
Usai dengan urusan kamar mandi, dengan Senja yang kembali terpesona oleh sang suami yang begitu pengertian terhadapnya. Karena apapun yang ia butuhkan sudah ada dan tersedia tanpa dirinya meminta atau berbicara terlebih dahulu.
Kini Senja dan Andra sudah menuju ruang makan dan bergabung dengan eyang yang sedang mengupas buah.
"Kok cuma berdua? Kakak kalian mana? "
Pasutri itu menoleh satu sama lain.
"Angga, " ucap eyang yang melihat kebingungan Andra dan Senja.
"Oh.. Kak Angga lagi di minimarket, "
"Mini market? " tanya eyang dan Senja bersamaan.
"Iya, di atas, "
"Mini market kok di atas, Mas? " tanya Senja bingung, berbeda dengan eyang yang
hanya ber "Oh, " ria.
"Iya, " balas Andra mengangguk.
"Sejak kapan di atas ada mini market? "
Andra menepuk keningnya, "astaga.. Mas lupa. Sebenarnya itu surprise buat kamu. Tempat itu siap satu bulan yang lalu, pas tiba-tiba kamu-"
Andra segera menutup mulutnya yang hampir saja keceplosan, untung saja eyang sedang tak fokus mendengarkan ucapannya.
"Pas hari itu? "
"Iya, " balas Andra berbisik pula.
"Ngapain nih pada bisik-bisik berdua? " sebuah suara dari arah belakang tib-tiba mengejutkan mereka berdua.
Rupanya Angga sudah turun, dan langsung menyapa kedua adiknya seperti itu karena melihat keduanya tengah berbisik.
"Kepo banget sih lo, " balas Andra yang langsung menutup mulutnya, "ups, " di liriknya sangat istri yang sedang menatapnya dengan alis terangkat satu, heran.
"Reflek gue gak tau tempat banget sih, " gerutunya dalam hati.
Angga yang melihat Andra seperti itu menjadi tersenyum geli, jiwa isengnya mendadak bangkit seketika. Sebuah rasa semangat untuk melakukan sesuatu hal yang dapat ia rasakan saat bersama keluarga dekatnya saja, terutama pada sang adik satu-satunya.
"Nah, udah disini semua to cucu-cucuku, cepet duduk di tempat masing-masing, terus maem! Keburu dingin nanti, "
Ketiga orang itu menurut, mereka duduk dengan formasi Angga dan Andra duduk berseberangan, sedang Senja berhadapan dengan eyang.
Eyang yang sangat senang bisa berkumpul dan makan bersama cucu-cucunya kembali, meladeni piring ketiganya terlebih dahulu sebelum duduk.
"Eyang.. biar Senja aja, "
"Udah, kamu duduk aja yang manis! Biar Eyang yang siapin buat kalian bertiga, " cegah eyang saat Senja menawarkan dirinya.
Eyang selalu senang dan tak pernah merasa terpaksa melakukan hal tersebut, karena dengan hal itulah beliau dapat merasakan lagi kenangan belasan tahun lalu saat cucu-cucunya masih kecil-kecil. Hal yang selalu dirindukan olehnya, saat semua cucunya itu sedang tak ada bersamanya.
__ADS_1
"Udah sih, Dek. Kamu duduk manis aja seperti apa kata eyang. Nggak usah sok ngerasa nggak enak sama Kakak, biasa aja lagi, " ucap Angga sok akrab yang sontak membuat mata Andra melotot.
"Ih, Kak Angga apa-apaan sok-soak'an banget manggil Senja, adek. "
Angga semakin tersenyum jahil dengan kedua alis yang naik turun membalas pelototan mata Andra.
"Ehm.. iya, Kak, " balas Senja tersenyum kikuk. "
Acara makan di sore hari itu berakhir dengan rasa kesal yang memuncak dirasakan Andra. Pasalnya sang kakak tak henti-hentinya menjahilinya dengan terus mengajak bicara Senja. Dan menurutnya Senja pun selalu membalas perkataan sang kakak ipar.
Sebenarnya Senja juga merasa tak nyaman dengan keadaan itu, ia juga merasakan atmosfer panas yang berasal dari sang suami yang duduk di sebelahnya. Tapi dirinya juga tak enak jika tak menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Angga terhadapnya.
Sedangkan Angga, pria itu tak merasa bersalah sama sekali. Justru sebaliknya, ia malah merasa sangat puas dapat membalas perbuatan adiknya yang menurutnya bermesra-mesraan di dalam mobil saat dirinya menjemput mereka dari rumah sakit tadi.
Angga tersenyum puas melihat ekspresi jengkel yang ditunjukkan Andra.
"Sukurin lu cemburu! siapa suruh pamer kemesraan di depan gue, udah tau gue jomblo akut. Udah dia tahun, Bro!"
Mesra-mesraan apanya sih, Andra dan Senja itu hanya bergandengan tangan, dan Senja bersandar pada bahu Andra karena merasa kelelahan menangis dan bertegang ria selama berada di rumah sakit tadi.
"Kayaknya Kak Angga sengaja deh bikin gue kebakaran jenggot, mana Senja ngladenin mulu lagi," Andra meninggalkan ruang makan dengan wajah tertekuk.
Senja yang mengetahui hal tersebut bermaksud mengejarnya, namun dicegah oleh eyang yang ingin melanjutkan sesi kangen-kangenannya yang sempat tertunda tadi.
"Ayok kita lanjutkan kengen-kangenannya! Kita ke kamar rahasia kita berdua aja ya, biar ndak ada yang ganggu, " dengan cepat eyang menyambar tangan Senja dan menariknya pelan.
Senja menatap Andra yang sempat berhenti dan menoleh ke arahnya dengan wajah sendu minta dihibur. Senja tak berdaya karena kini eyang sudah berjalan dengan tetap menggandeng tangannya erat.
"Bentar, ya sayang, " ucap Senja tanpa suara yang membuat Andra mengernyitkan alis.
Sedangkan Andra uring-uringan di dalam kamarnya. Jangan tanyakan Angga yang malah tertidur dengan nyenyaknya usai berhasil mengerjai sang adik. Ditambah rasa lelah yang mendera usai penerbangannya tadi pagi dari Jakarta ke Jogja.
Setelah selesai sholat isya, barulah eyang melepaskan Senja. Yang sebelumnya sempat membuat makanan juga untuk makan malam.
Tak mendapati suaminya di meja makan, Senja menuju kamar Andra dan bermaksud memanggilnya untuk sekedar mengisi perut dengan sedikit makanan jika belum terlalu lapar usai makan sore tadi.
Mata lebarnya menelisik seluruh ruangan, tak ada Andra di dalamnya. Di dalam kamar mandi pun tak ada.
"Mas Andra kemana ya, " gumamnya seorang diri.
Saat ia menutup tirai pintu kaca, ia menangkap sosok duduk di bangku taman belakang.
"Itu Mas Andra, kan? " meskipun yang menyala hanya lampu remang-remang, tapi Senja dapat meyakini jika sosok itu adalah suaminya.
Gadis itu tersenyum dan segera menyusul suaminya.
"Mas? "
Andra menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada ponselnya. Bibirnya masih manyun seperti yang terakhir kali dilihat Senja sore tadi.
"Mas Andra marah ya sama, Adek? "
"Nggak, " singkat padat dan jelas, matanya pun tak bersih dari benda pilih yang menampakkan sebuah game.
__ADS_1
"Kok nggak mau liat, Adek? "
"Sibuk, "
"Main game? "
"Hm, "
"Emm, boleh ikutan? " Senja mendekat, menempelkan tubuhnya pada Andra.
"Nggak, "
"Ikutan donk, " bisiknya pelan pada telinga Andra.
"Nggak boleh, " meski dadanya sudah bergemuruh, namun ia kekeh pada pendiriannya untuk ngambeg kali ini.
Tangan kanan Senja melingkar di pinggang Andra, "yaudah deh, ikut liat aja kalo gitu, "
"Nggak! " Andra memutar arah duduknya jadi membelakangi Senja, menahan gejolak di dada agar tak terpancing oleh rayuan Senja.
"Coba aja lagi nggak lampu merah, " gerutunya dalam hati dengan melirik sedikit tangan Senja yang masih melingkar di perutnya.
"Pelit! " dengan cepat Senja menarik tangannya dan bersedekap.
Ini merupakan pertama kalinya Andra ngambek pada Senja, namun Senja yang merupakan cewek dengan kesabaran minimal itu gampang ikut tersulut moodnya, apalagi dirinya yang tengah kedatangan tamu saat ini.
Andra yang hanya pura-pura main game pun jadi galau, takut jika Senja yang akan marah padanya.
Senja beranjak dari duduknya, lebih baik masuk aja daripada dingin-dingin diluar tapi tak dianggap, " gumamnya amat pelan.
Andra gelagapan mendengar gumaman Senja, diraihnya tangan Senja dengan cepat dan Senja yang baru melangkahkan kakinya kehilangan keseimbangan lalu jatuh terduduk di pangkuan Andra.
Tatapan keduanya bertemu, detak jantung keduanya memburu. Dipeluk nya tubuh sang istri yang berada di pangkuannya.
"Maaf, jangan marah, " bisik Andra.
"Harusnya.. Adek yang minta maaf, bukan Mas Andra. Maaf ya? "
"Nggak, Mas aja yang terlalu cemburu, "
"Cemburu itu tanda cinta, Adek suka. Tapi, Kak Angga kan kakanya Mas Andra sendiri, masak cemburu juga. Malah sama Pak Bayu enggak, "
"Itu karena Kak Angga ada rasa kagum sama kamu, Dek! " batin Andra yang tak mampu terlontar nyata.
Dari balkon, tepatnya balkon kamar Angga. Lelaki itu tersenyum bahagia dan sedih menatap dia sejoli yang tengah berpelukan mesra itu. Ia bahagia karena adiknya menemukan kebahagiaannya, sedih karena dirinya yang hanya pernah di permainkan wanita yang dulu pernah menjadi istrinya.
"Lo beruntung, Ndra. Cinta lo nyata, kebahagiaan lo nyata. Sedangkan gue, cuma di guna-guna sama perempuan gila, " gumam Angga yang lalu meraup wajahnya.
"Seruni.. Seruni.. apakah kamu masih sendiri? Apalah belum terlambat untukku jika kembali mencarimu, memperjuangkan cintaku padamu? "
.
.
__ADS_1
Bersambung..