gadis yang sudah memamerkan senyum terbaiknya, gadis itu terus menyerocos hingga membuat Angga merasa jengah.
"Ngga, ini gue Amanda! Masak lo nggak inget sih sama gue? " ucap Amanda berseru karena ia sudah tertinggal jauh di belakang Angga.
Angga menghentikan langkahnya, menghela nafas pelan. Namun belum bersuara, menunggu si gadis yang mengaku bernama Amanda meneruskan ucapannya.
Amanda tersenyum lebar, kembali berjalan dengan ruang ke arah Angga yang berhenti seakan menunggu dirinya.
"Gue temen kuliah lo dulu, di Universitas YY.. kita satu kelas loh, bahkan dulu kamu selalu muji aku kalau aku dapat menjawab pertanyaan dari dosen dengan tepat, "
Angga mengernyit, "kamu salah orang! "
"Nggak mungkin lah, Ngga! Lo Angga Pradipta, anak pertama dari dua bersaudara, adik lo bernama Andra Pradipta. Kalian anak dari pengusaha properti sukses bernama Pak Herman Pradipta, ibu kalian bernama Ibu Ratih Suharso. Terus-"
"Kamu nguntit saya? " tanya Angga dingin dengan nada penuh curiga.
Gadis itu terbahak, "gue? nguntit lo? "
Angga memicingkan mata menanggapinya.
"Emang kalau iya, kenapa? lo mau protes? " tantang Amanda lantang.
Angga mengembuskan nafas kasar, "jelas saya keberatan, karena itu sangat mengganggu privasi saya. Lebih baik kamu berhenti sebelum saya bertindak lebih tegas lagi, permisi, "
Lelaki itu langsung melenggang meninggalkan Amanda yang mendengus sebal. Kakinya menghentak-hentak tanah dengan tangan terkepal kuat, matanya melotot penuh amarah.
"Lo liat aja, Ngga. Gue nggak bakal tinggal diem lo giniin gue. Udah cukup gue bersabar ngadepin lo dengan cara baik, mungkin cara yang sedikit buruk akan berhasil, " gumam Amanda pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Amanda berlalu dari tempat tersebut, ia menuju tempat dimana beberapa bulan belakangan ini sering dikunjunginya untuk berkonsultasi masalah hidup dan juga asmaranya yang selalu buruk menurutnya.
Mobil sedan berwarna merah menyala yang di kendarai Amanda melaju cepat menuju sebuah perkampungan di pinggiran kota, tempat yang lumayan jauh dari hiruk pikuk keramaian kota Jakarta.
Sebuah pondok klasik bernuansa mistis menjadi tujuan gadis dengan penampilan sexy dan dandanan mencolok itu. Tanpa rasa takut ia memasuki tempat itu seolah sudah sangat biasa keluar masuk tempat tersebut.
"Nyai! Apa yang Nyai pakaikan padaku itu tak mempan sama sekali," seru Amanda pada seorang wanita paruh baya yang sedang menikmati sirih di tangannya.
Wanita paruh baya itu hanya melirik Amanda yang tak punya sopan santun sama sekali saat berucap pada dirinya.
"Nyai bilang dengan memasang susuk emas itu, Laki-laki yang ku kejar akan balik mengejarku, nyatanya apa? Dia malah semakin dingin terhadapku, boro-boro tertarik, ngelirik aja dia nggak sudi, " protes amanda.
Wanita paruh baya yang di panggil Nyai oleh Amanda itu menjeda kegiatannya, ia menatap sirih dintangannya yang sudah berubah warna menjadi merah.
"Bukankah aku sudah bilang, harusnya kau memasang susuk mayat atau susuk berlian, agar laki-laki yang kau suka mampu tertarik oleh pesonamu, tapi kau malah memilih susuk emas murahan itu, jadi jangan protes padaku! " kawan nyai tak mau kalah tanpa menatap lawan bicaranya.
Amanda berdecak sebal, "kalau aku punya uang sebanyak itu, untuk apa aku mengejar-ngejar pria yang jelas-jelas menolakku? "
"Bukankah itu karena kau menyukainya? "
"Itu salah satunya, salah lainnya itu karena dia kaya raya, orang tuanya juga kaya, neneknya kaya. Pokoknya seluruh keluarganya kaya, jadi akan bisa menjamin kehidupanku tujuh belas turunan, tujuh belas tanjakan, tujuh belas tikungan juga kalau aku bisa menjadi bagian dari keluarga itu, "
"Kalau Nyai sudah sekaya saat ini, kenapa Nyai Soro masih mau membuka praktek seperti saat ini? "
"Itu karena ilmuku harus tetap aku asah agar tak pudar kesaktiannya. Lagipula, aku tak asal mengambil pasien, hanya orang-orang tertentu yang bisa menjadi pasien atau bahkan muridku, "
Nyai Soro menatap sebuah cermin berbingkai kayu dengan ukuran yang sangat klasik terpahat disana.
"Kau bisa menjadi muridku karena aku melihat ambisi yang sangat besar pada dirimu, amarahmu yang mudah meluap, emosimu yang menggebu-gebu pula, itu yang membuatku memilihmu, " ucap Nyai Soro kemudian.
"Bukankah, Nyai punya anak yang bisa Nyai turunkan ilmu-ilmu Nyai itu? " tanya Amanda berhati-hati. Sudah lama dirinya ingin bertanya hal tersebut, tapi tak pernah kesampaian karena dirinya juga merasa sungkan pada Nyai Soro, gurunya.
"Emm.. Anak-anak ku tak ada yang mau menuruni ilmuku ini, makanya aku mencari orang lain yang bisa meneruskan ilmuku agar tak musnah, "
"Karena ilmuku ini haruslah diterima dengan lapang dada, tanpa adanya unsur keterpaksaan disana. Makanya aku tak bisa memaksa anakku untuk menuruni ilmu ini, "
__ADS_1
"Oh.. jadi gitu ya, " gumam Amanda sambil manggut-manggut menanggapinya.
"Katakan, apa yang kau inginkan sekarang, " ucap Nyai Soro setelah hening beberapa saat.
"Tentu saja aku mau membuatnya tunduk kepadaku, Nyai. Bila perlu keluarganya juga jika mereka menentang hubungan kami nantinya, " jawab Amanda penuh ambisi.
Nyai Soro mengangguk, "baiklah.. aku tau apa yang harus kulakukan. Segera lakukan persiapan! Kita akan segera melaksanakannya malam ini juga, "
Amanda menyeringai puas mendengar jawaban dari gurunya itu.
"Dengan senang hati, Nyai.. "
Sesuai dengan keinginan Amanda, malam itu juga kedua wanita beda usia itu melancarkan aksinya. Mereka melakukan ritual sesembahan yang bertujuan agar Amanda bisa menaklukkan Angga, dan menjadikan laki-laki itu sebagai suaminya.
Malam harinya, Amanda mulai melakukan ritual seperti mandi kembang tujuh rupa di sumur tua yang berada di belakang rumah Nyai Soro. Sumur yang memang biasa di pergunakan untuk melakukan segala ritual dukun wanita itu.
Sedangkan Nyai Soro memulai ritual-ritual yang akan membuat muridnya tersebut mampu mencapai tujuannya.
Wanita tua dengan pakaian jubah kulit macan itu berkomat-kamit membaca mantra di depan sebuah tablet yang di dalamnya ada foto Angga. Karena jaman sudah canggih, dan tentunya karena Nyai Soro dukun tajir, jadi tak lagi memakai foto kertas ataupun baskom berisi air kembang.
Usai keduanya menjalankan ritual masing-masing, Nyai Soro mulai memasang kembali susuk ke dalam tubuh Amanda yang kini sudah berbaring di hadapannya. Mulai dari wajah, leher, dada, perut hingga alat vitalnya di pasang susuk oleh gurunya tersebut. Entah apa tujuannya, mungkin agar lebih menarik nantinya.
"Aku telah memasang susuk mayat dalam tubuhmu, jadi kau harus lebih berhati-hati dalam setiap tingkah lakumu mulai saat ini, Nduk! " pesan Nyai Soro.
"Baik, Nyai, "
Dan sejak saat itu, Amanda mulai gencar melancarkan aksinya dalam mencapai misi, yakni menakhlukkan Angga. Ia berkedok menjalin bisnis dengan Angga agar bisa selalu bertemu, tentu saja dengan guna-guna selalu ia butuhkan setiap permuannya dengan Angga.
Hingga pada akhirnya ia berhasil mencapai apa yang ia inginkan, yakni memperdaya Angga dan menjadi istrinya.
Tapi hubungan itu sangat aneh, karena susuk mayat yang melekat pada dirinya, Nyai Soro melarangnya untuk berhubungan suami istri dengan Angga, hal itu membuatnya jengkel karena harus menahan hasratnya.
Jika ditanya soal Angga, lelaki itu tak berhasrat sama sekali, apalagi untuk berhubungan badan, hasrat untuk hidup saja semuanya atas kendali Amanda. Angga hanya seperti patung hidup selama hidupnya dengan Amanda.
.
__ADS_1
.
Bersambung..