Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 28. Oleh-oleh Eyang


__ADS_3

...Selamat membacašŸ¤—...


...----------------...


Karena tak juga mendapatkan jawaban yang diinginkan dari Andra, Bayu segera bergegas menuju ke kediaman eyang. Daripada berlama-lama menunggui Andra yang terpapar virus asmara, bisa-bisa ia ketularan. Tapi kalau dia mau terkena virus asmara siapa? Sedangkan setiap harinya hanya ada Andra yang bersamanya. Hahha, ngenes! Tapi tenang Bay! Akan ada saatnya untukmu.


Eyang yang baru saja sampai dirumahnya beberapa waktu lalu, sedang membereskan semua barang-barang bawaannya dibantu oleh Mbak Asih dan Mbok Munah. Lebih tepatnya eyang hanya mengambil dan menyimpan oleh-oleh saja, yang lainnya para asisten yang menyelesaikan.


Bayu sampai di rumah eyang saat eyang baru saja selesai membereskan barangnya dan menuju ke ruang tengah untuk menikmati oleh-oleh yang dibelinya saat berlibur kemarin.


Saat Bayu masuk ke ruang tengah dan eyang melihatnya, eyang langsung memandang sinis kearah Bayu sambil berusaha menyembunyikan cemilannya. Sedangkan Bayu hanya cengar cengir bak manusia tak berdosa.


"Ngapain kamu kesini cucu durhaka? Tau Eyang habis liburan, dateng! Pasti mau minta oleh-oleh. Hmmh. . Sorry ya. Tak boleh!" Eyang memalingkan wajah kearah lain.


Bayu perlahan berjalan mendekat kearah eyang, dan duduk bersimpuh tepat didepan kaki eyang.


"Assalamualaikum eyangku tersayang. ." Sapa Bayu lembut dengan senyum manis dibibirnya yang tebal.


Eyang masih memalingkan wajah dari Bayu hanya diam tak merespon Bayu sama sekali.


"Eyangku yang paling cantik." Bayu kembali berkata.


Masih tetap sama, tak bergeming.


Tetapi Bayu tak menyerah, bukan Bayu namanya jika mudah menyerah begitu saja.


"Eyangku yang paling manis. ." Suara Bayu dibuat semerdu mungkin. Wajahnya pun diimut-imutkan, ala boyband korea.


Eyang mulai melirik Bayu, sedikit. .


Merasa mulai ada harapan, Bayu mengerahkan semua tenaganya, maksudnya semua rayuannya yang ia punya.


"Eyangku yang unyu-unyu."

__ADS_1


Eyang mulai bergerak sedikit kearah Bayu.


"Eyangku yang gaul, yang kekinian, yang terbaik, kids jaman now banget!" Bayu mulai memberondong rayuan gombalnya.


Usahanya tak sia-sia, akhirnya eyang goyah juga, ia tersenyum geli mendengar segala macam brondongan rayuan maut Bayu.


"Cucumu yang paling comel ini saaangaaat merindukanmu." Gaya Bayu sudah seperti si pus yang minta makan.


Eyang meraih Bayu yang masih setia bersimpuh dikakinya kedalam pelukannya.


"Dasar cucu tukang gombal! Comel darimananya kamu ini, dasar nakal!"


Eyang melepas pelukannya hendak meraih telinga Bayu, tapi Bayu terlebih dahulu menutup kedua telinganya menggunakan kedua telapak tangan. Ia sudah hafal kebiasaan eyang terhadapnya, menjewer kuping.


"Ampun Eyaang. . Maafkan segala kesalahan hamba Paduka Ratu."


Bayu yang tadi sudah berlutut saat dipeluk eyang, kembali berpose menyembah. Ia menyatukan kedua telapak tangannya dan mengangkat keduanya diatas kepala tinggi-tinggi bak seorang prajurit yang menyembah kepada ratunya.


Eyang sudah tak dapat lagi menahan tawanya, ia langsung saja tertawa lepas melihat tingkah konyol Bayu. "Sudah. . Sudah! Bisa-bisa nanti mulut Eyang nggak bisa mingkem kalau polahmu neko-neko terus seperti itu."


"Uwes (Sudah)! Duduk manis sini." Titah eyang sambil mengatur kembali nafsnya yang capek efek tertawa lama. Ia menepuk sofa kosong disebelahnya agar diduduki Bayu.


"Berapa hari ya Bayu nggak ketemu sama Eyang? Kok Eyang sekarang kelihatan berbeda. Eyang itu lebih seger, fresh, sumringah, juga. . Lebih modis deh." Bayu menyipitkan matanya memperhatikan eyang dari atas kebawah, dari bawah kembali keatas.


"Heh! Eyang itu memang selalu bugar dan stylish ya." Balas eyang sambil mengibaskan rambut sebahunya.


"Iyalah. . Harus! Eyangnya Bayu gitu loh." Mereka pun tertawa bersama.


Setelah keduanya tenang, eyang mulai menunjukkan oleh-olehnya kepada Bayu, mulai dari makanan hingga semua barang-barang yang dibelinya.


"Lihat ini Bay! Eyang beli semua jenis makanan khas Gunungkidul."


Bayu terdiam mendengar perkataan eyang barusan, ada sedikit nyeri dihatinya yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


"Eyang juga beli kaos bertuliskan nama-nama pantai disana yang Eyang kunjungi kemarin." Eyang bercerita dengan semangat.


Bayu menyimak cerita eyang dengan seksama, sebelum nanti ia akan mengajukan pertanyaannya.


Kemudian eyang membongkar semua barang yang dibelinya. "Nih. . Ada kaos dengan tulisan Pantai Baron, Kukup Beach, Pantai Ndrini, Krakal Beach, Pantai Slili, Pantai Indrayanti, Pantai Poktunggal, Seruni, Siung, terus. . Apa lagi ya ini."


Bayu memotong cerita eyang "Bentar-bentar Eyang. . Eyang dateng ke semua pantai itu apa cuma kaosnya doang tuh?"


"Eh, kamu meremehkan Eyang?" Eyang sudah berkacak pinggang, tak terima dengan ucapan Bayu yang terkesan meremehkan baginya.


"Bukan begitu maksud Bayu. . Maaf." Jawab Bayu pelan sambil menunduk.


"Hmmmh! Eyang juga beli pernak pernik yang dibuat dari kerang. Ada hiasan pintu, jam dinding yang ada lobsternya. Ini buat kamu satu, bingkai fotonya, buat pajang foto Eyang, biar selalu ingat dan kangen Eyang meski kamu sudah punya pacar nantinya." Ucap eyang sembari menyerahkan satu bingkai foto dengan hiasan banyak kerang dipermukaannya.


Bayu cemberut dan memonyongkan bibirnya. Ia merasa tersindir dengan perkataan eyang yang terlontar baru saja.


"Gimana mau punya pacar eyang? Bayu aja selalu dikurung sama cucu kesayangan Eyang itu." Gerutunya dalam hati.


.


.


Bersambung.


Beri dukungannya berupa


LikešŸ‘


Komentar positifšŸ’¬


Vote🄰


Rate bintang 5.

__ADS_1


Ngarep🤭


__ADS_2