
...Selamat membaca📖...
...----------------...
"A a anu.." Bagas masih bicara seperti orang gagu, karena dia takut akan dimarahi oleh ayahnya.
"Mas Andra di sungai Pakdhe."
Rudi, seorang teman yang lain mulai membuka suara. Dia juga khawatir terhadap Andra.
"Owalah, dolan neng kali kok seko esok sampek sore ora bali-bali ki yo podo ngopo to Cah? (Owalah, main kesungai kok dari pagi sampai sore nggak pulang-pulang itu pada ngapain sih Nak?)" Ibu Bagas geregetan dengan tingkah anaknya yang mengajak Andra main jauh sampai kesungai bahkan sampai sore hari.
Setelah mendengar jawaban yang jelas dari Rudi, mereka semua lalu bergegas menuju sungai. Sesampainya disana,
betapa terkejutnya mereka mendapati keadaan dua anak kecil yang sama-sama tergeletak dibawah pohon dalam keadaan pingsan. Mereka juga melihat ada ular yang mati dengan tubuh terputus berada tak jauh dari kaki Andra.
"Iki piye iso koyo ngene iki, duh Gustii. ( Ini bagaimana bisa seperti ini, Ya Allah), kenapa Cenil juga ada disini?" Ibunya Bagas sudah menangis melihat keadaan dua anak itu.
Cenil adalah panggilan untuk Senja waktu di kampungnya yang dulu, ia di juluki seperti itu karena polah tingkahnya yang cemenil (tidak mau diam). Dan Cenil juga masih bersaudara dengan Bagas, tepatnya nenek mereka yang merupakan kakak adik.
"Sepertinya Mas Andra tergigit oleh ular itu, tapi apa yang terjadi pada Cenil?" Ucap ayah Bagas setelah memeriksa bekas luka yang ada di kaki Andra.
"Sudah-sudah! Lebih baik sekarang kita bawa mereka pulang dulu, biar cepet diobati. Atau kita bawa ke rumah sakit sekalian biar cepat mendapat pertolongan." Kata Pakdhe Kemis.
"Dan kamu Bagas, Heru, Rudi, Iwan, semua. Tolong cepat beri kabar pada mbah putri dan yang lainnya!" Perintah Pakde Kemis pada sekumpulan anak itu.
"Nggeh Pakdhe," jawab mereka kompak, lalu mereka berlari secepat kilat agar cepat sampai dirumah mbah putri.
Lelah yang mereka rasakan tadi telah lenyap dan berganti dengan rasa takut, khawatir dan menyesal karena meninggalkan Andra begitu saja tadi. Mereka sama sekali tidak menyangka jika akan menjadi seperti itu setelahnya.
Pakdhe Kemis yang bertubuh tinggi besar dan tegap membawa Andra dalam gendongannya. Sedangkan ayah Bagas membopong tubuh mungil Senja, mereka berjalan dengan cepat menuju jalan raya yang ada di atas sungai itu dan segera menghentikan kendaraan yang lewat.
Sampai di Rumah Sakit, Andra dan Senja langsung dibawa keruang UGD dan ditangani oleh dokter. Tak lama kemudian datanglah mbah putri bersama dengan Bu Ratih dan disusul Pak Herman juga Mbah Kakung Harso. Mereka semua mengkhawatirkan keadaan Andra.
Seorang dokter keluar dari ruangan UGD, ia mengatakan jika keadaan Andra baik-baik saja karena racun ular yang ada ditubuhnya tidak menyebar. Mereka bernafas lega mendengarnya. Tapi sesaat kemudian Dokter juga menyampaikan kalau keadaan Senja kritis dan harus dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar, karena kenekatannya menyedot bisa ular dari kaki Andra.
Pak Sapto dan Bu Retno yang baru saja datang dengan menggendong Ria, mendengar perkataan dokter mengenai keadaan putri sulungnya langsung merasa sedih. Mereka merasa bingung karena tidak mempunyai uang untuk biaya Rumah Sakit putrinya.
***
Tiba-tiba terdengar suara Adzan. Andra yang mendengar pun langsung terlonjak.
__ADS_1
"Astaghfirulloh hal adzim,
udah adzan." Serunya beranjak dari duduk dan berlari menuju kamar mandi.
"Denger adzan itu alhamdulillah, bukan malah Astaghfirulloh, Bos!"
Teriak Bayu yang sudah tak di dengar oleh Andra.
"Cerita lagi tegang-tegangnya ditinggal kabur. Eh bentar deh, ini kan hari Jum'at. Allohu Akbar, pantesan aja bossqyu kabur." Gumam Bayu bergegas bersiap juga untuk segera berangkat ke masjid.
Beberapa menit kemudian Andra keluar dari kamar dan sudah rapi dengan setelan koko beserta peci di kepalanya. Menambah aura ketampanan yang terpampang nyata.
"Duh! Kalo ke masjid depan pasti udah ketinggal, coba deh cari yang agak jauhan. Semoga aja ada yang belum adzan,"gumamnya.
Dia keluar dari ruko dengan tergesa-gesa, Bayu mengikutinya.
Setelah lumayan jauh berjalan, akhirnya mereka menemukan sebuah masjid yang baru mengumandangkan adzan.
Mereka pun mendengarkan adzan dan khutbah dengan khusyu'.
Seusai melakukan sholat jum'at, Andra yang hendak keluar dari masjid, melihat seorang pria paruh baya sedang bingung mencari sesuatu.
"Maaf, Bapak sedang mencari apa ya?" Tegur Andra yang sudah dekat dengan lelaki tersebut.
Andra yang teringat dengan ayahnya, dia membayangkan jika yang mengalami kejadian tersebut adalah ayahnya. Tidak mungkinkan dia mengabaikannya.
Dia lalu menawarkan bantuan dengan cara memberikan sandalnya.
"Kalau begitu silahkan Bapak memakai sandal saya saja Pak," rawarnya.
"Terus kamu mau pakai apa kalau sandalmu Bapak pakai, Nak?"
"Saya gampang Pak, teman saya selalu membawa sandal dobel kemana-mana. Iya kan Bay?" Jawab Andra memberi alasan sekenanya.
Bayu yang baru saja mendekat dan tak tahu menahu masalahnya hanya mengangguk sambil tersenyum bingung.
"Baiklah kalau begitu, terimakasih ya Nak. Kapan-kapan Bapak kembaliin kalau bertemu lagi. O iya, nama kamu siapa?"
"Saya Andra, Pak," jawab Andra tersenyum ramah.
"Baik Nak Andra, Bapak duluan ya, rumah Bapak nggak jauh kok dari sini, cuma masuk gang sebelah itu," tunjuk pria tersebut pada gang yang berada tak jauh dari masjid.
__ADS_1
"Rumah Bapak yang ada banyak berbagai macam tanaman dan sayurannya," lanjut sang bapak, kemudian berlalu pergi.
"Bentar-bentar Bos, ini ada apaan ya? Perasaan gue kayaknya nggak enak deh. Pasti ada sesuatu." Bayu menyipitkan matanya menatap Andra curiga.
"Enakin aja Bay, kalo perlu kasih micin yang banyak biar gurihh." Andra sudah memakai sandal Bayu dan berjalan sambil menahan senyum.
"Lah, lah, bener kaan! Dia yang makan nangkanya, gue yang kena apesnya! Dia yang dapat pujian gue yang dapet panasnya." Gerutu Bayu berlari berjinjit-jintit menahan panasnya lantai halaman Masjid.
"Huh! Nasib nasib punya bos baiknya naudzubillah. Eh, Alhamdulillah. Tapi jangan gue juga dong yang harus jadi tumbalnya."
Andra mempercepat langkahnya agar tak terkena semburan lahar kemarahan Bayu.
"Babay Bay!" Andra berteriak sambil melambaikan tangannya pada Bayu.
"Si Bos kurang asem deh emang, mentang-mentang jadi bos seenaknya sendiri!" Bayu berjalan cepat dan sesekali berlari kecil sambil terus menggerutu.
🤨😑🥴 (kesiaannya Bayu, sabar ya Bay, orang sabar akan disayang bos loh!)
"Bos yang baik tapi tak bijaksana memang, nggak ada akhlak lo boss!" Teriak-teriak sepanjang jalan kenangan.
(Masih gedumelan aja, yasudahlah kita tinggalkan saja dia)
Otornya ikutan kejem ih🤭
Piss Bay✌
▪︎▪︎
Sesampainya sang bapak dirumah,
dia berpapasan dengan anak gadisnya di depan pintu.
Sehingga gadis itu melihat sandal yang dilepaskan dan di letakkan oleh sang bapak di rak yang ada disebelah pintu. Gadis itu mengernyit heran, bagaimana bisa bapaknya memakai sandal ala anak muda itu. Terlebih sandal tersebut terlihat mahal.
Karena biasanya bapaknya hanya akan memakai sandal jepit bermerek Swallow, ya merk yang sudah legendaris itu.
Semua orang juga sudah tau.
**
Ada yang biasa memakai sandal itu juga?
__ADS_1
Boleh komen dong pasukan sandal jepit legendaris 😅😅