
Sekitar tiga setengah tahun yang lalu, Angga yang sudah tidak lagi memberi kabar pada pacar tercintanya, Seruni. Tiba-tiba datang berkunjung ke rumah kalek dan neneknya dengan seorang gadis yang berpenampilan seksi dan berwajah cantik ala make up tebal.
Orang-orang yang waktu itu kebetulan sedang memanen lele seperti kegiatan yang biasa di lakukan di empang Mbah Harso, merasa heran akan kedatangan Angga yang membawa seorang gadis. Siapa gadis itu, bukankah Angga memiliki hubungan dengan Seruni? Pikir kesemuanya tak terkecuali mbah kakung dan mbah putri yang juga sangat terkejut.
Angga dan wanita itu duduk berhadapan dengan Mbah Kakung dan Mbah Putri Harso. Tatapan kosong nan hampa Angga dibalas dengan tatapan sedih, dan kecewa dari kedua lansia di depannya.
"Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah sedrastis ini hanya dalam waktu beberapa bulan saja, Angga? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan, atau apa?" batin mbah putri lara.
"Seperti ada yang tidak biasa dari cucuku, Angga. Tatapan matanya kosong, apa dia.."
Batin mbah kakung yang langsung melirik pada gadis yang duduk menempel pada Angga seperti cicak menempel di dinding.
"Mbah Kakung, Mbah Putri.."
Suara Angga memecah keheningan yang ada, meski keduanya merupakan tamu di rumah itu, tapi tak sedikitpun rasa ingin meladeni ataupun menjamu timbul pada mbah kakung maupun mbah putri.
Tak ada yang berminat menjawab, Angga kembali berkata, "Angga datang kesini untuk memperkenalkan Amanda," menoleh ke samping kanan dimana Amanda berada.
Jangan lupakan tangan Amanda yang menggenggam erat jemari Angga, bahkan sesekali meremasnya, membuat mbah kakung dan mbah putri menatap risih padanya.
Jangankan berbasa basi, sepatah katapun belum ada yang terucap dari bibir merah gadis itu. Sangat mencerminkan bagaimana kepribadian si gadis yang mempunyai Amanda itu.
"Amanda ini calon istri Angga," melebarlah dua pasang mata di depannya.
Bibir yang semula terkatup rapat, kini melongo sempurma. Mbah putri juga mbah kakung semakin syok mendengar kabar tersebut.
Begitu juga sosok gadis yang berada di depan pintu. Ia merasa dunianya runtuh seketika bak bencana yang datang menyapa dengan membabi buta. Apa salahnya hingga tiba-tiba mendengar hal semenyakitkan itu dari sang kekasih hati yang selama setahun lebih ini mengisi kekosongan hatinya.
Ia merasa tak pernah melakukan suatu kesalahan terhadap Angga. Apalagi fatal, kesalahan kecil pun tidak. Tapi mengapa dengan teganya Angga menghianatinya?
"Bagaimana dengan Seruni, Angga?" Seruan mbah kakung menyentak Angga.
Tanpa lelaki itu sadari, matanya yang semula menatap hampa dengan kekosongan, tiba-tiba memerah dan meneteskan air mata.
"Kenapa air mataku menetes? Kenapa hatiku terasa sakit mendengar nama itu? Seruni? Siapa Seruni?"
"Siapa Seruni?"
Making tercenganglah kedua orang lansia itu, "benar-benar ada yang tidak wajar pada cucuku ini, pasti gadis tidak punya sopan santun ini sudah melakukan sesuatu pada Angga,"
__ADS_1
Mbah kakung berfikir dalam diamnya. Ingin berucap lagi, tapi takut jika nanti akan menimbulkan kecurigaan pada Amanda, dan mbah kakung khawatir jika gadis itu akan melakukan hal yang lebih terhadap Angga nantinya.
"Aku Seruni, Mas.." lirih seorang gadis yang memasuki rumah dengan langkah yang diseret karena lemah.
Betapa seluruh energinya mendadak terkuras habis setelah mengetahui kenyataan yang menyiksa batin dan jiwanya.
Keempat orang itu menoleh ke sumber suara, tampaklah gadis yang memiliki kecantikan alami bak bidadari sedang menangis tersedu.
Reflek Angga berdiri, kakinya secara otomatis melangkah, namun baru dua langkah ia berjalan, tangannya merasa ada yang menarik. Amanda mencekal pergelangan tangannya, mata gadis itu mendelik tak suka.
Dan saat mata Angga bertemu pandang dengan mata Amanda, tiba-tiba tatapannya kembali kosong meski air mata terus mengalir dari kedua indera penglihatan itu. Lelaki itu tertunduk dan kembali mendekat pada Amanda.
"Astaghfirulloh hal adziim," gumam mbah putri dan mbah kakaung semakin mengerti kenapa sanng cucu bisa menjadi demikian.
Rulanya gadis yang bersama Angga lah yang menyebabkan hal itu, mereka harus melakukan sesuatu.
Mbah putri beranjakndari duduknya dan mendekat pada Seruni, di rengkuhnya bahu gadis yang memiliki tinggi melebihi dirinya itu. Seruni di dudukkan di kursi panjang yang semula ia duduki bersama sang suami, mbah kakung.
"Sabar yo, Nduk. Semua ini hanya ujian, kita pasti bisa melewatinya," ucap lembut mbah putri sembari mengelus punggung gadis yang terus bergetar itu.
"Jadi gadis itu yang bernama Seruni, kekasih Angga? Baiklah, sepertinya bermain-main sedikit dengannya akan terasa menyenangkan," Seringai muncul di bibir Amanda, gadis yang menatap sengit Seruni.
"Baiklah, kakek dan neneknya Angga. Sepertinya sudah cukup Angga memperkenalkan saya disini. Seperti yang Angga bilang tadi, nama saya Amanda, dan saya adalah calon istrinya Angga,"
Perkataan yang bernada angkuh itu membuat mbah putri dan mbah kakung mengelus dada.
"Dan secepatnya kami akan segera menikah di Jakarta, jika berkenan, kalian bisa datang kesana. Tapi jika tidak, juga tidak apa-apa. Bagaimanapun juga saya tidak bisa memaksa orang tua,"
"Toh kalian mau datang atau tidak, itu tidak penting bagiku. Yang terpenting aku segera menikahi Angga dan menikmatibsemua kekayaannya," lanjut Amanda dalam hati.
"*Astaghfirulloh hal adzim,"
"Astaghfirulloh hal adziim,"
"Astaghfirulloh hal adziim*,"
Mbah kakung, mbah putri juga Seruni terus beristighfar dalam hati agar tak tersulut emosi, bagaimanapun juga mereka harus tetap sabar dan menjaga kewarasan agar tak terjadi sesuatu yang buruk lagi pada Angga yang saat ini tengah berada di bawah kendali Amanda.
"Baiklah, kami akan usahakan untuk datang kesana, terimakasih atas undangannya," ucap mbah kakung dengan suara tercekat.
__ADS_1
Sangat sulit untuk menerima hal itu, tapi ia juga bisa apa. Ia tidak boleh gegabah dalam berucap dan bertkndak, karena Angga yang menjadi taruhannya.
Begitu pula Seruni yang tak lagi memiliki daya dan upaya apa-apa, hanya bisa menangis dan berdoa agar kekasihnya itu tetap dilindungi oleh Yang Maha Kuasa dimanapun ia berada dan dengan siapapun ia menikah.
Bukankah arti cinta yang sesungguhnya adalah merelakan orang hang di cintai demi kebahagiaaannya, tapi meskipun ia tahu jika Angga tak bahagia, Seruni tetap harus merelakannya demi keselamatan nyawa orang yang cintainya itu.
"Baguslah, kalau begitu kami pamit. Masih banyak urusan yang harus kami kerjakan, permisi,"
Mbah kakung geleng-geleng kepala melihat keangkuhan Amanda, tapi 'wa'alaikumsalam' tetap terucap dari bibirnya.
"Ada apa dengan Mas Angga, Uti? Akung?" tanya Seruni disela tangisnya setelah kepergian Angga dan Amanda.
"Dia sedang dikuasai oleh sesuatu yang tak kasat mata, Nduk,"
"Astaghfirulloh hal adzim," Seruni menutup mulutnya dengan medua tangan.
"Kita harus melakukan sesuatu untuk menolongnya, Kung, Uti.."
"Iya, Run. Akung tau. Tapi kita harus memikirkannya baik-baik, kita tidka boleh gegabah karen Angga yang menjadi taruhannya,"
"Benar apa yang dibilang Akung, Run. Kita akan berusaha sebisa kita, dan terus doakan agar Angga tak semakin jauh dari kita, agar kita bisa dengan cepat menyelamatkannya," tutur mbah putri.
Sementara di dalam mobil yang di kendarainya, Amanda mulai berfikir untuk segera mengatasi Seruni, gadis yang menurutnya akan mengganggu kelangsungan hubungannya dengan Angga nanti.
Amanda menoleh pada Angga yang tertidur di kursi penumpang di sampingnya.
"Bagus, kau tidurlah seperti bayi, Angga sayang. Kamu tidak usah memikirkan apapun, karena aku yang akan membereskan semuanya. Termasuk harta dan perusahaanmu itu, agar tak menghalangi jalanku untuk menuju kesuksesan,"
Jangan lupakan seringaian yang selalu di tampilkan oleh bibir belapis tipstik tebal berwarna merah bergradasi itu.
"Aku harus segera menemui Si Embah untuk membuat gadis itu melupakan Angga juga, kalau perlu gila saja, agar tak mungkin lagi mampu memikat Angga. Karena Angga hanyalah milikku seorang, hahahaha.." tawa jahat Amanda menggema di dalam hati dan pikirannya.
.
.
Bersambung..
Pingin rasanya tak masukin cicak ke mulutnya yang sedang tertawa itu, boleh ga sih?
__ADS_1