
Masa kecil yang penuh dengan keceriaan, canda dan tawa, wajah tampan anak lelaki yang usianya hanya terpaut empat tahun dengan Senja kembali memenuhi ruang fikiran gadis itu. Seorang lelaki ABG yang mampu membuat Senja kecil terpesona, hingga bermimipi dapat menjadi pendampingnya di kemudian hari seperti yang pernah ia lihat di televisi tetangga waktu itu.
Nada bicara yang lembut, tutur kata yang halus dan sopan, tingkah laku yang manis, serta hadiah-hadiah yang sangat mengejutkan dan membahagiakan Senja kecil yang kala itu mendapat julukan Cenil. Cenil yang memang gadis kecil sederhana nan lugu, amat sangat bahagia mendapat teman orang kota yang berwajah tampan dan selalu bersikap baik padanya. Mas Ganteng, begitu ia memanggilnya.
Tapi semua keindahan itu berakhir semenjak ia dan keluarganya harus berpindah tempat tinggal karena sesuatu yang mendesak. Dan semenjak itu pula Senja tak pernah mendengar kabar tentang Mas Gantengnya lagi.
Dan sekarang, tiba-tiba saja ia mendapatkan kejutan yang sangat luar biasa. Manakala ia beserta sang suami berada di tempat yang sangat ia kenal dulu. Kenapa tak pernah ada cerita dari Andra, pikirnya. Kenapa suami yang menikahinya hampir dua bulan lalu itu tak pernah membicarakan jika mereka saling kenal dulu?
Andra? Senja pikir, hanya namanya saja yang sama. Karena memang sudah menjadi hal lumrah nama yang sudah biasa akan ada orang lain yang menggunakannya juga. Akan tetapi, sekarang pertanyaan-pertanyaan yang dulu sempat memenuhi ruang fikirannya kembali mencuat.
Wajah yang familiar, namanya yang sama sempat membuat Senja berfikir, apakah Andra adalah mas gantengnya dulu? Tetapi ia juga tak mempunyai daya untuk bertanya.
Bagaimana kalau dugaannya salah, bagaimana jika mereka orang yang berbeda? selain akan membuatnya kecewa, ia juga ingin menjaga perasaan lelaki itu, tidak mungkinkan ia menanyakan lelaki lain kepada calon suaminya? yang ada malah ia dianggap cewek tidak baik.
Maka dari itu, ia membuang jauh-jauh pemikiran tersebut. Ia memendam perasaan terhadap lelaki pujaan hatinya saat kecil, dan menganggap itu semua hanya cinta monyet, ia belajar untuk mencintai Andra suaminya. Tapi keadaan saat ni membuatnya bingung, ia senang sekaligus kecewa. Entahlah, ia harus mendengar penjelasan dari suaminya agar tak hanya berprasangka.
Semua bayangan masa lalu itu terlintas di kepala gadis yang masih berada di dalam kamar mandi sejak setengah jam yang lalu. Ia menghela nafas, mencoba untuk tidak menghakimi, mungkin saja Andra juga tidak tau seperti dirinya, atau mungkin saja Andra tau, tapi ia punya alasan tersendiri hingga menyembuyikan fakta bahwa mereka pernah sangat dekat dahulu.
Pintu kamar mandi terbuka, Senja mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar tapi tak mendapati suaminya disana.
"Mas Andra kemana?" gumamnya sendiri lalu mengambil pakaian gantinya yang masih berada di koper.
Beberapa menit kemudian Senja sudah keluar dari kamarnya dengan wajah yang lebih fresh. Ia mencari-cari keberadaan semua orang dan mendengar keriuhan dari luar sana. Dengan langkah tergesa ia menuju sumber suara.
"Masyaallah.. Mas Andra!" pekik Senja terkejut.
Di dalam kamar Andra
Andra nampak segar dengan rambut yang basah. Mendengar pintu kamar mandi terbuka, Senja menoleh ke sumber suara dan seketika matanya membulat dengan mulut sedikit terbuka melihat pemandangan yang sangat indah di deoan matanya.
Tubuh Andra yang putih dengan perut six-pack dan masih ada sisa-sisa air yang membasahinya membuat Senja menelan saliva. Biasanya Andra selalu memakai baju di dalam kamar mandi, tapi kali ini tidak karena tadi ia terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi dengan tubuh yang masih basah sehabis di siram alakadarnya dengan selang diluar pasca ia tercebur dalam empang lele milik sang kakek. Sehingga ia tidak sempat ataupun terfikirkan untuk membawa baju ganti.
__ADS_1
Kibasan tangan dan suara panggilan perlahan-lahan mengembalikan kesadaran Senja yang beberapa saat lalu terhipnotis oleh ketampanan sang suami.
"Dek, bisa tolong bantuin Mas, gak?"
"E eh, i iya.. apa, Mas?" Senja tergagap tersadar dari lamunannya.
Andra mengulurkan salep pada Senja, " tolong olesin ini ke badan Mas, gatel semua rasanya."
Andra menggosok-gosok tubuhnya yang terasa sangat gatal efek dari alergi yang mendadak muncul selepas tragedi yang menimpanya.
Senja yang semula merasa agak kesal dengan Andra dan ingin meminta penjelasan pada suaminya itu, mendadak merasa kasihan dan tak enak karena kondisi Andra yang sedang kurang baik.
Setelah mandi keramas, membersihkan lumpur, bahkan menggosok tubuhnya berkali-kali dibawah guyuran shower ternyata tak serta merta membuat rasa gatal yang menyerang menghilang. Malah membuat tubuh yang putih bersih itu menjadi memerah, dengan bentol-bentol kemerahan yang lebih jelas.
Jujur saja Senja merasa berdebar tak karuan karena ini pertama kalinya ia menyentuh tubuh suaminya secara langsung, tidak terlapisi baju sama sekali.
"Halus," gumamnya dalam hati.
"Ya ampun.. pernah mimpi apa sih aku bisa di nikahin sama orang sesempurna ini?"
"Udah gak perlu lagi aku nonton drakor, suamiku aku sendiri aja udah ganteng, putih, tinggi, nggak kalah sama aktor-aktor itu,"
Senja terus bermonolog dalam hatinya sambil tangannya mengelus-elus punggung lebar sang suami. "Bahkan punggung Mas Andra aja lebih putih dari tanganku, hiks. Malunya aku,"
"Aku nggak nyangka kalau badan Mas Andra ternyata se kekar ini," senyum merekah dan mata berbinar mengiringi tangan yang menjelajah seluruh bagian punggung itu, mengolesinya dengan salep bertubi-tubi tanpa sadar. Hingga ia merasa agak lupa dengan kekesalaannya tadi saat mereka baru saja sampai di rumah itu.
Andra yang merasa seluruh punggungnya terus di elus sang istri berulang kali merasa heran, namun ia memilih diam. Justru ia berharap kalau Senja akan lupa pada apa yang istrinya itu katakan saat mereka baru tiba tadi.
Lelaki itu memejamkan mata merasakan tubuhnya yang semula gatal kini berubah menjadi meremang efek dari elusan lembut sang istri. Entah salepnya yang telah bekerja atau memang karena sentuhan Senja, ia tidak tahu. Yang jelas saat ini, dirinya sangat menikmati sentuhan Senja untuk yang pertama kalinya.
Sebuah pelukan pada perutnya membuat Andra seketika menegang. Ia tak mampu bergerak ataupun berkata-kata. Sebisa mungkin ia menguasai dirinya.
__ADS_1
Entah sadar atau tidak Senja melakukan hal itu, pipinya kini telah mendarat di punggung kekar Andra. Ia menghirup aroma sabun dan shampoo yang masih melekat di tubuh suaminya itu.
"Wangi, seger.. lembut lagi," Gumam Senja dalam hatinya, ia membayangkan film drama yang pernah ia lihat. Jadi begini ya rasanya' begitu fikirnya.
Andra menelan ludah susah payah saat merasakan tangan sang istri mengelus perutnya dan mulai bergerak ke atas sedikit demi sedikit. Sentuhan yang lembut itu membuat seluruh tubuhnya meremang, ia menggigit bibir bawahnya kuat menahan rasa yang entah membuatnya bergairah. Baru kali ini juga ia merasakan sensasi aneh tersebut.
Maklumlah ya, Andra adalah cowok yang sangat-sangat menjaga diri, dan selama hidupnya hanya ia pergunakan untuk mencari dan mengagumi satu sosok saja, yakni gadis yang telah menjadi istrinya kini. Andra memanglah sangat polos tentang hal yang seperti itu.
Sedangkan Senja, ia sama saja sebenarnya. Hanya saja dirinya terkadang suka membaca novel online ataupun melihat drakor, jadi ia sedikit tau tentang hal seperti itu, meskipun ia juga belum tau bagaimana rasanya.
Suara adzan maghrib mengagetkan kedua pasangan yang tengah terbuai itu. Seketika Senja melepaskan pelukannya, ia merutuki dirinya setelah sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya.
"Ma- maaf Mas. Adek mau wudhu dulu, udah adzan maghrib." Senja menundukkan wajahnya yang memerah dan dengan secepat kemampuannya ia menghilang di balik pintu kamar mandi dan menyandarkan dirinya disana.
"Bisa-bisanya aku nglakuin kayak tadi, kamu kenapa sih Nja! Gimana kalau Mas Andra ngira aku mencuri kesempatan dalam kesempitan coba," gumam Senja pada diri sendiri.
Sementara Andra, jangan tanya bagaimana keadaannya kini. Jika tadi tubuhnya yang merah karena gatal, kini justru wajahnya yang memerah karena malu sekaligus menahan sesuatu. Bagimanapun ia adalah laki-laki normal yang bisa terangsang oleh sentuhan wanita yang dicintainya.
Ingin rasanya ia melanjutkan hal yang tertunda itu, tapi bagaimana caranya ia melakukan itu dengan istrinya, sedangkan ia merasa jika Senja masih merasa kesal dengan dirinya.
"Astaghfirullah hal Adziim," ia beristighfar mencoba meredam sesuatu yang bergejolak.
"Sepertinya sudah saatnya aku mengatakan semuanya pada Senja, tentang siapa aku. Biar kita bisa menjadi lebih dekat lagi dan...." monolog Andra yang di akhiri dengan senyum penuh arti.
"Sedikit lagi Andra, tinggal jujur aja dan kamu akan mendapatkan cintanya, semoga saja dia bisa memaafkan aku," gumam Andra pelan, hembusan nafas panjang di akhir kalimat menandakan dirinya yang ragu akan sikap istrimya nanti jika ia sudah mengungkap jati dirinya yang sesungguhnya.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Lanjut gak nih sesi yang tertundanya🤭