
...Selamat Membaca🤗...
...----------------...
Hari jum'at seperti biasa, pukul 6 pagi Senja sudah mulai bersepeda, perlahan ia mulai menyusuri jalanan yang masih sepi. Seperti kebiasaannya pula, Andra mengikutinya dari kejauhan.
Senja menikmati udara pagi yang masih sangat sejuk, sambil tersenyum menyapa dan menganggukkan kepala kepada orang-orang yang sedang beejalan santai ya g ditemuinya. Tapi entah darimana datangnya, tiba-tiba ada seorang laki-laki bule berada tepat di depan sepeda Senja dan hampir saja tertabrak, dengan gerakan reflek Senja segera mengerem sepedanya dan segera turun untuk menanyai lelaki tersebut.
"Maaf Mister, are you okay?" tanya Senja dengan logat janggrisnya (Jawa-Inggris). Lelaki itu tampak menahan senyumnya yang membuat Senja merasa heran, namun sesaat kemudian ia segera menetralkan wajahnya dan berdehem. "Ekhem, i'm okay. Hanya lutut saya sedikit terserempet sepeda kamu, jadi lumayan sakit." Jawab si pria dengan gaya bulenya yang khas.
"Sakit ya? Maaf saya nggak sengaja," Senja menangkupkan kedua tangannya memohon maaf.
Lelaki tersebut tersenyum dan berkata, "oke, saya akan memaafkan kamu kalau kamu mau menemani saya breakfast."
Senja mengernyitkan keningnya mendengar syarat aneh itu, modus banget sih mister bule ini. Tapi kalau beneran sakit gimana? mau gak ya..
"Bagaimana, Nona?"
Senja mangguk ragu, ia terpaksa mengiyakan permintaan lelaki tersebut karena rasa bersalahnya, tau sendirilah Senja itu sangatlah polos dan baik hati. Jadi sangat mudah diperdaya.
"Nama saya, Nick," ucap lelaki itu memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangan.
"Senja," jawab Senja singkat dan pelan sambil memegang stang sepedanya untuk menuntunnya. Diabaikannya tangan Nick yang masih terulur, ia berlalu begitu saja di depan Nick.
Unik, gumam pria itu.
Nick kembali menarik tangannya dan tersenyum lalu menggeleng pelan.
Mereka berjalan bersama mencari menu sarapan yang diinginkan oleh Nick, hal tersebut tak luput dari pengawasan Andra yang sudah mulai terbakar api cemburu.
Kemarin Kak Angga, sekarang Siapa lagi cowok itu? kenapa dari gayanya seperti nggak asing. Gumamnya dalam hati. Andra menyipitkan matanya memperhatikan Nick juga Senja yang berjalan beriringan, ia masih juga setia menjadi penguntit mereka.
Keduanya sampai pada penjual bubur ayam yang mangkal di pinggir jalan, Nick berhenti untuk membaca dan memperhatikan tempat makan tersebut. "Penjual apa ini?" Nick menoleh pada Senja. "Bubur ayam," Senja langsung saja memarkirkan sepedanya lalu memesan satu porsi bubur ayam juga teh hangat untuk Nick. Kemudian ia duduk pada kursi kayu yang tersedia.
__ADS_1
Nick mengikutinya dan duduk di hadapan Senja. Tanpa menunggu lama pesanan segera tersaji di depan Nick. "Kenapa cuma satu?"
"Memangnya satu porsi kurang untukmu?"
"Bukan untukku, tapi mana bubur untukmu?"
"Aku.. puasa," jawab Senja sekenanya. Dia merasa aneh jika harus makan bersama dengan orang asing yang baru saja di jumpainya.
"Owh, sorry. I don't know," tutur Nick menyesal. Jika ia tau tak kan mungkin ia meminta Senja untuk menemaninya sarapan.
Senja tersentim tipis, "*n*o problem, silahkan dinikmati."
Nick segera menikmati bubur yang sudah tersaji itu dengan lahap seperti orang yang sudah tak makan dua hari dua malam.
Ni mister bule kelaperan deh kayaknya. Apa dia kehabisan uang ya libiran disini, kayak yang ada di berita waktu itu..
Tanpa sadar Senja meringis, membuat Nick menghentikan suapannya dan bertanya, " why?" Senja menggeleng cepat.
Lalu tersenyum masam, kasian juga kalau dia beneran kehabisan uang disini. Apa yang bisa aku lakuin buat menolongnya ya? Senja nampak berfikir keras, jiwa penolong yang sudah melekat pada dirinya semenjak kecil membuatnya tak tega pada nasib Nick.
Senja terbengong sesaat, "kamu.. muslim?" tanyanya pada Nick dengan hati-hati.
"Of course, kenapa?"
" Enggak papa," ia salah menyangka jika Nick berterima kasih karena Senja sudah menraktirnya sarapan.
Andra yang melihat interaksi antara keduanya merasa semakin geram, tanpa sadar ia meremas botol minum yang ia pegang hingga isinya muncrat ke arahnya sendiri, hal itu membuatnya semakin kesal. Dilemparkannya botol tersebut pada tong sampah yang tak jauh darinya, tapi tak masuk. Ia turun dari sepeda, berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki untuk memungut botol tersebut dan hendak kembali memasukkannya kedalam tong sampah.
"Nyebelin banget sih, gitu aja gak masuk! Argggh! ingin rasanya ku remas-remas kamu lalu aku buang juga di tong sampah ini." Serunya menggerutu dengan tangan meremas botol dan masih dengan menatap sampah yang ada di depannya, hingga membuat orang yang lewat memperhatikannya sekilas tertawa kecil.
Menyadari jika dirinya menjadi pusat perhatian, ia segera menghentikan aksinya itu, meraba tengkuknya yang tertutup kupluk dari hoodie yang di pakainya. Dan kembali menaiki sepedanya berlalu dari tempat tersebut. Ia berhenti pada jarak yang tak terlalu jauh dari keberadaan Senja dan Nick, diraihnya benda pipih yang sedari tadi berada di saku celananya.
Mngklik nomor yang berada di panghilan teratas, nomor itu bukanlah Senja dan bukan juga eyang, melainkan si asisten setia, Bayu. " Kesini cepetan! sekarang, gak pake lama! " Perintahnya pada Bayu yang tak bisa di elak, bahkan sebelum Bayu menjawab apapun. Asisten pengertian itu sudah tau, jika mendadak Andra bertingkah konyol seperti anak kecil seperti saat ini, berarti ia sedang dalam fase galau tingkat akut.
__ADS_1
Bayu menghela nafas panjang dan menghelanya perlahan, diletakkannya kembali kopi yang hendak di minumnya. Kopi tersebut tumpah berantakan di meja, untung saja ia sedang berada di dapur lantaibawah yang di peruntukkan bagi karyawan, jadi ia tak perlu susah-susah membereskannya. Ia segera beranjak dari duduknya lalu meraih jaket yang di sampirkannya pada kursi, dan segera menuju pada motor sport berwarna hijau kesayangannya untuk segera datang kepada tuannya.
"Kenapa, Bos?" tanyanya panik saat sudah berada di depan Andra. Tak dihiraukannya keadaan celana yang sedikit basah juga kotor kibat tumpahan kopinya tadi.
Andra mencebik, " lama!" serunya pada Bayu.
Bayu menundukkan kepalanya, "Sorry, Bos." Hanya kata itu yang bisa Bayu ucapkan disaat seperti ini, tak mungkin ia mengutarakan alasan apapun karena Andra tak akan menggubrisnya. Memang terkesan egois dan kekanakkan, tapi itulah cinta, yang terkadang membuat kewarasan seseorang menghilang entah kemana.
Dengan kesal Andra mengarahkan jari telunjuknya pada dua sosok manusia yang sedang berjalan bersama sambil mengobrol, mereka tampak akrab meski baru saja bertemu. Tepatnya si lelaki yang mencoba akrab pada si wanita, ia terus menerocos hingha membuat Senja jengah, tapi tak tega jika harus meninggalkannya begitu saja.
Bayu yang mengikuti kemana arah telunjuk Andra, mengernyitkan keningnya kala merasa tak asing juga dengan lelaki bule yang sedang bersama dengan Senja itu. Ia mengarahkan ponsel, menyalakan kamera dan melihat pria tersebut melalui ponselnya. Di perbesarnya layar kamera teraebut hingga menampakkan sosok yang memang di kenalnya, disodorkannya benda pipih itu pada Andra.
Andra menaikkan sebelah alisnya, "kenapa?"
"Lihat aja!"
Andra membulatkan matanya kala merasa benar-benar mengenal lelaki itu, "Nick?" serunya tak percaya.
Bayu mengangguk-angguk mengiyakan lalu menjawab singkat. "Ya"
"Sejak kapan makhluk Saturnus itu berada disini?" geram Andra meremas ponsel Bayu kuat hingga menyembulkan urat-urat pada tangannya.
"Sabar, Bos. Kita selidiki dulu, jangan asal emosi.." Bayu mencoba menenangkan bosnya yang sedang kebakaran jenggot itu, di tepuk-tepuknya bahu Andra pelan.
Lirikan tajam Andra membuat Bayu dengan cepat mengatupkan kedua bibirnya, merasa salah berucap.
Haduuh, kalau menyangkut masalah Senja. Kewarasan bos Andra spenuhnya menguap, sabar Bayu.. lo yang masih waras harus mengalah. Bayu mengelus dadanya sendiri.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Ditunggu jempol juga hatinya untuk penyemangat😍