Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Rumah Mbah Putri, Andra?


__ADS_3

"Auuwwss.. sakit Bos!" ringis Bayu mengelus keningnya yang baru saja mendapat sentilan dari Andra.


"Sembarangan kalo ngomong sih," gumam Andra yang masih terdengar di telinga Bayu.


Di seberang meja ada Senja yang sudah salah tingkah mendengar komentar asal Bayu tadi.


Keheningan mengisi beberapa saat sebelum Rudi kembali. Setelahnya mereka berempat menaiki perahu karet yang memang disediakan bagi para pengunjung di tempat tersebut.


"Selfi yuk, Mas!" ajak Senja kepada sang suami, sekaligus membuyarkan lamunan pria itu.


"Ah iya, ayok."


Mengitari kolam pemancingan sambil berselfi ria, memancing, bahkan menjaring udang-udang yang banyak menempel pada dinding kolam pemancingan tersebut sudah di lakukan oleh Senja, Andra dan lainnya. Hari sudah semakin siang, Andra segera mengajak sang istri untuk meninggalkan tempat tersebut.


Tak lupa, sebelum menuju ke kediaman sang nenek, mereka menyempatkan diri mampir ke SA swalayan salah satu cabang yang berada di Semarang. Senja dengan antusias mengambil troli dan segera mencari apa yang sekiranya pantas untuk dijadikan oleh-oleh untuk kakek nenek sang suami. Bagaimanapun juga ini adalah kali pertamanya berkunjung ke kediaman nenek Andra yang dari pihak ibu, begitu pikirnya.


Andra, Bayu dan Rudi mengikuti dari belakang, tapi mereka berhenti saat ada yang menyeru memanggil nama Andra.


"Andra? Bener kan, Andra?" tanya orang tersebut memastikan.


Seorang lelaki yang memakai seragam bertuliskan SA swalayan itu tersenyum sumringah menatap orang di depannya yang tampak resah.


"Iya, Gas. Ini Andra, teman kita dulu, cucunya Mbah Putri lho," jawab Rudi mewakili Andra.


Andra tersenyum sambil kepalanya celingukan, seperti ada sesuatu yang di khawatirkannya. Bayu yang melihat gelagat aneh dari sahabat sekaligus bosnya itu menyenggol pundak Andra dan menatapnya dengan tatapan heran seakan ia bertanya, 'kenapa'.


"Lho, Pak Bayu? Ada yang bisa kami bantu, Pak? Ada perlu atau sekedar mampir kemari?" Bagas beralih pada Bayu yang masih sibuk memperhatikan gelagat aneh Andra.


Seperti swalayan yang lainnya, karyawan yang di percaya mengelola atau yang memiliki jabatan khusus di swalayan tersebut tahu jika Bayu adalah pemimpin dari tempatnya bekerja. Meskipun Bayu tak pernah mengatakan hal itu, tapi mereka tetap menganggap Bayu memiliki andil besar di pusat perbelanjaan yang sudah terkenal itu. Tanpa mereka semua tahu, bahwa Andra lah pemilik sebenarnya.


"Saya cuma mampir aja kok," jawab Bayu singkat sambil tersenyum tipis, bagaimanapun ia harus menjaga wibawanya di hadapan para karyawannya tersebut.


"Aku duluan, mau belanja." Pamit Andra pada Bagas yang di angguki Bagas dan Rudi sambil mengatakan 'silahkan'.


Sepeninggal Andra dan Bayu, Rudi mengajak Bagas menyingkir untuk kembali menanyakan hal yang semula tadi sempat ia bahas bersama Bagas di telepon.


"Gimana, Gas? Kamu lihat kan cewek yang sama Andra dan Pak Bayu tadi?"


Bagas nampak berfikir dan mengingat-ingat. "Cewek yang pakek jilbab warna crem dan baju coklat tadi? Yang glowing itu?"


Rudi mengangguk membenarkan, "masak sih dia Si Cenil yang dulu dekil kayak kita," ucap Bagas tak percaya.


Dengan gemas Rudi menoyor kepala temannya itu, "heh, Bagas Pe'ak! Mbok yo di lihat! Sekarang dia itu sudah jadi istrinya orang kaya, gimana ndak jadi glowing dan cantik?"

__ADS_1


"Wong memang dari dulu si cenil itu imut-imut cempluk kok, cuma pakeane ae yang kayak kita, maksutku, kayak anak laki-laki gitu lho," lanjut Rudi.


"Ya maksudku juga itu lho, Rud. Dia itu dulu sudah persis sama kita, ndak ada bedanya. Rambut juga pendek, nggak pake anting. Pakean juga sama kayak kita to," balas Bagas, tatapannya menerawang pada belasan tahun silam dimana masa kecil mereka lewati bersama-sama.


"Tapi sekarang. Subhanallah..." Bagas tersenyum dan menggelengkan kepalanya mengingat wanita yang tadi dilihatnya, yang dimaksud oleh Rudi sebagai si cenil.


Lagi lagi Rudi menoyor kepala Bagas yang masih senyum-senyum tak jelas, "ra mbayangno mbuh-mbuh kowe! wes dadi duwek'e uwong lho!"


(Jangan membayangkan yang enggak-enggak kamu! Sudah jadi milik orang loh!)


"Opo to kowe ki, Rud? sopo seng mbayangno mbuh-mbuh. Aku ki mung terpesona, Si Cenil kok saiki uayune koyo artis. Neng saiki wes ra kenal karo awak e dewe yo?" ujar Bagas sambil menampakkan wajah sedinya.


(Apa sih kamu, Rud! Siapa yang membayangkan yang enggak-enggak. Aku tu cuma terpeseona aja, masak Si Cenil kok sekarang cuantiknya kayak artis. Tapi sekarang udah nggak kenal sama kita ya?)


"Munkin pangling ya, sama kayak kita juga. Dia makin cantik, aku makin gedhe.. dan kamu, tingginya nggak ketulungan," balas Rudi berasumsi.


"Ngomong ae nek lemu! ( Bilang aja gemuk!) Ndadak gedhe, aku kan tumbuh ke atas, ndak ke samping koyo kowe, Rud!" Timpal Bagas.


"Iya-iya, ndak usah di jaelas-jelasin juga,!" Rajuk Rudi.


"Alah, gitu aja ngambeg kayak cewek to, Rud.. Rud.."


Perbincangan keduanya masih berlanjut sembari Rudi menunggu ketiga orang yang orang berbelanja. Sedangkan Bagas mencatat stok barang-barang yang ada di etalase.


"Ngapai si lo, Bos? Daritadi gue perhatiin aneh banget tau nggak gelagat lo!" sungut Bayu senatiasa mengikuti setiap pergerakan Andra.


"Ya lo juga ngapain ngikutin gerakan gue mulu?" tanya balik Andra tanpa menjawab pertanyaan yang Bayu lontarkan.


"Mending sekarang lo samperin tuh Si Bagas Bagas tadi, bilangin dia jangan dulu nyapa Senja istri gue, ngerti lo?" lanjut Andra menitahkan Bayu.


Bayu yang mendengar perintah aneh itu menatap Andra cengo. Ia tak percaya jika Andra cemburu pada laki-laki seperti Bagas, yang notabene jauh segala sesuatunya di bawah Andra, pikirnya.


"Gue nggak salah denger kan ya? Sebenernya tu orang kenapa sih, aneh banget sejak tadi. Udahlah mending gue ajakin rapat tu Si Bagas biar nggak ketemu Senja." Bayu bermonog sendiri, setelahnya berlalu menjalankan perintah Andra.


***


Usai berbelanja oleh-oleh, keempat orang tersebut termasuk Rudi, melanjutkan perjalanan ke rumah mbah putri. Empang-empang lele yang berjejer mulai terlihat menandakan kediaman yang dituju sudah semakin dekat.


Sebuah rumah yang mempunyai halaman lumayan luas dengan berbagai macam tanaman di sekelilingnya mulai terlihat. Asri dan sedap dipandang, itulah ngkapan yang tepat untuk memggambarkan kediaman milik kakek dan nenek Andra.


Andra yang sudah merasa resah sejak tadi, sesekali melirik sang istri yang kini raut wajahnya nampak seperti heran, takjub, tak percaya atau apalah itu menjadi satu.


"Aku hanya bisa pasrah sekarang jika memang sudah saatnya Senja tau siapa aku," ungkapan lepasrahan Andra dalam hatinya.

__ADS_1


Mobil berhenti tepat di depan garasi samping rumah itu. Senja yang sudah bertanya-tanya dalam hati sejak memasuki jalan yang kanan kirinya terdapat kolam lele itu kini semakin tak percaya dengan pemandangan di hadapannya.


"Ini bukannya rumah Mbah Putri Minah, neneknya mas ganteng kan?" tanya Senja yang hanya berupa gumaman.


Setelah ketiganya turun dari mobil, mereka langsng disambut dengan senyum cerah mbah kakung juga mbah putri, yang semakin membuat tanda tanya besar di benak Andra. Hal itupun tak luput dari pandangan Andra yang memang tak bisa beralih dari sang istri karena keresahannya yang hanya dirinya sendiri yang tau.


"Andra cah bagus, cucu kesayanganku," seru mbah kakung merntangkan tangannya memeluk snag cucu yang telah lama tak ia jumpai.


Sebab saat pernikahan Andra dengan Senja kala itu, beliau tidak dapat menghadirinya karena tengah sakit.


Andra tersenyum lebar membalas pelukan sang kakek yang memang juga sangat dirindukannya, disusul mbah putri yang juga memeluknya. Ketiga orang itu larut dalam tangis bahagia, kerinduan yang semula dirasakan kini menguar di udara.


Bayu dan Senja menatap haru pemandangan tersebut. Sedangkan Rudi, orang itu disibukkan dengan bawaan orang-orang yang kini menjadi majikan sementaranya saat mereka berada disana.


Setelah dirasa cukup melepas rindu dengan sang cucu kesayangan, kini Mbah Minah beralih menatap seorang gadis yang berada di sebelahnya.


"Ini mantuku to, istrinya Andra?" tanya mbah putri dengan mata berbinar, senyum di wajah tuanya tak pernah pudar.


"Enggeh, Mbah," jawab Senja sopan, lalu menyalimi tangan nenek dari suaminya itu.


"Apalah dayaku yang hanya cucu tiri ini," gumam Bayu dengan bibir mencebik.


Gumaman yang masih bisa di dengar oleh telinga orang di dekatnya sontak membuat telinganya tertarik seketika.


"Adududu duh duh.. ampun, Mbah Kung," pekik Bayu kesakitan yang mengundang tawa Andra.


"Udah di bilangin jangan ngomong sembarangan, masih aja ngeyel sih, lo!" ucap Andra pelan.


"Iya, kamu ini sudah Mbah Kung bilangin jangan pernah ngomong gitu masih di ulangi! Kamu itu cucu kami juga, meski bukan kesayangan," mbah kung tertawa di akhir kalimatnya.


"Sudah Kung, sudah.. biar mereka istirahat dulu to. Kasian mereka pasti capek to,"


Mbah Kung melepaskan tangannya dari telinga Bayu yang sudah memerah dan langsung di elus-elus oleh sang empunya, tentu saja Bayu.


"Ayo semuanya masuk, istirahat dulu. Nanti kita maem bareng ya," ujar mbah putri yang di angguki ketiga cucunya.


Sesampainya di kamar Andra.


"Sepertinya ada yang mau Mas Andra jelasin ke aku," Senja menyempatkan diri berbicara pada sang suami sebelum berlalu ke kamar mandi.


Andra meneguk salivanya berat mendengar penuturan sang istri yang bernada tak biasa.


Bersambung..

__ADS_1


Terimakasih yang masuh setia dengan Andra Senja🙏😊


__ADS_2