
Oprasi Caesar yang tengah dijalani Ningsih berjalan lancar, dokter tengah membereskan semua alat-alat yang semula di pakai dalam operasi tersebut.
Ningsih masih sempat tersenyum dan bilang ingin bertemu dengan putranya. Lukman menggendong bayinya dan mendekatkan bayi yang masih merah tersebut pada Ningsih.
"Anak kita, Ma.. Laki-laki, " ucap Lukman lirih dengan senyum menghias di bibirnya.
"Ganteng Pa, kayak kamu, "
"Terimakasih telah berjuang demi anak kita, sayang.. " Ningsih mengangguk dan memejamkan matanya saat Lukman mendaratkam ciuman di keningnya untuk kesekian kalinya.
Tadi begitu mendengar suara tangisan si bayi, Lukman reflek menghadiahi ciuman di seluruh wajah sangat istri, untuk meluapkan rasa bahagianya, rasa terimakasih nya, serta mengisi kembali energi sang istri yang sempat terkuras.
Alunan Adzan Lukman gema kan pada telinga kanan bayinya yang terlelap, lalu disusul iqamah pada telinga kiri putranya itu. Senyum disertai air mata haru terbit di wajah Ningsih yang tampak lelah.
Di tengah keharuan itu, ada seorang dokter yang memanggil Lukman. Lelaki itu pamit pada istrinya dan menyerahkan bayinya pada suster.
Rupanya dokter tersebut ingin membicarakan soal Bu Muti yang merupakan ibu mertuanya. Tadi pada jam pemeriksaan, dokter beserta suster yang bertugas memeriksa keadaan suami istri korban pembegalan itu, di kejutkan oleh keadaan Bu Muti yang sangat memprihatinkan.
Bu Muti sudah berada di lantai dengan kondisi tenggkurap, semua peralatan yang menempel di seluruh tubuhnya terlepas begitu saja, seperti ventilator, selang infus yang juga terlepas dengan meninggalkan luka pada kulit yang semula terpasang jarum tersebut hingga menyemburkan darah.
Terlebih saat dokter dan suster tersebut hendak membantu membalikkan badan Bu Muti dan berniat menaikkan ke atas ranjang lagi, tubuh bagian depan Bu Muti sudah di penuhi dengan darah yang keluar dari bekas luka-luka yang sudah di operasi dan terbuka kembali.
"Kemungkinan itu di sebabkan karena terjatuh nya beliau dari atas ranjang, Pak. Jadi kami harus segera mengambil tindakan operasi sesegera mungkin, Pak, " ucap dokter itu menerangkan.
"Lakukan yang terbaik untuk ibu mertua saya, Dok, " jawab Lukman mantap.
"Tapi.. Anda sudah diberi tahu kan apa resiko dari operasi kali ini? "
Lukman mengernyit, "maksudnya, Dok?"
__ADS_1
"Begini, Pak, pada awalnya kami tim dokter memang sudah sepakat untuk mengoperasi kembali Bu Muti ketika beliau sudah sadar, namun tadi saat beliau sadarkan diri tidak ada yang mengetahuinya," Dokter Fadli menjeda ucapannya dan membenarkan letak kaca matanya.
"Dan kami malah sudah menemukan beliau dalam keadaan terjatuh dari tempat tidur yang memiliki tinggi yang sangat lumayan untuk pasien dengan luka serius seperti Bu Muti ini, jadi keadaannya saat ini sangat tidak baik-baik saja. Bahkan bisa di bilang kritis, " ucap Dokter Fadli hati-hati.
Lukman termenung mendengar penjabaran dari sang dokter. Ia merasa kebahagiaan yang baru saja ia rasakan menguap seketika mendengar penjelasan dari Dokter Fadli.
Melihat Lukman termenung dan diam saja, Dokter Fadli melanjutkan apa yang hendak ia sampaikan.
"Operasi ini sangat beresiko, Pak Lukman. Namun hanya itu usaha kami satu-satunya yang masih memiliki harapan meski hanya beberapa persen saja. Tidak mungkin kan kita diam saja melihat keadaan beliau yang seperti itu? "
"Berapa persen harapannya selamat, Dok? "
"Mungkin, lima puluh persen. Tergantung kondisi pasien saat berlangsungnya operasi, dan juga harapan semangat hidup beliau, "
"Li-ma puluh persen, Dok? " tanya Lukman terbata mengulang ucapan sangat dokter.
"Baik, Dok. Izinkan saya sholat sebentar dan meminta petunjuk pda Sang Khaliq, "
"Itu lebih bagus, Pak. Semoga Anda mendapat petunjuk yang tepat, "
Lukman pamit dan keluar dari ruangan Dokter Fadli dengan lunglai, seluruh tubuhnya terasa lemah seperti tak bertulang. Pundaknya seperti menahan beban dengan berat ber ton-ton.
Bagaimana ia bisa menyampaikan hal tersebut pada sang istri yang juga tengah lemah usai menjalani operasi. Sedangkan ayah mertuanya juga tengah berbaring tak berdaya, bahkan belum juga tersadar hingga kini. Hanya dirinya seorang yang kini bertanggung jawab sebagai wali bagi ketiga pasien itu, yang merupakan istri sekeluarganya.
Lukman menuju mushola rumah sakit dan segera mengambil wudhu untuk melaksanakan hajatnya tadi. Ia akan meminta pada siang pencipta alam raya, pencipta takdir manusia. Agar ia tak salah dalam membuat keputusan yang mungkin akan membuatnya menyesal di kemudian hari.
Lelaki muda itu melaksanakan ibadah dengan khusyuk, matanya terpejam kla memanjatkan doa dengan tangan menengadah. Sekelebat bayangan pria paruh baya muncul di antara doanya.
"Pak Sapto? Benar, Pak Sapto kan adiknya Ibu, "
__ADS_1
"Alhamdulillahhi robbil 'alamin, " Lukman mengusapkan kedua tangan pada wajahnya.
Sedikit senyum lega terpancar, bagaimana bisa ia lupa jika sang ibu mertua masih memiliki saudara, pikirnya. Ia segera mencari keberadaan adik dari ibu mertuanya itu untuk diajaknya berembug.
Keluar dari mushola senyumnya kian melebar kala mendapati orang yang akan ditemuinya sudah berada di depan mata. Pak Sapto dan Bu Retno juga baru saja selesai menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.
"Paklik, Bulik.. bisa kita bicara sebentar? Mari.. " sapa Lukman seraya mengajak kedua paruh baya tersebut menuju taman yang ada di samping mushola.
"Ada apa, Lukman? Sepertinya serius sekali? " Tanya Pak Sapto yang menangkap kekhawatiran di wajah pemuda itu.
Meskipun wajah Lukman tersenyum namun tak sepenuhnya dapat menyembunyikan rasa khawatirnya yang mendalam pada kondisi sang ibu mertua.
"Begini, Paklik.. Bulik.. " Lukman menceritakan apa yang tadi di sampaikan oleh Dokter Fadli padanya tanpa terlewat sedikitpun.
Raut terkejut dan khawatir segera timbul pada wajah kedua orang tua Senja itu. Lantas tanpa pikir panjang lagi, Pak Sapto segera menyetujui tindakan yang akan tim dokter lakukan pada kakaknya. Siap tak siap ia harus tetap siap menanggung segala kemungkinan yang akan menimpa pada Bu Muti, kakak satu-satunya itu.
"Kita hanya bisa berdo'a dan berusaha, selebihnya kita pasrahkan pada Sang Pencipta. Karena segala sesuatu yang hidup, pasti akan kembali kepada-Nya, "
Bu Retno dan Lukman mengangguk mendengar penuturan Pak Sapto.
Dengan mengucap basmalah Pak Sapto mantap menandatangani berkas persetujuan operasi terhadap Bu Muti karena keadaannya sudah sangat kritis, sedangkan Pak Minto selaku suaminya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan segera sadarkan diri. Lagipula pria itu juga merupakan pasien yang masih harus di tanggungjawabi oleh orang lain selama dirawat disana.
.
.
Maafkan partnya yang melompat, karena part Angga harus dengan konsentrasi penuh. Sedangkan saia sedang kurang fit, semoga segera fit dan melanjutkan part Angga ya..
Terima kasih sudah bersedia mampir disini🙏
__ADS_1