
Setelah beberapa saat keduanya menetralkan perasaan masing-masing, kini Andra dan Senja melaksanakan sholat maghrib berjamaah di kamar mereka. Lelaki itu tidak ikut ke masjid karena ia baru saja membaik dari alergi yang menyerang tubuhnya tadi.
Tak ingin berada dalam kecanggungan yang lebih lama, Senja memilih mengambil Al-Qur'an yang entah milik siapa, mungkin milik suaminya karena berada di kamar itu, pikirnya.
Senja mulai membaca dengan suara yang lumayan, meskipun bukan orang alim ataupun ahli ibadah, tapi ia adalah seorang muslimah yang memiliki kewajiban sholat dan mengaji. Jadi ia sering melakukannya seusai sholat meskipun hanya beberapa ayat. Kalau sedang sangat sibuk, ia mengaji setelah sholat maghrib minimal.
Andra duduk di sampingnya, mendengarkan lantunan ayat yang dibaca sang istri yang selalu terdengar merdu di telinganya. Sekaligus memikirkan cara bagaimana ia akan bercerita, dan akan memulainya darimana. Setelah mendapatkan ide dan mengumpulkan segenap keberanian termasuk menyiapkan mental untuk menerima segala konsekwensi yang harus diterima atas sesuatu yang di simpannya selama ini dari sang istri.
"Shodaqollohul 'adziim.." Senja menutup Al-Qur'an setelah selesai mengaji.
Andra menghadap sang istri dan mulai membuka suara.
"Dek, ada yang mau Mas sampein ke kamu,"
"Apa?"
"Emm, sebenernya Mas Andra itu-" ucapan Andra terpotong karena ada orang yang mengetuk pintu kamar mereka.
"Bentar, biar Adek buka pintu dulu," Senja beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu tanpa membuka mukenanya terlebih dahulu.
Tok - kembali terdengar suara ketukan beserta suara pelaku pengetukan itu.
"Bo- astaghfirulloh hal adzim!" pekik orang tersebut saat melihat Senja membukakan pintu.
"Pak Bayu kenapa teriak sih, bikin aku kaget aja!" Senja mengelus dadanya terkejut dengan teriakan Bayu yang menggema.
Orang yang mengetuk pintu kamar Andra adalah Bayu. Dengan mata setengah mengantuk, ia mengetuk pintu kamar Andra dengan maksud ingin mengajak Andra dan Senja untuk makan malam atas titah mbah putri.
Namun begitu pintu terbuka, ia malah dikejutkan dengan Senja yang membuka pintu dengan memakai mukena putih.
Bayu masih beristighfar berkali-kali sembari mengelus-elus dadanya. Rasa kantuk yang sejak tadi menderanya langsung hilang begitu saja saking kagetnya.
"Kenapa sih Bay, malem-malem teriak kayak gitu? kedengeran tetangga heboh ntar," Andra yang tadinya hanya ingin menunggu sang istri sambil duduk, terpaksa ikut mengahampiri Bayu.
"Sorry, Bos. Kaget gue."
"Ngapain lo ketok-ketok pintu?"
"Itu, kalian disuruh ke ruang makan sama mbah uti, suruh makan dulu katanya." jawab Bayu.
"Yaudah, lo duluan aja! ntar kita nyusul,"
Bayu mengangguk dan berlalu begitu saja.
Sepeninggalnya Bayu, Andra bermaksud melanjutkan perkataannya yang sempat tertunda tadi. Tapi baru saja ia akan membuka mulut, lagi-lagi harus tertunda disebabkan oleh suara perut sang istri yang sudah berdemo minta diisi.
"Kamu laper?"
Senja hanya mengangguk malu sebagai jawaban.
"Ya ampun, maafin Mas. Mas baru inget kalau tadi siang kamu cuman makan bakso aja. Yaudah yuk maem dulu,"
"Tapi tadi Mas Andra mau ngomong apa?" tanya Senja sembari melepas mukena yang ia pakai dan menggantnya dengan jilbab instan.
"Itu- ntar lagi aja kita ngobrolnya. Kan udah ditungguin sama mbah kung dan mbah uti," Andra mengalihkan perhatian istrinya dengan segera mengajaknya ke ruang makan.
Jangan sampai gara-gara apa yang akan ia ungkapkan membuat sang istri kehilangan selera makannya.
Sesampainya di meja makan, sudah ada mbah kakung, mbh putri dan juga Bayu yang tengah menikmati buah semangka.
__ADS_1
"Maaf ya Mbah Kung, Mbah Uti, Andra sama Senja udah bikin semuanya nunggu," ujar Andra seraya menarik kursi untuk Senja.
Senja yang baru saja hendak mendudukkan bokongnya urung karena melihat seorang wanita paruh baya yang sedang meletakkan sayur di meja.
"Lhoh, Bulik? Bulik apa kabar?"
Kening wanita itu mengernyit kemudian berucap, "kamu.. Cenil? iya, ini Cenil ponakan Bulik. Ya ampuun, ponakan bulik cantik sekali sekarang,"
Mata wanita berbinar dan berkaca-kaca, Senja menyalami tangan adik dari ayahnya itu lalu membawanya kedalam pelukan. Meskipun adik Pak Sapto itu terlahir dari ibu yang berbeda dengan ayahnya Senja, namun hal itu tak jadi penghalang untuk mereka tetap akur.
Semua yang ada di meja makan itu memperhatikan interaksi antara bibi dan sang ponakan melepas rindu dengan perasaan haru, meskipun ada tanda tanya besar dalam benak masing-masing.
Sedangkan Andra, bibirnya tersenyum namun jantungnya berdebar semakin kencang. Ia semakin membulatkan tekadnya untuk dapat berbicara dengan sang istri sesegera mungkin, sebelum Senja tau dari orang lain, termasuk bibinya sendiri.
Meskipun dengan bertemu bibinya, istinya itu pasti sudah tau yang sebenarnya. Tapi ia tetap merasa harus memberikan penjelasan agar tak menjadi salah paham nantinya.
"Bulik kangen banget sama kalian semua yang di Jogja, udah beberapa tahun ini kalian tidak datang berkunjung. Pas kamu nikah juga Bulik ndak bisa dateng karena harus mengurus mbah kakung yang lagi sakit waktu itu, maafin bulik ya,"
"Nggak papa, Bulik. Kan paklik dateng. Tapi kenapa Bagas waktu itu juga nggak ikut?" Senja menanyakan Bagas yang notabene adalah sepupunya.
Baru saja bulik akan menjawab pertanyaan Senja, suara mbah putri terdengar menyela.
"Dilanjut nanti lagi yo kangen-kangenannya. biar Senja makan dulu, keburu malam nanti. Kamu juga sekalian makan bareng sini,"
"Saya nanti saja, Uti. Masih ninggal rendeman cucian, permisi,"
"Dibilangin kalau nyuci itu pagi saja kok, ngeyel! Nanti rematik, kan dingin."
"Nyucinya sekarang pakai mesin cuci, Uti. Jadi ndak dingin. Biar besok pagi tinggal njemur diluar. Permisi, monggo di dahar (makan).." ucap Bulik Sri sebelum benar-benar berlalu.
Seperti yang di harapkan Andra, usai menyantap makan malam bersama, ia mengajak Senja keluar rumah guna menyampaikan apa yang sudah sangat mengganjal di benaknya sedari tadi. Lelaki itu mengajak sang istri menyusuri pemancingan milik sang kakek.
Meluhat apa yang ada di hadapannya membuat Senja sontak mengernyitkan dahi, "kita mau mancing, Mas?"
Andra mengangguk pelan dan mengajak Senja untuk duduk, "duduk sini, kita mancing sambil ngobrol-ngobrol," ucapnya dengan senyum lembut.
Kail ia lemparkan ke dalam kolam setelah diberi umpan, Senja pun mengikuti hal tersebut.
Hening beberapa saat membuat Andra berdehem untuk menetralisir senyap.
"Dek," panggil Andra mulai menghadap ke arah sang istri.
"Ya?"
"Kamu.. jangan marah ya kalau Mas jujur sama kamu?"
Senja memiringkan kepala, "ya Mas Andra jujur apa dulu, kalau Mas mau bilang Mas punya istri lain jelas aku marah," balasnya dengan tawa pelan agar keadaan tak terlalu kaku.
"Mana ada! Buat dapetin kamu aja perjuangan Mas sampai jungkir balik dari Sabang sampai Merauke," gumam Andra pelan yang terdengar di telinga Senja.
"Maksudnya gimana ya?"
"Mas cintanya cuma sama kamu, dari dulu, sekarang dan sampai selamanya,"
Senja mengerjap-ngerjapkan matanya mencerna apa yang dibilang oleh suaminya berusan.
"Dari dulu?"
"Iya," balas Andra cepat dengan kepala mengangguk pasti.
__ADS_1
Di raihnya tangan sang istri dan dibawanya dalam genggaman, "sebenernya Mas Andra itu, em- Mas itu,"
Tau jika suami kembai gugup, Senja mengelus lembut tangan yang menggenggamnya dengan ibu jari.
"Mas ngomong aja, rileks, oke? tarik nafas pelan, keluarkan.." hidup dengan sang suami selama dua bulan membuat ia mengetahui hal-hal yang menjadi kelemahan sang suami, kalau kelebihan jangan ditanya lagi. Senja akan menjawab A sampai Z tanpa membuka kamus.
"Insyaallah Adek nggak akan marah jika itu hal selain perselingkuhan, sebenernya kebohongan aku juga gak suka sih. Tapi kayaknya Mas Andra nggak bermaksud bohong, jadi aku mau dengerin penjelasan dari, Mas."
"Jadi kamu tau?"
"Apa,?"
"Yang mau Mas jelasin ke kamu,"
"Ya enggaklah, kan Mas belum ngomong apa-apa. Gimana aku bisa tau, Mas ada-ada aja deh,"
"Huffth, kirain,"
"Kirain, apa?"
Kail yang berada di samping Senja terlihat bergerak-gerak pertanda ada ikan yang telah memakan umpannya. Pandangan Senja seketika teralihkan.
Berbarengan dengan hal itu, Andra menutup matanya rapat-rapat, setelah menarik nafas panjang ia berkata dengan cepat.
"Mas Andra sebenernya Mas Ganteng kamu dulu,"
Merasa tangan sang istri yang berada dalam genggamannya terlepas, Andra merasa jika Senja marah, dengan takut-takut ia perlahan-lahan membuka mata.
Sorak kegirangan disertai lompatan-lompatan kecil membuatnya melongo seketika. Bagaimana tidak, dihadapannya kini terlihat Senja sedang memegang pancing yang terdapat ikan lumayan besar di ujung kailnya.
Pemandangan tersebut membuatnya dejavu, ia merasa pernah mengalami hal tersebut dahulu. Di tempat yang sama meski kini sudah jauh berubah secara tampilannya.
Senja kecil yang kegirangan melompat-lompat sambil berteriak-teriak mengekspresikan kebahagiaannya. Andra gemas sekali melihat Senja yang seperti itu.
"Dari dulu kamu seneng banget kalau dapet ikan, meskipun ikan itu nantinya bakal dimasak atau malah kamu lepas lagi,"
"Dari dulu? Emang dulu kita pernah mancing bareng?"
"Kamu nggak denger Mas Andra tadi ngomong apa?"
Senja nyengir kuda, "maaf Mas, Adek terlalu seneng pancingnya ditarik-tarik ikan, jadi ya reflek aja aku angkat, terus dapet deh. Emang Mas ngomong apa?"
"Astaghfirulloh hal adzim," Andra mengacak rambutnya merasa frustasi sendiri.
Lagi, rambut acak-acakan Andra dengan wajah yang terkena pantulan bulan membuat lelaki semakin mempesona dimata Senja.
"Mas Andra ganteng banget," gumamnya tanpa sadar.
Andra yang mendengar gumaman itu seketika menghentikan aksinya. Jantungnya kembali berdebar hebat mendengar perkataan pujian yang terlontar dari mulut pujaan hatinya. Bibir sang istri yang tampak seksi dalam pandangannya membuatnya teringat malam itu, saat ia baru saja mengungkapkan perasaannya.
Ia mendekatkan dirinya pada sang istri, dipeluknya tubuh yang memiliki tinggi sebatas dagunya itu untuk memberikan kekuatan dan keberanian.
"Mas Andra itu Mas Ganteng kamu dulu," kembali Andra mengngkapkan jati dirinya.
Senja mematung mendengar pernyataan dari Andra. Antra percaya dan percaya, entah ia harus berekspresi bagaimana. Karena semua rasa kini menyatu dalam dada.
.
.
__ADS_1
Bersambung