Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Hasutan Reya Tak Mempan


__ADS_3

"Lanjut ke topik yang tadi, " ucap Reya setelah meletakkan teh yang baru saja disesapnya tadi keatas tatakan di meja.


"Silahkan, " Senja terus mengatur nafas agar tetap tenang.


"Gue sama Andra itu dulu deket banget di kampus, " Reya membuka obrolan dan Senja mendengarkan.


"Kita sering belajar bareng, ngerjain tugas bareng, lunch bareng, seru-seruan bareng di kampus, " ucap Reya sembari matanya melirik-lirik Senja, memperhatikan raut wajah wanita di hadapannya itu.


"Saking deketnya, dia itu sering ngerjain tugas gue kalau pas gue sakit atau kerepotan ngerjain. Dia itu pokoknya best banget deh, " cerita Reya dengan wajah penuh kebahagiaan dan mata yang berbinar.


"Terus apa hubungannya sama aku? Itu kan udah jaman kuliah dulu, " batin Senja.


"Dan kita juga sempet PDKT an gitu... kita sering chating an, berbagi stiker dan kata-kata manis. Uunch, so sweet nya waktu itu, " senyum Reya merekah dan wajahnya bersemu merah saat mengatakan hal itu.


Senja mengedip-ngedipkan mata, bukan karena dia sedih dan ingin menangis. Tapi ia merasa wanita dihadapannya itu aneh, kenapa tiba-tiba datang dan mengatakan hal yang menurutnya tidak penting untuk ia ketahui saat ini.


Jika pun semua itu memang benar, bukankah semua orang memang punya masa lalu? Dan untuk apa diungkit-ungkit lagi? Begitu fikirnya.


"Tapi sayangnya, gue malah harus pindah ke luar negri waktu itu. Coba aja kalau enggak. Pasti gue yang saat ini jadi istrinya Andra, bukannya elo! " Reya menunjuk Senja dengan jaringan telunjuknya, nada bicaranya pun mendadak berubah ketus.


"Cewek udik, kampungan, katrok, dan iyukh.. jelek kayak lo! " Reya menunjuk-nunjuk Senja dengan raut wajah jijik seperti orang yang akan muntah.


Senja menghela nafas dan menghembuskan nya dengan kasar. Sedari tadi dia sudah mencoba tenang dan bersabar dengan segala sikap dan ucapan Reya, tapi lama kelamaan perkataan wanita itu malah semakin keterlaluan.


Senja meremas bantal sofa, ingin ia melemparkannya ke wajah tamunya itu saat ini juga. Tapi status Reya adalah tamunya, sebisa mungkin Senja masih mengendalikan emosinya.


"Terus masalahnya buat Anda apa ya, kalau memang saya yang dipilih sama Mas Andra? " tanya Senja.


"Jelas itu masalah banget buat gue, gue nggak rela banget dikalahin sama cewek modelan elo! " Reya memindai penampilan Senja dari atas sampai bawah.


Wajah dengan make up natural Senja yang dibalut hijab pastan, baju kemeja berwarna navy yang tadi senada dengan kemeja yang dikenakan Andra. Lalu bawahan celana boy friend dengan warna senada dan sepatu sneaker berwarna putih yang juga merupakan sepatu couple dengan milik Andra.

__ADS_1


Sebenarnya penampilan Senja tidaklah katrok atau buruk seperti yang Reya katakan, bahkan pakaian yang dikenakan Senja saat ini merupakan pakaian bermerek yang dibeli Bayu saat berada di Australia waktu honeymoon beberapa waktu lalu atas perintah Andra. Andra menyuruh Bayu untuk menyiapkan segala sesuatu yang couple untuk dirinya dan Senja.


Dan Reya pun sebenarnya tau jika segala yang melekat pada tubuh Senja saat ini adalah barang-barang branded, bahkan ada yang limited edition seperti jam tangan dan sepatu sneakers yang dipakai Senja. Hanya saja wanita itu tidak mau mengakui dan malah mencari-cari celah keburukan yang ada pada Senja yang bisa ia jadikan senjata untuk menjelek-jelekkan Senja saja.


"Terus Anda mau apa? Walau Anda tidak rela, tidak sudi pun tidak akan berpengaruh apa-apa pada hubungan kami yang sudah dah dimata hukum dan agama, " lama kelamaan stok kesabaran Senja menipis juga, hingga nada bicaranya mulai naik satu oktaf.


Dari kejauhan tempatnya mengintip, Lala nampak mulai khawatir.


"Waduh! Kayaknya mulai memanas deh situasinya, sampai-sampai Mbak Senja yang daritadi diam dan anteng mulai nge-gas gitu bicaranya, " gumam Lala.


"La, dedek bayinya nangis. Dia kenapa ya, padahal udah aku kasih susu, sekarang lagi di gendong sama Rina, coba buat ditenangin, " Rani tiba-tiba saja datang dan mengagetkan Lala yang sedang menjadi mata-mata.


"Kenapa mesti ikut rewel pas lagi kayak gini sih si dedek bayi, " ucap Lala panik.


"Memangnya ada masalah apa, La? " tanya Rani.


"Pokoknya lagi genting, kamu sama Rina coba tenangin dulu deh si dedek bayi gimanapun caranya. Aku mau bantuin Mbak Bos dulu. Kita kerjasama, oke? " Rani pun terpaksa mengangguk meski ia tak tau apa yang tengah Lala dan Senja hadapi.


"Gimana, Ran?" tanya Rina.


Rani menggeleng, "Bu Bos lagi ada masalh kata Si Lala. Kita di suruh nenangin bayi ini bagaimanapun caranya.


" Lah, gimana caranya, Ran? Daritadi aku gendong belum diem juga, aku kasih susu juga nggak mau. Bingung aku, mana ngerti masalah bayi, aku kan belum punya anak. Nikah aja belum, " ucap Rina seraya sibuk menimang-nimang dedek bayi.


"Lah, kita kan sama-sama jomblo, Ran. Jadi aku juga nggak tau. Bentar aku tanya Mbak Gugel aja deh, " Rani mengoperasikan ponselnya dan mengetik sesuatu disana.


Lalu muncullah berbagai macam tulisan dan foto disana.


"Nyusu, udah,"


"Di gendong udah, "

__ADS_1


"Di ayun, udah, "


"Apa mungkin dia gerah? Coba lepas bajunya apa? " tanya Rani menatap Rina.


"Eh, disini kan pake AC, Ran. Nanti kalau dia masuk angin gimana? kasian, "


"Atau ini, mungkin pokoknya minta di ganti. Coba cek, Rin, " Rina mengangguk, gadis itu meletakkan dedek bayi di sofa yang sudah di alasi kasur bayi yang kecil yang tadi di tenteng oleh Bayu.


Rina perlahan membuka celana bayi itu lalu mengecek pempers nya.


"Yah.. dia pup, Ran, " seru Rina yang membuat bayi Lukman kembali menangis kencang karena kaget.


"Jangan kenceng-kenceng teriaknya, Rin! Kan dia jadi kaget," tegur Rani.


"Cup-cup, Sayang.. Onty Rina ngagetin kamu ya, maaf ya.. sini sama Onty Rani aja, biar Onty bakar jadi babysitter yang baik, " Rani mendekat dan mencoba mengganti popok bayi itu.


"Onty? "


"Iya, biasanya orang-orang kaya manggilnya gitu, " jawab Rani sembari terkekeh. Karena ia hanya dipanggil dengan sebutan bulik oleh keponakan nya.


"Oh gitu, kayak di sinetron di tivi gitu ya, Ran? " tanya Rina yang hanya dijawab anggukan oleh Rani, karena gadis itu sedang berkonsentrasi memperhatikan video youtube tentang cara mengganti popok bayi dan menyeboki bayi.


Kembali pada Lala yang masih mondar mandir.


"Apa aku hubungi Pak Bayu aja ya? Sepertinya aku memang harus memberitahu Pak Bayu dan Pak Andra, jangan sampai terjadi pertumpahan darah antara Mbah Lampir dan Mbak Senja, " gumam Lala melebay.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2