Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 57. Keputus Asaan Andra


__ADS_3

...Selamat membaca😊...


...----------------...


Mereka semua sudah duduk di sofa ruang keluarga, karena eyang sudah berhasil membujuk Bayu untuk beranjak dari tempatnya bersimpuh. Pak Herman segera menghubungi Angga dan Nick agar segera pulang untuk mendiskusikan kelanjutan persoalan Andra.


Angga yang mendapat pesan dari sang ayah, langsung menghubungi sepupunya untuk cepat menjemput Senja.


Tak lama kemudian sudah nampak mobil Nick melintas dan parkir tak jauh dari mereka. Setelah membayar makanannya dan Senja yang harus mendrama tentang pembayaran dulu, akhirnya Angga bisa mengantarkan Senja pada Nick yang sudah menunggu dengan pintu mobil yang terbuka lebar.


"Niat banget ni bocah, dasar playboy cap badak." Angga menatap Nick jengah.


"Lho, kamu sama Lala udah selesai dinnernya?" Nick memasang muka masam, kecewa dengan tindakan Senja yang malah secara tidak langsung menyuruh dirinya untuk dinner bersama Lala. "Hem," lalu menjawab pertanyaan Senja malas.


"Pak Angga sudah kenal sama Mas Nick ini?"


Kedua pria itu perpandangan, harus menjawab jujur atau tidak. Yang mereka takutkan adalah jika jawaban mereka berbeda, dan akan membuat Senja curiga. Keduanya saling memberi kode, akhirnya Angga yang menjawab.


"Hehe.. iya," tawa garing Angga membuat Nick mengernyit, "kenapa harus pura-pura tertawa jika tidak ingin. Kalau sudah manekin ya manekin saja!"


Senja ber oh ria, "kita duluan ya, Pak Angga. Makasih banget lho buat traktirannya, lain kali biar aku yang gantian traktir, oke?" Senja mengarahkan tangan kirinya dengan membulatkan ibu jari dengan telunjuknya 👌.


Angga mengangguk dan tersenyum, Nick semakin curiga dengan kakak sepupunya yang di anggapnya sebagai manekin hidup itu, kini mau tersenyum dengan seorang gadis lagi. "Wah.. manekin ini belajar tersenyum dari Senja ternyata."


Setelah mobil Nick yang membawa kedua gadis itu berlalu, Angga segera berbalik hendak menuju ke parkiran tempat dimana mobilnya berada. Tapi saat ia berjalan, ia mendapati suatu kejanggalan, ekor matanya menangkap sesorang yang berlaku agak mencurigakan. Dengan perlahan Angga mendekat pada orang yang sedang sibuk dengan ponselnya itu, nampaknya ia sedang berusaha untuk menelepon seseorang di seberang sana.


"Aduuh.. cepetan angkat dong, Bos! Target sudah meninggalkan tkp nih.."


Angga mengernyit mendengar gumaman orang itu, ia sudah berada tepat di belakang orang tersebut dan melongok untuk melihat ponselnya.


"B A?" Angga menautkan alisnya membaca nama yang tertera pada ponsel orang tersebut. Kemudian ia memutuskan untuk pulang saja karena dia pikir lelaki itu tampak normal. Sesaat setelah Angga membalik badan dan hendak melangkah, ia kembali mendengar umpatan dari orang tadi.


"Ah shit! Bos Andra kenapa sih, gak bisa di hubungin gini?"


"Andra? apa Andra adek gue? kenapa perasaan gue bilang iya ya.."


Angga memutuskan untuk bertanya pada lelaki yang mengenakan jumper hitam dan masker, penampilannya yang tertutup dan berdiri di tempat gelap membuatnya nampak mencurigakan.


......................


Sampai di rumah eyang, Angga membawa laki-laki tadi menghadap semua orang yang ada di ruang keluarga. Mereka bertanya-tanya di dalam hati, siapa orang itu, dan kenapa Angga membawanya kemari di saat sedang genting seperti ini. Pak Herman sudah hampir membuka mulutnya untuk bertanya, tapi Angga lebih dulu berucap.


"Coba deh lo jelasin sama kami semua yang ada disini, tentang urusan lo sama Andra!" Perintah Angga pada laki-laki yang duduk dengan menundukkan kepalanya, masker dan topi masih melekat di kepala dan wajahnya hingga Angga melepaskannya satu persatu.

__ADS_1


Bayu yang sudah bisa menguasai dirinya kembali, kini ikut berfokus menatap lelaki yang dibawa oleh Angga. "Lo?" seru Bayu saat wajah lelaki muda itu telah terbuka sempurna.


"Ma-maaf Pak Bayu," jawab pemuda itu takut-takut.


Bayu menghela nafasnya dan menghembuskannya kasar, mencoba menetralkan kembali emosinya. "Oke, gue bakal maafin lo kalau lo mau jujur sama kami semua."


"Bentar, Bay. Lo kenal sama ni bocah?" Angga menunjuk lelaki yang masih berusia 20 tahunan itu.


"Iya, Bang. Dia Andi, salah satu sales di swalayan."


Angga mengangguk-angguk dan meminta Andi untuk mengatakan penjelasannya.


"Sebelumnya saya minta maaf sama semua yang ada disini, saya gak melakukan kejahatan kok," lelaki muda itu mulai membuka suara, " saya cuma di suruh sama Bos, eh maksudnya Pak Andra, buat mata-matain Bapak ini aja." Ucap Andi menunjuk Angga.


"Gue?" tanya Angga menunjuk dirinya memastikan, lelaki itu mengangguk.


"Terus, apa lagi?"


"Terutama kalau terlihat Bapak ini lagi sama Mbak-mbak yang tadi itu.."


"Nama gue Angga, dan cewek tadi itu Senja."


Para orang tua heran mendengarnya, bukannya rencananya Senja itu sama Nick, kenapa malah jadi sama Angga? Lagi-lagi mereka hanya bisa membatin karena para lelaki muda itu tak membiarkan mereka melontarkan pertanyaan apapun dengan terus mengintrogasi Andi. Jadi mereka memilih untuk diam dan mendengarkannya saja, lalu nanti mengambil keputusan akhir jika ketiga pemuda itu sudah selesai berdebat.


"Andi," panggil Bayu pada lelaki di hadapannya.


"Ya, Pak?"


"Kalau kita semua minta bantuan lo, lo maukan? semua juga demi kebaikan Andra,"


Andi mengernyit, "maksudnya, Pak? memangnya Pak Andra kenapa ya?"


Bayu kembali menghela nafas, "Bos Andra pergi tepat setelah lo kirim foro Angga sama Senja tadi, hpnya di banting sampe remuk, dan masih ada di kamarnya sekarang. Dia pergi cuma bawa dompet sama motornya doang," Bayu menjeda kalimatnya, menatap wajah eyang dan kedua orang tua Andra yang tampak sangat terkejut. "Selama jadi asisten sekaligus sahabat Andra, saya juga baru kali ini melihat dia marah sampai seperti itu." Lanjut Bayu membuat semua orang disana terkejut mendengarnya.


"Sampai segitunya, Bay?" Pak Herman bertanya dan di jawab anggukan lesu dari Bayu. Bu Ratih menutup mulutnya tak percaya. Jika sampai seperti itu, berarti Andra sudah sangat-sangat marah. Dan jika dia marah, dia tak akan berbicara sepatah kata pun pada siapa pun. Andra lebih memilih memendam kemarahannya sendiri dari pada harus menyakiti orang lain dengan amarahnya, baik itu dari perkataan maupun tindakan.


"Lalu kita mesti cari Andra dimana, Yah?" khawatir Bu Ratih memikirkan putra bungsunya.


Sedangkan eyang mencoba bersabar, menekan kekhawatiran sebisa mungkin. "Tenang, Ratih.. Andra itu anak yang baik, dan insyaallah sholeh. Jadi dia tidak mungkin ke tempat atau melakukan hal-hal yang tidak baik."


"Iya, Buk. Ratih juga percaya. Tapi kasian dia jadi salah faham sama kakaknya sendiri."


"Maafin Angga, Bun." Angga duduk di samping ibunya dan ikut mengelus-elus pundak wanita terkasihnya itu.

__ADS_1


"Yasudah, sekarang sudah malam, lebih baik kita semua istirahat biar besok bisa bangun pagi buat menyusun rencana untuk membujuk Andra." Pak Herman mencoba bijaksana menyikapi persoalan itu.


"Andi, lo bisa nginep disini dulu sementara kita belum nemuin Andra. Lo bisa tidur di kamar tamu." Angga memberi perintah yang langsung di turuti oleh Andi.


Pak Santo mengantarkan Andi ke kamar tamu, pemuda itu menatap kagum pada bangunan yang di tempatinya saat ini. "Rumah ini lebih pantes di sebut istana daripada rumah," batinnya menatap sekeliling.


......................


Andra sedang menenangkan dirinya di tempat yang menurutnya bisa menguapkan amarahnya. Pantai. Ya, sebuah tempat yang selalu bisa memberikan ketenangan bagi orang yang menyukainya. Disana ia merenungi apa yang baru saja terjadi dalam hidupnya.


*Haruskah aku menyerah untuk mendapatkanmu..


Haruskah aku berhenti berharap jika kamu akan mengingatku..


Haruskah aku pasrah dengan keadaan ini, dan menyadari jika kamu bukan untukku, Senja?


Kenapa harus Kak Angga?


Kenapa harus dia yang bisa membuatmu tertawa Senja?


Kenapa bukan aku yang sudah mengagumimu sejak awal kita bertemu*?


"Kenapaaaaa . . . . " Teriak Andra pada lautan lepas. Air mata yang menggenang luruh begitu saja tanpa di minta.


"Apa ini artinya, aku harus melepaskanmu?"


"Aku tidak sanggup Senja.. aku nggak akan pernah sanggup menerimanya."


"Kenapa takdir begitu kejam padaku.."


"Kurang berjuang bagaimana lagi aku?"


Andra terus bermonolog dengan dirinya sendiri, untung saja pantai dalam keadaan sepi. Jika saja sedang ramai, bisa di kira gila mungkin Andra.


.


.


Sabar ya, Mas Andra..


Cup, cup..


Semua akan indah pada waktunya kok, insyaallah..

__ADS_1


Mohon dukungannya buat Andra biar gak prustasi ya, biar dia bisa semangat lagi.. ok😉


__ADS_2