
...Selamat membaca😊...
...----------------...
Senja, Lala dan juga Nick sudah sampai pada halaman sebuah restoran mewah. Senja dan Lala melongo tak percaya, jika lelaki bule itu akan membawa mereka ke tempat makan semewah itu. Senja langsung menelan ludah kasar, merasa tak pantas untuk berada di sana, ia malu dengan penampilannya yang biasa saja, tak seperti pengunjung restoran yang akan dinner di restoran mewah pada umumnya.
Kenapa nih bule ngajakin ke tempat mewah begini sih? Ya Allah.. apa yang harus hamba lakukan? Hamba hanyalah serpihan debu di dalam sana, pasti bakalan jadi pusat perhatian gara-gara penampilanku yang gak sesuai ini. Senja menggigit bibir bawahnya khawatir, bagaimana caranya ia bisa pergi dari sana sebelum Nick mengajaknya masuk.
Berbeda halnya dengan Senja, Lala menatap bangunan mewah di hadapannya dengan mata berbinar, uuh... so sweet banget sih Mas Nick ini, coba aja aku jadi ceweknya.. betapa beruntungnya diriku.
Nick membuka pintu depan dan turun dari iursi kemudinya, lalu ia berbalik membuka pintu belakang untuk Senja ikut turun juga, Lala menatap hal itu cemburu, sedangkan Senja malah celingukan seperti orang bodoh.
"Silahkan turun, Nona Senja," ucapan Nick membuat kedua gadis itu melotot. Lala mendumal, ia membuka pintu di sampingnya dan segera menutupnya dengan kencang.
Senja tersenyum kecut melihat perlakuan manis lelaki itu dan kemarahan Lala yang entah apa sebabnya. Tapi bukan itu yang di khawatirkannya, ia hanya ingin tak jadi masuk ke dalam restoran mewah yang malah tampak seperti restoran hantu baginya. Menakutkan. Bukan karena bangunannya yang menyeramkan, tapi karena terlalu indah, sehingga membuat Senja merasa rendah.
"Terimakasih, Mas Nick," hanya itu yang mampu Senja ucapkan pada lelaki yang sejak tadi menungguinya untuk turun. Gadis itu menatap sekeliling dengan ragu, banyak orang kaya yang berdatangan menggunakan mobil mewah dengan berpasangan, penampilan mereka semua sangat berkelas, sama seperti penampilan dari Nick. Lala saja masih mendingan, ia mengenakan gaun panjang dan berhijab dengan gaya anggun. Sedangkan dirinya hanya mengenakan celana jeans panjang yang di padukan dengan outer selutut dan mengenakan flatshoes, sangat sederhana, hingga ia merasa akan langsung di usir jika ia nekat masuk ke dalamnya. Sebenarnya itu tidak mungkin terjadi, hanya dirinyalah yang merasa kecil.
"Emm.. kalian masuk aja duluan, aku mau ke toilet dulu." Akhirnya Senja membuka suara, membuat Nick yang baru saja melangkah di depannya berhenti seketika. Ia mengernyit menatap gadis itu heran, apa iya baru juga sampai sudah ingin buang air, begitu pikirnya. Tapi Lala merealisasaikan pertanyaan dalan benaknya tersebut, " masak baru sampai udah mau pipis aja sih, Mbak?"
"Kamu gak nyadar apa, aku nungguin kamu berapa lama tadi?" jawab Senja kesal.
Lala merenges tanpa dosa, "hehe.. ya maaf, Mbak." Tutur gadis itu polos.
"Yaudah, buruan sana kalian masuk!" titah Senja sembari mendorong punggung Lala.
Entah mengapa Nick merasa ada yang aneh dari gadis itu, kenapa tiba-tiba bersikap seperti itu. Wah.. ada yang dia sembunyikan sepertinya. Batin Nick, ia mengangguk dan berjalan pelan menuju pintu masuk restoran sembari mengoperasikan ponselnya, ia menghubungi seseorang.
Sepeninggal dua orang itu, Senja segera berlari kecil kearah jalanan lagi, rencananya ia akan mencari tempat makan yang tak jauh dari sana, jadi saat Nick atau Lala mencarinya nanti, ia tak akan terlalu lama untuk datang. Karena dirinya berlari sambil menoleh pada pintu restoran, ia tak menyadari jika ada seseorang yang berjalan ke arahnya.
Bruk
Kedua orang tersebut bertabrakan dengan kencang, hingga Senja hampir saja terjungkal ke belakang jika lelaki itu tak cepat meraih pwrgelangan tangannya, ponsel yang ia pegangpun di lemparkannya begitu saja ke sembarang arah.
Greb
__ADS_1
Lagi-lagi kening Senja membentur dada bidang lelaki tersebut, "auwh.." rintihnya mengusap-usap keningnya yang terasa pening.
"Maaf.. maaf, kamu gak apa-apa?" tanya lelaki itu yang membuat Senja reflek mendongak ke arah wajahnya, Senja sedikit terkejut mendapati sosok laki-laki yang pernah datang berkunjung ke tokonya beberapa waktu lalu.
"Pak. . Angga.." Senja menunjuk lelaki itu dengan telunjuknya, tidak mungkin ingatannya salah. Lelaki yang ternyata adalah Angga itu tersenyum tipis dan mengangguk, " benar, kamu Senja pemilik online shop depan swalayan A&S itu kan?" tanya lelaki tersebut memastikan.
"Iya, Pak."
Angga hendak bertanya kembali, tetapi seorang satpam mendekat pada mereka, " maaf, Pak. Apa ini ponsel milik Bapak? Karena sejak berbunyi di bawah sana dan ada foto Anda di dalamnya," tutur satpam tersebut seraya mengulurkan benda pipih itu pada Angga. Senja menganga saat menyadari jika tadi Angga sedang memainkan ponsel saat ia tak sengaja menabrak lelaki itu, "Astaghfirulloh.. maafin saya, Pak Angga. Saya gak sengaja membuat hp Bapak terlempar," Senja menangkupkan kedua tangganya memohon maaf, ada raut penyesalan yang Angga tangkap dari wajah gadis kecil di depannya itu.
Sungguh polos kamu Senja, andai istriku dulu sepertimu, pasti aku gak akan cepat menduda seperti sekarang ini. Dan aku akan menjadi pria paling beruntung di dunia ini. Gumam Angga dalam hati, ia tersenyum miris meratapi dirinya setiap mengingat masa lalunya yang kelam.
"Gak apa-apa, ini bukan salah kamu. Lagian handphone nya juga gak apa-apa kok," ucapnya lembut pada Senja membuat gadis itu lega, lalu ia menoleh pada satpam yang masih berdiri memperhatikan mereka. "Makasih banyak ya Pak, udah nemuin hp saya."
"Sama-sama, Pak. Saya permisi kalau begitu, monggo.." pamit satpam tersebut.
"Matursuwun sanget njih, Pakdhe..
Terimakasih banyak ya, Pakdhe)," balas Senja sopan.
"Enjih, Mbak. Monggo, kulo riyen.."
"Oh iya, kamu mau kemana buru-buru seperti tadi?" pertanyaan Angga yang kaku membuat Senja terkekeh pelan, "aku mau nyari tempat aja makan aja di deket sini," jawabnya setelah bisa mengontrol dirinya.
Angga mengernyit, bukannya di hadapan mereka adalah restoran, kenapa gadis ini mau mencari tempat lain, pikirnya tak mengerti dengan pemikiran gadis itu.
"Memangnya kamu mau makan apa? kalau kamu izinkan, saya bisa menemanimu," tawar Angga mencoba mencari jawaban sendiri atas pertanyaannya tadi.
Senja mengedip-ngedipkan matanya tak percaya dengan apa yang di dengarnya, "Pak Angga mau nemenin saya makan?" tanyanya memastikan jika pendengarannya tak salah. Angga mengangguk mengiyakan.
"Boleh aja sih kalau Bapak lagi gak sibuk atau gak bakal risih, soalnya saya sukanya makan di bapak-bapak penjual pinggir jalan." Pernyataan polos Senja lagi-lagi membuat duda keren itu terkesima, ternyata masih ada gadis polos seperti itu di zaman yang sudah seperti saat ini.
"Aa.. emm.. saya gak apa-apa kok," Angga serba salah mengalihkan pandangan yang tak seharusnya ia tujukan pada wanita pujaan adiknya itu.
Mereka berjalan beriringan mencari penjual makanan yang sekiranya menggugah selera mereka, sampai pada penjual nasi goreng seafood Senja menghentikan langkahnya, yang secara otomatis membuat Angga ikut berhenti.
__ADS_1
"Kita makan disini aja ya, Pak. Gimana?" Senja bertanya pada Angga dengan mendongakkan kepalanya, lelaki yang di tanya hanya mengangguk menurut.
Senja memesan dua porsi nasi goreng seafood kesukaannya, dengan dua gelas air jeruk hangat sebagai menu makan malam mereka. Mereka berdua duduk di lesehan yang di sediakan, Angga tanpa risih ikut duduk di hadapan gadis itu, ada meja sebagai pembatas di antara mereka.
Kesederhanaan, ketulusan, keluguan, kejujuran, kegigihan, baik hati dan ramah. semua ada padamu Senja. Pantas saja Andra tak pernah bisa melepaskanmu sedari dulu sampai saat ini. Sekarang aku tau alasan dirinya begitu mengagumimu. Semua kebaikan yang ada di dirimu, kamu memang gadis yang pantas untuk di perjuangkan. Sayangnya, adikku sudah lebih dulu memilihmu, jika tidak...
Lamunan Angga terhenti kala si penjual telah meletakkan pesanan mereka di meja, "silahkan Mas, Mbak.."
"Matursuwun.." (Terimakasih)
"Makasih.."
Balas keduanya berbarengan namun dengan bahasa yang berbeda, mungkin karena Angga sudah terbiasa hidup di Jakarta, membuatnya sering lupa jika sedang berada di Jogja saat ini.
Keduanya saling pandang mendengar ucapan masing-masing, lalu berbagi senyuman. "Silahkan, Pak. Nasi goreng disini enak banget loh.. favoritku sama keluarga kalau pas lagi jalan-jalan ke kota gini." Senja mempersilahkan sambil berpromosi, " bahkan bapakku aja sampe mau buka warung nasi goreng gara-gara ketagihan nasgor disini.." jelas Senja tertawa, dan tawa itu tak terasa menular pada wajah kaku Angga, " oh ya? terus bapak kamu jadi jualan nasi goreng?"
Senja menggeleng lemah, "enggak,"
"Kenapa?" Angga menyendok nasi dan memasukkan ke dalam mulutnya, ia merasakan kelezatan yang berbeda dari nasi goreng restorang yang pernah di makannya.
"Dulu kami gak punya modal, apalagi buat sewa tempat." Jawab Senja setelah menelan makanan di dalam mulutnya, ia mencoba menepis kenangan pahit masa lalu kehidupan keluatga mereka yang serba keurangan.
Angga tertegun mendengarnya, "lalu sekarang?"
"Sekarang.. Bapak udah mau tua, kasihan kalau harus capek-capek jualan nasgor malem-malem, sampai harus begadang setiap hari." Pandangan mata Senja menatap lurus, ingat dengan ayahnya yang sudah mulai menua, dengan uban yang sudah mulai menghiasi kepala. "Kata Bang Haji Rhoma kan gak boleh begadang kalau tiada artinya.." kelakarnya untuk menghibur diri.
Angga tertawa mendengar candaan itu, meski hanya sebuah candaan sederhana ia bisa kembali tertawa karena seorang gadis. Ya, setelah perpisahannya dengan mantan istrinya, Angga menutup rapat-rapat pintu hatinya untuk semua wanita, ia tidak ingin gagal kembali, merasakan perih yang sama lagi. Tapi sayang, gadis itu bukan di takdirkan untuk dirinya, melainkan adik tersayangnya, ia tak akan pernah melupakan hal itu. Ia tidak akan pernah merebut kebahagiaan dari adiknya.
.
.
Bersambung
Jangan lupa like juga komentar positifnya untuk penyemangat author yah..
__ADS_1
Gambat ❤ nya juga.
Maturnuwun🙏