Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 23. Mimpi


__ADS_3

...Selamat membaca🤗...


...----------------...


Tinggalkan Andra yang sejak tadi masih sibuk mengamati foto-foto Senja dan eyang sambil senyum-senyum sendiri daritadi.


Malam yang semakin larut tak membuat eyang dan Senja menghentikan percakapan mereka. Mereka bercerita dari Sabang sampai Merauke panjangnya. Lebih tepatnya eyang sih yang bercerita sampai lupa tujuan awalnya, dan Senja hanya sebagai pendengar setia. Ia sudah mulai mengantuk sebenarnya, tapi tak mungkin jugakan ia tidur begitu saja disaat eyang masih bercerita, itu tidak sopan namanya.


Padahal tadi tujuan utama eyang adalah ingin mengorek informasi dari Senja, mengenai dirinya apapun itu. Untuk sang cucu yang mengemis-ngemis bantuannya. Tapi setidaknya, ia sudah mendapat foto Senja, dan itu sudah lebih dari cukup bagi Andra paling tidak untuk saat ini.


Setelah benar-benar tidak kuat menahan kantuknya, akhornya Senja memberanikan diri bicara pada eyang.


"Eyang, bobok yuk. Udah malam banget lho ini, Senja juga udah ngantuk berat." Ucapnya sambil menguap.


"Ya ampun, ternyata sudah jam duabelas, maaf ya sayang. Yasudah, ayo bobok. Tapi besok temenin eyang cerita lagi ya."


Senja yang sudah memenamkan mata, hanya mengangguk saja tanpa mengerti yang dibicarakan eyang. Mereka lalu tidur dengan nyenyaknya.


Dilantai atas, tepatnya dikamar Andra, terlihat manusia yang sudah setengah gila. Dia sudah tidak merasakan kantuk sama sekali, yang dirasanya hanya kasmaran. Padahal hanya memandang fotonya, bagaimana jika bersama dengan orangnya langsung.


"Aku benar-benar bisa gila karna kamu Senja, kenapa kamu selalu menari-nari dipikiranku? kenapa kamu selalu hadir dimimpiku dan kenapa senyummu selalu terbayang di ingatanku, apa ini yang dinamakan jatuh cinta?" Gumamnya.


Dia baru saja tidur pada jam tiga pagi.


"Mas Andra bangun. . udah subuh. . Kita sholat jama'ah yuk!" Senja membangunkan Andra yang masih terlelap.


"Hmm. ." Andra meraih tubuh Senja kedalam pelukannya, diciuminya wajah Senja tanpa membuka mata.


"Maas. . ! Kok malah bobok lagi sih. Kapan mau bangunnya." Rajuk Senja.


"Sebentar lagi sayang, biar aku puas memelukmu." Jawab Andra dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Kan semaleman juga udah meluk, Mas! Nanti lagi yha, ntar keburu habis waktu subuhnya loh." Senja mengingatkan.


"Yaudah, Mas Andra bangun nih. Tapi, ini dulu. ." Andra menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk.

__ADS_1


Ia mulai mendekati Senja, dipandanginya wajah yang menurutnya sangat cantik itu meski baru bangun tidur.


Andra semakin mendekatkan wajahnya kepada Senja, kini wajah mereka tinggal berjarak beberapa centi saja.


Deg


Deg


Deg


Tiba-tiba. .


Dor. .


Dor. .


Dor. .


Terdengar suara gedoran pintu dari arah luar, karena memang bukan lagi sebuah ketukan.


Andra terlonjak dari tidurnya.


"Dimana Senja?" Batinnya.


"Ternyata tadi itu cuma mimpii?"


Teriaknya frustasi.


"Kenapa terasa begitu nyata."


"Aah! Eyang kenapa sih teriak-teriak begitu, 'kan Senja jadi ilang." Dia masih bermonolog sendiri.


"Iya Eyaang. . Andra udah bangun nih." Teriaknya dari dalam, masih diatas tidur karena enggan membuka pintu.


Ia lalu bergegas ke kamar mandi. Rencananya, ia akan memberanikan diri untuk menyapa Senja pagi ini, sesuai dengan saran dari eyang. Tentu saja harus dengan bantuan dari eyang juga.

__ADS_1


**


Eyang dan Senja tengah menikmati udara segar pagi hari ditaman belakang. Sesaat kemudian Andra turun dengan hanya memakai pakaian santai rumahan, celana pendek juga kaos oblong pendek. Ia berjalan kearah taman belakang dimana eyang dan Senja berada.


Tapi sebelum sampai disana. Ponselnya berbunyi, sehingga ia memutuskan untuk mengangkatnya terlebih dahulu. Sayup-sayup Senja mendengar ada suara ponsel berbunyi, tetapi bukan dari ponsel miliknya maupun eyang. Ia menengok kearah suara, tapi tidak ada apa-apa disana.


(Andra)


"Iya, Ada apa Bay?"


(. . .)


(Andra)


"Ck. Ada-ada aja sih! Nggak bisa besok-besok apa." Ucapnya kesal.


(. . .)


(Andra)


"Oke-oke, gue kesana sekarang juga!" Setelah mengucapkan kalimat itu, ia langsung mematikan teleponnya begitu saja.


"Lagi ada kesempatan emas malah Bayu gamggu aja sih! Aaaargh" Kesalnya engacak-acak rambut yang sudah rapi itu, kini ia terpaksa harus menahan lagi, dan lagi. .


.


.


Bersambung. .


Mohon dukungannya😊


Kasih like dan komentar positifnya🤗.


Terus favorit juva votenya😍

__ADS_1


Terimakasih🙏🤗


__ADS_2