Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Phobia Hewan Melata


__ADS_3

Angga termenung mendengar cerita dari sang kakek. Ia sama sekali tak menyangka, jika gadis yang di cintainya ikut menjadi korban dari Amanda, mantan istrinya. Bahkan tindakan dari wanita jahat itu sangat kejam, hingga menghilangkan kewarasan seseorang selama bertahun-tahun.


Tiga tahun lebih, itu bukanlah waktu yang singkat untuk tak bisa mengenali siapapun, termasuk dirinya sendiri. Hal itu lebih kejam daripada kematian sekalipun, bagaimana tidak? Bayangkan saja jika dirimu yang berada di posisi Seruni.


Di hina, dicaci maki, di olok-olok oleh banyak orang, juga di pandang risih karena memiliki gangguan jiwa. Sebuah penyakit yang seorangpun tak akan pernah menginginkannya.


Tapi kegilaan itu tak wajar karena dokter tak mampu mendeteksi penyakitnya, bahkan rumah sakit tak bisa merawatnya. Dari sanalah semua tau jika penyakit gila itu berasal dari hal gaib.


"Sejak kapan Seruni sakit seperti itu, Kung? " tanya Angga setelah termenung beberapa saat.


Mbah kakung menghela nafas, "sejak hari pernikahanmu. Orang tuanya berkata begitu, "


"Jahat banget wanita itu, gila! Bisa-bisanya Angga terjebak sama wanita kayak gitu," umpat Angga dengan gigi bergemeletuk.


"Maafin Angga, Kung.. Angga bener-bener nggak tau, bagaimana semua itu bisa terjadi, " Angga meraih tangan mbah kakung dan menciumnya, matanya berkaca-kaca lagi setelah tadi tangisnya yang suara itu sempat terhenti.


"Itu bukan salah kamu, Ngga. Ujian dan cobaan bisa datang kapan saja, dan pada siapa saja. Juga bisa lewat hal apa saja, " jawab mbah kakung sembari mengelus punggung Angga.


Lelaki itu duduk di samping mbah kakung dan membungkuk menciumi tangan mbah kakung yang berada di pangkuan mbah kakung.


"Mungkin.. hal ini memang lah suatu ujian bagimu juga Seruni. Sebesar dan setulus apa kasih sayang kalian berdua. Jika kalian berdua memang berjodoh, kalian akan kembali bersatu setelah ini, dan hubungan kalian berdua akan lebih erat nantinya, "


Semua orang yang ada disana mendengarkan dengan seksama setiap kata yang dituturkan oleh mbah kakung. Tak terkecuali Andra dan Senja yang juga ikut merenungi hal itu.


"Kalau ujiannya seberat itu, bakal lebih langgeng gitu, Kung?" celetuk Senja yang sempat memikirkan ucapan terakhir kakek Harso.


Mbah kakung tertawa, "ujian setiap pasangan itu berbeda-beda, Nduk. Begitupun antara kamu sama Andra, pasti ada ujiannya sendiri, "


"Apa? Kita langsung dinikahin gitu aja sama eyang kok, terus sekarang saling suka, teruus... "


"Semua itu kau bicara, Nja. Nggak tau aja kamu jungkir baliknya Andra dul- emm.. emm.. "


Bayu yang merasa tak terima dengan ucapan Senja yang seenteng kapas langsung meluangkan protesnya, bermaksud ingin membeberkan bagaimana perjuangan seorang Andra dalam masa pencariannya dulu.


Namun dengan cepat Andra beranjak dan membekap mulut Bayu yang hampir menjadi seperti ember bocor.


"Jangan ember lu, Bay! " bisik Andra memperingatkan Bayu dengan geregetan.


"Mas Andra kenapa bekap Kak Bayu kayak gitu? Kasian tau. Itu Kak Bayu mau ngomong, bukannya di dengerin kok, "


Bayu melepaskan tangan Andra, hampir saja dirinya tersengal sangking eratnya bekapan Andra pada mulutnya.

__ADS_1


"Engap gue, Bos, "


"Sori, "


"Kalian ini kenapa to? Daritadi masih saja belum akur, kan sudah maaf-maafan to? " tegur eyang yang sudah jengah dengan kelakuan dua pemuda di depannya itu.


Sejak bertemu dan berada dalam satu mobil, Bayu terus menyindir Andra karena di tinggalkannya tanpa pamit. Lalu saat dirinya akan kembali ke Jogja dan Andra akan kembali ke Semarang juga dirinya tak di beritahu juga, makanya dari itu Bayu merasa kesal.


Andra yang cuek tentu saja tak menghiraukannya, dan malah mengabaikan Bayu dengan terus bercengkrama dengan istrinya juga eyang. Makanya, saat ada kesempatan untuk membeberkan sedikit rahasia Andra pada Senja, lelaki itu langsung menyerocos tanpa palang pintu.


Tapi takkan semudah itu karena Andra tak akan mengizinkannya sampai dimana waktunya Senja akan mengetahui dengan sendirinya bagaimana perjuangannya dulu, dan siapa dia sebenarnya.


"Lha wong kakaknya lagi sedih begini kok yo kalian itu masih bisa-bisanya berantem, " ucap mbah putri membuka suara.


"Maaf, Uti.. Eyang.. Akung.. Kak Angga.. Bang Angga.. " ucap Andra dan Bayu bersamaan sambil menganggukkan kepalanya kepada orang yang mereka sebutkan.


"Hm.. silahkan duduk lagi kalian!" perintah mbah kakung yang langsung dituruti oleh keduanya.


Jangan bayangkan wajah Angga yang sudah kecut dan kesal. Ingin mengumpat pada adik dan adik jadi-jadiannya itu, tapi masih ada kakek nenek mereka membuatnya mengurungkan niatnya tersebut, mungkin disimpannya dulu untuk nanti.


Senja yang masih sangat penasaran dengan apa yang akan Bayu sampaikan tadi, mencolek Andra yang sudah terduduk lagi di sampingnya.


"Maksud Kak Bayu tadi apa sih, Mas? Perjuangan Mas Andra gimana? Kok Adek gak ngerti ya? "


Percakapan serius antar orang-orang dewasa itu berlanjut hingga petang, dan pada waktunya mereka makan malam barulah mbah kakung mengajak semuanya untuk makan malam dahulu sebelum menarik kesimpulan.


Di meja ruang makan rumah mbah kakung yang lumayan besar itu sudah terhidang menu makanan yang menggugah selera bagi perut yang sudah keroncongan.


"Andra nanti aja makannya. Mau mandi dulu aja, gerah, " dengan cepat lelaki itu berbalik setelah pamit untuk mandi tanpa duduk terlebih dahulu, apalagi mencicipi hidangan yang tersaji.


Semua pasang mata yang ada mengikuti tubuh Andra yang dengan cepat kilat menghilang di sebalik tembok.


"Biar Senja susulin deh, silahkan dilanjutkan dulu makannya ya semuanya.. " Senja yang juga belum duduk langsung berbalik dan menyusul Andra ke kamarnya.


Semua orang yang berada di meja makan bergeming, berfikir sejenak apa yang membuat Andra langsung pamit begitu melihat pada meja makan yang masih berjarak tiga meter dari dirinya tadi.


"Oalah.. itu to, pantas saja cah bagos ku langsung balik kanan, " eyang berseru sambil menunjuk sebuah hidangan yang tampak menggoda bagi sebagian orang, tapi sangat mengerikan di mata Andra.


Mbah kakung dan mbah putri mengernyitkan kening, "belut balado? sambel belut? " ucap keduanya secara berbarengan.


"Iya, Kung. Bos Andra kan emang pobia sama hewan-hewan melata kayak gitu, " semua orang mengangguk-angguk faham.

__ADS_1


Sedang Bulik Asih merasa bersalah karena tak tau menahu, "waduuh, maafin saya, Ndoro.. Mbah Kakung, Mbah Putri.. saya ndak tau kalau Mas Andra takut sama belut. Duuh.. piye iki? "


"Ndak papa, Sih.. ada Senja yang bisa mengatasinya, kamu tenang saja! " Ucap eyang menenangkan.


"Iyo rapopo (iya, gak papa). Monggo-monggo, silahkan dimakan! Seadanya ya.. monggo, Jeng.. " ucap mbah putri mempersilahkan kesemuanya.


Sampai di kamar, Senja sudah tak mendapati suaminya, tapi ia mendengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi, yang berarti bahwa Andra tengah berasa di dalamnua. Senja memilih menunggu sembari menyiapkan pakaian ganti Andra yang sudah tertata rapi di lemari, pakaian yang semula dibawa dalam koper.


Kaus rajut lengan panjang bermotif dengan bawahan joget kolor menjadi pilihannya karena hari sudah sore dan mulai dingin, lagipun ia merasa tak akan ada acara ke mana-mana lagi, maka dipilihnyalah pakaian santai tersebut.


Tak berapa lama kemudian, Andra keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai bathrobe dengan keadaan yang sangat fresh, rambutnya masih basah dengan sisa air yang masih menetes.


Meski bukan satu dua kalinya lagi Senja melihat Andra dalam keadaan seperti itu, tapi tetap hatinya masih saja da dig dug ser tak karuan. Bagitupula dengan Andra sendiri, ia tak kalah malu dan salah tingkah tiap kali di tatap sangat istri sedemikian rupa.


"*Ya Allah.. kuatkan jantung hamba.. hati hamba.. anugerah-Mu sungguh luar biasa.."


"Kebaikan apa yang pernah kulakukan, hingga begitu baiknya Engkau memberikan hamba jodoh sesempurna Mas Andra untukku*, " monolog Senja dalam hati.


Ekspresi wajahnya yang selalu melongo tanpa sadar saat memandang keindahan sang pencipta yang menjadi pendamping hidupnya. Rasanya tak akan pernah bosan baginya memandang Andra setiap saat setiap waktu, bahkan setiap detiknya. Yang ada malah membuatnya semakin jatuh cinta saja.


Meski dengan salah tingkah, Andra mendekat pada Senja. Dengan pelan dan hati-hati di ambilnya pakaian ganti yang masih dalam dekapan Senja.


"E-eh.. iya, ini baju gantinya, Mas.. " Senja tergagap kaget saat menyadari Andra sudah berada di depannya.


"Iya.. makasih, Dek, " senyum manis menghias bibir Andra setelah berucap, hingga Senja klepek-klepek dibuatnya.


"Kok, Adek nggak ikut maem sekalian? "


"Hah? Eng-enggak, mau nunggu Mas Andra aja buat maem bareng. Masak suaminya belum maem, Adek suruh duluan, " jawab Senja mengalihkan perhatian agar debaran di dadanya sedikit mereda.


"Ya nggak papa, Mas nggak ngelarang kok,"


"Adek yang nggak mau, maunya bareng Mas Andra aja, "


"Hilih, gemesh banget si, "


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2