Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Si Gadis Random


__ADS_3

Suara kokok ayam jantan terdengar bersahut-shutan, tandanya pagi hari telah menyapa. Bayu yang sudah terjaga sejak sebelum subuh pun sudah siap menggendong ranselnya untuk segera melakukan perjalanannya.


Ia telah melaksanakan kewajiban dua rokaatnya tadi usai mandi. Begitu semangatnya ia untuk kembali beraktifitas seperti biasa di Jogja.


Semalam dirinya sudah berbicara pada mbah kakung dan mbah putri, meski mereka melarang, namun nyatanya Bayu tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk tetap kembali ke Jogja saja pagi ini.


Mbah kakung menawarkan pada Bayu untuk membawa mobil pribadinya, karena yang lain merupakan mobil pick up yang di gunakan untuk membawa hasil panen lele ke pasar.


"Bayu mau sesekali menikmati perjalanan naik bus Semarang-Jogja, Akung, Uti, " begitu ucapnya semalam.


Usai sesi salim-salim berpamitan, Bayu dengan mantab melangkahkan kakinya di terminal dengan di antar oleh Rudi.


Bus patas AC dengan Wifi menjadi pilihan lelaki itu. Meski hari masih pagi ternyata tak membuat bus tersebut sepi. Pandangan matanya berkeliling mencari-cari nomor bangku yang sesuai tertera pada tiketnya.


Bayu menaikkan sebelah alisnya melihat nomor bangku yang ada di tiket dan pada bangku bus bergantian. Benar itu nomornya, tapi tempat duduknya yang ada di samping jendela sudah ada yang duduk disana.


Seorang wanita berpenampilan amburadul dengan mengenakan celana jeans sobek-sobek, jaket jeans berwarna pudar, topi hitam yang juga sudah memudar warnanya, dan jangan lupakan kaca mata hitam juga masker full hitam yang melekat di wajah hingga lehernya.


Ragu-ragu Bayu antara akan duduk atau tidak, karena wanita itu duduk dengan posisi yang hampir memenuhi seluruh bangku bus. Kepalanya bersandar pada jendela, badannya miring dengan sebelah kaki terangkat di atas kursi.


"Setelah sekian lama nggak naik bus, sekalinya naik lagi kenapa musti ketemu yang model beginian sih? " batin Bayu sambil celingukan.


Bayu tidak begitu mempermasahkan penampilannya, tapi bagaimana caranya Bayu akan duduk jika kaki si gadis memenuhi kursi? Akan ia pindahkan itu takkan sopan karena celana bagian paha dan lututnya sobek2.


Bagaimana kalau nanti gadis itu marah, lagipula Bayu juga tak mau sembarangan memegang seorang gadis.


Akhirnya Bayu duduk menyempil di ujung kursi setelah meletakkan ranselnya di penyimpanan atas tempat duduk tersebut. Tangannya merogoh saku guna mengambil ponsel, bermaksud akan mengeceknya kalau-kalau ada yang menghubunginya.


Baru saja Bayu memegang ponselnya, benda pipih tersebut sudah bergetar dan menampakkan foto Andra disana. Itu artinya sang bos kesayangannya yang tengah menelpinnya. Ia dengan cepat menggeser tombol berwarna hijau dan menempelkan benda tersebut di telinganya.


"Halo, Bos. Assalamu'alaikum, gim-" ucapan Bayu langsung terhenti saat merasakan dorongan dari belakangnya, lebih tepatnya tendangan pada bokongnya.


Bayu yang tak siap mendapatkan serangan pun tersungkur di lantai bus dan ponselnya terlempar begitu saja. Sontak hal itu menjadi pusat perhatian seluruh penumpang bus tersebut. Anda yang reflek tertawa, ada juga yang merasa iba.


Kepala Bayu dengan cepat menoleh seiring dengan tubuhnya yang beranjak dari lantai ke arah biang kerok penyebab dirinya tersungkur, wajahnya sudah merah padam menahan amarah.


Sedangkan si gadis yang baru saja menyadari hal tersebut menutup mulutnya yang sudah tertutup rapat oleh masker full yang menutupi hingga lehernya. Ekspresi kaget pun juga tercetak jelas di wajahnya jika terlihat.


Sayang, wajahnya sama sekali tak terlihat, semuanya tertutup oleh benda-benda yang membuatnya menjadi sosok gadis misterius.


Bayu menunjuk gadis tersebut dengan gigi menggeletuk, "kamu se-"


Lagi-lagi ucapan Bayu terhenti oleh teguran dari seseorang yang merupakan kernet bus tersebut. Orang itu yang menemukan ponsel Bayu yang terlempar tadi, ponsel itu masih menampilkan panggilan dari Andra.


Terdengar teriakan dari Andra di seberang sana.

__ADS_1


"Bay? Lo nggak papa kan? Kok lo nggak nyaut? Mana brisik banget lagi, lo lagi dimana sih? ".


Andra mendengar suara orang-orang yang mengomentari kejadian yang menimpa Bayu barusan.


" Eh, enggak papa, Bos," jawab Bayu dengan nafas yang masih memburu karena emosi.


"Untuk sementara selamat lo, gadis urakan. Gara-gara telpon Bos Andra masih nyambung, awas aja kalau nggak, "


"Gimana kabar lo, Bos? " Bukannya menjawab, Bayu malah balik bertanya.


"Baik, Bay,"


"Lo masih beduaan sama Senja? " tanya Bayu yang setengahnya bermaksud menggoda Andra.


Andra mengerutkan kening, "Ya iyalah, Bay. Emang kenapa?"


"Pantes aja lo lupa sama gue, "


"Sory deh, "


"Hm, " sahut Bayu yang masih kesal karena kejadian barusan.


"Gue sama Senja, eyang dan Kak Angga lagi otewe kesana, lo diem-diem aja disitu! Tunggu kita sampai, Oke? Karena kita punya tugas sangat penting buat lo, " Bayu melongo lebar mendengar perkataan Andra baru saja.


"Oke deh," jawab Bayu pasrah seraya memikirkan bagaimana dirinya bisa bertemu dengan rombongan Andra.


Si gadis yang baru saja tersadar dari tidurnya mulai mengerjab menguasai keadaan, di tatapnya sekeliling dan jalanan yang di laluinya. Dirinya mulai panik saat merasa jika dirinya sudah melewatkan terminal pemberhentiannya karena tertidur.


"Woy.. woy! Stop, Woy! " Seru si gadis tiba-tiba.


Si kernet yang tadi menyerahkan ponsel Bayu mendekat dan menegur gadis itu.


"Mbak'e itu kenapa to? bangun-bangun bikin kekacauan!"


"Tadi sudah nendang mas ini, " ucap si kernet menunjuk Bayu, "sekarang malah teriak-teriak, udah bagus tidur aja kayak tadi. Tapi kakinya jangan berulah lagi! "


"Pokoknya berhenti disini sekarang juga, terminal gue udah kelewat daritadi tau!" seru gadis itu dengan nada kesal.


"Mbaknya mau bunuh diri kalau berhenti disini sekarang? "


Mata gadis itu melotot meski tak ada yang melihat karena terhalang oleh kaca mata hitam yang di pakainya.


"Sembarangan lo ngomong! Berhentiin gue bilang, "


"Ck. Ngeyel di bilangin jadi cewek, " gerutu Bayu.

__ADS_1


Sudah pening memikirkan nasibnya, ditambah mendengar perdebatan si gadis dengan si kernet bus, membuatnya ingin mengamuk tapi ia merasa masih waras jika harus jadi tontonan kembali.


"Wong wadon ngeyelan, (cewek ngeselin)" sahut si kernet juga tak kalah kesalnya.


Namun tetap langsung memberi instruksi pada sang supir untuk memelankan laju bus sembari ia


membuka pintu bus tersebut bagian depan.


"Silahkan, Mbak'e kalau mau turun!" Ucap si kernet.


"Kyaaaakkk.. lo mau bunuh gue?" teriak si gadis memekik terkejut.


"Wong Mbak'e sendiri yang mau turun disini kok," jawab kernet itu dengan santainya sambil bersandar pada pintu dan menikmati udara segar yang berhembus dari luar.


"Tapi nggak di tengah jembatan kayak gini juga kali, " sangkal si gadis bergidig.


Gadis tersebut melihat arah bawah sana yang langsung menampakkan waduk dengan air yang tenang, tapi terlihat mengerikan dimata sangat gadis saat membayangkan dirinya terjatuh kesana.


"Uuuuuuuu.. " seru para penumpang yang lain.


"Dasar cewek aneh! "


"Ngeyelan! "


"Sak-sak'e dewe. Dikiro bis'e dewe opo dalane dewe? iso mandeg sak nggon-nggon,"


"(Seenaknya saja! Dikira bus pribadi atau jalannya sendiri apa? bisa berhenti di sembarang tempat) "


Dan masih banyak lagi komentar-komentar lainnya dari penumpang yang ada di bus tersebut.


Bayu menghela nafas panjang, mengabaikan si gadis random menurutnya. Lalu bertanya pada kernet.


"Terminal selanjutnya dimana ya, Mas? Aku mau turun juga, "


"Di depan sana, Mas. Udah lumayan deket kok, " jawab kernet usai kembali menutup pintu bus dan memberi komando sopir kembali melaju normal.


"Alhamdulillah," Bayu duduk bersandar, mengoperasikan ponselnya memberi kabar pada Andra.


"Gue lagi naik bus, jurusan Jogja-Semarang. bentar lagi sampai di terminal XX, tolong jemput disana ya, Bos. Makasih🙏, "


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2