Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Cobaan Berat Bagi Lukman


__ADS_3

"Maaf, Pak. Istri Anda mengalami koma karena kehilangan banyak darah akibat dari pendarahan sebelum melahirkan tadi, " ucapan sang dokter bagaikan badai bagi Lukman.


"A-apa, Dok? K-koma? " tanya Lukman terbata.


Lelaki itu tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, mendadak hidupnya hampa. Betapa tidak, baru saja pria itu merasakan kebahagiaan menjadi seorang ayah, tapi kini sudah harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa istrinya koma. Lelaki itu luruh ke lantai berbarengan dengan air mata yang membanjiri pipinya.


"Innalillahi... Ya Allah.. cobaan apalagi ini yang Engkau hadapkan padaku, " ucap lelaki itu sesenggukan.


Lukman merasa seperti tertimpa batu besar, begitu sakit dan menyesakkan mengetahui bahwa belahan jiwanya yang baru saja melahirkan buah hati mereka kini terbaring tak berdaya dalam keadaan koma.


Dari arah lain muncul seorang suster yang berjalan menghampiri Lukman.


"Maaf, Pak, Putra Anda sudah selesai dibersihkan. Anda sudah bisa menjenguknya," beritahunya kepada Lukman.


Lukman segera menghapus air matanya, meskipun ia bersedih dengan kenyataan bahwa istrinya dinyatakan koma, namun ia masih memiliki seorang putra yang sangat membutuhkan dirinya, perhatian serta kasih sayangnya. Putranya itu yang kini menjadi penguat dirinya.


"Baik, Sus. Dimana anak saya sekarang? " tanya Lukman setelah berhasil meredam tangisnya.


"Mari ikut saya, Pak, " jawab suster tersebut yang langsung berjalan mendahului Lukman.


Kedua orang tersebut berjalan menuju kamar bayi yang berjarak tak terlalu jauh dari kamar operasi Ningsih.


Sesampainya disana, Lukman ditunjukkan box bayi yang berisi putranya. Tatapan haru ditujukan nya pada sang putra. Seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu tersenyum dengan mata terpejam, seolah memberikan kekuatan kepada sang ayah agar bisa tetap sabar dan ikhlas dalam menjalani ujian hidupnya.


"Silahkan kalau Bapak mau menggendong putra Bapak dan memberikannya susu, kalau sudah selesai Bapak bisa mengembalikan lagi di box ini," ucap suster tadi memberi tahu.


Lelaki itu mengangkat bayi laki-laki nya, dipeluknya dengan posesif bayi itu seakan takut kehilangan. Air matanya kembali luruh saat mengingat keadaan istrinya yang tengah koma. Ia meratapi nasip putranya yang entah akan bagaimana nantinya. Karena dirinya yang harus mengurus istrinya, belum lagi keadaan ibu mertuanya yang sebentar lagi akan menjalani operasi.


"Siapa yang akan mengurus kamu, Nak? Apa Papa akan bisa jauh dari kamu? Sementara Papa juga harus menjaga mama, nenek dan juga kakekmu yang masih belum sadarkan diri. Apa pihak rumah sakit akan memperbolehkan kamu tetap dirawat disini sampai mama sembuh? " ratap Lukman.


Pikirannya kacau tak mampu berfikir jernih. Ia merasa dunia sedang menghakiminya dari kesalahan yang entah apa tak diketahuinya. Mulai dari mertuanya yang kena begal dan mendapatkan banyak luka hingga belum sadarkan diri usai operasi sampai akan di operasi lagi, lalu istrinya yang baru saja melahirkan dinyatakan koma, dan bagaimana nasip anaknya yang baru saja lahir, yang bahkan belum sempat melihat birunya langit.


Otaknya buntu tak tau lagi harus bagaimana dirinya saat ini. Meminta kedua orang tuanya untuk mengurus sang putra bukanlah ide yang baik. Karena kedua orang tuanya yang tak pernah akur pada orangtua Ningsih.


Ayah dan ibu Lukman malu memiliki besan seorang lintah darat seperti Bu Muti dan Pak Minto, sehingga tak pernah mau berjumpa. Jika saja kedua orang itu tau tragedi yang menimpa besannya, bisa-bisa keduanya tertawa dan bersujud syukur karena merasa doa mereka terkabulkan.


Bukan bermaksud mendoakan buruk kepada orang lain, tapi mereka hanya ingin besannya itu bisa merubah sifat mereka dan meninggalkan pekerjaan mereka sebagai rentenir yang sangat merugikan orang lain.

__ADS_1


"Apa aku harus kembali merepotkan Paklik dan Bulik?" keningnya mengernyit seiring kata hatinya.


"Tidak mungkin! Mereka juga tengah menunggu Ibu sekarang, "


"Apa aku harus cari baby sitter? Tapi aku tak bisa percaya pada orang lain begitu saja, aku takut putraku akan dicelakai, atau malah dijual, "


Pikiran Lukman tercemari oleh berita-berita yang kini marak beredar. Apalagi mertuanya sendiri juga mengalami hal yang mengerikan sehingga menjadi berita yang trend saat ini, hingga itu benar-benar membuatnya merasa tak mampu percaya pada orang asing yang belum dikenalnya atau tak terlalu dikenalnya dengan akrab.


Lukman kembali meletakkan putranya pada box dan urung memberikan susu formula pada bayi itu karena masih sangat lelap dalam tidurnya. Ia tak tega membangunkan putranya. Lukman hanya berpesan kepada suster yang berjaga untuk memberikan susu pada anaknya nanti saja jika bayi itu terbangun dan menangis kelaparan.


Di tempat lain area rumah sakit itu, tampak dua paruh baya tengah duduk dengan mata terpejam, mulut mereka komat kamit dengan gerakan halus pada jari-jari mereka.


Lukman yang baru saja sampai di tempat itu tersenyum samar melihat paman dan bibi dari istrinya.


"Betapa mulianya hatimu, Paklik, Bulik. Meskipun kalian baru saja disakiti dan dipermalukan oleh ibu, tetapi kalian tetap mau mendoakannya bahkan juga menunggui mereka. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian, Paklik.. Bulik.." ucap Lukman dalam hati.


Merasa ada gerakan disampingnya, Pak Sapto membuka mata.


"Nak Lukman? Sejak kapan disini? " tanya pria paruh baya itu.


"Oh iya, bagaimana kabar istrimu?"


"Anakmu, laki-laki atau perempuan? " belum juga pertanyaan dari Pak Sapto terjawab, Bu Retno sudah menyusul dengan pertanyaan yang lainnya.


Lukman tersenyum masam, lalu wajah itu kembali sendu teringat istri dan anaknya. Membuat kedua orang tua Senja mengernyit penuh tanya di benak mereka.


"Ada apa, Nak? Cerita pada kami, " ucap Bu Retno yang kini sudah berpindah duduk di samping kiri Lukman.


Papa muda itu kembali tersedu, Pak Sapto dan Bu Retno saling pandang. Pak Sapto membawa lelaki muda itu dalam rengkuhannya, di tepuk-tepuknya punggung yang kini tampak bergetar hebat itu.


Meskipun seorang laki-laki, Lukman juga butuh sandaran dan tempat mengadu saat sedang terpuruk seperti saat ini. Menangis bukanlah hal yang akan membuat laki-laki tampak lemah ataupun cengeng, justru itu membuktikan jika ia memiliki rasa kasih sayang yang besar.


(Itu menurut aku ya.. tidak tau kalau kalian, bisa kasih pendapat kalian juga lho! Tinggal pencet aja disini, terus komen deh🤗)


Lukman menceritakan apapun yang menjadi beban di pikirannya, yang menyesakkan dadanya hingga membuatnya seperti manusia zombi yang tak punya semangat lagi.


Pak Sapto terkejut mendengar cerita dari Lukman yang mengatakan kalau istrinya koma, bahkan Bu Retno langsung menutup mulutnya tak percaya.

__ADS_1


"Astaghfirullahalazim.. "


"Innalillahi.. "


Kenapa cobaan datang bertubi-tubi pada Lukman, seorang lelaki yang tampak baik dan tidak neko-neko. Pikir kedua paruh baya itu.


Di tempat dan kota yang lain, Senja yang baru saja mematikan panggilan pada ponselnya usai bertelepon ria dengan Lala. Mengangkat benda itu saat merasa benda pipih tersebut bergetar kembali.


"Bapak? " gumam Senja.


"Ada apa ya? Apa mau ngabari tentang kedaan Bude Muti mungkin, " gadis itu menggeser ikon hijau pada layar.


"Wa'alaikumsalam, " ucapnya sesaat setelah mendengar salam dari seberang sana.


"Nduk... "


"Astaghfirullah hal adziim.. " pekik Senja tertahan dengan tangan kirinya yang reflek menutup mulut.


"Baik, Pak. Senja akan bicara sama Mas Andra mengenai hal ini, "


" ... "


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " Senja mengenggam benda pipih itu erat, lalu terduduk lemas di kursi yang ada di dekatnya.


.


.


Bersambung...


Aku ucapkan terimakasih banyak untuk yang masih setia dengan karya remahan aku ini🙏🥰


Kalian bisa juga lihat karya aku yang lain ya di profil, siapa tau suka dan bisa kasih masukan karya mana yang harus aku lanjut terlebih dahulu.


Dengan begitu, aku jadi makin semangat deh buat nulisnya.. 🥳


I miss you all🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2