
...Selamat membaca🤗...
...----------------...
Usai menghabiskan gelas ke-tiga es dawetnya, Bayu segera membayar dan membawa es dawet pesanan Lala. Kemudian secara diam-diam Bayu juga mengambil pesanan nasi gudeg Senja yang dibungkus untuk makan siang Senja beserta para karyawannya tadi, lalu ia membawa kesemuanya ke toko Senja untuk menikmatinya disana bersama para ciwik-ciwik karyawan Senja. Wah.. modus juga Bayu nih.
Bayu sudah mengirimkan pesan lewat WA pada Lala tadi pada saat menunggu pesanan es dawet datang. Jadi Lala tak terlalu kaget dengan kedatangan Bayu di toko. Tapi beda halnya kedua ciwik yang lain. Mereka agak canggung dengan kedatangan laki-laki yang berwajah manis dan imut-imut yang mendadak itu.
Sementara Bayu yang menyebabkan kecanggungan itu seakan tak memiliki beban suatu dosa apapun. Ia terus saja nerocos seakan-akan sudah akrab dengan semuanya. Tapi bukan Bayu namanya kalau tidak bisa membuat suasana menjadi ceria seperti taman kanak-kanak.
"Ayo.. silahkan di nikmati makanannya. Jangan malu-malu, apalagi sungkan." Ucap Bayu menawarkan makanan dan minuman yang di bawanya kepada Lala dan yang lainnya.
Ketiganya tersenyum canggung, "i..iya, Pak." Jawab Lala mewakili mereka semua.
Mereka mulai menyantap nasi gudeg yang dibawa Bayu dengan agak sungkan, karena baru pertama kalinya mereka berhadapan dengan Bayu.
"Semua ini tadi pesanannya Senja, aku yang bawain. Soalnya dia lagi ada urusan mendadak," terang Bayu yang di angguki oleh semuanya.
"Urusan mendadak apa ya? Kenapa Mbak Senja gak ngomong apa-apa tadi sebelum pergi, kirim pesan juga enggak tuh.." batin Lala.
Sementara di rumah makan gudeg tempat dimana Andra dan Senja berada, keduanya masih saja terdiam, belum ada yang menyentuh makanannya sama sekali. Senja yang masih harap-harap cemas karena belum tau jika para karyawannya sudah makan bersama Bayu, dan Andra yang masih bingung harus memulai darimana menjelaskan tentang ulah Bayu.
Tiba-tiba ponsel Senja berbunyi, ternyata itu notif pesan masuk dari Lala, memberitahukan jika dia dan kedua temannya sudah makan bersama Bayu. Senja menganga tak percaya dengan pesan yang di kirimkan oleh Lala. "Apa maksudnya sih, La? Gimana kalian bisa makan sama Mas Bayu, bukannya dia lagi beli es dawet ya?" Pikirnya.
"Astaga.." pekik Senja sembari menepuk keningnya sendiri. Andra yang menunduk, kaget dengan suara Senja yang tiba-tiba. Ia mendongak dan melihat Senja, "Kenapa?"
"Emm.. Mas Bayu ada ngirim pesan ngasih tau sesuatau gitu nggak sama Mas Andra?"
"Iya ini, dia WA katanya lagi makan sama karyawan kamu di.. toko kamu," jawab Andra pelan.
"Kenapa bisa gitu? Mas Bayu janjian sama Lala, ya?" tanyanya yang di jawab gelengan oleh Andra.
"Tapi kok tadi Lala nggak bilang apa-apa sih sebelum aku berangkat," gumam Senja pelan. Andra mengendikkan bahunya tak tau.
"Mending sekarang kita makan aja, daripada mubadzir.. ya 'kan Mas Andra?" Senja tersenyum, yang dibalas senyuman juga anggukan dari Andra.
__ADS_1
"Silahkan, Dek! Dihabisin ya makanannya," ucap Andra kemudian.
Mereka mulai memakan hidangan di hadapan mereka dengan khidmat, tanpa ada sepatah kata apapun lagi. Sesekali Andra memperhatikan Senja yang makan dengan lahap, hatinya berlinjak kegirangan, tak menyangka jika ia akan kembali bertemu dan makan bersama Senja seperti harapannya. Bahkan ia juga berharap jika waktu dapat berhenti berputar, agar ia bisa memandang wajah ayu di depannya terus menerus.
Senja yang tersadar jika dirinya diperhatikan, menghentikan suapannya dan bertanya pada Andra, "kenapa, Mas? Mulut aku belepotan ya?"
Andra gelagapan karena ketahuan diam-diam memperhatikan Senja. "Ah.. eng.. gak kok, maaf."
Senja mengernyit heran, kalau bukan karena belepotan, kenapa Andra sampai memperhatikannya seperti itu, pikirnya. Daripada akan kelamaan, Senja memilih melanjutkan makannya saja.
Setelah selesai makan, Senja memanggil pelayan dan hendak membayar makanan mereka. Tetapi pelayan tersebut mengatakan jika makanan mereka sudah dibayar. "Siapa yang bayar, Mbak?" tanya Senja pada pelayan tersebut.
"Tadi mas-mas yang bersama mas ini, Mbak." Jawab pelayan itu menunjuk Andra dengan ibu jarinya.
"Oh.. yaudah. Makasih ya, Mbak.." pelayan tersebut tersenyum lalu mengangguk dan segera berlalu.
"Mas.." belum sempat Senja berbicara, Andra sudah berucap terlebih dahulu. "Gak pa-pa, Dek.. biarin aja Bayu traktir kita."
"Gitu ya? Makasih banget sih kalau gitu, sering-sering aja.." canda Senja. "Boleh." Andra menjawab dengan cepat.
"Aku bercanda doang kali.. jangan di anggep serius." Senja tertawa kecil. "Beneran juga gak pa-pa kok, Mas Andra juga serius.." tutur Andra dengan tersenyum tulus.
"Sama-sama,"
Mereka terdiam sesaat, dan beberapa menit kemudian Andra memberanikan diri mengajak Senja untuk pulang. "Emm.. Dek Senja udah mau pulang, belum?" tanyanya hati-hati.
"Iya, yuk.."
Sampai di parkiran halaman, Andra menoleg kesana kemari mencari letak keberadaan motornya yang tadi di kendarai oleh Bayu juga dirinya saat berangkat. Setelah teringat, ia menepuk keningnya sendiri, "astaghfirulloh.. iya, gue lupa," gumamnya pada diri sendiri.
Senja yang melihatnya pun bertanya, "kenapa, Mas?"
"Itu, motornya di bawa sama Bayu."
"Oh, kirain kenapa. Yaudah ayok kita barengan aja.. Mas Andra balik ke swalayan 'kan?" Andra mengangguk meng'iyakan. "Jadi kita searah.."
__ADS_1
"Nih.." Senja menyerahkan kunci motornya pada Andra. Andra menerimanya dengan tangan gemetar, bukan karena takut, tapi karena penyakit gugupnya mendadak kambuh. Keringat dingin di tubuhnya mendadak muncul pada siang yang sangat terik. Ini pertama kalinya bagi dirinya akan membonceng Senja, itu berarti tak akan ada jarak di antara mereka. Membayangkannya saja sudah membuat tubuhnya membeku, bagaimana nanti saat sudah benar-benar terjadi, pikir Andra.
"Ayo, Mas.." ajak Senja yang melihat Andra hanya terdiam.
Andra pun menaiki motor matic berwarna biru pink dan bertuliskan Senja Olshop milik Senja. Lalu Senja segera memboceng di belakangnya. Jantung Andra berdetak sangat kencang, ia takut jika itu akan sampai terdengar oleh Senja. Semoga dia tidak lupa cara melajukan motor karena kegugupannya itu.
Motor yang di kendarai oleh Andra berjalan perlahan meninggalkan rumah makan gudeg itu, dengan perasaan Andra yang campur aduk. Antara senang, gugup juga takut menjadi satu.
"Mau langsung balik ke toko atau kemana dulu, Dek?" tanya Andra.
Senja yang tak terlalu mendengar suara Andra karena terpaan angin, sedikit lebih memajukan kepalanya ke depan. "Apa, Mas?"
Deg.
Deg.
Deg.
Apa ini? Wajah Senja benar-benar berada di samping wajah Andra sekarang. Mulut Andra mendadak kelu, susah untuk berucap, hingga Senja mengulangi pertanyaannya. "Mas Andra tadi nanya apa? Maaf, aku gak terlalu denger tadi.."
"Kamu mau langsung pulang atau mampir kemana dulu?"
"Aku mau ke swalayan depan toko dulu deh, soalnya banyak kepeeluan yang pada habis."
Andra membulatkan matanya, merasa terkejut sekaligus senang. Ia ingin segera menghubungi Bayu, guna membuat banyak promo khusus untuk Senja. Memang Andra itu aneh bin ajaib ya.
"Oke.." serunya tersenyum senang.
.
.
Bersambung..
Mohon dungannya ya 🥰
__ADS_1
Biar makin semangat nulis.
Terimakasih🙏