Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 74. Trauma Yang Kembali Terkuak


__ADS_3

...Selamat membaca😊...


...----------------...


Di sebut sebagai seleb oleh Pak Sapto, ketiga cowok tampan itu tersenyum lebar dan semakin semangat dalam menangkap lele, hingga. . .


"Weh.. hati-hati Mas!" seru Pak Sapto namun terlambat sudah, pakaian dan gaya ala korea dari Angga kini sudah berubah menjadi kostum pak tani hendak ke sawah akibat dirinya tercebur dalam empang.


Tawa tak tau diri keluar dari mulut sang adik, siapa lagi kalau bukan Andra. Disusul dari kedua saudara lucknut lainnya juga. Melihat tatapan tajam dari Angga, ketiga lelaki tersebut langsung cepat-cepat membungkam mulutnya. Bayu mengulurkan tangannya untuk membantu Angga beranjak dari empang tersebut, namun tiba-tiba senyum smirk terpampang nyata di bibir duda keren tersebut. Kini Bayu juga Nick ikut menjadi penghuni empang dengan berapa ratus ekor lel yang masih tersisa, karena saat tubuhnya mulai terhuyung dengan reflek Bayu meraih baju Nick yang kebetulan berada paling dekat dengan dirinya.


Otomatis tawa lepas langsung pecah kembali akibat dari trio rusuh tersebut.


"Orang ganteng-ganteng begitu kok seneng main di empang yang kotor to Mas-Mas ini," ucap Pak Sapto menggelengkan kepalanya tak percaya.


Bu Retno yang mendengar ucapan suaminya mendekat dan berbisik pada telinga Pak Sapto, "biarin to Pak kalau mereka seneng, jarang-jarang to lihat cowok ganteng-ganteng pada nyebur emoang begitu," lirikan dari Pak Sapto membuat ibu dari Senja itu terkikir geli.


"Sama bocah saja cemburu to Pak sampeyan niki.." ujar Bu Retno dan berlalu menuju dapur.


Melihat Andra masih anteng dan hanya memperhatikan saudaranya saja membuat Pak Sapto heran dan bertanya, "Nak Andra, kamu ndak ikut saudarmu main di empang itu?" tunjuknya pada ketiga biang rusuh yang tampak asyik menikmati acara nguber lelenya.


Andra menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal, agak bingung harus menjawab bagimana. Jujur, takutnya di bilang manja atau ringkih, masak laki-laki dikit-dikit sakit, dikit-dikit alergi. Sedangkan kalau bohong dosa. Dan itu hanyalah pemikiran dari jiwa minder Andra sendiri, keluarga Senja tidak mungkin akan bicara seperti itu.


Senja yang baru saja tiba, menyelamatkan dirinya yang tak lagi harus menjawab pertanyaan dari sang mertua.


"Mas Andra mau bantuin Senja Pak, iya kan Mas?" ucap Senja mengedipkan mata pada suaminya itu. Meski ia belum sepenuhnya paham apa yang membuat Andra tak mau ikut bergabung dengan saudaranya yang lain, tapi ia mencoba mengeluarkan suaminya itu dari kecanggungannya.


"Haha, iya Dek. Mau bantuin kamu,"


"Yaudah ayok Mas.." ajak Senja yang tanpa canggung meraih tangan Andra dan menariknya.


"Walah, sejak kapan Senja jadi seperti itu sama laki-laki? semoga saja sejak menikah ini," heran Pak Sapto.


"Nah, Mas pake sendal ini aja biar nyaman aktifitasnya, masak jalan di tanah aja pake sandal kayak gitu, ntar kotor lagi." Ucap Senja yang meletakkan sendal jepit milik Andra dulu yang pernah lelaki itu pinjamkan pada Pak Sapto.


Andra mengernyit melihat sendal tersebut karena ia mengenalinya.


"Itu sendal punya kamu to Nak Andra, yang pernah kamu kasih ke Bapak beberapa waktu yang lalu. Sejak bertemu sama kamu, Bapak sudah yakin kalau kamu itu anak yang baik, dan Bapak merasa kalau kamu akan menjadi seorang yang dekat dengan keluarga kami. Dan benar saja to, sekarang kamu menjadi menantuku, suami dari Senja. Bahkan Senja waktu itu ndak percaya sama ucapan Bapak.." terang Pak Sapto panjang lebar. Begitu pekanya naluri sang ayah, bahkan kini Senja merasa sangat bersyukur dan tak percaya jika apa yang pernah di ucapkan oleh sang ayah akan menjadi kenyataan.


"Iya Pak, makasih banyak ya Pak sudah mengizinkan Andra untuk menjadi suami anak Bapak," tuturnya penuh haru.

__ADS_1


"Ndak perlu berterima kasih sama Bapak, justru Bapak yang harusnya berterima kasih sama kamu. Kamu itu sudah mau menerima anak Bapak yang begajulan ini apa adanya," ujarnya sambil melirik Senja.


Mata Senja membelalak mendengar perkataan sang ayah, bagaimana bisa ia dikatakan seperti itu di depan Andra yang baru kemarin menjadi suaminya. "Bapak lho.." rajuknya.


"Lho, iyo to.. kamu harus punya stok sabar yang banyak Ndra buat mengahadapi tingkah polahnya ini, sudah Bapak mau kesana dulu sebelum taringnya keluar semua," Pk Sapto segera berjalan dengan cepat meninggalkan Senja yang nampak mulai memerah menahan malu dan amarah.


Andra tersenyum lebar, "Iya Pak, putri Bapak ini memang luar biasa. Bahkan dia mampu memgobrak abrik hatiku dengan tingkah polahnya yang konyol bin abstrak itu. Tapi Andra memang mencintai Senja apa adanya Pak, tanpa Bapak minta sekalipun Andra akan selalu bersabar dan setia menjaga serta mendampingi Senja." Gumam Andra dalam hati.


Senja menggembungkan kedua pipinya dengan mata menyipit, "Mas Andra pasti ngetawain aku kan.. bahagia banget tuh senyumnya lebar banget kayak gitu."


"Mas Andra nggak ngetawain kamu kok, Mas seneng banget bisa jadi suami kamu,"


Blush..


"Beneran Mas?" tanya Senja malu-malu, menguap sudah rasa sebalnya tadi, berganti dengan sejuta bunga yang tampak bermekaran.


"Apa sesenang itu kamu hanya dengan mendengar ucapan seperti itu dariku Senja? apa perasaanmu sama denganku?"


Andra semakin terpesona dengan senyum malu-malu yang di tampilkan oleh Senja.


"Huwaaaa..." Teriakan di sertai gerakan reflek Andra yang memeluk Senja yang disusul gelak tawa oleh trio rusuh, Senja menoleh bingung ada apa sebenarnya.


"U-ular Dek, ular.. Mas takut banget sama ular,"


Senja mengernyit dan melihat pada arah yang di tunjuk Andra di bawah kakinya. Andra makin erat memeluk tubuh Senja dan menyembunyikan kepalanya di balik hijab yang di kenakan istrinya tersebut.


"Ya Allah Mas, itu bukan ular.. itu belut."


"Mas lihat Nick nglempar ular Dek, besar panjang dan larinya cepet. Mana banyak banget lagi," jawab Andra tanpa mau melihat kembali, wajahnya masih tertutup sempurna di balik kepala Senja dengan sedikit menunduk.


Senja menghela napasnya, ia teringat pada sosok anak lelaki yang dulu pernah di tolongnya. "Kenapa aku merasa dejavu, apa iya Mas Andra ini.. ah nggak mungkin. Tapi dari ketakutannya yang seperti ini benar-benar mengingatkan aku pada Mas ganteng.."


"Wah, modus lo Ndra! mentang-mentang punya bini aja manja lo." Seru Angga.


"Iya, pamer kemesraaan pada jomblo seperti kita," ujar Nick menyahuti.


Sedangkan Bayu merasa mengingat sesuatu melihat ketakutan yang mendalam dari sahabatnya tersebut. "Andra ngumpet bener-bener karena takut bukannya modus, lagian mana berani dia meluk-meluk Senja apalagi di depan umum. Deket Senja aja udah kaku dia."


"Astaghfirulloh hal adziim.." teriaknya sambil berlari kala mengingat hal yang pernah di ceritakan Andra padanya tentang Andra yang pernah di gigit ular sewaktu kecil. Bayu mulai berusaha menangkap satu persatu hewan melata yang bergerak meliuk-liuk di tanah.

__ADS_1


Senja tersadar dari pikirannya saat mendengar teriakan Bayu. Ia mencoba melerai pelukan Andra dari tubuhnya yang terasa makin erat hingga membuatnya sesak. Di genggamnya kedua tangan sang suami yang masih setia melingkar di pundaknya.


"Mas Andra, tenang ya.. relax, tarik nafas dalam lalu keluarkan, dan lakukan berulang ulang. Atur nafas Mas biar nggak tegang, oke?" ucap Senja halus, mencoba memberi ketengan pada lelaki yang kini sidah mulai berkeringat dingin. Jika tidak segera ditangani, Senja takut kalau-kalau suaminya tersebut akan kembali seperti semalam.


Merasa lilitan Andra melonggar, Senja melepaskan tangan kekar itu dan membalik badannya. Ia dapat melihat raut ketakutan yang nyata pada wajah tampan suaminya, kini wajah itu memerah dengan keringat yang sudah mengucur deras. Senja menampilkan senyum terbaiknya untuk memberi kekuatan pada sang suami.


"Bukalah matamu Mas, liat aku," perintahnya pada Andra, karena mata lelaki itu masih saja terpejam erat di sertai nafas yang memburu seperti orang yang habis berlari marathon.


Perlahan Andra membuka matanya, senyum indah dari Senja langsung menyambutnya dan membuat perasaannya mulai menghangat. Nafasnya perlahan mulai normal, rasa takutnya berubah menjadi takjub.


Baru satu menit Andra tenang, ia sudah kembali berteriak karena ada seekor belut yang merayap di kakinya. Ia mengibas-ngibaskan kakinya dengan cepat.


"Tenang Mas, tenang!" seru Senja setengah berteriak, ia merasa gemas plus geram dengan tingkah Andra yang masih saja mengibaskan kakinya padahal belut itu sudah terlempar jauh.


"Sebenarnya trauma apa sih Mas yang pernah kamu alami sampai kamu setakut ini sama hewan melata?" tanya Senja penasaran dengan nada tak sabar.


Andra terdiam mendengar pertanyaan yang menurutnya sulit untuk di jawab. "Apa kamu nggak akan mengolokku Senja kalau aku jujur?"


Lelaki memilih berlalu tanpa sepatah kata apapun, membuat Senja tiba-tiba diliputi rasa bersalah karena dengan tak pengertiannya ia melontarkan sebuah pertanyaan yang mungkin membuka sebuah trauma dalam pada suaminya tersebut.


Bayu yang melihatnya memberi isyarat pada Senja untuk mengikuti suaminya.


"Ssst, sssuuut.. " Bayu menggerak-gerakkan kepalanya ke arah Andra pergi pada Senja.


Senja pun langsung berlari dari sana, meninggalkan orang-orang yang semuanya kini di sibukkan dengan balik jungkir serta berlarian berlomba menangkap belut yang sudah menyebar kemana-mana akibat ulah Nick yang iseng melempar satu ember berisi belut kepada Andra. Tujuannya tentu saja membalas Andra, karena saudaranya itu yang sudah mengerjai mereka untuk ikut menguras empang, sedangkan dirinya sendiri hanya menonton.


Di sisi lain sekitaran rumah Senja, di pinggir sawah yang menyajikan pemandangan hijau yang menyejukkan mata. Andra duduk termangu di sebuah gubug dengan pandangan mata menerawang. Senja mendekatinya dan duduk di sebelah lelaki itu.


"Maafin Senja ya Mas.. Senja nggak bermaksud berteriak sama Mas Andra tadi," ucapnya ikut melihat persawahan yang ada di hadapannya. "Senja cuma reflek aja ngomong kayak gitu gara-gara liat Mas Andra yang over panik cuma karena belut,"


"Mas kira tadi itu ular, bentuk dan gerakannya sama." Wajah lelaki itu kini menoleh pada Senja, "Mas Andra emang pernah di gigit ular pas kecil dulu, dan itu membuat trauma tersendiri bagiku."


"Yang paling aku ingat sampai detik ini adalah wajah pucatmu, rintihan di sela demammu. Kamu yang waktu masih kecil harus berjuang melawan maut hanya karena menyelamatkanku, aku sangat takut waktu itu Senja.. andai kamu tau ketakutanku, yang menyebabkan aku trauma hingga saat ini..."


.


.


Bersambung

__ADS_1


Like dan komennya jangan lupa ya😍


__ADS_2