Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Disana Sekarat Disini Bercerita


__ADS_3

Suasana dalam ruangan operasi rumah sakit yang semula hening dan hanya memperdengarkan suara denting alat-alat yang dipergunakan untuk operasi, kini menggema suara bayi. Seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki terlahir sehat dengan berat badan 3 kilo gram.


"Alhamdulillah.." ucap syukur Lukman beserta kru dokter serempak.


Setelah ketegangan karena keadaan Ningsih sempat drop, kini mereka dapat sedikit bernafas lega karena si bayi dapat di lahirkan dengan lancar tanpa kendala yang berarti.


Salah satu suster mengambil bayi tersebut untuk di bersihkan, sedangkan dokter melanjutkan operasi untuk menutup luka bekas sayatan pada perut Ningsih.


Lukman masih selalu setia mendampingi sang istri berjuang. Menggenggam tangan wanita itu, dan selalu tak habisnya memanjatkan doa untuk keselamatannya.


Sementara di ruangan lain, tempat di rawatnya Bu Muti dan Pak Minto. Tampak wanita paruh baya itu masih tersengal-sengal nafasnya meski alat ventilator masih terpasang di hidung dan mulutnya.


Tangannya meraih-raih sebuah remot yang terletak di atas nakas di sampingnya untuk memanggil dokter. Dengan susah payah Bu Muti menggapai benda tersebut dengan terus berusaha bernafas panjang, meski ia tetap merasa hanya sedikit oksigen yang masuk ke paru-parunya.


"To.. long, " bibir pucat nya terus menggumam meminta tolong, namun tak ada suara yang keluar.


Tubuhnya sudah bergeser ke tepi ranjang demi dapat menjangkau remot. Tangan kirinya berpegangan pada sisi kiri ranjang, mencoba bergeser lebih banyak lagi, meski tak membuahkan hasil sekalipun karena tenaganya yang kecil.


"Too- long.. "


Merasa tak berhasil menggeser tubuhnya yang mang lumayan besar, Bu Muti mencoba miring, tapi apalah daya tubuhnya seakan sama sekali tak memiliki tenaga.


Nafadnya semakin tersengal-sengal, dan tak ada tanda-tanda sedikitpun orang yang akan memasuki ruangannya. Membuatnya merasa antara ingin menyerah pasrah atau tetap berusaha dengan sisa terakhir tenaganya.


"Apa aku akan mati sekarang.. " rintihnya dalam hati, air mata sudah mengiringi sejak tadi.


"Maafkan semua salah-salahku, To.. maafkan aku, Retno.. Ampuni aku Ya Allah.. "


Bu Muti menarik nafasnya semakin dalam hingga terlihat dadanya yang mengembang lalu mengempis perlahan.


***


Angga duduk termenung, di wajahnya tersirat jelas kecemasan yang mendalam. Sebab sejak Seruni di bawa pulang dia jam yang lalu, gadis itu masih setia memejamkan matanya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum.. " ucap Rudi dan kedua orang tua Seruni yang baru saja di jemput olehnya.


Wajah Angga yang semula sudah cemas akan kondisi Seruni, kini semakin pias karena kedatangan dua orang yang sangat berarti dalam hidup Seruni itu.


Ibu Seruni melengos saat Angga mengulurkan tangan untuk menciumnya, berbeda dengan suaminya yang tampak legowo menerima uluran tangan itu meski dengan wajah yang tampak masam.


"Mm- maafkan saya, Pak.. Buk.. "


"Apa?! See-" seruan ibu dari Seruni mengagetkan semua orang yang ada disana.


Dengan cepat sangat suami menutup mulut istrinya itu dan berbisik di telinganya.


"Ssstt.. Bune, jaga sikapmu! Tidak sopan berteriak seperti itu di depan Mbah Kakung, Mbah Putri Harso, bahkan ada neneknya yang dari Jogja juga, "


"Huh! " ibu Seruni mendengus mendengar perkataan suaminya.


Meski hatinya masih merasa marah dan dongkol, ingin sekali mencaci dan memaki pemuda di hadapannya itu, namun ia mengurungkan nya dan memilih menuruti suaminya daripada nanti akan mempermalukan dirinya sendiri.


Kedua orang tua Seruni yang bernama Pak Edi dan Mak Ida itu menurut, mereka duduk setelah menyalami semua orang yang sudah terlebih dulu ada disana. Mbah kakung, mbah putri, Eyang Kumala, Andra, Senja, Bayu, Rudi dan Bulik Asih yang baru saja menyediakan minum juga kudapan.


Setelah semua orang kembali duduk secara lesehan di atas karpet yang tersedia, usai menyambut kedatangan Pak Edi dan Mak Ida, mbah kakung mulai mengungkapkan pemikirannya.


"Edi.. Ida.. disini aku sebagai kakek dari Angga. Aku turut meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang pernah di perbuat cucuku, tanpa membenarkan tindakannya sedikitpun, "


Semua yang ada tercengang mendengar permintaan maaf dari mbah kakung. Terutama Angga yang langsung berhambur menggenggam tangan mbah kakung dan menunduk menciumi nya.


"Akung jangan begini.. ini semua mungkin memang salah Angga, karena Angga yang terlalu abai dengan segala sesuatu yang ada di sekitar Angga, "


"Mbah Harso jangan begitu.. tidak ada yang disalahkan dalam hal ini, baik Angga maupun Seruni, mereka sama-sama korban, Mbah.. " sahut Pak Edi.


Lelaki itu langsung melirik tajam pada sang istri ketika wanita itu ingin berucap mendumal. Karena ia sudah hafal watak istrinya yang memang cenderung ceplas ceplos tersebut.


"Maaf sebelumnya semuanya.. tanpa mengurangi rasa hormat Andra pada semua yang ada disini. Andra benar-benar tidak tau menahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Angga dan Kak Seruni," Andra mengangguk hormat pada semuanya sebelum menyela acara maaf maafan tersebut.

__ADS_1


Andra merasa sangat awam pada kisah Angga, karena kakanya itu memang belum menjelaskan apa-apa tentang kejadian sebenarnya, ia hanya mengatakan ingin kembali memperjuangkan cintanya yang dahulu sebelum dirinya menikah dengan Amanda.


Karena dulu saat kejadian-kejadian itu, Andra pun masih sibuk-sibuknya berkelana mencari keberadaan pujaan hatinya yang kini sudah menjadi pendamping hidupnya. Dia hanya ikut merasa senang saat sang kakak ingin menikah tanpa memperhatikan ataupun memahami kejanggalan yang ada dalam hubungan antara kakak dan kakak iparnya dulu.


Semua orang yang tadi menolah pada Andra, kini satu persatu mulai menatap Angga yang menjadi objek tanya Andra.


Angga menghela nafas, menepis rasa sakit yang akan kembali hadir saat dirinya mulai menggali memori dimana dirinya mengenal dan mulai diperdaya oleh Amanda.


"Amanda.. satu kelas saat kuliah dulu di Jakarta. Aku bahkan tidak mengenalnya kalau bukan dia yang bicara dan membertitahuku, " para orgtua mengernyit mendengar cerita awalan Angga.


Sedangkan Andra dan Bayu memutar bola mata mereka malas, karena hafal watak dari kakak mereka. Senja hanya mengangguk angguk menanggapi.


"Selama kuliah, aku hanya abai padanya dan selalu asyik dengan duniaku sendiri bersama teman-teman ku, tanpa menganggap kehadirannya yang kerap kali muncul dimanapun aku berada, "


"Hingga sampai lulus kuliah pun, aku tak pernah menanggapinya. Karena aku rasa itu tidak perlu, dan hanya akan menyakitkan jika memberi harapan palsu menurutku, "


"Setelah lulus, kami sibuk dengan urusan masing-masing. Aku yang langsung diminta ayah untuk mengelola perusahaan, sedangkan dia entah apa yang di lakukannya. Dan sejak saat itu, aku merasa tak pernah lagi bertemu dengannya, "


Angga menjeda ucapannya, ia memperhatikan satu persatu wajah yang sedang serius mendengarkan ceritanya. Kemudian a melanjutkannya lagi, meski harus membuka luka lama yang mulai dilupakan olehnya.


"Aku kira semuanya sudah berakhir, obsesinya terhadapku hanya sebatas kagum pada teman kuliah saja. Dan aku pun tak pernah memikirkannya, "


"Hingga suatu ketika, tanpa disengaja aku bertemu dengannya yang bahkan aku tetap tak mengenalinya. Dia bersikeras mengingatkanku dengan segala ceritanya, dengan barang-barang pemberiannya yang tak pernah aku terima, seperti penggemar rahasia saja, "


Mendengar kalimat Angga, Andra melirik Senja yang masih fokus mendengarkan cerita dari kakak iparnya.


"Tapi anehnya, semenjak pertemuan itu, setiap hari ada saja cara untuk dia bertemu denganku. Entah urusan bisnis, entah tak dia bilang tak sengaja bertemu, dan lainnya. Sampai pada suatu hari.. "


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2