
...Selamat membaca😊...
...----------------...
"Itu.. Herman mau menanyakan tentang video Andra dan Senja yang lagi virall di medsos saat ini, kenapa keterangannya sebagai pengantin baru yang sedang bulan madu, Bu?" Ucap Pak Herman dengan segenap keberaniannya yang terkumpul.
"Ooh.. soal itu toh, Ibu kira ada apa." Eyang menanggapi kegugupan Pak Herman dengan santai.
"Ibu juga ndak tau menahu soal tulisan-tulisan yang ada di video itu, Ibu sendiri juga baru melihatnya tadi beberapa menit sebelum kamu telpon. Soalnya Ibu juga baru saja pulang dari pantai pagi ini, lagipula pas malam itu suasananya sangat ramai. Berisik sekali. Kelap kelip kayak lampu disko," eyang menjelaskan kejadian yang sesungguhnya, memang begitulah adanya. Orang-orang yang mengabadikan momen di pantai malam kemarin itu hanya mengatakan kalau ingin menyiarkan secara live acara musik itu, siapa sangka jika captionnya menggemparkan begitu.
Pak Herman dan Bu Ratih kembali saling pandang, kemudian Pak Herman kembali bertanya pada eyang "Ibu baru saja kembali dari pantai pagi ini? Bersama Andra juga Senja?"
"Lahiyha to, wong memang Ibu perginya sama mereka itu kok. Eh pas berangkat endak sih, Andra nyusul pas Ibu sudah di pantai.."
"Ibu tau siapa Senja itu?" Ah, pertanyaan macam apa itu Pak Herman!
Eyang menautkan kedua alisnya bingung "Maksud kamu?"
"Maksud Herman itu, apa Ibu tau siapa Senja itu bagi Andra?" Jelas Pak Herman dengan memperbaiki bahasa pertanyaannya.
"Iya, Ibu tau maksud kamu sekarang. Ibu tau karena kemarin pas Andra pulang ke rumah, dia udah cerita sama Ibu."
"Berarti.. yang di pantai kemarin itu, apa itu semua rencana Ibu?" tanya Pak Herman dengan sangat hati-hati.
"Yaa.. bisa dibilang begitu, tapi itu semua juga atas persetujuan dari Andra. Kami merencanakannya bersama." Eyang menjeda kalimat perkataannya sebentar untuk minum, dan melanjutkannya lagi. Sedangkan Bayu masih saja setia menyimak percakapan antara boss besar dan ndoro juragan. Sama saja, itu hanya panggilan Bayu aja sih. "Niat Ibu ingin membantu Andra, agar bisa mendapatkan Senja, gadis impian sejak masa kecilnya."
"Herman sama Ratih juga setuju, Bu.. kami sangat bahagia saat tau video tadi itu ternyata Andra sama si Senja, mereka sudah ketemu." Ucap Pak Herman sembari tersenyum lebar pada Bu Ratih, yang juga dibalas dengan senyum tulus oleh Bu Ratih.
__ADS_1
"Kalau begitu, sekarang tinggal mempersatukan mereka saja berarti!" Tukas eyang dengan rona bahagia terpancar pada wajah tuanya. "Tapi bagaimana caranya, sedangkan Andra saja kalau pas ketemu Senja suka gag-,"
Perkataan eyang terhenti saat tiba-tiba sambungan telponnya terhenti begitu saja. "Lhoh! Halo Her? lha kok mati?! Her.. Cah Bagos (Anak ganteng)?"
Bayu mengangkat satu alisnya heran melihat eyang yang kebingungan sambil membolak balikkan ponselnya. "Kenapa, Eyang?"
"Ndak tau ini mati, hape-ne po yo? (Ponselnya apa ya)" jawab eyang menyodorkan ponselnya pada Bayu.
Bayu menerima dan melihat ponsel eyang, ia menepuk keningnya sendiri. "Ini sih yang mati hape-nya, Eyang.." Eyang kembali mengamati ponselnya, ia tersenyum dan baru teringat jika ia memang belum mengecas ponselnya sejak kemarin sore. Ia segera mengambil chargernya dan mengecas ponsel pintarnya.
Bayu yang merasa hari sudah menjelang siang, memutuskan segera pamit kepada eyang untuk kembali ke Ruko sebelum Andra mencarinya. Dan benar saja dugaan Bayu, baru saja dia melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah eyang, ponselnya sudah bergetar. Ada notif pesan masuk dari Andra yang menanyakan keberadaannya. "Ah, rupanya udah sadar si boss.." gumam Bayu sambil mengecek ponselnya guna melihat pesan dari Andra. Ia membalas pesan itu singkat dan segera menuju motor sportnya untuk segera menemui sang boss.
Bayu Sejuta Ide
'Otw balik Boss'
°°°
Di tempat ayah dan bunda Andra berada, mereka sedang bingung kenapa telponnya tiba-tiba mati begitu saja, disaat obrolan sedang penting. "Kenapa telponnya mati, Bun?" tanya ayah mengecek ponselnya yang masih baik-baik saja. "Mungkin hape nya Ibu lowbat, Yah.." jawab bunda menduga.
"Adduuh.. disaat penting gini malah ada-ada aja sih" kesal ayah lalu mendudukkan diri di sova kamar itu. "Apa kita ke Jogja saja ya, Bun? buat konfirmasi tentang Andra, juga buat bantuin Andra biar bisa cepet-cepet nikah sama Senja." Tawar Pak Herman gusar pada istrinya.
"Kenapa jadi Ayah yang ngebet begini sekarang?" heran bunda. "Nggak gitu juga Yah, caranya.. kita kan belum sepenuhnya mendengarkan penjelasan Ibu tadi, sebenarnya kenapa sama Andra. Sampai-sampai dia nggak mau cerita sama kita kalau udah ketemu sama si Senja." Nasehat bunda.
"Habisnya Ayah nggak tega, Bun.. kalau ingat bagaimana Andra dulu sebegitunya mencari-cari keberadaan Senja." Pak Herman menarik nafasnya panjang, ia masih sangat ingat bagaimana keterpurukan Andra dulu, sebelum memutuskan untuk kembali ke Jogja setahun yang lalu. "Jadi mumpung sekarang Andra sudah ketemu sama Senja, kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Kita harus gercep gitu lho Bun, kalau kata anak muda jaman sekarang" lanjut Pak Herman sambil tersenyum dan menggerak-gerakkan kedua alisnya naik turun.
"Benar juga kata Ayah, tapi kita harus menyusun rencana dulu. Jangan gegabah".
__ADS_1
"Iya juga sih, Bun. Ayah juga masih harus menyelesaikan soal rancangan pembukaan kantor cabang kita yang baru di Jogja, yang buat Andra itu"
"Tapi Bunda nggak yakin deh Yah, kalau Andra mau mengurus perusahaan. Ayah tau sendiri juga'kan, kalau dia lebih memilih usaha swalayan daripada bisnis property Ayah.."
Pak Hendra nampak berfikir, memang benar apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Bahkan Andra sudah memulai usahanya semenjak baru saja tiba di Jakarta dan bertemu dengan Bayu, ia nampak bersemangat menjalankan usahanya tersebut dengan dibantu Bayu. Setelah masuk kuliah, Andra mulai membuka cabang swalayannya satu persatu di beberapa kota-kota besar di Indonesia. Dengan tujuan untuk mencari keberadaan Senja. Sungguh.. sebuah usaha yang tak main-main. Dan hal seperti itu terfikirkan oleh seorang anak remaja yang baru beranjak dewasa seperti Andra pada waktu itu.
"Yasudah Bun.. Ayah ke kantor dulu saja, soalnya ada rapat siang ini." Pamit Pak Herman pada Bu Ratih.
"Iya Yah.. nanti kita sambung lagi pembahasannya mengenai Andra dengan Ibu."
Pak Herman mengangguk setuju. Lalu mereka turun bersama dengan bergandengan tangan dan saling melempar senyum satu sama lain, bak pengantin baru yang sedang hangat-hangatnya.
Angga melongo menatap kedua orang tuanya yang selalu mesra setiap hari, membuat hatinya mencelos.. Kenapa kisah rumah tangganya dengan mantan istrinya dulu tak bisa seharmonis dan se-romantis ayah dan bundanya? yang bahkan tetap mesra di usia mereka yang sudah tak lagi muda. Itu yang selalu terbesit di benaknya sampai saat ini, mungkinkah itu memang salahnya dalam mencari pendamping hidup? entahlah.. Untuk saat ini dirinya sedang tidak mau memikirkan masalah wanita lagi. Hatinya masih terlalu sakit kala mengingat kembali kenangan bersama mantan istrinya.
"Kamu kenapa, Ngga?" sapa ayah membuyarkan lamunan Angga.
"Hah? Eng.. nggak apa-apa kok yah, Angga mau ke kantor dulu.." Angga segera bergegas dan menjinjing tas kerjanya yang tadi ia letakkan di kursi makan disampingnya.
Pak Herman dan Bu Ratih saling pandang lalu keduanya sama-sama mengendikkan bahu, mereka menatap punggung anaknya yang menghilang di balik pintu.
°°°
Bersambung..
Like dan komentar positifnya ditunggu 😊
Terimakasih🙏
__ADS_1