
Usai melihat keadaan Ningsih yang dirawat di ruang khusus karena tengah koma, kini Senja dan Andra berpindah ke kamar bayi guna melihat anak dari kakak sepupunya tersebut.
"Iii, lucuk. Gumush banget sih, " Seru Senja dengan suara tertahan karena tak ingin membangunkan para bayi yang ada di ruangan tersebut.
"Jadi pen culik deh, " ucapan Senja sontak membuat Andra dan Lukman menoleh ke arahnya.
Senja merenges memamerkan deretan giginya melihat ekspresi terkejut dari suaminya, serta ayah dari bayi dalam box di depannya itu.
"Namanya siapa, Mas? " tanya Andra pada Lukman.
"Nah, iya. Siapa nama dedek bayinya, Kak? "
Lukman menggaruk tengkuknya dengan ekspresi bingung yang membuat Andra dan Senja jadi saling pandang.
"Bayinya belum di kasih nama? " tanya dua orang itu serempak.
Lukman menggeleng lemah, memang ia dan Ningsih sudah menyiapkan beberapa nama untuk sang buah hati saat sudah lahir kelak, tapi saat dirinya belum sempat bertanya nama mana yang akan disematkan pada putra mereka, istrinya sudah dinyatakan koma terlebih dulu.
"Gitu, ya? Emang pilihan namanya siapa aja? " tanya Senja.
"Bentar, ada catatannya, " Lukman mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Lalu ia membacakan sederetan nama-nama untuk bayi laki-laki yang sudah di tuliskan di ponselnya itu.
"Lucky, Ardan, Arkan, Azmi, Ardy, Alden, Azka, Afgan, Bara, Devano, Darrel, Davian, Danial, Edgar, Fadlan, Ghani, Henry, Ilyas, Jonatan, Kyle, Muhammad, Nathan, Naufal, Panji, Rafka, Vazal, Zulfan,"
Andra dan Senja ternganga tak percaya mendengar sederetan nama ya dibacakan oleh Lukman dari catatan di layar benda pipih yang di genggamnya.
"Itu sih bukan beberapa, orang A sampai Z ada. Ternyata dia begitu bingung milih nama, pilihannya banyak banget sih.. "
"Itu mau disematkan dinama dedek bayi semua, Kak? " tanya Senja ragu dan hati-hati.
"Ya enggak, cuma milih serangkaian aja. Cuma aku 'kan bingung, orang pilihannya banyak banget gini yang nulis Ningsih, " jawab Lukman.
"Oh, yang bikin catatan Mbak Ningsih? " Lukman mengangguk sebagai jawaban iya.
"Apa aku bakal kayak gitu juga ya kalau punya anak, " batin Senja bertanya.
"Namanya bagus-bagus semua, Mas, " ucap Andra.
__ADS_1
"Tapi nggak mungkin juga 'kan kalau mau dipakai semua di anak saya? Ntar susah lagi mau bikin akte. 'Kan ngasih nama anak juga udah ketentuannya dari pemerintah, "
"Iya sih, saya juga sempet denger berita yang viral itu, ngasih nama kepanjangan ke anak, "
"Nah, makanya saya juga pengen nama yang terbaik buat anak saya, tapi gak terlalu panjang dan jangan terlalu pendek juga kayak saya, " tutur Lukman.
"Kayak, Mas Lukman, maksudnya? " Andra mengernyit tak mengerti.
"Nama saya cuman Lukman aja gak pakai embel-embel yang lain. Makanya malah sering dipanggil pake nama alias aja, padahal nama 'kan doa ya, Mas? " terang Lukman yang disambung tanya.
"Saran saya nih ya, Mas Lukman coba difikir-fikir dan di timbang-tinbang dulu. Mana menurut Mas Lukman nama yang baik, cocok, dan yang paling Mas sukai untuk diberikan pada anaknya Mas Lukman ini, " ucap Andra memberi saran, "gak usah terburu-buru, masih ada waktu beberapa hari 'kan sebelum waktu kasih namanya, "
"Iya, Mas. Makasih sarannya. Saya mumet banget dari kemarin mau gimana-gimana. Belum kepikiran nama, soalnya takut salah atau gak berkenan buat istri saya nantinya, "
"Sama-sama, Mas, "
"Emm ... ini dedek bayinya udah boleh dibawa pulang, Kak? " tanya Senja.
"Kata susternya sih udah, soalnya dia sehat banget, cuma mamanya aja yang gak, " jawab Lukman sedih.
Kemudian ia mencoba membuang rasa sedihnya dan berkata, "apa gak ngrepotin kalian kalau anak saya, kalian yang rawat sementara saya menunggui mamanya disini? "
"Iya dong, biar besok udah pinter pas ngurus anak kita sendiri, " dukung Andra tak ingin melihat Lukman merasa terbebani.
"Saya juga masih harus belajar, Mas. Tapi apalah daya, tubuh saya cuma satu, dan nggak bisa ngurus semuanya sendiri dalam waktu yang bersamaan, " ungkap Lukman dengan tatapan tak lepas dari sang anak yang tengah tertidur pulas.
"Tapi nanti kalau saya bolak balik aja rumah sakit sama rumah kalian, boleh 'kan? " tanya Lukman.
"Tentu boleh banget, Kak. Dedek bayinya 'kan juga tetep butuh papanya, " ucap Senja.
"Terus ee... itu, anu, anak saya belum saya belanjain apa-apa, soalnya kami kesini buru-buru karena dengar kabar kalau bapak sama ibuk kecelakaan, dan malah jadi begini, jadi-"
"Udah, Mas Lukman gak udah mikirin keperluan bayinya. InsyaAllah kami ada kok, ntar kami cariin kebutuhannya, itupun kalau Mas Lukman gak keberatan sih, " tukas Andra.
"Saya jadi makin ngrepotin, Mas Andra sama Senja, " Lukman tak dapat lagi membendung air matanya yang sejak tadi sudah menggenang membayangkan akan jauh dari sang putra yang baru saja lahir kemarin.
Andra menepuk-nepuk bahu Lukman menenangkan, "enggak, Mas. Sungguh kami sama sekali nggak merasa direpotkan. Yang penting Mas Lukman tetap semangat dan fokus saja pada kesembuhan istri juga mertua Mas Lukman, "
__ADS_1
"Makasih banyak, Mas. Makasih juga, Senja, " ucap Lukman terharu dengan air mata yang mengalir.
Ditengah keharuan yang tengah terjadi, tiba-tiba ada tangis bayi menggema membuyarkan suasana baru tersebut.
"Eh, dedek bayinya bangun. Mesti di gimanain ini?" seru Senja panik.
"Nah 'kan, "
"Tenang, Dek. Jangan panik, coba ditepuk-tepuk apa dikasih susu, ya gak sih, Mas? "
Lukman jadi sedikit sangsi akan menitipkan putranya pada pasangan suami istri yang masih terbilang baru itu, dan sama sekali belum berpengalaman dalam mengurus bayi sama seperti dirinya. Tapi dia bisa apalagi selain mempercayai mereka.
"Kata suster tadi digendong terus dikasih susu gini, " Lukman menjejkan dot susu pada bayinya yang masih menangis.
"Kata suster? " tanya Senja pula.
"Hehe, iya. 'Kan aku juga baru belajar ini ngurus bayi, " jawab Lukman sambil terkekeh dengan air mata yang masih tersisa di sudut matanya.
Ketiga orang itupun tertawa bersama dengan keterbatasan pengalaman mereka dalam mengurus bayi.
"Sst, nanti dedek bayi yang lain ikut bangun lagi," Senja menoleh kanan dan kirinya yang penuh dengan bayi-bayi baru lahir.
Benar saja, tak lama kemudian terdengar dari suara bayi yang lain. Kemudian datanglah suster yang langsung menenangkan bayi yang menangis itu.
"Ini kita langsung bawa dedeknya sekarang apa kapan, Mas? " tanya Senja berbisik karena melihat si bayi yang sudah mulai tertidur lagi.
Luan mengangguk pelan tanpa mengalihkan tatapannya pada bayi laki-lakinya yang mulai terlelap.
"Adek bayi, jagoan Papa. Kamu ikut Tante Senja sama Om Andra dulu untuk sementara ya, do'ain semoga mama cepat pulih, biar kita bisa cepet sama-sama, " ucapan Lukman diiringi oleh isakan di akhir kalimatnya.
Senja dan Andra pun turut merasakan kesedihan Lukman. Dalam hati keduanya berdoa, semoga mereka tak akan pernah mengalami hal semenakutkan itu suatu saat nanti.
Jika boleh jujur, Lukman pun tak ingin mengalami hal itu. Tapi sebagai hamba, hanya bisa berpisah pada ketentuan takdir Sang Maha Pencipta.
.
.
__ADS_1
Bersambung...