
Hari demi hari Angga lalui dengan mengumpulkan ide-ide guna mengambil hati sangat gadis pujaan. Tentang bagaimana caranya agar gadis itu bisa segera pulih dan tak takut lagi dengan dirinya.
Angga akan mencoba memakai topeng, atau malah akan mencoba menjadi pengagum rahasia seperti sangat adik, Andra?
Masalahnya, Seruni saja sampai saat ini belum lagi sembuh sempurna. Masih banyak terapi dan usaha yang harus orang-orang yang menyayanginya lakukan untuk pemulihan gadis tersebut.
"Sabar, Ngga. Usaha tidak akan menghianati hasil kok," nasihat mbah kakung setiap waktu pada Angga.
Seperti pada sore ini pun, saat Angga lagi-lagi harus menelan kekecewaan karena kembali ditolak kehadirannya oleh Seruni. Sebenarnya bukan ditolak sih ya, tapi Seruni belum lagi bisa mengenali dirinya. Alhasil Angga kembali dengan tangan kosong.
"Apalagi yang harus Angga lakukan, Kung? Angga sudah melakukan berbagai cara untuk bisa membuat Seruni bisa inget sama Angga lagi, tapi kenyataannya masih saja gagal, " ucap Angga lesu.
Mbah Kakung menghela nafas mendengar keluhan dari cucunya itu, ia turut prihatin atas kejadian yang menimpa Angga. Ia juga sudah turut berupaya agar sang cucu bisa kembali pada gadis yang sudah pernah menjadi kekasih cucunya tersebut beberapa tahun silam.
"Usahamu memang sudah bagus, Le. Tapi doa juga dibutuhkan dalam hal ini. Kamu sudah mengunjungi dukun bule, kamu juga sudah melakukan tindakan-tindakan yang sekiranya kamu anggap bisa memulihkan ingatan Seruni, " mbah kakung menjeda ucapannya untuk menyeruput kopi hitam miliknya.
"Tapi doamu bagaimana? Sudah seimbang kah dengan usahamu itu? " Angga terdiam, ia tampak berfikir.
"Angga selalu berdoa sebelum melakukan tindakan, Kung. Angga juga selalu memohon pada Allah setiap selesai sholat, " jawab Angga kemudian.
Mbah Kakung manggut-manggut, "ada yang belum kita lakukan, Ngga, " ucap mbah kakung serius dengan menatap manik hitam Angga.
"Apa, Kung? "
"Rukiyah, " Angga melipat dahinya dalam dan bibirnya terbuka mendengar satu kata yang keluar dari mulut mbah kakung.
"Rukiyah itu bukannya buat ngusir jin dari dalam tubuh manusia, Kung? " mbah kakung mengangguk.
"Emangnya Seruni kerasukan, atau diganggu jin?" tanya Angga.
__ADS_1
"Memangnya kamu tau kalau enggak? " jawab mbah kakung dengan tanya pula.
Angga menggeleng, "apa kita coba aja ya, "
"Iya, harus!" sahut mbah kakung dengan cepat dan mantap.
"Seruni itu kan memang seperti itu karena dipenggawe (dibuat jadi gila, misal) orang to, kan kita juga ndak tau, dia itu dibuat yang semacam apa dan bagaimana, "
"Buktinya, terkadang dia marah-marah tidak jelas, kadang ngamuk tanpa sebab, kadang mengenali orang, kadang juga linglung tak tau apa-apa. Terkadang dia juga terlihat normal dan baik-baik saja, " jelas mbah kakung panjang lebar.
Angga mendengarkan nya dengan seksama, meskipun selama ini ia kurang begitu mempercayai hal-hal yang seperti 'itu', karena kehidupannya selalu diisi dengan hal-hal yang penuh logika, matematika dan fisika, intinya semuanya harus bisa di fikirkan dengan nalar.
Mungkin karena hal itulah, ia dengan sangat mudah bisa di peralat, atau dibuat-buat oleh mantan istrinya yang menganut ilmu-ilmu perdukunan.
Dan kejadian yang menimpa Angga benar-benar membuat dirinya merasa mau tak mau harus bisa dan harus mempercayai adanya hal-hal mistis dan ghaib seperti yang orang-orang sering katakan.
"Ya, kalau begitu nanti biar Akung menemui Pak Kyai, yang merupakan orang tertua dan orang paling pintar di kampung ini. Nanti kamu juga ikut mengantar Akung, sekalian silaturahmi, ya, "
"Baik, Kung, " Angga mengangguk.
"Bakda maghrib, jangan lupa! " ucap mbah kakung mengingatkan, Angga pun kembali mengangguk.
Angga yang tak pernah menunduk dan patuh di perusahaan, bahkan dia selalu di hormati dan di segani oleh semua karyawannya, namun dia akan menjadi orang yang paling patuh dan penurut jika sudah berhadapan dengan orang tua juga kakek dan neneknya.
Sedangkan di tempat lain. Seruni, si gadis cantik yang kini mengisi penuh ruang hati Angga, masih saja dengan keadaannya seperti sebelelum-sebelumnya, meskipun Angga sudah melakukan berbagai upaya untuk membuat gadis itu kembali waras seperti dahulu.
Gadis itu nampak termangu di halaman rumahnya yang semula asri, namun kini terlihat agak gersang akibat dari ulah Seruni sendiri. Pasalnya, setiap gadis itu sedang kumat, atau saat Seruni tiba-tiba seperti dirasuki sesuatu, gadis itu akan mengamuk dan merusak segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Pernah suatu ketika Seruni membawa pentungan kasti yang ia temukan di belakang rumahnya, gadis itu tiba-tiba mengamuk dan merusak semua tanaman koleksi bunga-bunga miliknya yang kemudian di rawat ibunya sejak dirinya tidak waras.
__ADS_1
Tanaman bunga-bunga yang bernilai jutaan rupiah itu hancur lebur tak bersisa karena di pukuli oleh Seruni yang seperti orang kesetanan, mulutnya pun sambil menceracau tak karuan.
Saat ibu atau ayahnya akan mendekat bermaksud menenangkannya, Seruni tak akan segan-segan memukul mereka menggunakan pentungan kasti yang di pegangnya. Alhasil, ibu dan ayahnya hanya mampu menatap kelakuan anak mereka tersebut dengan mata berkaca-kaca.
Kedua orang tersebut merasa sangat hancur melihat putri semata wayang mereka yang semula merupakan anak yang sangat baik, penurut dan tidak pernah neko-neko, berubah menjadi orang yang tempramental, dan bahkan banyak orang yang menyebutnya gila. Hal itu yang membuat hati kedua orang tua Seruni sangat terpukul dan hancur.
"Sabar ya, Bu Ida, Pak Edi.." ucap salah satu tetangga mereka, berusaha memberi kekuatan kepada orang tua Seruni.
"Seruni, Pak... tanaman-tanaman itu juga kesayangan Seruni. Apa yang nanti bisa Ibuk katakan sama dia, kalau dia sudah sembuh dan ingat lagi, Pak? " tatap Bu Ida menyaksikan koleksi tanaman kesayangan putrinya yang sudah tak berwujud lagi.
Pak Edi menepuk-neluk pundak istrinya, "nanti kita pikirkan lagi, Bu. Atu kita bisa beli lagi kalau memang Seruni mau memelihara tanaman-tanaman seperti itu lagi, "
"Tapi tanaman-tanaman itu harganya sangat mahal, Pak. Itu'kan pemberian dari cucunya Mbah Harso dulu, pacarnya Seruni itu, " ucap Bu Ida.
"Makanya dia sayang banget sama tanaman-tanaman itu, " lanjutnya.
"Ya mau bagaimana lagi to, Bu? Wong Si Seruni nya saja ndak inget kok. Kita juga sudah berusaha menahannya to, yang ada malah kita juga yang kena pukul, " ujar Pak Edi.
Bu Ida mengelap wajahnya yang penuh air mata dengan jilbab oblong yang dikenakannya. Ia dan suaminya dengan sabar menunggui Seruni selesai mengamuk. Kemudian dengan telaten mengurus anak perempuan mereka, membersihkan tubuhnya, mengganti pakaiannya, menyuapi nya makan, bahkan menidurkan nya.
Seruni benar-benar berubah menjadi orang lain, lebih tepatnya ia mirip seperti balita yang tidak tahu apa-apa. Ia sangat naif dan mudah marah, ia juga mudah menangis dan berteriak.
"Cepatlah sembuh, Nduk. Hati Ibu sakiit, melihatmu kayak gini, " tatap sedih Bu Ida.
.
.
Bersambung...
__ADS_1