Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Cerita Rudi


__ADS_3

"Asem banget tuh cewek! Cantik-cantik, gila." Bayu mengerutu sepanjang jalan yang dilaluinya.


Hingga ia merasa seseorang menarik lengannya dari arah semak-semak kembali membuatnya terperanjat kaget.


"Woy woy woy, lepas woy!" Bayu berteriak tanpa melihat siapa orang yang menariknya, di pikirannya masih saja terbayang Srruni dangan ular-ularnya yang kembali membuatnya bergidik ngeri.


"Sssssst, Mas Bayu jangan kenceng-kenceng! Nanti tuh cewek denger kan bahaya!" Desis Rudi.


"Elo, Rud. Gue kirain tuh cewek gila jadi-jadian,"


"Bukan gila jadi-jadian, Mas. Tapi gila beneran,"


"Iya, gue tau," semprot Bayu kesal. "Enak aja lo main ninggal-ninggal gue, kan ngeri kalau di templokin anak-anaknya, hiii," Bayu kembali bergidik.


"Saya juga gak mau, Mas. Makanya saya lari duluan, siapa suruh juga Mas Bayu nggak mau demgerin saya tadi," bela Rudi tak mau disalahkan.


Bayu mengintip dari celah semak-semak, "ada jalan lain gak sih buat pergi dari sini tanpa ketauan Seruni?"


"Ada, Mas. Ayo ikutin saya! Pelan-pelan,"


Keduanya berjalan mengendap-endap seperti maling ayam. Tiba-tiba Bayu menginjak ranting kering di samping kandang ayam, hal itu sontak membuat induk ayam yang sedang mengeram teriak-teriak dengan nyaringnya.


Kok kok petok, kok kok petok


Padahal kalau sudah satu induk ayam berbunyi seperti itu, biasanya para ayam yang lain akan langsung ikut bernyanyi dengan merdunya.


Dari dalam rumah si pemilik ayam, keluar seorang ibu-ibu berdaster membawa sapu. Berbarengan dengan Seruni yang mengetahui keberadaan kedua lelaki yang dicarinya.


"Mam-pus kita," pekik tertahan kedua pria itu.


Tanpa pikir-pikir lagi keduanya berlari secepat kemampuan mereka. Ibu-ibu berdaster melihat kelebat keduanya menjadi panik sekaligus curiga.


Saat akan berteriak maling, ia melihat ada Seruni yang berlari kecil membawa sekawanan peliharaannya, ibu itupun mengurungkan niatnya berteriak dan memilih kembali masuk dan langsung menutup pintunya rapat-rapat.


Bayu dan Rudi yang berlari tanpa membawa apa-apa sedangkan Seruni membawa segerombolan ular besar, membuatnya kewalahan dan berhenti. Kedua lelaki itu baru bisa bernafas lega.


"Gimana ceritanya sih itu cewek bisa gila? Padahal cantik lho," Bayu bertanya setelah menetralisir nafasnya yang ngos-ngosan.


"Emm.. ceritanya panjang. Mau cerita juga nggak enak, tapi-"


Bayu mengikuti arah pandang Rudi, "wah, beneran ada tulang rusuk disini? Bilang aja lo laper, ayok!" Dirangkulnya bahu lebar Rudi menuju warung makan olahan daging iga & rusuk sapi.


"Tulang rusuk sapi tapi, Mas. Bukan tulang rusuk calon makmum mu," ucap Rudi tertawa.


Setelah masuk ke dalam warung makan, keduanya memesan menu kesukaan masing-masing dan mencari tempat duduk.

__ADS_1


Rumah makan yang dibangun di area persawahan yang memang menjadi obyek wisata itu memiliki gazebo-gazebo kecil yang terpisah-pisah, sehingga menciptakan privasi untuk pengunjung yang hanya ingin bersama dengan kawan ataupun pasangannya tanpa berbaur dengan lengunjung lainnya.


"Bagus juga pemandangan disini, keasriannya terjaga dna udaranya sangat segar,"


"Iya dong, Mas. Siapa dulu pelopornya,"


"Siapa? Kamu?"


"Yo jelas bukan no," jawab Rudi dengan tertawa.


Bayu melengos, "gaje banget lo,"


"Gaje itu ap-"


"Udah nggak usah nanya! Cepetan ceritain soal tadi sambil nunggu pesenan dateng,"


"Oke. Ceritanya itu.. Tapi Mas Bayu jangan gimana-gimana ya?"


"Emang gue harus gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana juga, sih,"


"Ealah.. yang jelas dong, Rud! Daritadi muter-muter mulu lo!"


"Sabar, Mas. Masih haus saya," Rudi kembali menyedot minumannya hingga habis. Padahal makanannya saja belum terlihat akan segera datang.


"Dulu.."


Rudi memulai ceritanya pada beberapa tahun silam.


Seorang lelaki tinggi berwajah tegas datang berkunjung ke desa tersebut untuk mengunjungi tempat tinggal kakek dan neneknya. Itu juga karena ia terus di desak oleh kedua orang tua dari ibunya itu untuk mengunjungi mereka karena sudah sangat merindukannya.


Memang ia menyadari sudah lama ia tak kesana, bahkan saat hari raya. Kini setelah ia selesai dengan pendidikannya, ia memutuskan untuk singgah sebentar di desa itu sebelum nanti berpindah ke kota untuk menjalankan perusahaannya.


"Angga, cucu tertuaku," Mbah Harso Kakung dan putri memeluk cucunya yang telah lama tak dilihatnya.


"Angga kangen sama Akung, sama Uti.." ucap Angga balas memeluk kedua orang tua itu.


Ya, dia Angga kakak kandung dari Andra. Yang tentunya juga merupakan cucu dari Mbah Harso, sesepuh desa itu. Meskipun belum terlalu sepuh, tapi berdasarkan keturunan, keluarga mereka adalah yang di sepuhkan disana.


Plak


Mendengar kata kangen terlontar dari mulut Angga membuat tangan mbah kakung terasa gatal.


"Ngomong kangen, datang aja nggak pernah! Sampe lebaran kemarin saja kamu sibuk dengan urusanmu sendiri!"

__ADS_1


Angga meringis mengusap bahunya, "maaf, Mbah. Namanya juga anak muda, biar Angga menikmati kebebasan Angga dong sebelum terikat sama yang namanya, istri," bisik Amgga di akhir kalimatnya yang menyebut kata 'istri'.


"Sudah dewasa kamu, Nak. Tau-tau sudah mau cati istri saja,"


"Ya siapa tau ketemu cewek disini, Kung. Nanti bisa menetap disini dan hidup bahagia bersama Akung dan Uti," Angga kembali merangkul kakek dan neneknya sembari menuntun keduanya kedalam rumah.


Singkat cerita, Angga yang berniat tinggal disana untuk beberapa waktu. Turut ikut dengan kegiatan sang kakek ini dan itu, kesana dan kemari hingga suatu saat ia bertemu dengan seorang gadis desa yang cantik jelita.


Gadis yang memiliki tutur kata lembut, tingkah laku yang gemulai mampu menghipnotis Angga yang kaku terhadap wanita. Sang kakek yang mengerti akan gerak gerik cucunya, ikut mendukung dengan lebih mendekatkan keduanya dengan cara sesering mungkin mengajak keduanya untuk terlibat dalam kegiatan yang sama.


"Seruni, apa kamu mau menjadi kekasihku?" Bahasa apa yang digunakan lelaki itu, sangat kaku. Tapi tak apalah, karena baru pertama kalinya Angga mendekati wanita.


Seruni adalah gadis yang pintar, cantik, bertubuh ramping nan tinggi. Ia merupakan kembang desa di desa tersebut. Ia juga mengenyam pendidikan tinggi seperti Angga. Disaat teman-temannya yang lain sudah menikah dan memiliki anak, Seruni masih sibuk dengan pendidikan dan karirnya.


Gadis itu resmi menjadi kekasih Angga setelah menerima pernyataan dari lelaki itu. Hubungan mereka yang sehat diketahui oleh kakek dan nenek Angga dan juga kedua orang tua Seruni yang mendukung mereka.


Tapi seiring berjalannya waktu, Angga yang sudah memulai menjalankan perusahaannya menjadi lebih sibuk dan jarang berkunjung ke desa. Seruni sebagai gadis yang baik dan pengertian, tentu saja mengerti akan hal itu dan tak mempermasalahkannya.


Dua tahun menjalin hubungan dengan LDR, tak membuat keduanya merasa bosan, hingga suatu ketika terdengar kabar jika Angga memiliki kekasih lain dan secara perlahan menjauhi Seruni.


Suatu hari Angga datang dengan seorang wanita dengan penampilan yang sangat seksi serta riasan yang mencolok, meminta restu kepada kakek dan neneknya untuk menikah. Mbah Harso yang tak tau menahu pun kaget, pasalnya mereka tak pernah mendengar adanya permasalahan yang berarti antara cucunya dan Seruni, tapi tiba-tiba meminta izin menikah dengan gadis lain.


Raut kecewa tak dapat mereka sembunyikan membuat wajah sang gadis menekuk muka, "sial! Aku harus mengurus mereka juga alih-alih hanya Angga,"


Seruni yang datang membawa laporan tentang usaha Mbah Harso pun tak kalah terkejutnya, air matanya luruh begitu saja melihat kenyataan pahit di depan matanya. Namun anehnya, tak ada sedikitpun rasa iba dari Angga. Lelaki itu tampak hanya diam tak bereaksi apa-apa.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu, Mas? Kenapa kamu tiba-tiba berubah? Apakah ini wajar?"


Melihat gelagat Seruni, membuat gadis seksi yang bersama Angga memicingkan mata, "jadi ini gadis itu? Kuberi sedikit pelajaran tak apalah, biar dia nggak menjadi pengganggu dalam hubungan kami nantinya,"


Sejak saat itu, tepatnya sejak hari pernikahan Angga, Seruni secara perlahan-lahan menjadi bersikap aneh dan lama-lama seperti orang gila hingga saat ini.


Rudi mengakhiri ceritanya sampai disana, "setau saya sih begitu, Mas. Untuk lebih jelasnya lagi, Mas Bayu bisa tanya sama orangnya langsung. Sekarang saya mau makan,"


Bayu hanya mengangguk, ia masih tak habis fikir dengan cerita yang baru saja do dengarnya. Karena ia merasa sudah lama nerada di keluarga itu, tapi kenapa ia baru tau hal tersebut sekarang?


Mungkin itu karena ia hanya sibuk dan fokus dengan Andra, atau memang karena Angga pintar menyembunyikan hal itu.


Lelaki itu mengendikan bahunya, lalu memilih unyuk mengisi kekuatannya lebih dulu. Setelah itu baru memikirkan hal lain.


Iga bakar yang masih mengepulkan asapnya membangkitkan selera makan Bayu seketika. Sejenak ia lupa pada Andra ataupun kisah Angga dan Seruni yang baru saja di dengarnya. Ia menikmati sarapannya yang tak biasa itu ditemani Rudi yang sudah lebih dulu lahab menikmati hidangan di hadapannya.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2