
Mbah putri sudah pergi dari halaman belakang begitu selesai mengobrol dengan Bayu tadi. Tinggallah Bayu termenung di tempat itu seorang diri. Bayu tersentak dari lamunannya kala mendengar suara ponselnya yang berdering. Di tatap nya layar benda pipih tersebut yang menampakkan nomor asing.
Ia merijek panggilan itu karena merasa tak kenal dengan nomor tersebut. Tapi nomor asing itu terus menelponnya tanpa henti. Akhirnya dengan terpaksa ia mengangkat juga panggilan tersebut.
"Halo, siapa sih ini? Ganggu banget, " serunya ketus pada si penelpon yang bahkan ia sendiri belum tau siapa itu.
"Halo, Pak? " Suara perempuan mendayu-dayu di seberang sana membuat keningnya mengernyit.
"Siapa ya? "
"Maaf, Pak. Saya Sinta, karyawan SA swalayan cabang Semarang Jl. SS, Pak. "
Bayu menaikkan kedua alisnya, "ada masalah apa? Bukannya biasanya Si Rian yang kasih laporan kalau ada masalah apa-apa disana, "
Pertanyaan sekaligus pernyataan itu terlontar begitu saja dari mulut Bayu yang sudah hafal di luar kepala nama-nama orang kepercayaannya di berbagai cabang SA Swalayan.
"Oh, ini bukan masalah di swalayan, Pak. Tapi masalah pribadi, "
"Masalah pribadi? " Bayu mengulang perkataan si penelpon, merasa heran dengan apa yang di ucapkan wanita tersebut.
"Perasaan gue nggak kenal ma ni cewek, bisa-bisanya bilang punya masalah pribadi sama gue. Mau prank atau modus ni orang, " curiga Bayu yang terucap di dalam hatinya.
"Maksudnya? "
"Em.. begini, Pak. Kemaren bapak saya yang Bapak titipin sepeda motor sama Bapak, pas Bapak main ke tempat Wisata Maerokoco," jelas wanita itu yang bernama Sinta itu.
"Titipin motor? Main ke Maerokoco?" gumam Bayu yang masih terdengar oleh Sinta.
"Iya, Pak. Kata Bapak saya, kemarin motor yang Bapak pakai itu kuncinya hilang tercebur di waduk, terus Bapak minta tolong Bapak saya buat bikinin duplikat kunci,"
Bayu mulai mencerna ucapan Sinta yang belibet dengan kata-kata 'bapak' itu, tapi ia tak berniat untuk mengoreksi.
"Terus?"
"Terus ini kunci duplikatnya udah jadi, kata Bapak saya disuruh menghubungi nomor telepon di kartu nama yang di kasih ke Bapak saya, tapi dialihkan ke nomor ini, dan ternyata ini nomernya Pak Bayu, " jelas Sinta sejelas-jelasnya karena takut akan terkena semburan Bayu lagi.
"Gitu ya? Dimana alamatnya?" Pada akhirnya Bayu mengalah juga, nanti ia akan menghubungi Android dan meminta penjelasan dari bosnya itu.
"Ada di parkiran swalayan cabang sini kok, Pak. Tadi udah dibawa kesini sama Bapak saya,"
"Oke, makasih buat informasinya, "
Tut
Bayu langsung mematikan panggilan itu tanpa menunggu jawaban dari Sinta. Tanpa peduli jika diseberang sana Sinta sedang menggerutu.
"Jutek amat yak Pak Bayu, perasaan pas liat waktu itu lagi ketawa lebar banget, aku kira orangnya asyik, ternyata serem ih, "
Entah karena kelamaan bergaul dengan Andra dan Angga, atau karena sekedar jual mahal, Bayu jadi ikut menjaga dirinya dari sembarangan wanita. Ia jadi terlalu berhati-hati kini, agar tak sampai mengalami hal sama seperti Angga.
"Ini sih ulah si bos pasti deh, pinter bener ye lu, bos. Udah pergi nggak bilang-bilang, motor kenapa-napa gak bilang, sekarang dimana juga nggak bilang. Hmm, mentang-mentang lagi honimunan ama istri aja gue di lupain,"
Gerutu Bayu pada ponsel yang di genggamnya.
"Telpon nggak ya? Kalau dia lagi nini nunu gimana dong? Ntar gue di omelin lagi kalau ganggu,"
"Tapi kalau nggak nelpon, gimana? Apa iya gue langsung ambil aja tanpa konfirmasi dulu? " monolog Bayu seorang diri.
Disaat Bayu sedang sibuk dengan fikiran nya, Bayu melintas di depannya hendak memberi makan ayam dan hewan peliharaan mbah kakung lainnya.
Melihat kelebat Rudi membuat lampu di atas kepala Bayu yang hampir redup menyala benderang seketika.
__ADS_1
"Aha.. gue punya ide! " Seru Bayu bernada ala anak TK.
Dengan sabar ia menunggu Rudi menyelesaikan pekerjaannya. Setengah jam berlalu membuatnya lumayan bosan, Bayu mendekati Rudi yang tengah memberi makan ikan hias di kolam. Memang begitulah pekerjaannya setiap hari selain bekerja di empang atau di kali sebagai pemandu wisata.
"Rud," panggil Bayu sambil menepuk pundak Rudi yang sedang berjongkok.
"Eh kodok loncat, " Rudi tersentak oleh tepukan Bayu yang sebenarnya tak keras, tapi karena dirinya yang sedang melamun membuatnya kaget setengah mati.
Bayu tertawa terbahak melihat ekspresi latah Rudi, apalagi ditambah Rudi yang refleks berdiri namun kakinya terpeleset dan otomatis membuat lelaki bertubuh tambun itu ikut berenang di kolam ikan hias. Semakin keras saja tawa Bayu, seperti mendapat mainan baru.
"Waduuh, ikan kuu... " seru mbah kakung yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Waduh!" Seru Bayu dan Rudi bersamaan karena mendadak panik.
Bayu segera menarik tangan Rudi yang melambai meminta bantuan untuk berdiri. Tapi karena tubuh keduanya yang berbeda ukuran membuat Bayu oleng dan malah ikut nyebur ke kolam. Semakin hebohlah teriakan mbah kakung.
"Kalian ini mau membunuh ikan-ikanku, heh?! "
Kedua orang itu dengan cepat berusaha bangkit dari kolam sebelum ikan-ikan peliharaan mbah kakung benar-benar mati.
"Walah, ucil, icil, ucul, ucal.. bangun le, jangan pingsan, " mbah kakung meratapi ikannya yang tampak berenang oleng, mungkin memang pingsan karena tertimpa Bayu dan Rudi.
Bayu menoleh menatap Rudi, ia bertanya lewat isyarat kepala.
"Nama ikan-ikan nya mbah kakung," jawab Rudi tanpa suara.
"Oo.. " Bayu memonyongkan mulutnya.
"loh-loh, apaan nih gerak-gerak di punggung gue, " Bayu melenggak lenggok merasakan kegelian pada punggungnya.
Rudi membantunya menyingkap kaus bagian belakang yang dipakai Bayu, matanya melebar seketika. Mbah kakung yang ikut memperhatikan hal tersebut secara otomatis memekik.
"Uceel... kesayangan kuu.. " Bayu dan Rudi meringis, mendengar teriakan mbah kakung yang histeris.
"Ucel ku, Uti, " ratap mbah kakung menggenggam satu ekor ikan hias di tangan kanannya.
Bukannya simpati, mbah putri justru terbahak.
"Sukurin! Siapa suruh koleksi ikan terus, apalagi di taruh di kolam seperti itu, harusnya di akuarium, "
"Kasian kalau di akuarium nggak bebas, Uti, "
"Ya, dan sekarang ikan itu sudah sangat bebas berenang di kolam istana syurga, hahahaha, " balas mbah putri yang kembali tertawa kencang.
Rudi dan Bayu ingin ikut tertawa, namun takut kena omel mbah kakung, alhasil mereka berdua hanya melipat kedua bibir menahan tawa tersebut.
"Akung nggak mau tau, pokonya kalian harus ganti ikan Akung! Dan yang persis seperti ini, " tegas mbah kakung, ia meraih tangan Bayu dan meletakkan ikan bernama ucel yang sudah tak berdaya itu.
Gleg
Rudi menelan ludah dengan susah payah, membayangkan harga ikan itu saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling, apalagi harus sama persis dengan kepunyaan mbah kakung yang mati.
"Iya, Kung. Kita mandi sama ganti baju dulu tapi.. ntar kalau udah juga Bayu cariin, eh gantiin maksudnya, "
"Bagus, Akung tunggu. Huh! " Akung berjalan melewati Bayu dengan melengos sebal.
"Nambah kerjaan lagi aja," gumam Bayu.
"Gimana nih, Mas Bayu? "
"Apanya?"
__ADS_1
"Ikannya mbah kakung tuh mahal banget tau, itu satu aja yang mati harganya udah jutaan, "
"Lo mau ganti? "
"Mana saya punya uang sebanyak itu, Mas. Apalagi kalau harus ganti semua, " balas Rudi memelas.
"Yaudah gini aja, lo gue kasih tugas. Kalau semua tugas lo udah beres, gue yang bakalan gantiin semua ikan Akung, gimana? "
Rudi berfikir sebentar sebelum menyetujui ide Bayu, "yaudah deh, iya. Daripada saya yang harus gantiin. Kan uang saya mau saya tabung buat modal nikah, "
"Modal nikah. Kayak punya calon aja lu! " ledek Bayu.
"Yee.. Mas Bayu ngremehin saya nih? "
"Lah, emang lu punya?"
Rudi merenges memamerkan giginya, "belom, "
"Yee.. sok-sokan aja lo, banyak gaya! "
"Tapikan ucapan itu doa, Mas. Biar ucapan saya jadi kenyataan dong, "
"Iya'in ajalah daripada lama, "
"Emang harusnya gitu, " sahut Rudi.
"He'em. Sekarang masih mau debat atau lakuin tugas lo nih? "
"Tugas saya, Mas, "
"Nah.. tugas lo yang pertama, "
"Berarti ada yang kedua nih? "
"Itu, kita mesti gantiin ikannya Akung, berapa emang? "
"Ada beberapa sih, Mas, " jawab Rudi setelah melongok pada kolam.
"Makanya, lo pikir gampang cari duit jutaan? Enak aja mau satu tugas doang langsung dapet, gue aja musti prihatin dulu, "
"emang iya, Mas? Bukannya kerjaan Mas Bayu enak ya? Di ajakin jalan-jalan terus sama Mas Andra, "
"Enak-enak gak enak lah, namanya juga orang kerja. Weh, malah bahas kerjaan gue lagi, lanjut bahas tugas lo! " Rudi mengangguk dan diam mendengarkan.
Bayu mengutarakan maksudnya untuk meminta Rudi mengambil motor mbah Putri yang di gunakan oleh Andra kemarin dan di tinggal di Jl. SS Semarang.
Untuk tugas selanjutnya, Asisten sejuta ide itu akan menghubungi Rudi lewat ponsel setelah tugas yang pertama selesai. Tujuannya supaya Rudi tidak protes di awal sebelum tugas utamanya terselesaikan.
"Lo udah ngerti kan? " Tanya Bayu di akhir penjelasannya yang langsung di angguki Rudi.
"Yaudah, laksanakan, "
"Siap, laksanakan, " Rudi berhormat layaknya tentara sedang bertugas.
Bayu tersenyum menatap punggung Rudi yang menjauh, "tugas remeh kek gitu gak perlu gue yang harus turun tangan langsung kan? Sekarang gue mau lakuin tugas gue yang sesungguhnya, "
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Babang Bayu emang bener-bener dah ah😂