
Di kediaman eyang Kumala, Andra dan Senja sedang memperkenalkan bayi Lukman pada para asisten rumah tangga, yakni Mbak Asih, Mbok Munah, dan juga Pak Sapto. Orang-orang yang akan mereka mintai bantuan nantinya.
Tak lama kemudian, dari arah depan rumah, Bayu datang dengan wajah ditekuk dan bibir manyun ala-ala anak TK yang sedang ngambek kepada kedua orang tuanya.
"Bagus ye, gue ditinggalin aja. Udah gak butuh gue keknya, " sindir Bayu pada Andra.
Semua orang menoleh pada Bayu dan menahan senyum mereka. Semua orang tau, bahwa Bayu hanya berpura-pura kesal.
"Uncle Bayu ambeg'an deh, kan dedek bayi gumush jadina," ucap Andra yang memperagakan seolah bayi.
"Bodo, " Bayu meletakkan dua kantong besar belanjaan yang dibawanya di atas meja, dan kemudian berlalu begitu saja.
"Yah.. ngambeg beneran si Babay, " Andra menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.
"Lagian, Mas Andra sih.. di tinggalin. Kan Adek dah bilang, ditungguin aja bentar, " protes Senja.
"Gapapa sih, ntar Mas minta maaf sama Bayu. Lagian keburu kesian bayinya tadi, udah mau nangis. Kan Mas panik, "
"Bener juga sih, kalau sampe nangis juga bingung mau ngedieminnya, ya. Mana gak bawa perlengkapannya kalau mau bikin susu juga, "
Mereka tidak tau saja, jika bayi yang baru lahir belum terlalu banyak membutuhkan susu. Karena di tubuhnya masih menyimpan cadangan makanan dari dalam kandungan. Juga belum banyak mengeluarkan pipis ataupun pup.
"Mbak Asih, Mbok Munah.. kita nitip bayinya dulu ya, kita mau bersih-bersih badan dulu. Dari pagi perjalanan belum mandi lagi, gerah, " ucap Andra berpamitan.
Mbak Asih dan Mbok Munah mengangguk tersenyum mengiyakan.
"Sama tolong bayinya di bersihin juga. Boleh, Mbak? " imbuh Senja pada Mbak Asih.
"Beres, Mbak Senja.. " jawab Mbak Asih.
Alih-alih ke kamar mereka untuk membersihkan diri seperti apa yang mereka ucapkan pada Mbak Asih dan Mbok Munah, kedua orang tadi malah sibuk menyiapkan tempat untuk tidur bayinya Lukman.
Teman tidur bayi yang berupa kasir kecil yang tadi di beli, mereka letakkan di tengah-tengah ranjang king size mereka. Pakaian-pakaian bayi juga di tata oleh Senja di dalam keranjang.
"Tunggu, ini'kan belum dicuci. Apa aku cuci dulu ya, sementara pake bajunya sendiri yang dibawa dari rumah sakit tadi, " gumam Senja yang membereskan kembali pakaian bayi yang sudah di susunnya tadi.
Sementara Andra sudah selesai menata tempat tidur bayi dan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, Senja menuju ruang cuci untuk membilas pakaian bayi yang baru saja dibeli tadi.
Suara tangisan bayi terdengar membuat Senja yang tengah mengeringkan pakaian bayi langsung berlari menuju sumber suara.
Rupanya bayi laki-laki yang baru berusia tiga hari itu tengah di keringkan menggunakan handuk usai dimandikan.
__ADS_1
"Oh.. dedek bayi abis mandi ya. Ate kira kenapa, " ucap Senja menyapa bayi yang masih menangis itu.
"Iya, Ate. Dedek bayi baru mau pake baju, tapi udah keburu haus, " sahut Mbak Asih yang bersuara anak kecil.
"Susunya udah dibikinin, Mbak? " tanya Senja yang ikut duduk di sebelah bayi itu.
"Mbok Munah lagi bikinin, Mbak, " Mbak Asih menjawab sembari tangannya mengelap pelan-pelan pusar bayi yang masih basah.
Senja meringis melihat hal tersebut pasalnya pusar dari bayi tersebut belumlah terlepas.
"Itu apa nggak sakit, Mbak?" Mbak Asih tersenyum mendengar pertanyaan Senja.
"Ini'kan di lap pelan-pelan to, Mbak. Terus di balut pakai kain kasa biar gak nempel di bajunya, "
"Oh, gitu... " Senja memperhatikan dengan seksama setiap gerakan Mbak Asih. Nampaknya gadis itu tertarik dengan hal yang baru saja ia lihat tersebut.
Mbak Asih mengoleskan cream bayi pada area bawah bayi laki-laki itu guna mencegah terjadinya ruam popok, kemudian memakaikan diapers baby new born pada bayi itu.
"Nggak kasian, Mbak, masih kecil banget gitu di pakein pempers? "
"Ya sebenarnya lebih baik gak usah di pakein pempers sih. Apa gak usah di pakein aja? Tapi nanti dia bisa pipis lebih dari lima belas kali dalam sehari, lho! Apalagi kalau malem, bisa-bisa tidurnya terganggu, "
"Hah? Yang bener, Mbak? " Mbak Asih mengangguk.
"Biar sama Mbak Asih aja nggak papa kok, Mbak Senja. Biar nggak ganggu tidur kalian," ujar Mbak Asih.
"Tapi ntar boboknya Mbak Asih dong yang keganggu, "
"Enggak, Mbak Senja... "
"Ish, kita semua jadi satu aja sih boboknya buat jagain dedek bayi, " seru Senja pada akhirnya.
Krik krik krik...
Kening Mbak Asih berkerut dalam mendengar perkataan terakhir Senja. Mana mungkin mereka semua tidur jadi satu kan.
Malam menjelang dan hari pun berlalu begitu saja. Bayi laki-laki yang sampai saat ini belum diberi nama itu sudah terlelap sejak diberi susu oleh Mbok Munah sore menjelang malam tadi.
Memang bayi itu tak rewel sama sekali, seakan-akan dia tau sedang tak berada di antara kedua orang tuanya sendiri, melainkan hanya paman dan bibi yang bahkan orangtuanya pun belum akrab kepada mereka.
Senja meregangkan otot-ototnya setelah aktifitas seharian, dan bersiap merebahkan tubuhnya. Pada saat yang bersamaan, dedek bayi menggerakkan tubuhnya dan mulai menangis.
__ADS_1
"Dedek bayi haus, ya.. bentar Ate bikinin susu dulu ya.. "
Andra yang baru saja masuk ke dalam kamar menepuk-nepuk pantat bayi itu pelan, bermaksud menenangkan bayi tersebut. Tapi bukannya tenang, bayi itu malah semakin mengencangkan tangisnya.
"Loh, kok malah makin kenceng sih nangis nya, Dek? " tanya Andra menoleh pada Senja yang sedang menyiapkan susu.
"Ee... mungkin harus di gendong, Mas, "
"Gimana cara gendongnya? Mas Andra takut loh, dia masih kecil banget, tapi nangis nya kenceng banget lagi, " Andra bingung antara mau mengambil dan menggendong bayi itu atau akan bagaimana.
Smentara Senja bisa sedikit lebih tenang setelah mendapat pengarahan dari Mbak Asih sore tadi saat belajar menenangkan bayi itu. Kuncinya adalah jangan panik.
Ok, dia sedang mencobanya. Meskipun dalam hatinya merasa khawatir, galau juga panik saat mendengar bayi itu menangis kencang.
"Cup cup cup, sayang... sini Tante pangku, ya.. " Senja mengambil bayi itu pelan bersama dengan bantal kecilnya.
Bayi itu diam dengan kepala yang menoleh ke kanan dan ke kiri seakan mencari sesuatu.
"Tolong Mas Andra, siniin susunya, " Andra meriah botol yang diletakkan Senja di nakas tadi dan memberikan pada Senja.
Bayi dengan bobot kurang dari tiga kilogram itu diam setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia menyusu dengan senangnya.
Setelah bayi tersebut diam, Andra pun ikut duduk memposisikan dirinya disamping Senja yang bersandar pada kepala ranjang.
"Wah, langsung diem ya dia. Emang haus banget ya kayaknya, " Andra menatap bayi itu juga istrinya bergantian.
"Heem. Mas Andra istirahat aja, biar Adek yang nungguin dedek bayi sampe bobok,"
"Enggak, Mas nungguin kamu aja. Kita tunggu dia bobok sama-sama, terus ntar boboknya juga sama-sama, "
Sepasang suami istri itu dengan sabar menunggui bayi Lukman yang sedang menyusu. Tak ada sedikitpun pamrih. Mereka memperlakukan bayi itu selayaknya bayi mereka sendiri.
Hingga bayi itu terlelap, barulah mereka ikut merebahkan diri di kanan dan kiri bayi tersebut. Memeluknya dengan kehangatan dan ketulusan cinta yang mereka punya. Yang bahkan kedua orang tua dari bayi itu sendiri pun belum pernah merasakannya.
Semoga aja dedek bayinya bobok nyenyak sampe pagi ya, meskipun itu gak mungkin. Soalnya bayi yang baru lahir biasanya punya jam tidurnya sendiri yang seringnya berbanding terbalik dengan orang dewasa.
Selamat bertraining menjaga bayi, pasangan baruš¤
.
.
__ADS_1
Bersambung...