
...Sugeng Maos📄...
...(Selamat Membaca)...
...Permisii, ,...
...Tukang Halu mulai beraksii😊...
...----------------...
Andra Terhipnotis oleh suara Senja yang mendayu-dayu menyanyikan lagu jawa yang lagi trend masa kini. Jantungnya terpacu lebih cepat, pikirannya menghayal sampai ke negri awan☁️.
"Apa lagu itu untukku Senja? Apakah kamu masih mengingatku? Andai kamu ingat padaku Senja, akan kuserahkan seluruh jiwa dan ragaku, hidup dan matiku buat kamu Senja." Batin Andra dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Apa aku terlalu berlebihan, apa aku serakah jika mengharapkanmu mengingat tentang aku Senja?" Andra sekuat tenaga menahan air matanya.
Tanpa Andra sadari, Senja sudah selesai menyanyikan lagunya. Pertunjukan dilanjutkan oleh grup band Arlan kembali.
Senja berjalan menuju eyang yang sudah berada di tenda dan sudah menyalakan api unggun. Malam memang sudah semakin larut, angin pantai mulai terasa dingin dikulit.
Andra yang baru tersadar dari lamunannya, segera menghapus air mata yang sempat menetes sedikit lalu mencari keberadaan Senja. Matanya menyapu ke segala penjuru dan terlihat Senja yang duduk di atas kayu dengan mendekap kedua lengannya.
"Ingin kuberikan jas ini, dan kupakaikan padamu Senja biar kamu nggak kedinginan. Tapi kenapa aku nggak berani." 😔
"Kenapa aku harus jadi pengecut kayak gini sih!" Ucapnya menyalahkan diri sendiri.
"Aku harus berani!!" Tekadnya.
Andra perlahan mendekat ke arah Senja, "Ma maaf ya Dek Senja."
Andra memakaikan jas nya pada Senja dengan tangan yang bergetar hebat, rasanya ia ingin pingsan saat itu juga.
Tapi hatinya melarang, dan terus memberikan semangat untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Senja terkejut dan mendongak karena tiba-tiba merasakan ada sesuatu membalut tubuhnya, ternyata itu jas dari Andra yang dikenakannya tadi.
"Mas Andra, nggak usah Mas. Jasnya buat Mas aja, ntar Mas kedinginan loh. ." Tolak Senja halus.
"E eng nggak kok, Mm Mas, u udah biasa." Ucap Andra kikuk dan duduk di samping Senja dengan jarak.
Pipi Senja bersemu merah mendapat perhatian seperti itu dari Andra. Memang hal sepele, tapi bagi Senja itu adalah hal yang luar biasa. Karena baru pertama kalinya ia di perlakukan seperti itu oleh seorang laki-laki (selain mas ganteng di saat kecil dulu).
__ADS_1
Eyang bahagia memperhatikan kedua cucunya semakin ada kemajuan, meskipun baru sedikit saja.
......................
Keesokan harinya Senja sudah bangun terlebih dahulu, ia terkejut melihat jam sudah menunjukkan jam liwa lewat. Karena semalam mereka semua beranjak tidur ketika sudah menjelang pagi. Tidak ada yang dilakukan padahal, hanya memperhatikan api unggun karena keduanya sama-sama canggung.
Senja segera membangunkan eyang untuk melaksanakan sholat shubuh sebelum hari semakin siang.
"Eyang bangun dulu yuk. ." Ucap Senja pelan dngan suara seraknya, ia mengusap lengan eyang yang tidur disampingnya.
Karena tenda di bagi menjadi tiga bagian, yaitu satu untuk eyang dan Senja, satu untuk Andra dan Pak Santo, sedangkan satunya lagi untuk Mbak Asih dan Mbok Munah.
"Emmm. . Sudah jam berapa to, *N*dok?" Tanya eyang sambil mengucek mata.
Senja beranjak "Sudah jam lima lebih, Eyang."
Eyang berjingkat kaget "Astaghfilloh hal adzim. . yasudah Eyang mau ke toilet dulu. Tolong kamu bangunkan Andra dan yang lainnya! Eyang udah ndak tahan ini."
Senja terbengong "Bangunin Mas Andra ?" Batinnya.
"Mending aku bangunin Mbak Asih sama Mbok Munah aja deh, biar Mbak Asih yang bangunin Mas Andra sama Pak Santo." Gumamnya lalu menuju tenda Mbak Asih.
Para asisten tentu saja belum bangun, karena mereka tidur paling akhir. Bagaimana mungkin mereka akan tidur jika sang majikan masih terjaga, juga keramaian orang belum mereda.
Tidak ada sahutan. Senja bingung bagaimana lagi cara membangunkannya. Kalau itu pintu maka akan diketuknya, tapi ini tenda.
Maka ia memutuskan untuk sedikit mengeraskan suaranya dari luar tenda "Mbak Asih. . Mbok Munah. . . Ba-"
Teriakan Senja terhenti kala ada orang yang menepuk bahunya dari belakang. "Mbak Senja. . Embak sama Mbok Munah disini, ayo kita ke mushola." Ajak Mbak Asih
Senja terkejut, menoleh mendapati Mbak Asih sudah berada di belakangnya. " Kalau Embak Asih sama Embok Munah disini, terus yang di dalem si a pah dong?" 😳
Ucapannya terputus karena dari arah dalam tenda ada suara sahutan "Yang disini kita Mbak Senja, Pak Santo sama Mas Andra." Jawab Pak Santo sembari membuka resleting tenda yang ia tempati.
Senja terjengkang dari posisinya yang semula berjongkok, ia kaget sekaligus malu dengan kesalahan nya. Kemudian reflek berdiri dan langsung berlari sambil menutup mukanya menahan malu. Semua yang ada disana bingung dengan Senja yang tiba-tiba pergi dengan berlari. Mbak Asih dan Mbok Munah langsung menyusulnya.
Andra yang baru saja bangun dan mendengar suara dari arah luar pun segera beranjak dari tidurnya untuk melihat keadaan. Tetapi ia sudah tak mndapati siapapun selain Pak Santo saja.
"Apa aku tadi hanya bermimipi? Aku seperti mendengar suara Senja tadi." Gumamnya dalam hati.
Melihat Andra sudah bangun, Pak Santo segera menegurnya. "Oh Mas Andra sudah bangun? Mari kita menyusul yang lain ke mushola sebelum waktu subuh habis."
__ADS_1
"Yang lain siapa maksud Bapak?" Tanya Andra sambil berjalan menyusul Pak Santo yang sudah lebih dulu menuju mushola.
"Tadi itu ada Mbak Senja yang bangunin kita, terus disusul sama Asih juga Munah."
"Berarti yang tadi itu bukan mimpi?"
***
Setelah sarapan di rumah makan yang ada di sekitaran pantai. Mereka melanjutkan ke pantai yang memiliki fasilitas pemainan pantai.
Andra memilih untuk snorkling, Senja sibuk mencari kerang dan yang lain ingin menaiki perahu jadi memilih di pantai yang lain. Jadi Andra dan Senja berdua? Tidak! Ada Pak Santo yang iseng pengen ikut snorkeling, tapi baru nyebur juga sudah keram kakinya.
Malam harinya mereka menginap di penginapan yang ada. Andra menyewa tiga kamar, dengan formasi sama dengan saat di tenda malam kemarin. Eyang dan Senja menikmati udara pantai di malam hari sebelum esok hari akan kembali lagi ke rutinitas biasanya.
Tidak lama kemudian eyang memutuskan untuk segera tidur, karena sudah merasakan kantuk dan lelah. "Eyang bobok dulu ya *N*dok, sudah ngantuk. Kamu juga jangan malam-malam boboknya, biar besok bangun sudah seger lagi."
"Enggeh (iya) Eyang." Jawab Senja.
Sebelum masuk ke dalam kamar, Eyang menepuk lengan Andra "Kamu juga Ndra, jangan lupa tidur. Merem seng tenan (Merem beneran). Besok berangkat pagi-pagi dari sini. Oke?"
Andra hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Tapi dalam hatinya mendumel "Kalo tidur ya merem lah Eyang, emang ada orang tidur tapi melek ya. Ah Eyang tau aja deh, kalau kemaren malam aku emang nggak bisa tidur."
Ya, bagaimana bisa tidur kalau bayangan Senja selalu hadir menari-nari dalam otak dan matanya.
Andra masih memperhatikan Senja yang sibuk sendiri dengan aktifitasnya di dunia maya. Ternyata Senja sedang mengupload foto yang diambilnya saat melakukan kegiatan selama di pantai. Tetapi tiba-tiba matanya membulat sempurna ketika memperhatikan layar ponsel itu. .
"Apa yang dilihatnya sampai ia terkejut seperti itu?" Pikir Andra membatin.
.
Jreng. .
Jreng. .
Apakah itu?
.
Klik Like
Lalu favorit ❤
__ADS_1
Komen positif juga sebagai penyemangat.
Mari saling dukung karya satu sama lain🤗🤗