Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 81. Hasutan Reya


__ADS_3

...Selamat membaca😊...


...----------------...


"Terserah kalau lo nggak percaya sama gue." Ucap Reya cuek sambil bersandar, "lo nggak tau kan gimana kehidupan Andra waktu di Jakarta?"


Senja menoleh cepat ke arahnya, wajahnya sudah sangat merah menahan amarah dan tangis yang siap pecah kapan saja. Reya yang bisa membaca ekspresi wajah seseorang, semakin merasa senang targetnya mulai masuk ke dalam perangkap. Dengan santai ia kembali berkata dengan menyesap rokok elektrik di tangannya.


"Andra itu cowok famous di kampus dulu, lo tau famous? terkenal, tertampan, terpandai. Dengan segudang prestasinya, tentu aja dia di sukai sama banyak cewek di kampus."


Sayangnya dia terlalu menutup diri. Reya kembali menyesap vapour dalam genggamannya sambil membatin.


"Dia juga merupakan cowok paling tajir disana, kekayaan pribadinya yang nggak bisa di tafsirkan jumlah pastinya dan nggak banyak orang tau dengan hal itu. Belum lagi perusahaan bokapnya yang memang di tujukan buat dia, yang belum pernah ia pegang." Reya kembali melirik sekilas Senja yang tampak menganga tak percaya, sangat ketara kalau gadis itu tak tau apa-apa mengenai suaminya.


Bener juga dugaan gue kali ini, ternyata Andra masih sama. Menutup diri dan punya ketakutan yang sama.


"Gue kasian sama lo ya, status lo istrinya tapi nggak tau apa-apa mengenai suami lo sendiri. Kelihatan banget kalau lo itu cuma istri dalam status kertas doang."


Lagi-lagi Senja merasa jantungnya di tusuk ribuan jarum yang tajam berkali-kali.


Nggak mungkin. Wanita ini pasti bohong, Mas Andra nggak mungkin nganggep aku kayak gitu. Enggak, engaak.


"Ck ck ck. Ada ya cewek polos kayak lo yang gampang banget di perdaya sama cowok kayak Andra yang tampan, kalem tapi diam-diam menghanyutkan."


Mata Senja berkaca-kaca dan remasannya pada sofa makin erat hingga buku-buku jarinya memutih.


Reya tak henti-hentinya memprovokator'i Senja dengan kata-kata yang semakin pedas dan lebih menyakitkan lagi, seperti tak ada habisnya kalimat buruk yang keluar dari bibir merahnya itu. Dia mendramatisir keadaan, memperdaya Senja yang hatinya sudah terluka oleh ungkapan palsu yang ia ciptakan. Senja gadis lugu dan polos yang belum pernah mengenal istilah kejamnya dunia, dengan mudah menelan begitu saja semua ucapan Reya yang di katakan padanya. Mungkin Senja masih bisa menahan jika dirinya dihina, namun jika statusnya sebagai istri yang di pertanyakan dan di sepelekan, hatinya terasa sangat nyeri, sangat perih. Belum pernah gadis itu merasakan luka batin yang teramat sangat seperti saat ini.


Otak dan hatinya berperang, antara harus percaya pada wanita di hadapannya atau pada perlakuan manis suaminya. Memanglah benar Andra belum pernah mengatakan cinta padanya sampai detik ini, dan hal itu membuatnya gamang, hampir percaya dengan ucapan Reya.

__ADS_1


Seakan bisa membaca ksi pikiran Senja, Reya kembali bersuara. "Hah.. sebaiknya lo jangan kepedean deh dengan perlakuan manis Andra. Bisa aja dia melakukan semua itu hanya untuk sandiwara di hadapan neneknya. Karena lo udah buktiin sendirilah dari dia nggak pernah nyentuh lo, nggak pernah menceritakan tentang dirinya yang sebenarnya sama lo. Karena lo itu bener-bener nggak dianggap sama dia. Lo itu cuma game yang dia mainkan dan akan dia lempar setelah bosan dan jenuh." Seringai wanita itu semakin lebar saat melihat Senja menghapus kasar air matanya.


"Dan sebaiknya mulai dari sekarang, lo siap-siap aja menyandang status baru dalam hidup lo, yaitu janda." Reya tertawa keras setelah mengucapkan kalimat paling menyakitkan itu pada Senja.


Senja tak dapat lagi menahan emosinya, kalimat terakir yang di ucapkan Reya sudah sangat keterlaluan baginya.


"Cukup! pergi kamu dari sini, pergi!! aku nggak mau dengar lagi semua omong kosong kamu, pergii..." Senja berteriak dengan tangis pecah. Ia menarik kasar tangan Reya dan mendorong tubuh wanita keluar dari pintu kaca ruangannya yang bergeser otomatis.


"Gue juga nggak sudi lama-lama di tempat kumuh lo, jangan sombong lo karena harga ruko lo yang nggak sebanding sama tas branded gue. Palingan juga ruko ini atas belas kasihan Andra buat lo," masih sempat-sempatnya Reya berkata di sela tubuhnya yang di dorong kuat oleh Senja hingga membentur pembatas lantai atas. Jika Senja mendorong wanita itu lebih kuat sedikit saja, maka dapat di pastikan jika ia akan terlempar ke lantai bawah.


Wanita licik itu menyeringai puas akan hasil dari pekerjaannya yang dirasa berhasil mengoyak perasaan Senja. Dia melangkah santai menuju lantai bawah sambil bersenandung, kaca mata hitam miliknya tadi kembali ia sematkan.


Lala, Rani dan Ifah yang melihat Reya turun segera berdiri dan membungkuk memberi hormat pada customer exlusive toko Senja. Mereka tak tau mengenai hal yang terjadi antara Senja dan Reya di lantai atas. Hanya Ifah yang merupakan pegawai baru yang sedikit merasa ngeri melihat seringai dari bibir Reya. Reya mengeluarkan amplop coklat yang lumayan tebal dari tasnya dan memberikannya pada Lala, dan mengucapkan terimakasih karena ia sudah puas dengan pelayanan mereka, dengan barang-barang yang di kirim. Terasa sangat aneh bagi Lala dan Rani karena sebelumnya wanita itu marah-marah saat datang, tapi setelah bertemu selama 2 jam dengan bosnya Reya langsung terlihat sangat senang.


Mungkin Mbak Senja berhasil membujuk nyonya Reya ini, pikir keduanya. Mereka bertiga mengantar Reya hingga ke pintu depan dan wanita itu berlalu dengan mobil merahnya. Bersamaan dengan Senja yang membanting pintu dengan keras, jadi tidak ada yang mendengar kemarahan Senja.


*Apa Mas Andra emang terpaksa nikah sama aku..


Apa dia nerima pernikahan ini cuma karena eyang, ayah dan bunda?


Apa bener yang di ucapkan wanita tadi,


Enggak, aku nggak boleh percaya gitu aja omongan dia. Bahkan aku nggak kenal siapa dia..


Tapi dia kenal sama Mas Andra, dia tau banyak tentang Mas Andra yang bahkan aku nggak tau.


Apa segitu nggak berartinya aku bagimu, Mas? sampai kamu nggak menganggap aku ini istrimu..


Aku nggak tau apa-apa tentangmu, tentang dirimu. Sampai-sampai aku harus mendengar kebenaran tentang jati dirimu dari orang lain, seorang wanita. Siapa wanita itu*..

__ADS_1


"Kamu bilang kamu nggak pernah dekat sama cewek Mas, buktinya apa tadi? siapa wanita itu?" lirihnya pada diri sendiri.


"Kenapa dia dateng dan cerita banyak hal tentangmu yang belum pernah aku tau?"


"Kamu anggep apa aku ini, Mas?"


"Ya Allah, bukan hamba ingin berprasangka buruk pada suamiku, tapi hati ini terlalu sakit menerima kenyataan yang pahit ini," bisiknya sesenggukan.


Ia bangkit dari bersimpuh, berjalan gontai menuju ranjang dan mendudukkan diri di kasurnya yang sudah hampir 3 bulan ini tidak ia tempati. Ia terbayang masa-masa perjuangannya di tempat itu sebelum menikah, ia memilih untuk kembali ke masa itu daripada menjadi seorang istri dari lelaki yang sama sekali tak mengharapkannya.


"Kenapa kamu nikahin aku kalau cuma untuk kamu sakiti, Mas?" diraihnya foto pernikahan yang ada di nakas, yang di letakkan oleh Lala atas perintahnya. Untuk menjadi penyemangat kerjanya jika sewaktu-waktu ia bekerja.


Ia pandang foto dengan wajah-wajah bahagia di dalamnya, foto keluarga besar di samping fotonya yang hanya berdua dengan Andra. Wajah Andra yang tampan dengan senyum malu, tangannya yang melingkar di lengan sang suami. Betapa bahagianya mereka semua di hari itu, yang ia tau kini semua itu hanyalah sandiwara.


"Haaaaagh.." Senja melempar foto itu dengan keras hingga berserakan di lantai kamarnya. "Semua itu palsu, semua itu hanya sandiwara aja kan Mas? pandainya kamu berakting, sampai-sampai aku percaya dan terjerat oleh semua perlakuan manismu selama ini. Sampai aku.. aku sayang sama kamu, tapi semua ini percuma karna aku sama sekali nggak ada harganya buat kamu."


Senja membenamkan wajahnya pada bantal, menangis sesenggukan dan meratapi nasib dirinya yang tidak beruntung karena berfikir jika ia tak di harapkan oleh sang suami yang mulai ia cintai.


.


.


Bersambung


Sabar Mbak Senja, ini ujian😌


Kabur ah..


Jangan lupa like dan komentarnya biar otor semangat dalam mengungkapkan kebenaran.

__ADS_1


__ADS_2