Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 20. ??


__ADS_3

...Selamat membaca😊...


......................


Setelah Senja dibawa pergi oleh Mbak Asih menuju kamarnya. Eyang langsung bergegas kembali menuju kamar sang cucu yang seperti geplak itu. Dibuang sayang, dimakan bikin sakit gigi. Rencananya, ia akan mengadili cucunya itu sebelum Senja selesai membersihkan diri dan mencari keberadaannya.


Sesampainya dikamar sang cucu, eyang membuka pitu ber'cat coklat itu. Di dalam kamar terlihat Andra yang sedang melamun sehingga tak menyadari kedatangan sang nenek.


Eyang duduk di sofa single disamping Andra yang merebahkan diri di sofa panjang kamar Andra. "Malam-malam ngalamun, kalau kesusupan'kan (kesurupan) Eyang yang repot!" Tegur eyang pada Andra.


Andra terlonjak kaget. "Eyang!Sejak kapan Eyang duduk disitu? Kok Andra nggak denger Eyang masuk?" Tanyanya sembari mendudukkan diri.


"Kamu itu ngalamun apa tidur? sampai nggak denger kalau Eyang masuk," ucap eyang.


Andra terawa garing sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, "hehe.. maaf Eyang. Oh iya, gimana tadi Senja? Jadi balik sekarang nggak? Kalau iya Andra juga mau siap-siap deh." Andra malah kembali bertanya dan hendak berdiri dari duduknya, tetapi telinganya sudah kembali diraih oleh eyang.


"Mau kemana kamu anak bandel? Eyang baru saja duduk kok sudah mau ditinggal pergi."


Andra meringis, "Eyang kenapa jadi suka jewer kuping aku sih? Ntar kalau lepas gimana? Masak iya diganti sama kuping embek. Nanti cucu Eyang ini gak ganteng lagi dong.." Andra bicara dengan bibir yang sudah manyun dua centi dan memegangi telinganya yang baru saja terkena jeweran dari eyang.


"Ya Allah.. sejak kapan kamu jadi suka sombong seperti ayah kamu begitu?" Eyang mengepalkan tangannya geregetan, ia teringat dengan kenarsisan sang putra sulung, Herman. Yang merupakan ayahnya Andra.


Andra hanya merenges mendengar pertanyaan eyang dan malah kembali menanyakan soal Senja.


"Gimana Sen-" pertanyaan Andra terpotong oleh eyang.


"Sudah beres semua sama Eyang!" Sahut eyang cepat, tak mau mendengar pertanyaan yang sama lagi.


"Maksudnya?" Andra mngernyit tak mengerti.


"Pokoknya beres itu ya beres. Dia menginap disini, jadi kamu cerita sama Eyang, se-ka-rang ju-ga!" Tegasnya.


"Bagaimana bisa dia mau menginap disini? Eyang apain si Senja?" Andra menyipitkan mata, curiga dengan sang Eyang.

__ADS_1


"Ngapain kamu ngelihatin Eyang kayak begitu? Ora sopan ono bocah!" (Nggak sopan nih anak)


Andra menunduk "Maaf Eyang.. Andra nggak bermaksud begitu. Tapi aneh aja, gimana bisa tiba-tiba Senja mau menginap di rumah orang asing begitu aja."


Eyang menyergah ucapan Andra dengan cepat. "Enak aja kamu ngomong! Senja itu juga cucu Eyang.. jadi Eyang ini bukan orang asing buat dia. Kecuali kamu itu, mungkin iya, orang asing buat dia."


"Andra juga bukan orang asing!" sahut Andra.


"Wong tadi saja penampilan kamu dibilang kayak ******* kok. Apa kamu ndak rumongso (nyadar) to?"


Andra melotot "Hah? *******, Eyang?" Bibirnya sudah mewek ala Masha And The Bear.


"He'em." Eyang mengangguk membenarkan.


"Tadi itu 'kan yang dandanin aku Bayu jadi kayak gitu, habisnya aku malu sama Senja."


"Malu kenapa? Kenapa harus malu sama Senja?" Batin eyang.


Eyang mendekat pada Andra, "dulu kapan? Kamu 'kan ikut sama ayah kamu tinggal di Jakarta sejak SMA kelas duabelas to? Disuruh nunggu sampai lulus aja gak mau. Eyang kembali kesini malah gantian kamu yang pergi kok."


Andra menuduk, "dulu pas kami masih kecil, pas Eyang tinggal di Amerika sama Paklek Arman. Kan Andra ke tempat mbah putri di Semarang, terus Andra kegigit ular." Jelas Andra, "Eyang ingat? Eyang juga dikasih tau sama ayah 'kan waktu itu?"


Eyang mengangguk, "hmm.. ya, eyang ingat. Terus hubungannya sama Senja, opo?" Tandas eyang tidak sabar.


"Ya.. Senja itu gadis pemberani yang nolongin Andra waktu itu, Eyang. Padahal dulu dia masih kecil banget, mungkin baru sepuluh tahun umurnya. Tapi keberaniannya patut diacungi jempol." Ujar Andra antusias, "kalau nggak ada dia, Andra nggak tau apa yang akan terjadi sama Andra." Jelas Andra pada eyang.


Mata eyang berbinar lebar, ia merasa takjub dengan cerita Andra. Semakin besar saja rasa kagum dan bangganya terhadap Senja. "Waah.. terus-terus, kamu suka to sama dia?" tanya eyang sambil memegang kedua tangan Andra.


"Emm.. Kalau menurut Eyang gimana?" Andra malu-malu seperti gadis perawan sedang dilamar.


"Haaah.. sudah eyang duga sejak awal. Kenapa kamu jadi aneh, pura-pura nggak kenal sama Eyang. Bahkan sampai jadi ninja hatori seperti tadi itu, jadi gara-gara kamu naksir sama Nak Senja toh." Eyang mengangguk-anggukkan kepalanya.


Andra tersenyum meringis memamerkan deretan gigi putihya mendengar penuturan dari sang nenek.

__ADS_1


"Jadi Senja belum tau apa-apa tentang perasaanmu itu padanya?" Selidik eyang.


"Boro-boro perasaan aku, Eyang. Dia aja nggak tau kalau aku ini ada.. huaaaa." Andra pura-pura menangis sedih.


"Lha wong kamunya aja ndak mau menunjukkan diri kok. Bagaimana dia bisa tau to Le, Le.."


"Eyang nggak habis fikir kenapa kamu ndelik (sembunyi) dari Senja. Kalau kamu suka sama dia 'kan tinggal ngomong aja sama dia. Terus Eyang tinggal nikahkan kamu sama Senja. Beres to?" Segampang itu eyang bicara, tapi bagi Andra sulitnya bak ia akan memindahkan istana eyang ke Paris. Mustahil!


"Masalahnya nggak semudah itu Eyaang.." rengek Andra.


"Terus?"


"Eyang nggak tau bagaimana perasaan Andra yang membeku kalau ada di dekat Senja,"


Eyang menarik nafasnya panjang dan menghelanya perlahan. Tak tau harus bagimana menghadapi kegalauan cucunya itu.


"Lidah Andra mendadak kelu, kaku kalau ada Senja. Gimana bisa Andra mengungkapkannya, Eyang?"


Kasihan sekali cucuku ini, apa yang bisa aku lakukan untuk membantunya. Apapun itu, akan aku lakukan demi kebahagiaannya, baru kali ini aku melihatnya sangat menyukai dan menginginkan sesuatu. Gumam eyang dalam hati.


"Semua keputusan ada di tangan kamu sendiri, Andra." Eyang beranjak dari duduknya meninggalkan Andra yang menekuk wajahnya.


"Andai semuanya semudah yang dikatakan Eyang, saat ini aku pasti sudah bersama-sama dengan Senja. Bahagia dalam sebuah ikatan pernikahan. Tapi semua hanya di anganku saja. Karena kenyataannya tidak semudah yang ku bayangkan." Batin Andra setelah kepergian eyang dari kamarnya.


.


.


BersambungšŸ¤—


Mohon dukungannya dengan Like, komentar positif. Favorit jugaā¤.


TerimakasihšŸ™šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2